Mengerahkan kemampuan Ro'yu dibawah naungan Waratsatul Anbiyaa'

.

HUKUM TAHLILAN (KENDURI ARWAH - SELAMATAN KEMATIAN ) MENURUT MADZHAB IMAM SYAFI’I

TAHLILAN (KENDURI ARWAH – SELAMATAN KEMATIAN) MENURUT MADZHAB IMAM SYAFI’I
Disertai Komentar ‘Ulama Lainnya Tentang Membaca al-Qur’an Untuk Orang Mati

MUQADDIMAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Masyarakat muslim Indonesia adalah mayoritas penganut madzhab Imam Syafi’i atau biasa disebut sebagai Syafi’iyah (penganut Madzhab Syafi’i). Namun, sebagain lainnya ada yang tidak bermadzhab Syafi’i. Di Indonesia, Tahlilan banyak dilakukan oleh penganut Syafi’iyah walaupun yang lainnya pun ada juga yang melakukannya. Tentunya tahlilan bukan sekedar kegiatan yang tidak memiliki dasar dalam syariat Islam, bahkan kalau ditelusuri dan dikaji secara lebih mendalam secara satu persatu amalan-amalan yang ada dalam tahlilan maka tidak ada yang bertentangan dengan hukum Islam, sebaliknya semuanya merupakan amalah sunnah yang diamalkan secara bersama-sama. Oleh karena itu, ulama seperti walisongo dalam menyebarkan Islam sangatlah bijaksana dan lihai sehingga Islam hadir di Indonesia dengan tanpa anarkis dan frontal, salah satu buahnya sekaligus kelihaian dari para ulama walisongo adalah diperkenalkannya kegiatan tahlilan dengan sangat bijaksana.

Tahlilan, sebagian kaum Muslimin menyebutnya dengan “majelis tahlil”, “selamatan kematian”, “kenduri arwah” dan lain sebagainya. Apapun itu, pada dasarnya tahlilan adalah sebutan untuk sebuah kegiatan dzikir dan bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Yang mana didalamnya berisi kalimat-kalimat thayyibah,  tahmid, takbir, tasybih hingga shalawat, do’a dan permohonan ampunan untuk orang yang meninggal dunia, pembacaan al-Qur’an untuk yang meninggal dunia dan yang lainnya. Semua ini merupakan amaliyah yang tidak ada yang bertentangan dengan syariat Islam bahkan merupakan amaliyah yang memang dianjurkan untuk memperbanyaknya.

Istilah tahlilan sendiri diambil dari mashdar dari fi’il madzi “Hallalla – Yuhallilu – Tahlilan”, yang bermakna membaca kalimat Laa Ilaaha Ilaallah. Dari sini kemudian kegiatan merahmati mayyit ini di namakan tahlilan karena kalimat thayyibah tersebut banyak dibaca didalamnya dan juga penamaan seperti ini sebagaimana penamaan shalat sunnah tasbih, dimana bacaan tasbih dalam shalat tersebut dibaca dengan jumlah yang banyak (300 kali), sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Namun, masing-masing tempat kadang memiliki sebutan tersendiri yang esensinya sebenarnya sama, sehingga ada yang menyebutnya sebagai “Majelis Tahlil”, “Selamatan Kematian”, “Yasinan” (karena dimulai dengan pembacaaan Yasiin), “Kenduri Arwah”, “Tahlil”, dan lain sebagainya.

Tahlilan sudah ada sejak dahulu, di Indonesia pun atau Nusantara pun tahlilan sudah ada jauh sebelum munculnya aliran yang kontra, yang mana tahlilan di Indonesia di prakarsai oleh para ulama seperti walisongo dan para da’i penyebar Islam lainnya. Tahlilan sebagai warisan walisongo terus di laksanakan oleh masyarakat muslim hingga masa kini bersamaan dengan sikap kontra segelintir kaum muslimin yang memang muncul di era-era dibelakangan. Dalam bahasan ini setidaknya ada beberapa hal pokok dalam tahlilan yang harus dipaparkan sebab kadang sering dipermasalah. Untuk mempermudah memahami masalah ini yakni amaliyah-amaliyah masyru’ yang terdapat dalam tahlilan (kenduri arwah) maka bisa di rincikan sebagai berikut :

I. DO’A UNTUK ORANG MATI
II. SHADAQAH UNTUK ORANG MATI
III. QIRA’ATUL QUR’AN UNTUK ORANG MATI
PERMASALAHAN QAUL MASYHUR
HILANGNYA PERSELISIHAN DAN PENERAPAN DALAM TAHLILAN
IV. JAMUAN MAKAN PADA PERKUMPULAN KEGIATAN TAHLIL
PENJELASAN TERKAIT HADITS KELUARGA JA’FAR
PENJELASAN TERKAIT HADITS JARIR BIN ABDULLAH
Haramnya Niyahah dan Pengertian Niyahah
V. SEJAK DAHULU KALA DAN TERJADI DI MAKKAH JUGA MADINAH
VI. PENGHARAMAN TAHLILAN DILUAR AKAL SEHAT
Niyahah Versus Tahlilan
Bolehnya Menangisi Mayyit
Ma’tam Versus Tahlilan (Kenduri Arwah)
VII. PENTING : TIDAK SETIAP BID’AH DIHUKUMI HARAM (BID’AH BUKAN HUKUM)
LANJUT MASALAH BID’AH
Pendefinisian Bid’ah
VIII. PENTING : ALIRAN WAHABI SEBAGAI BID’AH MUHARRAMAH
IIX. BEBERAPA KOMENTAR ULAMA
al-Mughni lil-Imam Ibnu Qudamah al-Hanbali 
Al-Furu’ wa Tashhih al-Furu’, Imam Ibnu Muflah al-Maqdisi
Al-Inshaf fiy Ma’rifatir Rajih minal Khilaf, Imam ‘Alauddin al-Mardawi 
Al-‘Uddah syarh al-‘Umdah, Imam Abdurrahman bin Ibrahim al-Maqdisi al-Hanbali
Zadul Mustaqni’ fi Ikhtishar al-Muqna’, Imam Syarifuddin Musa al-Hajawi
Ar-Raudl al-Marbi’ syarh Zaad al-Mustaqni', Imam al-Bahuti al-Hanbali
Al-Bahr ar-Raiq syarh Kanz ad-Daqaid, Imam Ibnu Najim al-Mishri al-Hanafi
Muraqi al-Falah syarh Matn Nur al-Idlah, Imam Hasan bin ‘Ammar al-Mishri al-Hanafi
Al-Fiqhu ‘alaa Madzahibil Arba’ah, Syaikh Abdurrahman al-Jaziri
Tuhfatul Ahwadzi bisyarhi Jami’ at-Turmidzi, Syaikh Abul ‘Alaa al-Mubarakfuri
Mirqatul Mafaatiih syarh Misykah al-Mashaabih, al-Mulla 'Ali al-Qarii

Madzhab Zaidiyyah (Madzhab Yang Lebih Dekat Ke 4 Madzhab)
- Naylul Awthaar, Imam Muhammad bin 'Ali asy-Syawkani 
- Subulus Salaam, al-Amir ‘Izzuddin Ash-Shan’ani 
IX. FATWA IBNU TAIMIYAH DAN IBNUL QAYYIM AL-JAUZIYYAH
QS. an-Najm Ayat 39 dan Hadits Terputusnya Amal
Hukum Keluarga al-Marhum membaca al-Qur’an Untuk Mayyit
Ibnu Taimiyah Pernah Ditanya Hal Yang Sama (al-Qiraa'ah lil-Mayyit)
Bertahlil 70.000 Kali Dan Menghadiahkan Kepada Mayyit

Pasal Khusus Tentang Membaca al-Qur’an Untuk Mayyit
Ibnu Taimiyyah Hanya Bicara Soal Keutamaan (Afdlaliyah)
Penuturan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (Murid Ibnu Taimiyah)
X. KOMENTAR ALIRAN WAHHABIYAH
Polemik Seputar Ahkam at-Tamanni al-Mawt 
Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
Shalih bin Fauzan al-Fauzan
Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz
Muhammad bin Ibrahim bin Abdul Lathif Alu asy-Syaikh
Komisi Fatwa Kerajaan Bani Saud (al-Lajnah ad-Daimah)
XI. PENUTUP

Semoga dengan semua ini bisa memberikan informasi berimbang mengenai komentar para ulama Ahl Sunnah wal Jama’ah demikian juga komentar dari yang tidak menyetujui. Wallahu A’lam []

Al-Faqir ats-Tsauriy (Bangkalan) || http://ashhabur-royi.blogspot.com 
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Buku Menarik / Downloads / Fiqh Lintas Madzhab / Kitab Madzhab Syafi'i / Maa Yanfa'ul Mayyit Minal A'mal / Majelis Tahlil (Kenduri Arwah) / Ulama Madzhab Syafi'i dengan judul HUKUM TAHLILAN (KENDURI ARWAH - SELAMATAN KEMATIAN ) MENURUT MADZHAB IMAM SYAFI’I. Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://ashhabur-royi.blogspot.com/2011/01/hukum-tahlilan-kenduri-arwah-menurut.html. Terima kasih!
Ditulis oleh: Ashhabur Ro'yi pada Sabtu, 01 Januari 2011

108 komentar untuk "HUKUM TAHLILAN (KENDURI ARWAH - SELAMATAN KEMATIAN ) MENURUT MADZHAB IMAM SYAFI’I"

religi mengatakan...

siip...

Anonim mengatakan...

barang siapa membuat "ibadah" padahal Rasulullah tidak mencontohkan, sama saja dengan menganggap bahwa Rasulullah tidak lengkap dalam memberi petunjuk sehingga perlu ditambah..... alangkah sombongnya..... siapapun imamnya.....

Anonim mengatakan...

Tahlilan itu adalah strategi da'wah walisongo untuk menghilangkan ritual-ritual masyrakat terkait kematian yg merupakan ritual Hindu atau animisme. Pada saat sekarang, apakah tahlilan masih bisa dipertahankan?Kenapa tidak!"al-mukhafazhatu alaa al-qadimi al-shalih wal akhdzu bil jadiidi al-ashlah"

Orang Awam mengatakan...

Saya pernah denger ceramah...Suatu amal akan dinilai "ibadah" di sisi Allah jika diiringi NIAT, CARA, dan TUJUAN yang haq karena Allah semata
untuk Tahlilan...saya rasa
niat HAQ,
cara HAQ,
tujuan HAQ...
asalkan
-keluarga si mayit tidak merasa terbebani biaya (orang mampu)
-jangan diNIATkan ngikutin tradisi agama lain(HINDU) ada 7 hari, 40 hari...1000 hari...
-CARAnya jangan pakai simbol2 animisme/tradisi agama lain contoh beras merah-putih, baju hitam,karangan bunga, menyan, dsbnya
-harus ada nasihah dari Ulama/Ustadz yg berTUJUAN mengingatkan ajal/kematian bagi yg hadir/msh hidup....

Anonim mengatakan...

wahabi...WAtak HAram spt baBI
salafi...SeLalu saLAh dalam berFIkir..

Ade Malsasa Akbar mengatakan...

Kutip: wahabi...WAtak HAram spt baBI
salafi...SeLalu saLAh dalam berFIkir..

Hmmm, mana dalilnya?

silvi mengatakan...

Lau Kaana Khairan Lasabakuuna Ilaihi (Kalau Sekiranya Perbuatan Itu Baik, Tentulah Para Shahabat Telah Mendahului Kita Mengamalkannya)

Anonim mengatakan...

wes tha podho islame..senengane ngurusi urusane tonggone..ayoo diurusi ummat islam isok sugih,cegah pemurtadan,malah ngomong bidah..ckck..ckckk...goblokkk.....

Anonim mengatakan...

tolonglah utk saudara2 yg tidak spaham jgnlah mengusik amalan saudara2 yg dilaksanakan berdasarkan kbolehan,,,,

Anonim mengatakan...

wong islam nek gooblok, ya ibadah gak pake dalil..gak pake dasar

Anonim mengatakan...

Biar disampaikan seribu dalil, kalau dari awal hatinya memang sudah diniatkan untuk ditutup dari kebenaran, ya g bakalan masuk itu hidayah.

Anonim mengatakan...

misi wahabi: memurnikan islam dari tahayul, bid'ah dan kurafat...pertanyaanya...knp nu membenci misi ini? jawabannya: krn nu ahlinya dalam hal tsb..wkwkw nu : innovasi tiada henti

Anonim mengatakan...

kalau memang dianjurkan dalam islam, siapa yang menganjurkan, adakah rosululloh menganjurkan tahlilan, mengapa rosululloh tidak melaksanakan tahlilan kalau itu memang beliau anjurkan, ada ngga yang bisa menerangkan ke saya kenapa rosululloh tidak tahlilan, maturnuwun

Anonim mengatakan...

NABI MUHAMMAD SAW.....TIDAK TAHLILAN
IMAM SYAFI'I......TIDAK TAHLILAN
KYAI INI.....TAHLILAN
KYAI ITU .....TAHLILAN

BAGUSNYA IKUTAN YANG MANA YAH, BIAR SELAMAT DUNIA AKHERAT, ADA YANG BISA BANTU GA...

kall mengatakan...

Wong MD ki ngrtine opo? Jyan pngn tenan nugel2 gulune

Anonim mengatakan...

untuk kita renungkan :

jika ada seorang imam sehabis sholat fardu berjamaah, setelah membaca salam langsung berucap " al fatikhah " adakah yang salah dengan bacaan al fatikhah itu...?

atau setelah salam langsung membaca doa sebagaimana yang biasa dibaca pada waktu tahlilan, adakah yang salah dari doa doa itu...?

atau pada saat sujud membaca surat yasin sampai selesai, adakah yang salah dari surat yasin...?

dari contoh sederhana diatas, kiranya dapat diambil kesimpulan, bahwa bacaan al fatikhah, bacaan2 sebagaimana yg dibaca pada saat tahlilan, surat yasin, semua itu adalah sesuatu yang bagus, tapi menjadi sesuatu yang kurang pas bila kita salah menempatkannya, kurang pas karena kita akan menyelisihi sunah rosul dimana rosul sudah mengajarkan kita dzikir2 sehabis sholat fardu,

begitu juga dalam kontek tahlilan,memang dari sudut bacaannya sama sekali ngga ada yang salah, dimana salahnya...?

silahkan...ALLAH memberi kita akal dan pikiran, yang dengan itu kita harus bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batil

burangkeng mengatakan...

Udadeh Salafi wahabi lo jangan pada koment macem macem dech,,, sekarang mah mendingan toleransi aja, lolo pada jangan pernah berani menuduh kami yang melakukan tahlilan, Maulid, Qunut dll dianggap bid`ah lah sesat lah. mendingan ngaji dulu biar bener cari Ilmu Islam biar luas wawasan, jangan hanya belajar dari wahabi, Bin bazz, nasiruddin Al bani, Ibnu Qayyim, Ibnu Taimiyah, baca juga dong kitab karya Imam Syafi`i, Ibnu Qudamah, Imam Nawawi dan masih banyak lagi Ulama Syafi`iyyah lainnya.

burangkeng mengatakan...

Ilmu penting, Etika juga penting,,,
sekarang ini yang ana perhatikan banyak orang beradu argumentasi, adu Dalil,berdebat,, tapi lupa dengan Etika, Akhlak dalam hidup beragama, hidup sesama Muslim. yang satu menyesat kan yang lain. kenapa???? apakah ini dicontohkan oleh sahabat, tabi`in dst bahkan Imam Mazdhab tidak seperti itu dalam beragama, bliau toleransi saling menghargai pendapat ulama yang lain, kenapa kita saling berdebat??? apakah kita yang hidup diabad modern ini lebih pintar dari ulama pendahulu kita?
lihat Quran Surat saba : 25-26

Anonim mengatakan...

Hari Gini .. masih masalahin gituan (tahlil-qunut-bid'ah??? bakal ketinggalan jaman..
Urus aja masing2 "Lana a'maluna wa lakum a'malukum.." . masa sih harus Bilang "Lakum di nukum wali yadin..??
padahal Kalian kan sama Rob-nya, Nabi-nya, Kitab-nya..
Masih banyak yg hrs di urus dan dipikirkan bersama..
Boleh berdebat, tapi tetap pake Etika
kepala harus dingin.. G pake saling menghujat!
Dan saya kira, Kalian yang Fanatik Syafiiyyah akan selalu merasa benar apa yg mrk lakukan krn ada dasarnya spt yg mrk pahami..
begitu juga dengan faham yang non syafiiyyah akan selalu merasa benar juga apa yg mrk lakukan karena ada dasar nya tersendiri yg mrk pahami..
Untuk itu mohon kiranya Agar masalah2 seperti ini Para Ulama Besar,Kyai,Ulama,para petinggi masing2 agar bersama, mau duduk bersama membahas yang sebenar nya sesuai ajaran Rosul itu yang mana, dan itu yang harus disampaikan kepada ummat.
Jangan sampai orang yang baru tahu sedikit ajaran agama islam malah tambah BINGUNG..!!!
Cape' dech !!

Anonim mengatakan...

Islam tidak mengajarkan perdebatan sehingga menjurus pada perpecahan ummat. dan Islam juga tidak mengajarkan tentang perselisihan antar muslim karena itu diharamkan. sama saja kita memakan bangkai saudara kita sendiri. kutinggalkan pada kalian 2 perkara yaitu Al-Qur'an As-Sunnah maka kalian tidak akan tersesat selamanya. As-sunnah itu sendiri di pelihara oleh Allah sebagaimana terpeliharanya Al-Qur'an dengan cara dilahirkannya di muka bumi ini orang2 yg sluruh hidupnya memang terpaku dalam mengkaji hadist yg memang berasal dari Rasulullah SAW,melalui perawi2 yg terpercaya dan kuat hafalannya sehingga sesuai dgn yg di sabdakan Rasulullah SAW tanpa mengurangi maupun menambah dari hadist tsb dan memisahkan antara yg shahih, lemah, palsu smpai munkar.

barangsiapa yang berdusta atas namaku maka silahkan menyiapkan tempatny dineraka
(HR. Bukhari)

asSafanjany mengatakan...

WAHABY INI BAGAIMANA???

*Wahaby melarang Maulid Nabi, katanya Bid'ah, tp Wahaby bikin Perayaan memperingati Usbu' Dedengkot Wahaby_ Muhammad bin AbdulWahab (7 hari). Bikin Milad Partai ini, Ormas Itu dan itu tidak bid'ah.

*Wahaby memberangus peninggalan Nabi, katanya Syirik, tapi Wahaby membangun bangunan megah untuk peninggalan Sholih Ibn Utsamain (gembong wahaby)

*Wahaby mencibir majelis khotmil Qur'an, katanya kumpul-kumpul ga' ada dalil, tapi wahaby bikin Rumah Qur'an. Sekali lagi jika yang bikin Wahaby maka nggak Bid'ah...

AGAMA WAHABY, Hanya Ngurusi Amal Orang Lain..
AGAMA WAHABY, Ngajinya hanya bermateri bid'ah..
AGAMA WAHABY, mereka intinya sirik...

WAHABY Sok anti Amerika, padahal Saudi Arabia Penyokong mereka = Sekutu tulen Amerika.

WAHABY Sok benci Israel, Padahal Guru-guru mereka digaji Saudi = Sekutu Abadi Israel di Timur Tengah.

WAHABY AQIDAH BENTUKAN MASSONIS INGGRIS UNTUK MEMECAH BELAH UMMAT ISLAM

WAHABY ALAT ZIONIS, MENGHANTAM ISLAM DARI DALAM

BACA SEJARAH BERDARAH SEKTE WAHABY DARI AWAL, MEREKA MEMBANTAI ULAMA ISLAM DIMANA PUN MEREKA BERKUASA

Anonim mengatakan...

SEKARANG SAYA MAU TANYA APAKAH NABI MUHAMMAD & PARA SAHABTNYA MELAKUKAN HAL HAL SEPERTI INI PADA WAKTU ADA KEMATIAN , KENAPA GAK DIAJARKAN KEPADA KITA, ( NOTE YANG URUSANNYA DENGAN AGAMA ,IBADAH UNTUK MENTAUHIDKAN ALLAH ) coba-coba................

Anonim mengatakan...

DAN SEKALI LAGI ENTE KALAU BERHAJI KEMANA....????? KE INDIA, IRAK ATAU IRAN...............,

Anonim mengatakan...

maaf maaf dan maaf sesama umat islam janganlah saling bersitegang seperti itu, sebab yang rugi kita semua, dan yang untung orang lain.Oleh karena itu menurut saya kita kembalikan semua aturan islam itu kepada al Qur'an dan sunnah sohihah baik menyangkut ibadah maupun muamalah, bukankah kita semua tau bahwa menurut kaidah ushul fiqih: “Hukum pokok dalam soal ibadah ialah batal (haram), sampai ada dalil yang memerintahkan.”, semua kebaikan ukurannya adalah jangan menurut si fulan atau siapa, tapi sekali lagi al Qur'an dan Sunnah,demikian terimakasih
wassalam

Anonim mengatakan...

kalo masalah selamatan arwah menurut saya sech kurang baik
bukan e ada 3 amalan yang bsa di bwa sampai ke akhirat
yaitu shodaqo jariyah,ilmu yang manfaat dan anak sholih yang mau mendo'akan orang tuanya

Anonim mengatakan...

kalo ada contoh dari rasul ,sahabat itulah sebaik baik amalan

Ustadz Ahmad mengatakan...

Assalamu'alaikum...

saudaraku yang dirahmati allah..

Ilmu yg kita punya belum seberapa untuk mendefinisikan antara Tahlil dan tidak boleh tahlil ,kita pakai logika saja ,dalam blog ini kita bermudzakaraoh ,saling bertukat pikiran utk kemaslahatan...

dizaman Rasul belum ada Internet apalagi blog blog Islam seperti skrg ini ,apakah dulu Rasul juga mengajarkan utk membuat blog di internet..tentunya tidak !!!

Islam akan berkembang sesuai Zamannya...

Kalau skrg ada Ustad,Kyai,Habaib..apakah dulu sebutannya juga seperti itu..tentu tidak saudaraku....Islam akan berkembang sesuai Zamannya...

begitu juga dengan Tahlil yang intinya kita Bermuhasabah diri ,lebih mendekatkan diri pada Allah SWT ,bertauhid dgn keyakinan beribadah semata utk mengharapkan Ridho-Nya...

Semoga kita semua slalu dalam Ridho dan Rahmat-Nya..Aamiin..Wassalamu'alaikum.wr.wb...

noval has mengatakan...

kaedah fiqih:kullu fi'lin tawaffaro sababuhu 'alaa 'ahdin nabi saw wa lam yaf'alhu almasru'u tarkuhu(setiap apa2 yg syareatnya dan sebabnya ada pada jaman rosululloh tapi rosululloh tdk melakukannya maka disyareatkan utk ditinggalkan) sebagai contoh:adzan utk sholat fardhu disyareatkan.yaitu utk mengundang orang pd sholat.tapi pada sholat ied atau adha tdk ada .karena ngk dicontohkan rosululloh .kalo kita pikir sebenarnyalebih dibutuhkan adzan kalo menurut hawa nafsu kita, cuman ibadah itu diterima hrs memenuhi 2 syarat sbg konskewensi kita dari shahadatain(2 sahadat:syahadat tauhid dan syahadat rosul).kalo masalah dunia rosululloh sdh bersabda antum a'lamu biumuri dunyakum(kamu lebih mengetahui urusan dunia kalian )jadi kita harus pandai2 memilah mana yg urusan ibadah mana yg urusan dunia.

Anonim mengatakan...

ada yg tahu,satu dalil aja..tentang upacara 1 hari.tiga hari..tujuh hari dst..

Anonim mengatakan...

yang cukup menghunjam di dalam qalbu saya, salah satunya adalah ucapan dari seorang ulama pada suatu kajian, yang disebutkan oleh seorg ustadz, Ulama tersebut berkata " Tidaklah berkembang sebuah bid'ah di suatu kampung/negeri melainkan akan turut mati bersamanya Sunnah dari Rasulullah ".

Coba sekarang kita amati pada perkembangan yang terjadi di basis-basis NU, dan saya telah mengamatinya di Kampung saya, paling tidak di RT saya, saat terdengar panggilan Adzan yang itu merupakan undangan Allah 1 untuk orang2 yang ber-iman agar " sudi " menyinggahi rumah-Nya, pun bukan berarti Allah 1 butuh kepada manusia namun demi manusia itu sendiri, apa yang terjadi.. yang datang 1 orang dua orang tiga orang.. bahkan kadangkala hanya tinggal satu orang saja yakni si Muadzin-nya sendiri.

Namun pada saat yang bersamaan di rumah sebelah tetangga masjid orang-orang mulai ramai berdatangan.. mereka pun berpakain lengkap ala muslim, bersarung berbaju kokoh dan berkopiah, bahkan bisa jadi pakain yang dikenakan adalah yang paling bagus, ternyata yang punya rumah mengundang mereka untuk ritual tahunan "Haul keluarganya yang meninggal"...

Luarr biasa saudara ku.. undangan Allah tidak dihiraukan namun Undangan manusia segera dipenuhi, dengan dalih.. kalo kita ga memenuhi undangan haul ini maka suatu saat jika kita membutuhkan mereka untuk datang ke acara haul kita, maka mereka ditakutkan tidak akan hadir.. ternyata lebih takut dan lebih sungkan kepada manusia ketimbang kepada ALLAH.. jujurlah.. inilah yang terjadi dan berkembang di masyarakat.

Mungkin geliat masjid-masjid NU ga akan kelihatan kalo bukan karena (sebabnya) banyak orang-orang yang dengan ikhlas mau menghidupkan kembali masjid-masjid mereka, rata2 mereka adalah orang2 yang sangat senang sekali terhadap sunah nabi dengan ciri khas sebagai muslim yakni memanjangkan jenggot dan menipiskan kumis.. namun tiba-tiba orang-orang NU yang dulunya tidak peduli dengan masjidnya... terkejut dan marah2 seperti orang yang kebakaran jenggot (padahal rata-rata mereka tidak berjenggot, karena memang sebagian besar mereka kurang mengharagai sunnah memanjangkan jenggot ini). ketika mereka marah2 hanya sebatas marah saja dan hanya sebatas melarang orang untuk mengadakan kegiatan kajian di masjid tersebut, tidak lebih dari itu.. selebihnya manusia tetap dibiarkan berada dalam kebodohan, bagaimana mereka akan tau tentang pentingnya ilmu agama, tentang pentingnya tata cara sholat yang benar.. jika acara2 yang rame hanya sekedar acara tahlilan, yasinan mulutan yang setelah selsai acara isinya makan2.. ketawa ketiwi, ngerumpi sambil sedal sedul ngiseep udud.. kapan sempatnya belajar ilmu agama.. itulah sesungguhnya yang mematikan Sunnah itu sendiri, semakin jauhnya umat dari agamanya.. yang diperakarsai oleh tokoh2 mereka yang jahil dan "ulama" mereka yang tidak peduli.. semoga Allah senantiasa menjaga dan menunjuki kita semua kejalan yang lurus... amin..

Anonim mengatakan...

uda uda, jangan pada saling mengolok2 buka QS. AL HUJUROT ayat 9-13.
tentang masalah ini kita ambil hikmahnya saja, yang setuju dengan tahlilan silahkan kerjakan, monggo.
sedangkan yang tidak setuju silakan abaikan.
mantapkan hati antum sekalian.

Anonim mengatakan...

jika ada perselisihan diantara kalian kembalilah pada Al Quran Dan As sunnh...jika di Al quran Tidak di perintahkan ya tinggal kan..jika di As sunnah tidak di ajarkan ya di tinggalkan..karena pedoman kita adalah Al Quran dan Tauladan kita adalah Sunnah Muhammad Rasulullah SAW...Sesungguhnya Islam itu mudah, hanya kita saja yg membuat susah..

Anonim mengatakan...

yang jadi pertanyaan dasar adalah benarkah Imam Syafi'i melaksanakan Tahlilan...jika memang ada tunjukan riwayatnya...jika memang Imam Syafi'i tidak melaksanakn Tahlilan berarti orang orang yg mengaku bermahzab Imam Syafi'i telah memfitnah Imam Syafi'i...dan sesungguhnya Imam kita sesama muslim adalah Nabi Muhammad SAW...

Annonim mengatakan...

imam yang memimpin tahlilan tidak mau mengakui kebenaran ( menyembunyikan) Al-Qur'an & As-Sunnah, karena takut kehilangan pengikut dan takut kehilangan Amplop yang berisi uang setelah mimpin tahlilan. Allah yang Maha Tahu.

Anonim mengatakan...

wah seru bgt olok2annya...orang non muslim pst seneng bgt tuh baca blog ginian...
udah deh seberapa dalam sih ilmu panjenengan semua...yg wahabi monggo berwahabi secara bijak, bgitu juga yg NU,logikanya lebih milih ngurusin perbedaan intern islam atau mikirin sodara2kita yg dimurtadkan...
jalan menuju Alloh itu banyak,jgn jalan jd tujuan,kita ngrasa paling bener krn kita menjadikan jalan sebagai tujuan,seolah jalannyalah yg paling lurus...
yuks satukan islam dalam syahadat...MERDEKA!!!HIDUP ISLAM!!!

Anonim mengatakan...

wkwkwkwkwk....
hik.hik.hik

Anonim mengatakan...

WAHABI SELALU BILANG MAULID, TAHLILAN MANA DALILNYA SEKARANG ANE MAU TANYA APAKAH ADA DALIL PELARANGAN MAULID NABI ATAU TAHLILAN ........

M.Nur mengatakan...

Mas kalau ibadah, itu bukan dicari "Apakah ada dalil pelarangannya" tapi yg cari harusnya " Mana dalil yg menyuruhnya"
Man 'amalan sholihan laisa 'alaihi amruna fahuwa raddun

Anonim mengatakan...

Lebih ditegaskan lagi dalam hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barang siapa yang beramal bukan diatas petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak.” (Muttafaqun alaihi, dari lafazh Muslim)

Lebih menukik lagi pernyataan dari Al Imam Asy Syafi’I:

“Barang siapa yang menganggap baik suatu amalan (padahal tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah –pent) berarti dirinya telah menciptakan hukum syara’ (syari’at) sendiri”.

Anonim mengatakan...

hanya orang guoblok yang mengatakan mana qur'annya mana haditsnya, sesungguhnya kita mendapatkan ilmu secara turun temurun. jadi berfikirlah secara bijak. kalo pake alqur'an tu pegang yang erat tentang perbedaan seagama. jangan merasa paling benar. tolong sikapi ayat ini : LANA A'MALUNA WALAKUM A'MALUKUM. kalian itu guoblok, kalo sama orang islam selalu olok-olokan tapi kalo sama non islam toleransinya minta ampun.

ahmadbait66 mengatakan...

bismillahi ar-rahman ar-rahim,,,
sahabat-sahabatQ skalian, semoga kita akan selalu pada jalan yang penuh kebaikan,,,
mengingat semakin ruwetnya perbincangan tentang boleh tidaknya seseorang atau kelompok melakukan tahlilan atau semua yang berhubungan dengan hal tersebut, maka tidak ada salahnya jika kita mengetahui lebih dulu alasan NU membolehkan hal seperti tahlil ini..

NU mengatakan:
Dalam bahasa arab, Tahlil berarti menyebut kalimah “syahadah” yaitu “La ilaha illa Allah” (لااله الا الله). Definisi ini dinyatakan oleh Al-Lais dalam kitab “Lisan al-Arab”. Dalam kitab yang sama, Az-Zuhri menyatakan, maksud tahlil adalah meninggikan suara ketika menyebut kalimah Thayyibah.

Namun kemudian kalimat tahlil menjadi sebuah istilah dari rangkaian bacaan beberapa dzikir, ayat Al-Qur'an, do'a dan menghidangkan makanan shadaqah tertentu yang dilakukan untuk mendo'akan orang yang sudah meninggal. Ketika diucapkan kata-kata tahlil pengertiannya berubah seperti istilah masyarakat itu.

Tahlil pada mulanya ditradisikan oleh Wali Songo (sembilan pejuang Islam di tanah Jawa). Seperti yang telah kita ketahui, di antara yang paling berjasa menyebarkan ajaran Islam di Indonesia adalah Wali Songo. Keberhasilan dakwah Wali Songo ini tidak lepas dari cara dakwahnya yang mengedepankan metode kultural atau budaya.

Wali Songo mengajarkan nilai-nilai Islam secara luwes dan tidak secara frontal menentang tradisi Hindu yang telah mengakar kuat di masyarakat, namun membiarkan tradisi itu berjalan, hanya saja isinya diganti dengan nilai Islam.

Dalam tradisi lama, bila ada orang meninggal, maka sanak famili dan tetangga berkumpul di rumah duka. Mereka bukannya mendoakan mayit tetapi begadang dengan bermain judi atau mabuk-mabukan. Wali Songo tidak serta merta membubarkan tradisi tersebut, tetapi masyarakat dibiarkan tetap berkumpul namun acaranya diganti dengan mendoakan pada mayit. Jadi istilah tahlil seperti pengertian di atas tidak dikenal sebelum Wali Songo.

KH Sahal Mahfud, ulama asal Kajen, Pati, Jawa Tengah, yang kini menjabat Rais Aam PBNU, berpendapat bahwa acara tahlilan yang sudah mentradisi hendaknya terus dilestarikan sebagai salah satu budaya yang bernilai islami dalam rangka melaksanakan ibadah sosial sekaligus meningkatkan dzikir kepada Allah.

Persoalannya adalah, apakah doa orang yang bertahlil akan sampai kepada mayit dan diterima oleh Allah? Jika diperhatikan dalam hadits bahwa Nabi SAW pernah mengajarkan doa-doa yang perlu dibaca untuk mayit:

عَنْ عَوْفٍ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ قَالَ: صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى جَنَازَةٍ فَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ اللَّهُمَّ اِغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَاعْفُ عَنْهُ
“Diriwayatkan dari ‘Auf bin Malik, ia berkata; Nabi SAW telah menunaikan shalat jenazah, aku mendengar Nabi SAW berdoa; Ya Allah!! ampunilah dia, rahmatilah dia, maafkan dia.”

Maka dengan demikian, apabila seseorang yang mengadakan tahlil, mereka berzikir dengan mengalunkan kalimah syahadah terlebih dahulu, kemudian mereka berdoa, maka amalan itu tidak bertentangan dengan syari’at, sebab bertahlil itu sebagai cara istighatsah kepada Allah agar doanya diterima untuk mayit.

Dari hadis tersebut juga dapat diambil kesimpulan hukum bahwa, doa kepada mayit adalah ketetapan dari hadits Nabis SAW maka dengan demikian, anggapan yang mengatakan doa kepada mayit tidak sampai, merupakan pemahaman yang hanya melihat kepada zhahir nash, tanpa dilihat dari sudut batin nash. Argumentasi mereka adalah firman Allah SWT:


وَاَنْ لَيْسَ للإنْسَانِ اِلاَّ مَاسَعَى


“Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39)

Juga hadits Nabi Muhammad SAW:

demikianlah pra komentar mereka tentang tahlilan,,,
saya harapkan dengan memahami di atas bisa mengurangi perselisihan yang sudah berlarut-larut ini.
dengan artian barang siapa menghendaki tahlil= ya monggo laksanakan.
dan barang siapa tidak menghendaki= monggo tinggalkan saja dengan tanpa mengkritik pada yang menghendaki, demi tercapainya kehidupan yang akur diantara sesama muslim.

kim aloonk mengatakan...

untuk lebih jelasnya tentang argumen di atas, coba buka KUMPULAN ARTIKEL DINIYAH NU, disitu masih banyak dalil yang membolehkan akan melaksanakan tahlil.

diantaranya:

وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلإخَْوَانِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإَْيْمَانِ
(QS Al-Hasyr 59: 10)

Dalam kitabSyawahidu al Haq, karya Syeikh Yusuf Ibn Ismail an-Nabhani: 118 dinyatakan:

وَيَجُوزُ التَّوَسُّلُ بِهِمْ إلَى اللهِ تَعَالَى ، وَالإِسْتِغَاثَةُ بِالأنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ وَالعُلَمَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ بَعْدَ مَوتِهِمْ لأَنَّ مُعْجِزَةَ الأَنْبِيَاءِ وَكَرَمَاتِ الأَولِيَاءِ لاَتَنْقَطِعُ بِالمَوتِ

Dr. Ahmad as-Syarbashi, guru besar pada Universitas al-Azhar, dalam kitabnya, Yas`aluunaka fid Diini wal Hayaah juz 1 : 442, sebagai berikut:
وَقَدِ اسْتَدَلَّ الفُقَهَاءُ عَلَى هَذَا بِأَنَّ أَحَدَ الصَّحَابَةِ سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّم فَقَالَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّا نَتَصَدَّقُ عَنْ مَوتَانَا وَنُحَجُّ عَنْهُمْ وَنَدعُو لَهُمْ هَلْْ يَصِلُ ذَلِكَ إِلَيْهِمْ؟ قَالَ: نَعَمْ إِنَّهُ لَيَصِلُ إِلَيْهِمْ وَإِنَّهُمْ لَيَفْرَحُوْنَ بِهِ كَمَا يَفْرَحُ اَحَدُكُم بِالطَّبَقِ إِذَا أُهْدِيَ إِلَيْهِ

dan banyak lagi yang lainnya. thq

Anonim mengatakan...

tolong ketika menyampaikan sebuah ilmu disampaikan yang sejujur-jujurnya karena tanggungjawab kita kepada ALLAAH TA'AALAA berat, jangan karena dorongan dari hawa nafsu belaka. terimakasih....

Anonim mengatakan...

dalam islam banyak sekali imam, kenapa?karena setiap imam tidak bisa 24 jam (iman juga manusia butuh ke toilet,butuh tidur,dll) bersama Kanjeng Nabi, karena itu baik imam Safi'i,imam Wahabi,dll saling mengisi. di jamannya Nabi Muhammad SAW tidak melaksanakan tahlil, mungkin karena di jaman itu Nabi lebih berfokus pada penyebaran agama, masih banyak perang,dll. Nabi juga dilarang mendoakan kakeknya karena berbeda agama. Semua apa yang kita lakukan itu berbalik pada niatnya. Kenduri itu ada doanya,doa itu ditujukan pada Allah SWT, kenduri itu juga bermanfaat karena kita berbagi dengan lingkungan sekitar, nasi kenduri dibawa pulang tetangga-tetangga. Hubungan horizontal dan vertikal,pada Allah SWT dan sesama muslim tercapai. selain itu kebudayaan kita juga lestari.

Anonim mengatakan...

TEROREEEETTTT...
SEMUANYA NGAKU BENER...
YANG JELAS APA YANG KITA LAKUKAN PASTI ADA BALASANNYA WALAU SEKECIL BIJI JAROH..........

Anonim mengatakan...

astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah. Sahabat-sahabatku semua, sebaiknya kita berguru kepada guru yang benar-benar paham tentang Alqur'an dan Assunnah. Bukan berguru kepada orang yang hanya menggunakan akalnya saja, tapi tidak benar-benar memahami Alqur'an dan Assunnah.
Tidak sembarang orang bisa memahami Alqur'an dan dan Assunnah dengan baik dan benar, karena untuk memahaminya tidak cukup hanya bisa bahasa arab, tetapi harus bisa memahami bahasa Alqur'an dan Assunnah secara menyeluruh, tidak sepotong-sepotong, memahami asbabunnuzul, dan peristiwa-peristiwa yang melatarbelakanginya, paham ushul fiqih, dan lain-lain.
Mari kita mantapkan ibadah kita dengan berguru dan bertanya pada orang yang faham tentang agama islam. Jangan berguru dengan orang yang tidak jelas riwayatnya. Apalagi hanya membaca buku-buku, atau tulisan-tulisan di internet.
Barang siapa tidak berguru maka gurunya adalah setan.
Mari umat islam bersatu. jangan saling mengolok-olok, karena yang mengolok-olok belum tentu lebih baik dari yang diolok-olok.
Wallahu a'lam bishawab.

abdur rouf salafushsholih generasi pejuang sunnah mengatakan...

Sebaik-baik perkataan adalah Kalamullah (Al-Qur’an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam (As-Sunnah Ash-Shahiihah), dan sebaik-baik pemahaman atas dua hal tersebut adalah pemahaman para shahabat Rasulullah radliyallaahu ‘anhum ajm’ain (atsar as-salafush-shalih).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

إن الدين يسر ولن يشاد الدين أحد إلا غلبه فسددوا وقاربوا……..

“Sesungguhnya agama itu mudah. Orang yang bersikap berlebih-lebihan dalam beragama pasti akan kalah. Beramallah yang benar ! Beramallah yang paling dekat dengan pengamalan syari’at…” (HR. Bukhari nombor 39 – penomoran dari maktabah sahab : 39 dan 6098; dan Muslim nomor 2816).

hadits di atas memberikan kefahaman bagi kita semua bahwa agama Islam ini adalah agama yang mudah. Mudah untuk difahami dan mudah untuk diamalkan. Seorang muslim hanya dibebani untuk mengerjakan apa-apa yang dicontohkan dan meninggalkan apa-apa yang dilarang atau tidak ada contohnya (dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam). Itulah salah satu sisi kemudahan yang sangat besar bagi umat Islam. Mereka sekali-kali tidak dibebani untuk membuat-buat syari’at baru yang akhirnya justru memberatkan.

janganlah kalian saling ngotot dalam perdebatan, gunakankanlah akal fikir kalian dengan hati, jangan gunakan nafsu, apalagi dalam masalah tahlil.

islam adalah agama yang sempurna, tak perlu di tambah, di kurang atau di rubah, apabila tahlil tidak ada contohnya dari rasulullah SAW, maka jelas jelas itu harus di tinggalkan, karna kita ini ahlussunnah, dimana ahlussunnah ya harus mengikuti sunnah, rasulullah adalah suri tauladan bagi umat islam.

ingat dalam hadits di jelaskan: "Barang siapa menipu umatku maka baginya laknat ALLAH, para malaikat dan seluruh manusia. Ditanyakan "ya Rasulullah, apakah pengertian tipuan umatmu itu?" belia menjawab, "mengada adakan amalan bid'ah, lalu melibatkan orang orang kepadanya." (HR. DARUQUTHIN dari ANAS).

maka dari itu kita harus pandai dalam memahami ajaran agama islam ini, jangan hanya membeo ikut taqlid ulama, apalagi kalau tidak sesuai dengan alquran dan assunnah, hanya kepada ALLAH dan RASULNYA lah.

Wallahu a'lam

dian mengatakan...

1 hal yg sering diperbincangkan adalah bahwa tahlil adalah mengikuti madhzab syafi'i.. tp yg perlu kita ingat bahwa imam syafi'i sendiri pernah mengatakan dalam kitabnya "Jika kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah shallahu 'alayhi wa sallam, maka berkatalah dengan Sunnah Rasulullah itu dan tinggalkan perkataanku itu".. itu menandakan bahwa jika imam syafi'i salah itu merupakan ijtihad beliau dan kita harus tatap mengikuti yg benar, jd jgn hanya taqlid buta..

masalah tidak boleh tahlilan jg jgn hanya menyalahkan wahabi karena mmereka jg pasti punya dasar... sebaiknya harus dikoreksi lg... apakah memang ajaran itu berasal dari Rosululloh ato bukan.. sebab klo kita lihat sejarah hancurnya umat terdahulu adalah disebabkan mereka mengamalkan amalan2 yg tidak di ajarkan oleh rosulNYA sehingga mereka menjadi tersesat...

trus harus kita lihat jg Al-maidah ayat 3 bahwa agama ini sudah sempurna... oleh karena itu jika kalian merasa harus menambahi lg amalan kalian ap g sama aj dengan menuduh Rosululloh menyembunyikan ajaran ALLAH kepada kita?

1 hal lg yang saya tahu dari sejarah adalah imam Syafi'i adalah guru dari imam ahmad dalam bidang fiqih. Imam ahmad notabene adalah mahzab yg diikuti oleh Syaikh ibnu taimiyah & Syaikh ibnu wahab.. jad secara garis besar ajarannya pasti sama... selain itu bisa dikatakan imam ahmad jg salah satu ulama Syafi'iyah..

Tetapi yg perlu diketahui jg imam syafi'i berguru pada imam ahmad dalam bidang hadits.. imam syafi'i sendiri mengakui keunggulan imam ahmad dlam hal pemahaman hadits..ini yg perlu diketahui karena pokok dari smw ilmu dalam agama ini adalah salah satunya Al hadits.. jd yg menjadi salah satu rujukan ulama wahabi adalah hadits2 yg diriwayatkan imam ahmad & jg fatwa2 beliau karena keunggulan beliau dalam pemahaman hadits..

sampai sekarang saya jg belum menemukan di kitab2 imam sayfi'i maupun ulama2 syafi'iyah seperti imam nawawi yg pernah memfatwakan bolehnya tahlilan atau semacamnya.. justru yg saya tahu kegigihan beliau2 dalam memperjuangkan ajaran Rosululloh semurni2nya tanpa ditambahi maupun dikurangi..

demikian yg saya tahu semoga pembaca blog ini lbh bisa memahami dan jg kita bisa saling mengoreksi ksalahan2 kita

wallohu a'lam

Anonim mengatakan...

Tahlil cuma ada di Indonesia Bung!!! sedikit yang menyerupai yaitu di Iran. Tidak kita temukan di kitab-kitab Ulama Syafi'ie tentang ajaran yang menganjurkan Tahlilan, bahkan di kitab utama Imam Syafi'ie, yaitu kitab Al Umm, tidak kita temukan pelajaran tentang hal ini, apalagi contoh dan anjuran. sekali lagi, hal ini cuman ada di Indonesia saja dan beberapa bagian dari negara tetangga sesama wilayah (yg dulunya) nusantara.

Jadi, buat mereka yang bersemangat terhadap Tahlil, silahkan beramal dengan prinsip kalian. dan nanti di akhirat silahkan dipertanggungjawabkan saja.

Buat temen-temen yang Wahabi, Salafy, atau Haroki, silahkan jalankan prinsip kalian yg tidak mau Tahlilan. kalau kalian bermaksud berdakwah kepada mereka yang tahlilan (yg kalian anggap melakukan amalan salah), maka tugas kalian hanya menyeru (bukan mengolok-olok). perkara mereka ikut atau tidak dengan seruan kalian, itu bukan lagi urusan kalian. Allah saja yang akan memberikan penilaian thd usaha kalian. jangan dikotori usaha tersebut dengan mengolok-olok atau merendahkan mereka (yg secara aqidah adalah saudara kalian juga).

Satu yg perlu kalian catat, wahai temen-temen yg berfaham Wahaby, Salafy, atau Haroky. Bahwa terkadang kita perlu melihat VISUALISASI ibadah yg dilakukan oleh ulama-ulama (yang sering kalian jadikan rujukan). Nah, sekarang ada YOUTUBE, jadi kita bisa lihat deh tuh visualisi tsb di YOUTUBE.
Contoh: PAKE CELANA NGGANTUNG SEBETIS. Kalian bisa lihat bagaimana pakaian bagian bawah SYAIKH BIN BAZ dan Para Imam Masjidil Haram, di Youtube. caranya gampang koq, masukin aja kata kunci: Sheikh Bin Baz, atau Abdul Rahman Assudais live, dsb.
Begitu juga dengan goyang telunjuk waktu tasyahud. Visualisasinya bisa dilihat koq di Youtube (Bagaimana para Imam Masjidil haram TIDAK GOYANG TELUNJUK). Lihat di Youtube: Shuraim live in India.

Begitu juga tentang tatacara Turun sujud dari berdiri i'tidal. ternyata yang turun adl dengkul duluan, bukan tangan!!! ("Jangan seperti Onta", kata Nabi Saw. Onta itu kalo turun maka kaki depan/tangan duluan).

Singkat kata, kita mesti banyak belajar dan mengendalikan diri lagi.

Salam

saefulefendi mengatakan...

fa intanaja'tum fi syaiin, farudduhu ilalloh wa rosulih.. (jika kalian brselisih ttg ssuatu, maka kembalikanlah ssuatu tu pd Alloh SWT dan rosulNya)

saefulloh Al Muhtarom mengatakan...

Kenapa c Saudara2Q saling berdebat seperti ini??
Bahkan dengan kata2 yang kasar
kenapa tidak menggunakan cara yang lebih bijak?
Jika Warga Nahdliyyin meyakini kegiatan semacam tahlilan, maulid Nabi dsb itu ada dasarnya dan memang ada nilai kebaikannya, kenapa Non Nahdliyyin secara Frontal memvonis kegiatan smcam itu tidak akan diterima Nilai kebaikannya?
Jika Non Nahdliyyin meyakini kegiatan semacam itu bid'ah dan tidak diterima, kenapa warga Nahdliyyin mesti Marah? Tidak senang jika dianggap amalnya tdk diterima??
Bukankah Alloh yang punya Hak semata untuk menerima Ibadah Kita???
Sedangkan cara kita ibadah, mengapa mesti dipertentangkan??? Robb Kita sama.. Nabi kita sama... Kitab panutan kita sama... Syahadat kita sama...jumlah rokaat sholay kita sama...
perbedaan yang selama ini saya perhatikan diperdebatkan bahkan sampai menggunakan kata2 yang tidak pantas adalah perbedaan yang sifatnya furu'iyyah... kenapa kita harus memperdebatkan soal jari diam dan bergerak dalam tsyahud??? knp kita kita harus mmpermasalhkan lutut atau tangan dahulu kita sujud?? kenapa kita hrus memvonis salah warga yang membaca tahlil?? sodaqoh??
Walohu A'lam bisshowab..

Anonim mengatakan...

Sesungguhnya bukan masalah boleh atau tidak boleh. tetapi yang berpengetahuan mempunyai kewajiban untuk menyampaikan pada yang belum tahu. karena kita akan di mintai pertanggung jawaban dihadapan Allah, kalau kita tidak saling mengingatkan. Tolonglah, setiap yang namanya ibadah, haruslah ada dalilnya, apapun bentuk ibadahnya, haruslah ada dalil yang kita pegang. karena itulah yang akan menyelamatkan kita. seperti perintah Rosullah untuk berpegang teguh pada Al-Qur'an, sunnah Rasul, dan khulafaurasyidin.

Anonim mengatakan...

sebenarnya yang comment ini sudah membaca bukunya belum yah? kok langsung ribut?

ribut-ribut masalah bid'ah.
saya sendiri berfikir, kita solat dimasjid yang tingkat. padahal Rasullah SAW tidak pernah mencontohkan.
apakah sah solatnya? karena tidak ada tuntunan dari Nabi SAW.

manakah dalil yang secara tegas (secara teks) Rasulullah SAW menyuruh atau minimal membolehkan imam solat di bawah, ma'mum solat di atas atau imam solat di atas, ma'mum solat di atas.

kalau tidak ada, berarti masjidil haram harus dirubuhkan, karena telah membuat bid'ah, sedangkan bid'ah itu sendiri semuanya sesat (menurut sekelompok orang yang kaku dalam memahami agama)

hamba allah mengatakan...

inilah tanda-tanda hari ahir telah dekat. tolong semua saudaraqu muslim BERFIKIR !!!

Anonim mengatakan...

siapa sih para pengolok-olok saudara sesama yang ngaku musli paling benar? ni? setahu saya para ulama/kiyai sdh sangat dipercaya ...salafy wahaby saya pribadi baru tahu.....( bisa di percaya ???)

Anonim mengatakan...

@all yang mencap seenaknya ini bid'ah itu bid'ah

melafazkan niat itu diluar solat, jd bukan bid'ah

dan saya mau tanya, mohon dijawab

sah atau tidakkah solat seseorang yang tidak mengikuti peraturan Rasulullah?
tentu tidak sah, betul kan?

lalu bagaimana dengan solat kalian (wahai orang-orang yang seenaknya mencap bid'ah), jika kalian solat dimasjid bertingkat?
dimana imam solat diatas makmum solat dibawah atau sebaliknya imam solat dibawah & makmum solat dibawah?
hal ini tidak pernah dicontohkan Rasulullah SAW.

jika kalian berpatokan pada 1 hadits & hanya melihat TEKS
"barang siapa melakukan suatu amal yang tidak ada contoh dariku maka ia tertolak" HR. Muslim

maka mendirikan masjid bertingkat adalah bid'ah
solat dimasjid bertingkat pun bid'ah
& setiap bid'ah adalah sesat
berarti kalian (wahai orang-orang yang mencap bid'ah seenaknya), adalah pelaku bid'ah, & pelaku bid'ah adalah orang yang sesat & orang yang sesat tempatnya di neraka

Anonim mengatakan...

Kenapa sih harus bersitegang sesama umat Islam ?
Begini saja: mau melakukan suatu amalan, ya lakukan saja, drpd mereka yg tidak melakukan apa2; sholat tidak, puasa tidak, ngajipun kagak....ya sifat seperti inilah yang disukai kaum kafir, selalu bertentangan dengan saudara sendiri, saling men-jelek2an, berarti setiap hari kita makan bangkai saudara kita sendiri. Sampai2 awal puasa aja diperdebatkan... kadang poso disik, kadang poso kari. Sing bener awak dewe iki kiblate nang ndi se ??? Mosok berkiblat nang pemerintah sing koyok ngene iki.. (bagi yang mau berfikir)

Anonim mengatakan...

setuju..

bagi yang ingin melakukan suatu amalan (selama dia memegang dalil2 shahih, hasan), silakan lakukan saja.

bagi yang tidak mau melakukannya, silakan..

jangan ada yang mencap bid'ah, sesat seenaknya.

Anonim mengatakan...

hmmm.... memang mayoritas umat Islam di Indonesia terutama di Jawa susah sekali melepas tradisi moyangnya. Belum cukupkan kita berpegang pada Al-Qur'an & sunnah? Adakah risalah yang telah disampaikan kepada umat manusia belum cukup lengkap sehingga kita berusaha melengkapi dengan cara mengadakan tradisi diluar kebiasaan Rasulullah? Ditambah lagi dengan mengandalkan akal pikiran sendiri dan menganggap sah dan benar, padahal sekalipun Rasul tidak pernah memberi contoh.
http://www.wattpad.com/768003-tahlilan-yasinan-diadopsi-dari-kepercayaan

Anonim mengatakan...

Kalau soal masjid bertingkat mbok ya cari referensinya to mas...
Nih kalau ente belum paham. http://akurahmathidayat.blogspot.com/2011/02/hukum-shalat-dalam-satu-masjid.html

Anonim mengatakan...

waduh
ini orang aneh2 wae..

waktu ahlussunnah mengadakan tahlilan, perayaan maulid, dll, diminta dalil qath'inya (dalil yang menerangkan secara gamblang, bukan fatwa ulama, atau ijma' ulama)

tapi ketika dibalik, dia yg diminta dalil qath'i atas solat dimasjid bertingkat malah pakai fatwa MUI.

gimana toh mas pemahaman anda dalam menggunakan kaidah fiqih?

Anonim mengatakan...

orang ahlussuunah wal jama'ah itu menggunakan Al-Qur'an & Hadits juga mas...

tapi untuk menafsirkannya, ahlussunnah wal jama'ah melihat berbagai referensi dari para ulama2 salaf & ulama2 mujtahid.

tidak hanya melihat teks, langsung ikut.
kalau hanya melihat teks tanpa melihat mkana & kandungan serta korelasi antara yg satu dengan yg lain, dsb, lalu apa bedanya dengan non Muslim?
liberal itu melihat aal-Qur'an & Hadits hanya teksnya saja.
sehingga mereka menemukan antara ayat dengan ayat saling berbenturan, antara hadits & hadits saling berbenturan, antara ayat & hadits saling berbenturan, sehingga orang liberal menganggap bahwa al-Qur'an tidak murni alias bukan Firman ALLAH SWT.


orang2 ahlussunnah wal jama'ah bukan seperti orang2 liberal yang hanya melihat teks, tapi orang2 ahlussunnah wal jama'ah itu melihat Al-Qur'an, Hadits dan untuk mengetahui maksud ayat & hadits, melihat pendapat ulama2 salaf & ulama2 mujtahid yg sudah tentu amal ibadahnya tak diragukan lagi, serta hafalannya sangat luar biasa.

tidak seperti wahabi yang mengagungkan al-bani yang hanya hafal kurang dr 100rb hadits tanpa hafal & tak paham sanad 1 pun, tapi sudah berani menentukan hadits itu shahih, hasan, dhoif, maudhu', dll

& kebanyakan wahabi sekali melihat teks Al-Qur'an & Hadits sudah berani menganggap ulama2 salaf & ulama2 mujtahid sesat.

apakah wahabi lebih pintar dari ulama2 salaf & ulama2 mujtahid?
padahal ulama rujukannya hanya al-bani yang pny ilmu dangkal (dibandingkan ulama2 salaf & ulama2 mujtahid)

Anonim mengatakan...

Dalam buku yang ditulis H Machrus Ali, mengutip naskah kuno tentang jawa yang tersimpan di musium Leiden, Sunan Ampel memperingatkan Sunan Kalijogo yang masih melestarikan selamatan tersebut:“Jangan ditiru perbuatan semacam itu karena termasuk bid'ah”. Sunan Kalijogo menjawab: “Biarlah nanti generasi setelah kita ketika Islam telah tertanam di hati masyarakat yang akan menghilangkan budaya tahlilan itu”.

hehehe...

Anonim mengatakan...

hehehe

begitulah kalau marus ali jadi rujukan.

orang wahabi hobinya memelintir sejarah, & mafsirkan Al-Qur'an & Hadits seenak udelnya aja.

yg wahabi lakukan tentang marus ali, juga mau menyamarkan Kyai Ahlussunnah Wal Jama'ah, yaitu KH, Mahrus Ali dari Lirboyo.

padahal secara ilmu jauh sekali KH. Mahrus Ali dengan si marus ali punya wahabi, ibarat Professor dengan anak TK yang baru bisa mengenal huruf hijaiyyah.

secara amal apalagi..

ya bgitulah cara wahabi, memaksakan ajarannya kepada ahlussunnah wal jama'ah, seperti kelakuan JIL, Syiah, dan non Muslim, wahabi menggunakan segala cara agar Ahlussuunnah Wal Jama'ah menjadi wahabi

Anonim mengatakan...

ayo..

siapa yang bisa mendatangkan dalil qath'i prihal solat di masjid bertingkat?

ulamanya wahabi (marus ali) itu solat di masjid tidak bertingkat loh..bahkan solat pk sendal.
ayo, kl mau jadikan marus ali jadi rujukan, monggo solat di masjid yg tidak bertingkat, sekalian pk sendalnya.

sekali lagi,
kalau wahabi minta dalil qath'i tentang amalan2 Ahlussunnah wal Jama'ah, maka Ahlussunnah Wal Jama'ah juga minta dalil qath'i dari wahabi

ayo, siapa yg bisa mendatangkan dalil QATH'I tentang diperbolehkannya solat di masjid bertingkat?

adam ahmad mengatakan...

assalamu'alaikum, Wr Wb
Maaf setelah sya membaca komentar-komentar yang ada begitu jauh dari nilai islami dan tuntunan alqur'an, maka dari pada saling mencaci maki tidak karuan dan itu adalah yang haram, mari kita telaah dan cari dalil yang di nukil oleh saudara penulis
menurut penulis bahwa sunnah tahlilan terdapat dalam kitab al hawi lil fatawa dan sudah saya cari saya belum menemukan lafad أن سنة الإطعام سبعة أيام، tersebut d dalam alhawi, coba saya minta klarifikasinya di halaman berapa dan dalam bab apa

adam ahmad mengatakan...

kalau masalah yang ijma karena ada nash nya adalah yang tiga hal, shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih, serta badal haji , mendoakan mayyit, itu sudah bisa dikatakan ijma

Anonim mengatakan...

Imam Al-Suyuthi berkata:

أَنَّ سُنَّةَ اْلإِطْعَامِ سَبْعَةَ أَيَّامٍ بَلَغَنِي أَنَّهَا مُسْتَمِرَّةٌ إِلَى اءلآنَ بِمَكَّةَ وَاْلمَدِيْنَةَ فَالظَّاهِرُ أَنَّهَا
لمَ ْتَتْرُكْ مِنْ عَهْدِ الصَّحَابَةِ إِلَى اْلآنَ وَأَنَّهُمْ أَخَذُوْهَا خَلَفًا عَنْ سَلَفٍ إِلَى الصَّدْرِ اْلأَوَّلِ (الحاوي للفتاوي,ج:۲,ص:۱۹۴)

“Kebiasaan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan kebiasaan yang tetap berlaku hingga sekarang (zaman imam Suyuthi, sekitar abad IX Hijriah) di Makkah dan Madinah. Yang jelas, kebiasaan itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat Nabi SAW sampai sekarang ini, dan tradisi itu diambil dari ulama salaf sejak generasi pertama (masa sahabat SAW)” (Al-Hawi li Al-Fatawi, juz II, hal 194)



* Adapun Pendapat Imam Syafi’i yang sering di jadikan hujjah pelarangan dalil oleh segolongan kaum rahimahullah yang terdapat dalam kitab al-Umm berikut ini :

وأكره المأتم، وهي الجماعة، وإن لم يكن لهم بكاء فإن ذلك يجدد الحزن، ويكلف المؤنة مع ما مضى فيه من الأثر
“aku membenci Ma’tam, yakni sebuah Perkumpulan/jamaah, walaupun tidak ada tangisan bagi mereka sebab sesungguhnya itu memperbaharui kesedihan dan membebani biaya beserta apa yang pernah terjadi”. (al Umm (I/318)


Imam asy-Syafi’i menghukumi makruh atas illat yang beliau sebutkan sendiri yakni “yujaddidul huzn wa yukalliful mu’nah (memperbaharui kesedihan dan membebani biaya)", apabila tidak ada illat maka hukum makruh itu juga tidak ada, sebab kaidah ushul fiqh mengatakan : “al-‘Illatu tadillu ‘alaal Hukmi yakni illat itu menunjukkan atas hukum”.


Jadi, sekali lagi tidak ada pengharaman Tahlilan oleh Imam asy-Syafifi rahimahullah. Tapi jika perkataan Imam Syafi’I tersebut tetap dipaksakan untuk dijadikan Pelarangan berkumpul dirumah Mayit (Tahlilan) dimana didalamnya terdapat dzikruloh, maka yang terjadi akan bertentangan dengan Sabda Rasululloh Saw, tentang penyelenggaraan pertemuan/perkumpulan yang didalamnya ada pembacan al qur’an dan dzikir :
عن عبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسو ل الله صلى الله عليه و سلم وما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتب الله ويتدارسون بينهم الا نزلت عليهم السكينة و غشيتهم الرحمة وحفتهم
الملائكت وذكرهم الله فيمن عنده

Dari Abi Hurairah ra, ia berkata,”Rasulullah saw bersabda : “Tidaklah berkumpul suatu kaum di dalam suatu rumah dari rumah2 Allah swt, sambil membaca al qur’an bersama-sama, kecuali Allah swt akan menurunkan kepada mereka ketenangan hati meliputi mereka dengan rahmat, dikelilingi para malaikat dan Allahswt memujinya di hadapan makhluq yang ada di sisi-Nya.” (Sunan Ibn Majah : 221)

Dari hadits lain yang diriwayatkan dari Abi Sa’id Al Khudri, Rasulullah saw bersabda :

عن عبى سعيد الخدري قال قال قال رسو ل الله صلى الله عليه و سلم لا يقعد قوم يقعد قوم يذكرون الله عز وجل الاحفتهم الملائكة وشيتهم الرحمة ونزلت عليهم السكينة وذكرهم الله فيمن عنده

“Dari Abi Sa’id Al Khudri ia berkata,”Rasulullah saw bersabda,”Dan tidaklah berkumpul suatu kaum sambil menyebut asma Allah swt kecuali mereka akan dikelilingi para malaikat, Allah swt akan melimpahkan rahmat kepada mereka, memberikan ketenangan hati, dan memujinya di hadapan makhluq yang ada disisi-Nya.” (Shahih Muslim : 4868).

Anonim mengatakan...

Dari dulu "jargon2" yg dilontarkan para wahabis ga berubah....Dalil2nya juga itu2 aja...Setelah semua perdebatan tetap merasa paling benar...Dan bahasa komunikasinya "sangat indah".....mulai dari mencela, membid'ahkan, sampai mengkafirkan.. Subhanallah......Sungguh saya blm pernah tau ada ajaran, ataupun anjuran Rasulullah yg seperti itu.
Kalo ngaku sbg pejuang Sunnah, ya tunjukin dong. Ahlak rusak kok mau jadi pejuang sunnah... Sunnahnya wahabi ?...

madu pahit mengatakan...

Tidak usah bertele-tele. Mudah saja....
1. Kenapa Manusia terbaik, yang paling sholeh, yang paling taqwa, yang paling ikhlas, yang paling berilmu yaitu Rosulullaah SAW tidak melakukan tahlilan dihari 3,7,40,100 dll? Ingat pertanyaanya : MENGAPA BELIAU TIDAK MELAKUKANNYA ???? Sedang ketika itu dijumpai ada sahabat yang meninggal dunia, bahkan anak Rosulullaah SAW meninggal tidak ada acara tersebut. MENGAPA BELIAU TIDAK MELAKUKANNYA ????
2. Mengapa pula para sahabat yang jumlahnya ribuan tidak ada satupun yang melakukan ritual itu ????
3. Mengapa pula IMAM2 KITA YANG EMPAT TIDAK ADA YANG MELAKUKANNYA ????
4. Jika daun kurma diyakini bisa meringankan siksa kubur maka alangkah senangnya orang yang dikubur di daerah kebun kurma, karena tdk kering2. Bukan begitu maksudnya tapi baca dgn seksama kisah tersebut.
5. Klo permasalahan ini dibuka lebar saya kuatir orang semakin malas ibadah dan rajin maksiat sebab hanya menyandarkan pada banyak hadiah yg datang. Klo begitu klo para koruptor mati mereka tenang2 saja, kan duitnya bisa untuk undang jutaan orang untuk mendoakannya.
Salaam Damai berfikir jernih

Anonim mengatakan...

intinya mudah..

bagi ahli fitnah, kan tahlilan itu bid'ah, bagi ahlussunnah wal jama'ah, tahlilan itu sunnah, karena nilai yang terkandung dalam tahlilan.

nah yang jadi masalah adalah bid'ah
kl bid'ah adalah semua ritual yang tidak dilakukan oleh Rasulullah SAW, para sahabat. lalu Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Nasa'i, dll adalah AHLUL BID'AH.

karena membukukan hadits.
jika RASULULLAH SAW DAN PARA SAHABAT TIDAK MEMBUKUKAN HADITS MENGAPA PARA IMAM HADITS MALAH MEMBUKUKAN HADITS?

berarti mereka AHLUL BID'AH
dan menurut logika ahlul fitnah (tukang fitnah), semua ahli bid'ah masuk neraka
berarti Imam Bukhari, Muslim, Nasa'i, Daruquthni, Imam Ibn Majah, Imam Ahmad bin Hambal dll MASUK NERAKA.
karena para Imam hadits adalah sesat & masuk neraka maka yang mengikuti mereka adalah ahli neraka semua (termasuk kelompok wahabi si ahlul fitnah)

Anonim mengatakan...

para kiyai lagi pada debat nih, "debatnya copas dari artikel kiyai google" ckck

Anonim mengatakan...

antara debat & mempertahankan + memberitahukan mana yang haq, mana yg bathil kepada kaum wahabi adalah sesuatu yg berbeda.

kaum wahabi fanatik dengan muhammad bin abdul wahab, bin baaz, albani, dll. sehingga dengan mudahnya melontarkan kata "sesat", "syirik", dll

sedangkan ahlussunnah wal jama'ah tidak demikian, mencap sesat, syirik, dll ada prosesnya.
misalnya..
1. mengetahui betul amalan yg dilakukan (mislnya maulid, kata wahabi itu sesat karena wahabi itu buta atau masih awam apa itu maulid, padahal itu adalah wajib, karena bergembira atas kelahiran Rasulullah SAW adalah wajib).

2. sesuai atau tidak dengan al-Qur'an, sunnah, ijma' & qiyas?

itulah bedanya ahlussunnah wal jama'ah dengan wahabi dengan semboyan "kambing walaupun terbang".

dan ahlussunnah wal jama'ah disni bukan skedar copas, tapi kami punya kitab2 ulama salaf
sedangkan wahabi hanya copas dr yazid jawas, firanda, dkk

dj mengatakan...

tanda-tanda KIAMAT islam akan terpecah menjadi 72 bagian,ya ini lah buti-buktinya, semua pada berkomitmen dengan IMAMnya masing-masing dan menganggap yang tidak sejalan salah, Bukankah setiap IMAM memiliki dasar dan dalil masing-masing kenapa to kita harus terpecah belah dalam ISLAM itu sendiri, Lihatlah Yahudi terbahak-bahak melihat KITA, SUBHANALLAAAAAH, MAri saudaraku eratkan Diri kita dalam ISLAM yang KOKOH, Mau IMAMnya siapapun Kita tetap dalam wadah Agama yang sama Kok, Benar-benar ISLAM dalam kemunduran, Monggo kita BERSATU dulur sedoyooo..
SALAM silatu rahmi, Salam persaudaraan,

Anonim mengatakan...

@DJ
yups, setiap Imam memliki dasar, namun sayang disayang sekelompok buatan yahudi (Hempher) memelintir dalil demi kepentingannya semata.

sehingga dengan mudah mengatakan ini bid'ah, itu sesat, itu syirik, dll

Anonim mengatakan...

SUBHANALLAH..... ALHAMDULILLAH......LAAILAAHAILLALLAH.......ALLAHUAKBAR......
kalimat semulya itu masih juga menjadi dasar perdebatan tidak sehat yang ujung-ujungnya memecah belah umat, menghancurkan ukhuwah. ada yang saling hujat menjurus ke bid'ah, haram, aduh....... kalau seandainya rasulullah dan para sahabat tahu apa yang terjadi pada umat akhir zaman sebagaimana tergambar dari blogh ini tentu tidak ada pilihan lain bagi beliau kecuali memberikan hukuman seberat-beratnya kepada para pelaku yang sudang sangat lancang menjadikan sederet kalimat thayyibah sebagai dasar perdebatan mereka.

mending kita berlomba-lomba mendekatkan diri kepada Allah bukan malah saling menjauhkan diri dari Allah........

mending tobat
mending muhasabah
mending belajar lagi
mending ibadah yang buanyyak
mending giat-giatin temen-temen membuka forum-forum diskusi sehat....
mending "TOBAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAT,,,,,,,,"

GA ADA MANFAATNYA SALING NJELEK-JELEKIN SESAMA PENGANUT ISLAM......

SALAM DARI : SAFARUDIN, SEORANG TUKANG ANGON KAMBING YANG KEBETULAN IKUT BACA TULISAN PANJANG KARYA MAHASISWA ATAU BAHKAN PARA SARJANA YANG SEMPAT MENGENYAM BANGKU SEKOLAH DAN PERGURUAN TINGGI

INGAT !!!! ANDA SEKALIAN ORANG PINTAR, TUGAS ANDA MEMBUAT YANG LAIN JADI CERDAS, BUKAN MENGGOBLOK-GOBLOKKAN YANG LAIN. JADIKAN INDONESIA YANG KITA CINTAI INI CERDAS DAN TIDAK GAGAP AGAMA.

MASSALAMUALAIKUM ....

Anonim mengatakan...

yups, setiap seharusnya tidak ada saling ejek-mengejek, namun sayang disayang sekelompok buatan yahudi (Hempher) memelintir dalil demi kepentingannya semata.

sehingga dengan mudah mengatakan ini bid'ah, itu sesat, itu syirik, dll

M Munir Fuaedi mengatakan...

Ada sesuatu yang tidak bisa kita tolak dan harus diterima dengan legowo, yaitu :
1. Kita tidak meminta untuk dilahirkan dimana, menjadi suku apa, dan di negara mana.
2. Kita tidak memeinta untuk diberi bentuk fisik seperti apa, gemuk, kurus, rambut lebat, putih, hitamm, kuning.
3. Kita tidak memminta untuk menjadikan fulan sebagai orang tua kandung kita, orang tua angkat kita dan guru kta.

Tuhan berfirman yang intinya sesungguhnya Kami jadikan kalian semua besuku-suku dan berbangsa-bangsa adalah UNTUK SALING MENGENAL, yang paling baik diantaranya adalah yang paling mulia diantara kalian yang paling bertaqwa.

jadi ada kearifan dan nurani yang baik diantara suku suku dan bangsa bangsa di dunia ini yang nota bene itu adalah ciptaan Alloh, CIPTAAN ALLOH PASTI BAIK. jadi mohon dibedakan antara ISLAM dan ARAB. antar suku dan bangsa disuruh UNTUK SALING MENGENAL bukan untuk bertukar ADAT ISTIADAT. Setiap adat di dunia ini kalau dicermati pasti ada yang sangat sesuai dengan ISLAM. ambillah inti dari AL-QUR'AN dan HADIST, jangan ditelan mentah-mentah, kita dituntut untuk BERFIKIR.

Kasihan orang yang diberi rambut tidak subur, sehingga dia tidak bisa memanjangkan jenggot, kasihan orang eskimo (suku di kutub utara/selatan) jika dia harus pakai gamis atau jubah. Sangat heran bila orang di pegunungan yang airnya melimpah dia berwudlu dengan menggunakan air sebotol minuman mineral.

Nabi Muhammad dijadikan yatim karena ada maksud, nabi tidak diperkenankan untuk memberi contoh konkrit bagaimana cara berbakti kepada orang tua, karena itu adalah RAHASIA. Nabi hanya memberi Inti bahwa Ridlo Alloh di dalam Ridlo Orang Tua. Doa Baik anak kepada orang tua pasti diperkenankan. Setiap suku dan bangsa di dunia ini mempunyai naluri sendiri sendiri untuk memperlakukan kepada Orang Tua yang sudah Tiada di BUMI/DUNIA ini.

TAHLILAN memang nabi tidak mencontohkan/melakukan secara konkrit. TAHLILAN adalah kreasi naluri dan nurani manusia yang sangat hormat kepada orang tua atau orang yang sudah tiada yang dibungkus/disajikan secara ISLAMI.

Tahlilan hanya contoh kecil...,masih banyak lagi isyarat dari nabi yang tidak dicontohkan secara nyata tetapi kita bisa tahu dengan BERFIKIR...

Ternyata ISLAM itu INDAH
ISLAM itu BENAR...
ISLAM itu DAMAI...
ISLAM itu RAHMAT BAGI SELURUH ALAM...

Anonim mengatakan...

Ane cuman koment sma blognya aja dah.
kok namanya ashaburroyi yah ?, setahu ane artinya pengikut (penganut) pandangan akal..., right ?

Anonim mengatakan...

mw tanya sesuatu,lgi bingung nih, ada yang tawu gak?
di kmpung ane ada yang ngadain tahlilan untuk mengetahui siapa yang berbuat jahat seperti mencuri,membunuh dsb, Jika memang dia melakukan hal tersebut setelah ditahlilkan dia akan kna batu nya, kbyakan orang mnjadi gila.Tahlilan kayak gini ada nggak dalam islam, mohon penjelasan nya .........

Anonim mengatakan...

Jangan karna di undang utk mnghadiri tahlilan sampai2 mlalaikan panggilan dri allah utk mlaksanakan sholat wajib..itu saja..wassalam.

NU TOBAT mengatakan...

lebih selamat ikuti aja nabimu dlm beribadah...
jgn merasa udah seperti nabi mau bikin2 cara ibadah sendiri... lihat para shahabat melaksanakan islam.... nabi jadi barometernya. bukan kyai entuh.. bukan sunan sonoh.... bukan mbah anu....

Sulaiman al-farisi mengatakan...

ya Allah hancurkan dan binasakan orang-orang yang membuat kebid'ahan dalam agamamu seperti orang-orang yang mengadakan majlis tahlilan, kenduri arwah dan selamatan mayat..laknatlah mereka dan masukkan mereka ke dalam nerakaMu...

Sulaiman al-farisi mengatakan...

dasar bodoh beragama hanya berdasarkan hawa nafsu

Sulaiman al-farisi mengatakan...

segera copot anggapanmu sebagai orang yang menganut mazhab imam syafi'i, karena imam syafi'i tidak pernah mengajarkan tahlilan

Sulaiman al-farisi mengatakan...

berapa sih anda dibayar oleh amerika, sehingga anda menuduh orang yang tidak sepaham dengan anda dengan aliran wahabi (ngerti ga' sih anda apa itu wahabi)...anda telah melakukan pembohongan publik

Sulaiman al-farisi mengatakan...

imam syafi'i dan ulama-ulama mazhab syafi'i bukan ashabul ro'yi tapi ashabul hadits wal fiqh
apabila anda bangga dengan ashabul ro'yi berarti setan adalah tuan guru anda...bukankah setan mendebat Allah ta'ala karena mengagungkan ro'yu (akalnya)

Anonim mengatakan...

dikampung saya ngak ada tahlilan orang - orangnya rajin sholat, waktunya zakat, zakat. waktunya kurban, kurban. bahkan hari raya idhul adha kemarin kampung saya kurban tiga ekor sapi sepuluh ekor kambing.tapi kampung suami saya kalau kendurian - tahlilan nomer satu,tapi giliran sholat pada males. kemaren aja korban 1 ekor kambing itu juga dapet dari pemerintah padahal pada lumayan ada, rumahnya bagus.mohon pencerahan...

Anonim mengatakan...

Yang gak benar itu pada saat suara azan terdengar tp masih pd sibuk ngantri makanan habis tahlilan...apalagi acaranya dekat dengan masjid.

untuk sementara mengatakan...

TIDAK pernah kita mendengar ada seorang sahabat membacakan talqin kepada Rasulullah,, dan Rasulullah TIDAK pernah mewasiatkan kepada umatnya tentang tahlilan.

NABI KITA MUHAMMAD SAW sangat mencintai umatnya,maka tidak mungkin beliau menyembunyikan suatu amalan sehingga ada amalan yang menyusul di kemudian,, berarti antum tidak percaya pada Nabi Muhammad tapi malah percaya pada imam yang lain atau siapa yang antum maksud... wallahu a'lam

Anonim mengatakan...

Rasulullah juga menyerukan ijtihad dan mengaktualisasikannya sebagai pelajaran dan teladan, hal ini bisa dibuktikan dengan pengakuannya terhadap mu’adz bin jabal ketika ditugaskan ke yaman, seperti yang disebutkan dalam hadits riwayat Imam Ibi daud:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم كيف تقضي اذا عرض لك قضاء قال: بكتاب الله قال قإن لم في كتاب الله قال فبسنة الله رسول الله فإن لم تجد في سنة رسول الله ولا في كتاب الله قال اجتهد رأيي ولا الو فضرب رسول الله صدره وقال الحمد لله الذي وفق رسول رسول الله لما يرضى رسول الله
Nabi Muhammad SAW bertanya kepada mu’adz bin jabal”bagaiman engkau memutuskan suatu perkara jika diajukan kepadamu suatu persoalan”? mu’adz menjawab,”aku akan menyelesaikannya dengan al-qur’an”, bagaiman jika engkau tidak menemukannya dalam al-qur’an?, dia menjawab “aku akan menyelesaikannya dangan hadis rasulullah” bagaiman bila engkau tidak mendapatkannya dalam al-qur’an ataupun hadis”?dia menjawab”aku akan berijtihad sesuai dengan kemampuanku” lalu rasulullah menepuk-nepuk dadanya seraya bersabda”maha suci Allah yang telah member taufiq pada utusan rasulullah SAW.

Anonim mengatakan...

Ruang Ijtihad itu ada.. itu artinya bahwa ada hal-hal yg sekarang ada namun tidak ada di jaman Rosululloh SAW.. apakah Tidak tahu akan yang akan datang.. ? Nabi Sholallahu Ailaihi Wasalam aja memberikan ruang .. koq.. anda-anda menutup ruang ijtihad ??
Tidak semua hal baru itu ditentang oleh Rasululloh SAW.. camkan itu..

Anonim mengatakan...

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Allahumma Faqqih-Hu Fiddiini
ALLAHU AKBAR.................................

Anonim mengatakan...

Assalamu'alaikum w w
Maaf saudara2ku sekalian, daripada menghabiskan energi dengan berdebat soal boleh-tidak boleh, lebih baik gunakan energi buat yang lebih penting, dengan membentengi diri dan keluarga dengan keimanan yang benar sehingga dapat selamat dari api neraka..... kalau sekiranya masih merasa paling benar, minta tolong jawab pertanyaan sangat sederhana saya ini: "Kalau saudara2 ditakdirkan mati dalam waktunya, apakah saudara2 yakin termasuk orang2 yang selamat?" jikta anda belum yakin, lebih baik diam dan perbaiki diri, kalau anda punya pendapat sampaikan dan tidak perlu bersitegang.... jika ada yang mengajak berdebat, diamlah.... kadang diam itu emas....
Wassalam...

UD. Shanjaya, Banowati - Wanoja - Salem - Brebes mengatakan...

Tidakah telah sampai kepada umat yang mulia ini Sabda Rasulullah? :
"sebaik-baik generasi adalah zamanku, kemudian setelah zamanku (sahabat radhiallahum 'anhum ajmain), lalu generasi setelah sahabat (para tabiin)". (HR. Muslim, dll), lihat Tafsir Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat "QUL 'ATHIULLAH WARRASUUL".
Ikutilah teladan mereka, tanpa mengurangi dan menambah apa yang telah ajarkan Rasulullah kepada generasi terbaik pertama dan kedua". Sungguh tak layak bagi ummat ini mengambil perkataan ulama atau kiyainya apalagi mengikuti nasihatnya, padahal ajaran/ajakannya bertolak belakang dengan apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah dalam risalahnya. Simaklah perkataan 4 para Imam Madzhab, kesepakatan mereka satu ", "Idza shohal hadits fahuwa madzhabi".

Anonim mengatakan...

@Sulaiman al-farisi
doa anda "ya Allah hancurkan dan binasakan orang-orang yang membuat kebid'ahan dalam agamamu seperti orang-orang yang mengadakan majlis tahlilan, kenduri arwah dan selamatan mayat..laknatlah mereka dan masukkan mereka ke dalam nerakaMu... "
Rosul saja kepada orang2 kafir mendoakan yg baik agar masuk islam, ente sungguh bahlul. sungguh entelah yg beagama dengan nafsu. mudah2 doa yg ente katakan tidak bebalik ke ente. saya saja orang awam miris baca doa ente. sok nyunahh!!!
kelak di akherat akan terbuka mana yg haq dan bathil. masing2 saja ente punya guru kami pun punya guru. dasar WAHABI!!!!!

Anonim mengatakan...

SAYA MENANGGAPI PENJELASAN YG DI ATAS..YG KATANYA.'MENGAPA JAMAN ROSULULLO+SAHABAT TIDAK MEMBUKUKAN HADIS...
ITU KARENA BAHWA HADIS ITU KELUAR DARI SABDA ROSULULLOH DAN PARA SAHABAT DI BERI ILMU OLEH ALLOH.SWT..SEHINGGA MEREKA PD HAFAL APA YG DI SABDAKAN ROSUL.SAW... NAH DI JAMAN PARA IMAM..SEMUA HADIS DI BUKUKAN TUJUAN UMMAT SKRG INI BIAR BISA BELAJAR DAN MENJADIKAN PEDOMAN HUKUM..CEK NGERTI GOBLOK. IKU DUDUK FITNAH/BID'AH. YO KOEN AE SENG GOBLOK PIKIRANE.

Anonim mengatakan...

ma'af,ada dalilnya dari Nabi atau sahabat gak?tolong sebutkan,dan kenapa mirip dengan hindu ya?ada 3,7,40,100 dan 1000 hari?apakah Islam kurang lengkap sehingga harus ngambil ajaran hindu untuk tambahan?tolong sebutkan buku walisongo yang mana yang mengatakan itu?bukankah dalam muktamar NU th.1928 pernah dilarang ?

isroil mengatakan...

setan ..setan sedang bertengger di dada kalian .siapapun anda jangan merasa paling benar.mari wahai saudaraku seiman seagama.bersyahadat lagi. .dan beristigfarlah...!!!

Anonim mengatakan...

Allohu Akbar....akeh wong bodo ngaku pinter,,akeh wong salah ngaku bener...!

Anonim mengatakan...

Semua kembali kepada diri kita sendiri...!!!!Sudah kah Ibadah kita di terima ALLAH..?????????

Anonim mengatakan...

Yang coment : wahabi...WAtak HAram spt baBI
salafi...SeLalu saLAh dalam berFIkir..

saya sangat yakin ini adalah orang paling bodoh yang pernah ada di dunia

jundullah3.blogspot.com mengatakan...

Kita bisa baca Al Quran apakah belajar langsung dari Nabi saw? Kita belajar bahasa Arab apakah langsung kepada Nabi saw? Maka renungkan hal tersebut!

jundullah3.blogspot.com mengatakan...

Komentar kok nggak berani pakai nama (anonim)......yang komen pakai sandai anonim kebenaran komennya perlu dipertanyakan......dan boleh jadi dia takut kebohongannya diketahui.

Anonim mengatakan...

hahaha,,, betul,betul,betul

Moh Ichwanuddin mengatakan...

banyak anonim disini yah .....

ane tahlilan

kenapa jaman nabi gak ada .... karena ada dimuali dari jaman wali...
kenapa sahabat dan nabi gak lakuin

kan .... merubah isi dari agama Hindu .....

di atas ada semua lengkapnya

di indonesia aja ada nya???

di malaysia dan brunei emanggak ada yah?

Amuskan mengatakan...

Orang islam itu Biar Selamat itu ibadah nya Itiba Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin atau Itiba 3 Sunan sebagai pelaku bid’ah. Kenapa Mau Tahlilan saya tidak pernah dengar orang Adzan padahal itu baik, dengan kenapa yang mau Tahlilan tidak puasa sunnah Kamis dulu, sehingga pahala puasa yang dikirim tambah banyak, bagi mayit yang belum pernah puasa tapi Islam juga terpuasakan. itu semua baik biar lebih komplit cucuk sing etuk kerdusan sebagai pengganti Pahala yang dipaketkan bersama sama diacara Tahlilan.

Amuskan mengatakan...

Salah seorang ulama Syafi’i, Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata mengenai firman Allah Ta’ala,
وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”,
ومن هذه الآية استنبط الشافعي ومن تبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى ؛ لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم ، ولهذا لم يندب إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم أمته ولا حثهم عليه، ولا أرشدهم إليه بنص ولا إيماء ، ولم ينقل عن أحد من الصحابة رضي الله عنهم ، ولو كان خيراً لسبقونا إليه وباب القربات يقتصر فيه على النصوص ، ولا يتصرف فيه بأنواع الأقيسة والآراء ، فأما الدعاء والصدقة ، فذاك مجمع على وصولها ومنصوصٌ من الشارع عليها
Dari ayat ini Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa bacaan Qur’an tidak sampai pahalanya pada mayit karena bacaan tersebut bukan amalan si mayit dan bukan usahanya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menganjurkan umatnya dan tidak memotivasi mereka untuk melakukan hal tersebut. Tidak ada nash (dalil) dan tidak ada bukti otentik yang memuat anjuran tersebut. Begitu pula tidak ada seorang sahabat Nabi -radhiyallahu ‘anhum- pun yang menukilkan ajaran tersebut pada kita. Law kaana khoiron la-sabaquna ilaih (Jika amalan tersebut baik, tentu para sahabat lebih dahulu melakukannya). Dalam masalah ibadah (qurobat) hanya terbatas pada dalil, tidak bisa dipakai analogi dan qiyas. Adapun amalan do’a dan sedekah, maka para ulama sepakat akan sampainya (bermanfaatnya) amalan tersebut dan didukung pula dengan dalil (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, 13: 279).

Poskan Komentar

NU Online

Suara Muslim

Media Islam

Thariqat Sarkubiyah