Latest Updates

Mutiara 3 Fashal Awal Kitab Ta’lim al-Muta’allim Imam az-Zarnujiy

Hakikat Ilmu, Ilmu Fiqh dan Keutamaannya

Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda,

طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim dan Muslimah”

Seorang Muslim atau Muslimah tidaklah di tuntut untuk mencari atau menguasai seluruh ilmu namun yang paling di tekankan adalah menuntut ‘Ilmul Hal (ilmu yang berhubungan dengan tingkah laku). Sebagaimaan dikatakan bahwa,

وأفضل العلم علم الحال، وأفضل العمل حفظ الحال
“Ilmu yang paling utama adalah ilmu tingkah laku, dan amal yang paling utama adalah menjaga tingkah laku”

Seorang Muslim diwajibkan mencari ilmu yang mereka butuhkan untuk mengerjakan kewajibannya, semisal shalat, maka mencari ilmu yang berhubungan dengan shalat adalah wajib. Demikian juga ilmu-ilmu tentang zakat, haji, jual beli, perniagaan dan lain sebagainya. Termasuk juga diwajibkan bagi seorang Muslim untuk mengetahui ilmu-ilmu yang berhubungan dengan manajemen qalbu (hati).

Kemulyaan ilmu pada diri seseorang itu tidaklah samar, melainkan sangat jelas dan khas, karena seperti sifat-sifat berani, kuat, pemurah, pengasih dan lain sebagainya (selain ilmu) juga dimiliki oleh hewan. Jadi, bukan sesuatu yang khas bagi seorang manusia.

Syaikh Muhammad bin al-Hasan bin Abdillah –rahimahumullah- mengatakan dalam sebuah syair,

تعـلـم فــإن الـعلـم زيـن لأهــلــه # وفــضـل وعــنـوان لـكـل مـــحامـد
“belajarlah kalian, karena sesungguhnya ilmu adalah perhiasan bagi ahlinya, dan menjadi keutamaan serta sebagai penolong bagi setiap hal yang terpuji”

وكــن مـستـفـيدا كـل يـوم زيـادة # من العـلم واسـبح فى بحـور الفوائـد
“jadilah kalian orang yang selalu mengambil faidah (pelajaran) disetiap waktu sebagai tambahan ilmu, selamilah samudera-samudera faidah itu”

تـفـقـه فإن الـفــقـه أفــضـل قائـد # الى الــبر والتـقـوى وأعـدل قـاصـد
“belajarlah ilmu Fiqh, karena ilmu Fiqih adalah paling utamanya hal yang bisa menuntun kepada kebajikan, takwa kepada Allah dan merupakan tujuan yang seimbang”

هو العلم الهادى الى سنن الهدى # هو الحصن ينجى من جميع الشدائد
“Ilmu Fiqh adalah ilmu yang akan menuntun kepada jalan hidayah, ilmu Fiqh adalah yang akan menyelamatkan dari seluruh bencana (siksaan)”

فـإن فـقيــهـا واحــدا مــتـورعــا # أشـد عـلى الشـيطـان من ألـف عابد
“Sesungguhnya satu orang yang alim dalam ilmu Fiqh serta wara’, itu lebih ditakuti oleh syaithan-syaithan daripada seribu ahli Ibadah”.

Ulama mengatakan, sesungguhnya belajar (mengetahui) ilmu-ilmu yang dibutuhkan seseorang pada saat itu juga laksana makanan yang memang dibutuhkan setiap orang, adapun mengetahui ilmu-ilmu yang akan dibutuhkan pada suatu saat nanti adalah laksana obat yang dibutuhkan pada saat-saat tertentu, adapun belajar ilmu nujum laksana berada pada tempat yang kering, dan belajar ilmu nujum itu haram karena membahayakan dan tidak bermanfaat, serta menyalahi Qadla’ Qadar Allah dan itu tidak mungkin. Maka selayaknya bagi seorang Muslim senantiasa menyibukkan diri dengan berdzikir kepada Allah, berdo’a, selalu sopan santun dalam segala tingkah lakunya, senantiasa membaca al-Qur’an, memperbanyak shadaqah, selalu memohon ampun kepada Allah serta memohon selamat dunia dan akhirat, agar Allah menjaga dari segala bencana dan penyakit. Sebab, adanya penyakit itu sudah ketentuan, oleh karena itu mudah-mudahan Allah mempermudahnya.

Pengecualian, sekedar belajar ilmu nujum bisa dibolehkan jika seseorang senantiasa tetap menjaga ibadahnya dan tidak melupakan kedekatan kepada Allah.

Adapun belajar ilmu pengobatan adalah diperbolehkan, karena hal itu merupakan sebab dari berbagai sebab (perantara kesembuhan) dan Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam sendiri pernah berobat.

Imam asy-Syafi’i pernah berkata,
العلم علمان: علم الفقه للأديان، وعلم الطب للأبدان
“Ilmu itu ada 2 macam, pertama ilmu Fiqh untuk kepentingan agama, kedua, ilmu pengobatan untuk badan...”

Imam Abu Hanifah berkata,

الفقه معرفة النفس ما لها وما عليها
“Ilmu Fiqh adalah ma’rifatun nafs (mengetahui diri sendiri) tentang yang bermanfaat dan yang tidak”

ما العلم إلا للعمل به، والعمل به ترك العاجل الآجل
“tidaklah ilmu itu kecuali untuk beramal dengannya, dan beramal dengannya adalah dengan meninggalkan keduniaan demi akhiratnya”

Niat Belajar

Seorang pelajar (pencari ilmu) harus benar-benar memiliki niat untuk belajar, karena niat adalah dasar dari segala perbuatan, sebagaimana Nabi juga pernah bersabda dalam hadits shahih,

إنما الأعمال بالنيات
“setiap perbuatan tergantung pada niatnya”

Nabi juga bersabda,

كم من عمل يتصور بصورة عمل الدنيا، ثم يصير بحسن النية من أعمال الآخرة، وكم من عمل يتصور بصورة عمل الآخرة ثم يصير من أعمال الدنيا بسوء النية
“Betapa banyak perbuatan yang berupa amal-amal bersifat keduniaan, kemudian menjadi amal-amal akhirat disebabkan niat yang bagus, dan betapa banyak perbuatan yang berupa amal-amal akhirat namun hanya menjadi amal keduniaan karena jeleknya niat (niat yang keliru)”.

Oleh karena itu, sepatutnya bagi pelajar berniat mencari ilmu untuk semata-mata mencari keridlaan Allah Subhanahu wa Ta’alaa, untuk kepentingan kehidupan akhirat, menghilangkan kejahilan pada diri seorang pelajar dan dari orang-orang jahil serta untuk menghidupkan syiar agama Islam. Sifat zuhud dan takwa tidaklah berguna jika hanya dibarengi dengan kebodohan.

Syaikh al-Imam al-Ajall Burhanuddin az-Zarnujiy pernah melantunkan bait nasyid,

فـساد كـبير عـالم مـتهتـك # وأكـبر منه جاهل متنسك
“Celaka orang yang besar yaitu orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya, dan lebih celaka lagi yaitu orang bodoh yang melakukan ibadah”

Seorang pelajar harus berniat belajar dengan senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah seperti nikmat akal, nikmat kesehatan badan dan lain sebagainya. Tidaklah dibenarkan jikalau seorang pelajar berniat belajar hanya untuk menghadapi manusia lainnya, tidak boleh diniatkan untuk memperoleh perkara-perkara yang bersifat keduaniaan, kedudukan didepan penguasa dan lain sebagainya.

Syaikh al-Imam al-Ajall al-Ustadz Qiwamuddin Ibrahim bin Isma’il ash-Shaffar al-Anshariy pernah melantunkan nyanyian karena imla’ kepada Imam Abu Hanifah,

من طلب العلم للمعاد # فاز بفضل من الرشاد
“siapa yang mencari ilmu karena urusan akhirat, maka beruntunglah dia dengan memperoleh keutamaan dari perkara yang benar”

فـيالخسـران طالـبيـه # لـنيل فـضل من العباد
“hai.. hendaklah kalian semua mengetahui tentang betapa ruginya seorang pencari ilmu, karena mengharap keutamaan (kemulyaan) dari manusia-manusia lainnya”

Seorang pelajar harus selalu memikirkan tentang apa yang dipelajarinya dan merupakan hal yang wajar bagi seorang pencari ilmu menghadapi kesusahan (kepayahan). Maka, jangan berpaling dari ilmu kepada hal-hal duniawi yang hina yang sedikit yang rusak. Seorang pencari ilmu juga harus senantiasa merasa hina dan tidak bersifat tamak yang tidak pada tempatnya, selalu menjaga diri dari hal-hal yang bisa menghinakan ilmu dan ahli ilmu, sopan santun, tawadlu’ dan menjaga diri dari perkara yang haram.

Sesungguhnya sikap tawadlu’ merupakan salah satu dari tanda seseorang takut kepada Allah, yang dengannya (dengan tawadlu’) bisa mengangkat derajat yang tinggi.

Memilih Ilmu, Guru dan Teman

Seorang pencari ilmu harus benar-benar mencermati ilmu yang akan dipelajarinya dan memilih ilmu yang baik, yang dibutuhkan untuk kepentingan agama pada saat itu juga atau pada saat-saat yang akan datang (masa depan). Seorang penuntut ilmu juga harus mengedepankan ilmu Tauhid dan Ma’rifat, mengetahui tentang Allah beserta dalil-dalilnya. Keimanan seorang Muqallid walaupun sah menurut Ahlussunnah wal Jama’ah namun tetap berdosa karena telah meninggalkan beristidllal.

Penuntut ilmu harus benar-benar memilih kitab klasik bukan kitab yang baru dan janganlah sekali-kali menyibukkan diri dengan perdebatan sebab sudah jelas betapa banyak orang besar yang telah jauh dari Ulama.

Seorang penuntut ilmu harus benar-benar memilih guru yang akan mengajarkannya, maka selayaknya guru yang dipilihnya adalah guru yang lebih alim, lebih wara’ dan lebih sepuh, sebagaimana Imam Abu Hanifah memilih Imam Hammad bin Abi Sulaiman al-Asy’ariy sebagai gurunya setelah sebelumnya bertafakkur. Imam Abu Hanifah berkata,

وجدته شيخا وقورا حليما صبورا فى الأمور
“aku berjumpa dengannya (Imam Hammad) yang sepuh, memiliki kehormatan, halim dan sabar dalam segala hal”

ما رأيت أفقه من حماد
“aku tidak melihat ada yang lebih faqih dari Imam Hammad” (al-Jawahirul Madliyah)

ثبت عند حماد بن سليمان فنبت
“aku berada disisi Imam Hammad bin Sulaiman dan aku tumbuh”

Imam Abu Hanifah juga berkata,

وقال أبو حنيفة رحمة الله عليه: سمعت حكيما من حكماء سمرقند قال: إن واحدا من طلبة العلم شاورنى فى طلب العلم، وكان قد عزم على الذهاب إلى بخارى لطلب العلم
“aku mendengar hakim dari hakim-hakim yang ada di Samarqan berkata, sesungguhnya ada satu orang dari orang yang mencari ilmu bermusyawarah denganku, yang dimusyawarahkan adalah tentang keberangkan ke negeri Bukhara untuk tujuan menuntut ilmu”

Dari apa yang dituturkan oleh Imam Abu Hanifah, maka seorang penuntut ilmu hendaknya senantiasa bermusyarawah dalam setiap hal karena Allah dan Rasul-Nya juga memerintahkan bermusyawarah dalam segala hal, sedangkan Nabi sendiri adalah orang yang cerdas namun masih melakukan musyarawah dengan para sahabatnya hingga keperluan rumah tangga pun di musyawarahkan.

Sayyidina ‘Ali Karramallahu Wajhah berkata,

قال على كرم الله وجهه: ما هلك امرؤ عن مشورة
“seseorang tidak akan celaka hanya karena bermusyawarah”

Dikatakan (qil), ada 3 klasifikasi seorang laki-laki ;

1. Laki-laki yang sempurna (tam), yaitu laki-laki yang memiliki pemikiran (ra’yu) yang benar dan melakukan musyawarah.
2. Laki-laki yang kurang (nishf), yaitu laki-kali yang memiliki pemikiran yang benar namun tidak bermusyawarah, atau melakukan musyawarah namun tidak memiliki pendapat.
3. Laki-laki yang kosong (laa syai’), yaitu laki-laki yang tidak memiliki pandangan (pendapat) dan tidak melakukan musyawarah.

Imam Jakfar ash-Shadiq berkata kepada Imam Sufyan ats-Tsauriy,

شاور فى أمرك الذين يخشون الله تعالى
“hendaklah engkau memusyawarahkan perkara-perkaramu kepada orang-orang yang takut kepada Allah”

Musyarawah sangat dianjurkan dalam hal menuntut ilmu, sebab menuntut ilmu itu merupakan pekerjaan yang paling mulya sekaligus sulit, maka bermusyawarah itu sangatlah penting dan wajib. Imam Hakim pernah berkata,

إذا ذهبت إلى بخارى فلا تعجل فى الإختلاف إلى الأئمة وامكث شهرين حتى تتأمل وتختار أستاذا، فإنك إن ذهبت إلى عالم وبدأت بالسبق عنده فربما لا يعجبك درسه فتتركه فتذهب إلى آخر، فلا يبارك لك فى التعلم. فتأمل فى شهرين فى اختيار الأستاذ، وشاور حتى لا تحتاج إلى تركه والاعراض عنه فتثبت عنده حتى يكون تعلمك مباركا وتنتفع بعلمك كثيرا.
“Apabila engkau pergi ke negeri Bukhara (untuk menuntut ilmu), janganlah engkau terburu-buru (memutuskan) dalam hal ikhtilaf (perselisihan) para Imam, berdiam dirilah selama 2 bulan sambil berfikir dan memilih guru. Karena apabila engkau datang kepada orang alim dan memulai mengkaji pada orang alim maka kemungkinan kajiannya tidak cocok, engkau akan meninggalkannya dan mencari orang alim yang lain, Maka, apa yang engkau hasilkan dari belajar sama sekali tidak barakah pada diri engkau. Maka fikirlahkan oleh engkau selama dua bulan didalam hal memilih seorang guru, dan lakukanlah musyawarah sehingga tidak ada keinginan lagi untuk meninggalkan guru dan beralih, maka tetaplah engkau pada guru yang engkau pilih hingga apa yang engkau pelajari memberikan barakah dan ilmu yang engkau pelajari memberikan manfaat yang besar”

Seorang penuntut ilmu hendaknya selalu bersabar atas guru maupun kitab yang dipelajari selama seorang guru tidak meninggalkan kitab tersebut dan memulai kajian dengan kitab lainnya. Sebelumnya juga harus yakin bahwa tempat (negeri) yang ditempati untuk menuntut ilmu adalah sudah mantap, sehingga tidak menyebabkan seorang penuntut ilmu beralih ketempat lain kecuali hanya karena sebab dharurat. Karena jika hal itu terjadi, hanya akan menyia-nyiakan waktu, menyibukkan hati dan menyakiti hati seorang guru jika beralih ke tempat lain. Maka seorang penuntut ilmu, sekali lagi harus bersabar dari apa-apa yang diinginkan oleh dirinya.

Sayyidina ‘Ali karramallahu wajah pernah bersyair,

ألا لـن تنــال الــعـلم إلا بســتة : سأنبيك عن مجموعها ببيان
ذكاء وحرص واصطباروبلغة : وإرشاد أستاذ وطـول زمان
“Ingat-ingatlah, ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan 6 hal ; aku akan menjelaskan kepada engkau dari semuanya secara jelas”
“Cerdas, tamak (dalam mencari ilmu), sabar (atas ujian) dan memiliki biaya ; guru yang menunjukkan yang benar serta lamanya masa (zaman)”

Adapun dalam hal memilih teman, maka seorang penuntut ilmu hendaknya memilih teman yang rajin, wara’, memikili watak yang lurus dan mengerti serta yang jauh dari sifat malas, menganggur, banyak membantah, membuat kerusakan dan memfitnah.

Dalam sebuah syi’ir dikatakan,

عن المرء لا تسل وأبصر قرينه : فـإن الـقرين بالمـقارن يقــتـدى
فـإن كـان ذا شر فــجـنبه سرعـة : وإن كان ذا خير فقارنه تهـتدى
“Jangan tanyakan tentang seseorang, namun lihatlah teman-temannya ; karena teman dengan teman yang lainnya itu akan mengikuti”
“apabila temannya berperilaku buruk, maka menjauhlah secara cepat ; apabila baik maka dekatilah (bertemanlah) niscata engkau akan mendapat petunjuk”

Dalam syi’ir yang lain dikatakan,

لا تصحـب الكسلان فى حـالته : كـم صـالــح بفـسـاد آخــر يفسـد
عدوى البليد إلى الجليد سريعة : كالجمر يوضع فى الرماد فيخمد
“janganlah engkau bersahabat dengan orang malas didalam tingkah lakunya, karena betapa banyak orang shalih yang rusak disebabkan rusaknya yang lain (temannya) “
“Permusuhan orang bodoh terhadap orang alim itu cepat, laksana meletakkan bara dalam tumpukan abu, maka bara langsung mati”

Syi’ir yang lain mengatakan,

باربد بدتـر بود ازمـاربد : بحـق ذات بـاك الله الصـمـد
باربد ازدترا سوى حجيم : بار نـيكــوكــير نابـى نعــيم
“Teman yang memiliki keburukan itu lebih buruk dari ular yang buruk dan lebih bahaya, Demi dzat Allah yang suci dan yang Dituju”
“teman yang buruk hanya akan membawa kepada tepi neraka jahanam, sedangkan teman yang baik akan menjadi sebab memperoleh surga yang nikmat”

Wallahu subhanahu wa ta’alaa, selesai ringkasan 3 bab awal kitab Ta’lim al-Muta’allim Thariq at-Ta’allum. Semoga bermanfaat dan mohon koreksinya.



0 Response to "Mutiara 3 Fashal Awal Kitab Ta’lim al-Muta’allim Imam az-Zarnujiy"

Posting Komentar

Media Islam

Thariqat Sarkubiyah

NU Online