Latest Updates
Tampilkan postingan dengan label Fatawa al-'Ulamaa'. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fatawa al-'Ulamaa'. Tampilkan semua postingan

Darul Iftaa' al-Mishriyyah (Lembaga Fatwa Mesir, Ed. Indonesia) ; Apa Hukum Merayakan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa Sallam ?

Nomor Urut   ;  140
Judul    : Merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw. dan Para Ahlul Bait
Tanggal Jawaban   : 03/07/2005
 
Pertanyaan : Memperhatikan permintaan fatwa No. 1267 tahun 2005, yang berisi: Apa hukum merayakan peringatan maulid Nabi Muhammad saw.?
 
Jawaban :
Dewan Fatwa

    Kelahiran Nabi Muhammad saw. merupakan rahmat Allah yang terus mengalir bagi seluruh manusia. Alquran menggambarkan keberadaan Nabi Muhammad saw. sebagai "rahmatan lil 'alamîn" (rahmat bagi semesta alam). Beliau merupakan rahmat tak bertepi yang mencakup semua sisi kehidupan, baik tarbiyah (pendidikan), tazkiyah (penyucian hati), pengajaran dan pemberian hidayah bagi manusia kepada jalan yang lurus. Semua itu mencakup aspek materi dan immateri dalam kehidupan manusia. Rahmat ini juga tidak terbatas pada manusia di zaman beliau saja, akan tetapi juga terus berkelanjutan kepada seluruh manusia sepanjang masa. Allah berfirman:

"Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka." (Al-Jumu'ah: 3).

    Merayakan peringatan maulid Nabi Muhammad saw. –sang penghulu dua alam; alam nyata dan alam ghaib, penutup para nabi dan rasul, nabi pembawa rahmat dan penolong umat— adalah salah satu amalan yang paling baik dan ibadah yang paling agung. Karena, perayaan ini merupakan ungkapan rasa gembira dan cinta kepada beliau, dan kecintaan kepada beliau merupakan salah satu pondasi dari keimanan. Diriwayatkan dalam hadis shahih bahwa Rasulullah saw. bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ
"Tidak beriman seseorang diantara kalian sehingga menjadikan diriku lebih dicintainya daripada ayahnya, anaknya dan seluruh manusia." (HR. Bukhari).

    Ibnu Rajab berkata, "Mencintai Nabi Muhammad saw. adalah salah satu pondasi keimanan. Kecintaan itu berjalan beriringan dengan kecintaan kepada Allah 'azza wa jalla. Allah telah menyebutkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw. berbarengan dengan kecintaan kepada-Nya. Allah pun mengancam orang yang lebih mendahulukan kecintaan kepada segala sesuatu yang dicintainya secara alami —seperti keluarga, harta, tanah air dan lain sebagainya— dari kecintaan kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad saw.. Allah SWT berfirman,

"Katakanlah: "Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya serta dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." (At-Taubah: 24).

    Ketika Umar berkata kepada Nabi saw., "Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih saya cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku." Maka Nabi saw. bersabda kepadanya,

لاَ وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ
"Tidak. Demi Allah, sampai engkau menjadikan diriku lebih kau cintai dari pada dirimu sendiri."

    Maka Umar pun berkata, "Demi Allah, sesungguhnya sekarang engkau lebih saya cintai dari pada diriku sendiri." Maka Nabi saw. pun bersabda kepadanya, "Sekarang engkau telah mengetahuinya wahai Umar." (HR. Bukhari).

    Memperingati maulid Nabi saw. merupakan bentuk penghormatan kepada beliau. Dan menghormati Nabi saw. merupakan amalan yang mutlak dianjurkan, karena ia merupakan pondasi dan asas utama dalam akidah Islam. Allah SWT mengetahui derajat kemuliaan Nabi-Nya, sehingga Dia memberitahukan kepada seluruh alam mengenai namanya, pengutusannya serta derajat dan martabatnya. Seluruh semesta pun senantiasa bergembira dan berbahagia dengan keberadaan beliau sebagai cahaya, kelapangan, hujjah serta nikmat bagi seluruh makhluk Allah.

     Para salaf saleh kita, sejak abad keempat dan kelima hijriyah, telah memberi contoh untuk merayakan peringatan maulid Nabi saw.. Mereka menghidupkan malam maulidnya dengan berbagai macam bentuk ibadah, seperti memberi jamuan makan, melantunkan ayat-ayat Alquran, membaca zikir serta mendendangkan syair-syair dan bait-bait pujian untuk beliau. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh banyak ahli sejarah, seperti al-Hafiz Ibnu Jauzi, al-Hafiz Ibnu Katsir, al-Hafiz Ibnu Dihyah al-Andalusi, al-Hafiz Ibnu Hajar dan penutup para huffâzh, al-Hafiz Jalaluddin as-Suyuti rahimahumullah.

    Bahkan, beberapa orang ulama dan ahli fikih telah menyusun kitab-kitab mengenai anjuran memperingati maulid Nabi saw. dengan menyebutkan dalil-dalilnya yang shahih. Sehingga dalam diri orang yang mempunyai akal, pemahaman dan pikiran yang jernih, tidak akan ada sikap pengingkaran terhadap perayaan maulid yang telah dilakukan oleh para salaf saleh kita itu.

    Ibnu al-Hajj, dalam kitabnya al-Madkhal, secara panjang lebar menyebutkan keutamaan perayaan maulid Nabi ini. Dia memberikan penjelasan yang membuat lega hati kaum muslimin. Padahal, bukunya itu dia tulis dengan tujuan menyebutkan perbuatan-perbuatan bid'ah tercela yang tidak masuk dalam kerangka umum dalil-dalil syariat. Imam Suyuthi juga menulis sebuah risalah dalam masalah ini dengan judul Husnul Maqshid fî 'Amalil Maulid.

    Kata ihtifâl (merayakan), dalam bahasa Arab, berasal dari kata hafala, yahfilu haflan, wa hufulan yang artinya berkumpul. Seperti dalam kalimat hafala al-labanu fi adh-dhar' (air susu terkumpul di ambing susu binatang). Sedangkan kata kerja tahaffala dan ihtafala berarti ijtama'a (berkumpul). Kata kerja hafala masuk dalam bab kata kerja dharaba. Ihtafalû berarti ijtama'û wa ihtasyadû (mereka berkumpul). Kalimat: "Wa'indahu hafl min an-nâs", maksudnya terdapat sekelompok orang di tempatnya. Asal kata ihtifâl ini adalah berbentuk nomina (mashdar). Mahfil al-qaum berarti tempat perayaan dan berkumpulnya suatu kaum. Kalimat hafalahu, berarti mengajaknya sehingga dia ikut berpesta dan merayakan. Kalimat hafala al-amra, berarti memperhatikan suatu perkara. Disebutkan juga: laa tahfil bihi, "jangan mempedulikannya".

    Sedangkan maksud ihtifâl (perayaan) dalam konteks ini tidak jauh berbeda dengan makna bahasanya. Karena maksud dari perayaan maulid Nabi saw. adalah berkumpulnya orang-orang untuk berzikir, mendendangkan nasyid pujian untuknya, membuat jamuan makan sebagai sedekah karena Allah, mengungkapkan rasa kecintaan kepada Nabi saw. serta menyatakan rasa bahagia dan gembira kita dengan hari kelahirannya.

    Masuk juga dalam hal ini kebiasaan masyarakat yang membeli makanan ringan dan menghadiahkannya kepada orang-orang ketika Maulid Nabi. Saling memberi hadiah sendiri merupakan perbuatan yang dibolehkan, tidak ada dalil yang melarang untuk melakukannya dalam waktu-waktu tertentu. Maka jika ia dibarengi dengan maksud mulia, seperti membuat gembira keluarga dan menyambung tali silatruahmi dengan kerabat, maka perbuatan tersebut menjadi dianjurkan dan disunahkan. Lalu jika hal itu merupakan ungkapan rasa bahagia karena kelahiran Nabi saw., maka hal itu lebih dimasyru'kan dan dianjurkan, karena (wasilah) sarana mempunyai hukum tujuan. Sedangkan pendapat yang mengharamkannya merupakan bentuk sikap keras kepala yang tercela.

    Ada suatu hal yang membuat sebagian orang menjadi ragu-ragu untuk merayakan peringatan maulid ini, yaitu ketiadaan perayaan semacam ini pada masa-masa awal Islam yang istimewa (al-qurûn al-ûlâ al-mufadhdhalah). Argumen ini, demi Allah, bukanlah alasan yang tepat untuk melarang perayaan itu. Karena, tidak ada seorang pun yang meragukan kecintaan mereka radhiyallahu 'anhum terhadap Nabi saw.. Namun, kecintaan ini mempunyai cara dan bentuk pengungkapan yang bermacam-macam. Dan cara-cara yang berbeda-beda itu sama sekali tidak dilarang untuk dilakukan. Karena, cara-cara tersebut bukanlah suatu bentuk ibadah jika dilihat dari inti pelaksanaannya. Berbahagia dan bergembira dengan adanya Nabi saw. merupakan ibadah, tapi cara pengungkapan kebahagiaan itu hanya merupakan wasilah (sarana) yang diperbolehkan untuk digunakan. Setiap orang dapat memilih cara yang paling sesuai dengan dirinya untuk mengungkapkan hal itu.

    Dalam Sunnah Nabi juga terdapat riwayat yang menunjukkan perayaan para sahabat terhadap Nabi saw. dengan adanya iqrâr (persetujuan) dan izin dari beliau langsung. Diriwayatkan dari Buraidah r.a., dia berkata, "Pada suatu ketika Rasulullah saw. pergi berperang. Lalu ketika pulang, seorang budak wanita hitam mendatangi beliau lalu berkata, "Wahai Rasulullah, saya telah bernazar jika Allah membawamu pulang ke Madinah dalam keadaan selamat maka saya akan memainkan rebana dan bernyanyi di hadapanmu. Maka Rasulullah saw. bersabda, "Jika engkau memang telah bernazar untuk memainkan rebana, maka lakukanlah. Namun jika engkau tidak bernazar untuk melakukannya, maka engkau tidak perlu melakukannya". Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi, dan dia berkata, "Ini adalah hadis hasan shahih gharib". Jika memainkan rebana sebagai ungkapan rasa bahagia karena kedatangan Nabi saw. dari peperangan merupakan hal yang dimasyru'kan yang diakui oleh Nabi saw. dan beliau mengizinkan orang yang bernazar dengannya untuk melakukannya, maka mengungkapkan rasa bahagia karena kedatangan beliau ke dunia –dengan rebana atau hal lain yang dibolehkan— tentu lebih dimasyru'kan dan lebih dianjurkan.

    Jika Allah saja meringankan azab Abu Lahab di neraka dengan memberinya minuman dari lubang kecil di telapak tangannya setiap hari Senin karena kegembiraannya atas kelahiran manusia terbaik –yaitu dengan memerdekakan budaknya yang bernama Tsuwaibah karena telah menyampaikan kabar gembira kepadanya atas kelahiran Nabi saw., padahal Abu Lahab adalah orang yang paling kafir, sering menentang dan memerangi Allah dan Rasul-Nya—, maka sudah barang tentu kaum mukminin lebih berhak mendapatkan pahala karena kegembiraan mereka atas kelahiran beliau sebagai cahaya yang menyinari semesta. Rasulullah saw. sendiri telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara bersyukur kepada Allah atas kelahirannya itu. Dalam hadis shahih yang diriwayatkan dari Abu Qatadah r.a., bahwa Nabi saw. berpuasa pada hari Senin dan bersabda,

ذَلِكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ
"Itu adalah hari dimana aku dilahirkan." (HR. Muslim, dari hadis Abu Qatadah).

    Ini merupakan bentuk rasa syukur beliau atas karunia Allah kepadanya dan kepada umatnya. Sehingga, sudah sepatutnya umat ini juga mengikuti beliau untuk bersyukur kepada Allah SWT atas karunia dan nikmat diutusnya beliau dengan segala bentuk cara bersyukur. Bentuk bersyukur itu dapat diungkapkan dengan memberikan jamuan makan, mendendangkan pujian-pujian, berkumpul untuk berzikir, berpuasa, melakukan salat dan lain sebagainya.

    Ash-Shalihi, dalam kitab sejarahnya, Subul al-Hudâ wa ar-Rasyâd fî Hadyi Khair al-'Ibâd, menukil dari seorang saleh pada zamannya, bahwa dia bermimpi bertemu dengan Nabi saw.. Orang itu mengadu kepada beliau bahwa ada sebagian orang yang mengaku berilmu mengatakan bahwa perayaan maulid Nabi saw. adalah bid'ah. Maka Nabi saw. bersabda kepadanya, "Barang siapa yang bergembira karena kami, maka kami akan bergembira karenanya."

    Demikian juga hukum merayakan kelahiran para Ahlul Bait dan para wali Allah, serta menghidupkan perayaan mengenang mereka dengan melakukan berbagai ketaatan. Sesunggunya semua itu adalah hal yang dianjurkan secara syarak, karena acara-acara tersebut mengandung upaya untuk meniru dan menauladani mereka. Terdapat perintah syarak untuk senantiasa mengingat dan mengenang para nabi dan para orang saleh. Allah berfirman,

"Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Alquran) ini." (Maryam: 41).

Dan firman Allah,

"Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam Al Kitab (Alquran) ini." (Maryam: 51).

    Perintah ini tidak terdatas untuk mengenang para nabi, namun masuk di dalamnya juga orang-orang saleh. Hal ini karena Allah berfirman,

"Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Alquran." (Maryam: 16).

    Karena merupakan kesepakatan muhaqqiqin, Maryam As. bukanlah seorang nabi melainkan seorang shiddiqah. Demikian pula terdapat perintah untuk mengingatkan hari-hari Allah, yaitu dalam firman-Nya,

"Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah". (Ibrahim: 5).

    Termasuk hari-hari Allah adalah hari kelahiran dan termasuk hari-hari Allah adalah hari-hari kelahiran dan hari-hari kemenangan. Oleh karena itu Rasulullah saw. berpuasa pada hari Senin setiap minggunya sebagai rasa syukur kepada Allah atas nikmat penciptaan juga sebagai perayaan bagi hari kelahiran beliau, sebagaimana telah disebutkan dalam hadis riwayat Abu Qatadah al-Anshari dalam shahih Muslim. Sebagaimana Rasulullah saw. juga berpuasa pada hari Asyura (tanggal 10 Muharram) dan memerintahkan umat beliau untuk berpuasa sebagai rasa syukur, bahagia dan perayaan terhadap keselamatan Nabi Musa a.s.. Dan Allah telah memuliakan hari kelahiran di dalam Kitab-Nya dan melalui ucapan para nabi-Nya. Allah berfirman,

"Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan." (Maryam: 15).

Dan Allah berfirman melalui ucapan Isa al-Masih a.s.,

"Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan." (Maryam: 33).

    Hal ini karena dalam hari kelahiran terwujud kenikmatan penciptaan yang merupakan sebab dari diperolehnya semua nikmat yang diperoleh manusia setelahnya.

    Oleh karena itu, mengenang hari kelahiran dan mengingatkan orang lain tentang hari kelahiran merupakan pintu bagi orang-orang untuk bersyukur kepada nikmat Allah. Maka tidak apa-apa menentukan hari tertentu guna mengadakan mengingat para wali Allah.

    Kemasyru'iatan acara semacam ini tidak rusak karena terjadinya hal-hal yang diharamkan. Akan tetapi acara-acara seperti ini tetap dilaksanakan dengan menolak terjadinya kemungkaran-kemungkaran. Orang-orang yang merayakannya juga perlu diingatkan bahwa kemungkaran-kemungkaran tersebut bertentangan dengan tujuan utama acara-acara mulia tersebut.

Wallahu subhânahu wa ta'âlâ a'lam.

Fatwa-fatwa lainnya bisa di peroleh di situsnya langsung http://www.dar-alifta.org/?Home=1&LangID=5

Kumpulan Fatwa-Fatwa Syaikh Prof. DR. 'Aliy Jumu'ah (Mufti Mesir)

Berikut ini diantara tulisan-tulisan manfaat dan mengandung hikmah berupa fatwa-fatwa Mufti Agung Mesir al-Imam 'Ali Jumu'ah yang bisa di baca khalayak umum (bahasa Indonesia). Berasal dari blog http://cintatakutdanharap.blogspot.com (Afif Fatkhurrohman)diantaranya tentang :














Artikel-artikel Islami yang menarik lainnya bisa di baca langsung di blog berikut ini http://cintatakutdanharap.blogspot.com . Semoga bermanfaat.

Fatwa Majelis Ulama Malaysia Tentang Tahlilan (Kenduri Arwah) dan Haramnya Tulisan Yang Mengharamkan Tahlilan



Berikut ini adalah fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Malaysia sebagaimana tercantum dalam situs resminya http://www.e-fatwa.gov.my. Isu tentang kenduri arwah (tahlilan) tidak hanya terjadi di Indonesia namun juga negeri-negeri lainnya demikian juga dengan Malaysia. Munculnya buku yang berjudul "Imam Syafie (Rahimahullah) Mengharamkan Kenduri Arwah Tahlilan, Yasinan dan Selamatan" yang di tulis  oleh seorang Wahhabiyah bernama Rasul Dahri, dimana isinya penuh kedustaan mengatas namakan Imam al-Syafi'i semakin memperkeruh hubungan antara kaum Muslimin. Buku tersebut, juga disebarkan di Indonesia serta bisa di dapat di beberapa situs yang setuju dengan kedustaan tersebut. 

Melihat kondisi tersebut, dalam  Fatwa Negeri Perak pun memuat pelarangan peredaran buku tersebut dan berikut adalag fatwa yang telah di keluarkan : [1]

Tarikh Keputusan:  5 Nov, 2009
Keputusan :  Mesyuarat Jawatankuasa Fatwa Negeri Perak yang bersidang pada 4-5 November 2009M bersamaan 16-17 Zulkaedah 1430H kali 181 memutuskan keputusan bahawa :

”Sebarang penyebaran, cetakan dan penjualan Buku-Buku Siri Syafie (Rahimullah), Mengharamkan Kenduri Arwah, Tahlilan, Yasinan Dan Selamatan adalah DILARANG dan boleh (bisa, bhs. Indonesia) didakwa di bawah Enakmen Jenayah Syariah Negeri Perak atas alasan boleh (bisa, bhs. Indonesia) mengelirukan masyarakat kecuali untuk urusan kajian ilmiah dan bukan untuk bacaan umum”. 
Status Penwartaan : Tidak Diwartakan
Nombor Rujukan :  181 
Didalam putusan yang lainnya juga disebutkan tentang haramnya karya penulis Wahhabiyah tersebut (Rasul Dahri). Diantaranya adalah buku yang berjudul  Bahaya Taqlid Buta Dan Ta'sub Mazhab, Imam Syafie (Rahimahullah) Mengharamkan Kenduri Arwah Tahlilan, Yasinan dan Selamatan, Amalan-amalan Bid'ah  Pada Bulan Sya'ban, Bahaya Tariqat Sufi / Tasawuf Terhadap Masyarakat, Hukum Mengenai Rokok Dan Mencukur Janggut, Setiap Bid'ah Menyesatkan dan Persoalan Bid'ah Menyesatkan.

Alasan dari pengharaman tersebut adalah  karena telah mempropagandakan akidah, hukum dan ajaran yang bertentangan dengan Mazhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan meresahkan kaum Muslimin. [2]

Adapun tentang hukum majelis tahlil (tahlilan) sendiri dan yasinan, Fatwa Negeri Perlis di Malaysia menutuskan sebagai berikut :

FATWA KEBOLEHAN TAHLILAN [3]

Tarikh Keputusan : 9 Sep, 2002
Huraian Tajuk/Isu:

Hukum Bacaan Surah Yasin dan Bertahlil dan sampai atau tidak pahala amalan tersebut kepada simati
Keputusan:

Alhamdulillah Fatwanya,

Segala bentuk sedekah seperti kenduri, membaca ayat-ayat Al-Qur"an dan segala bentuk zikir, tahlil adalah harus (boleh, bhs. Indonesia) dan pahalanya إن شاء الله sampai kepada si mati yang ditujukan dengan syarat diniatkan semua pahala amalan-amalan kebajikan tersebut untuk simati dengan penuh keikhlasan.

Status Penwartaan:  Tidak Diwartakan
Nombor Rujukan:  JMJ/06/LAIN-LAIN(LL)-6/2002
Namun, dalam fatwa negeri lainnya di Malaysia yakni fatwa Negeri Perlis hanya menyetujui sebagian dari tahlilan dan perlu di galakkan, sedangkan tentang membaca al-Qur'an untuk orang mati, dikatakan  tidak tsabit. [4]. Adapun menurut Ibnu Taimiyyah dan Syaikh al-Utsaimin orang mati bisa mendapatkan manfaat dari bacaan al-Qur'an dan amal-amal lainnya. [5]
 
Rujukannya :

[1].http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-negeri/penyebaran-buku-buku-siri-syafie-rahimullah-mengharamkan-kenduri-arwahtahlilanyasinanda
[2]. http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-negeri/pengharaman-buku-buku-tulisan-saudara-rasul-dahri-yang-telah-diperakui-haram-0
[3]. http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-negeri/hukum-membaca-surah-yasin-dan-tahlil-berjemaah-0
[4]. http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-negeri/kedudukan-amalan-bertahlil
[5]. Lihat ; Majmu' Fatwa Ibnu Taimiyah dan Majmu' Fatawa wa Rasaail al-Utsaimin


Hadits Itu Menyesatkan ...

Hadits Itu Menyesatkan ...
 مطلب في فضل الفقه على غيره
وسئل نفع الله به بما لفظه : الحديث مضلة إلا الفقهاء ، وهل هو حديث وما معناه مع ان معرفة الحديث شرط في مسمى الفقيه ؟ وأيما أعظم قدرا وأجل ذكر الفقهاء أو المحدثون؟

Syaikhul Islam Ibnu Hajar Al Haitami[1] pernah ditanya tentang ungkapan yang berbunyi, “Hadis menyesatkan kecuali untuk para ahli fikih,” apakah itu hadis atau bukan, dan apa maknanya, padahal mengetahui hadis termasuk salah satu syarat seseorang disebut sebagai ahli fikih? Mana yang lebih mulia dan utama, ahli fikih atau ahli hadis?

فأجاب بقوله : ليس بحديث وإنما هو من كلام ابن عيينه أو غيره ، ومعناه أن الحديث كالقرآن في أنه قد يكون عام اللفظ خاص المعنى وعكسه ، ومنه ناسخ ومنسوخ ومنه ما لم يصحبه عمل ، ومنه مشكل يقتضي ظاهره التشبيه كحديث ” ينزل ربنا ” الخ ، ولا يعرف معنى هذه إلا الفقهاء بخلاف من لايعرف إلا مجرد الحديث ، فإنه يضل فيه كما وقع لبعض متقدمي الحديث . بل ومتأخريهم ، كابن تيمية وأتباعه ، وبهذا يعلم فضل الفقهاء المستبطين على المحدثين غير المستنبطين . ومن ثم قال صلى الله عليه وسلم : ” رب مبلغ أوعى من سامع ، ورب حامل فقه ليس بقيه ، ورب حامل فقه إلى من هو أفقه منه ” وقوله ” بلغوا عني ولو آية وحدثوا عن بني إسرائيل ولا حرج ” فمستنبطوا الفروع هم خيار سلف الأمة وعلماؤهم وعدولهم وأهل الفقه والمعرفة فيهم ، فهم قوم غذوا بالتقوى وربوا بالهدى أفنوا أعمارهم في استباطها وتحقيقها بعد أن ميزوا صحيح الأحاديث من سقيمها وناسخها من منسوخها ، فأوصلوا أصولها ومهدوا فروعها فجزاهم الله عن المسلمين خيرا وأحسن جزاءهم كما جعلهم ورثة أنبيائه وحفاظ شرعه وشهود آلائه ، وألحفنا بهم وجعلنا من تابعيهم بإحسان إنه الكريم الجواد الرحمن . 

Beliau menjawab:

Itu bukan hadis, melainkan ucapan Ibnu ‘Uyainah[2] atau selainnya. Makna ungkapan itu adalah bahwa hadis seperti Al Quran, ada yang lafalnya umum tapi maknanya khusus dan sebaliknya, ada yang nasikh dan ada yang mansukh, ada juga yang tidak diamalkan, ada yang lafalnya musykil (bermasalah), jika dipahami secara zhahir (literal) dapat menimbulkan pemahaman tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) seperti hadis yang berbunyi, “Allah turun, dst.” Tidak ada yang memahami makna hadis itu kecuali para ahli fikih. Berbeda dengan mereka yang hanya mengerti hadis saja, mereka tersesat dalam memahaminya, sebagaimana sebagian ahli hadis zaman dahulu, bahkan di zaman belakangan seperti Ibnu Taimiyah[3] dan para pengikutnya. Dari sini, dapat diketahui keutamaan para ahli fikih yang memiliki pemahaman dibandingkan dengan para ahli hadis yang tidak memiliki pemahaman.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW bersabda, “Berapa banyak orang yang diberitahu lebih paham daripada yang memberitahu, berapa banyak orang yang membawa fikih tapi tidak mengerti fikih, dan berapa banyak orang yang membawa fikih membawanya kepada orang yang lebih mengerti fikih daripada dirinya.”[4] Beliau juga bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat. Ceritakanlah dari Bani Israil, tak mengapa.”[5] Jadi, para ahli istimbath furu’ (ahli fikih) mereka adalah orang-orang pilihan pendahulu umat ini. Mereka adalah para ulama, pribadi-pribadi terpercaya, yang memiliki pemahaman dan pengetahuan. Mereka adalah golongan yang dibesarkan dengan ketakwaan dan terdidik dengan petunjuk. Mereka telah menghabiskan usia mereka untuk menyimpulkan hukum-hukum dan menelitinya setelah menyaring hadis-hadis shahih dari yang dhaif, nasikh dari yang mansukh, sehingga mereka sampai kepada akar-akarnya (ushul) sambil menyediakan cabang-cabangnya (furu’). Semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan dari kaum muslimin dan menyiapkan balasan terbaik sebagaimana Allah telah menjadikan mereka sebagai pewaris para nabi-Nya, penjaga syariat-Nya dan saksi atas kenikmatan-kenikmatan-Nya. Semoga Allah juga menggabungkan kita bersama mereka dan menjadikan kita para pengikut mereka yang baik. Sungguh Allah Maha Pemurah, Dermawan dan Penyayang.

Nama kitab : Al-Fatawa al-Haditsiyyah
Pengarang : Syaikhul Islam Imam Ahmad bin Hajar al-Haitami al-Makki al-Syafi'i

Catatan Kaki :
[1] Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar Al Haitami As Sa’di Al Anshari, bergelar Syihabuddin Syaikhul Islam, kuniahnya Abul Abbas, seorang ahli fikih asal Mesir. Dilahirkan di Mahallah Abil Haitam (wilayah Mesir bagian barat) pada tahun 909 H, di tempat itulah ia dinisbatkan, adapun nisbat As Sa’di diambil dari kata Bani Sa’d, sebuah kabilah Arab di daerah timur Mesir. Beliau menuntut ilmu di Al Azhar dan wafat di Makkah pada tahun 974 H. (Al A’laam 1/234)
[2] Nama lengkapnya adalah Sufyan bin Uyainah bin Abi Imran, salah seorang tabii tsiqoh, dilahirkan pada tahun 107 H dan wafat di Makkah pada tahun 198 H. (Ruwatu At Tahdzibain no. 2451)
[3] Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdissalam Al Harrani Ad Dimasyqi Al Hambali, Abul Abbas, Taqiyyuddin. Dilahirkan pada tahun 661 H di sebuah daerah bernama Harran dan wafat pada tahun 728 H di Damaskus. (Al A’laam 1/144)
[4] Shahih Al Bukhari no. 6667
[5] Shahih Al Bukhari no. 3274

al-Hafidz al-Iraqi ; Jika Seorang Muqallid Menemukan Hadits Yang Menyelisihi Imam-nya ??

   إذا وجد المقلد حديثا مخالفا لرأي إمامه فهل يعمل به : إجابة الحافظ العراقي

سئل الحافظ أبو زرعة ابن العراقي كما في " الأجوبة المرضية عن الأسئلة المكية " (ص:65) عن :

المقلد إذا وجد حديثاً صحيحاً على خلاف ماأفتى به إمامه في الفروع ، يجوز له العمل بالحديث حينئذ أم لا ؟ مع علمه بأن ذلك الحديث غير منسوخ ولامقيّد ؟

الجواب : إن الشافعي رحمه الله تعالى صح عنه أن قال : مامن أحد إلا وتذهب عليه سنة لرسول الله صلى الله عليه وسلم وتعزب عنه ، فمهما قلتُ من قول أو أصّلت من أصل فيه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم خلاف ماقلتُ ، فالقول ماقال رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو قولي ، وفي لفظ آخر : إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعوا ماقلت ، فالمقلد للشافعي إذا وجد حديثاً صحيحاً على خلاف ماأفتى به الشافعي مع علمه بأنه ليس منسوخاً ولامعارضاً بما هو أرجح منه عمل به ، وهو حينئذ مذهب الشافعي بشرط أن يكون المقلد المذكور فيه أهلية معرفة صحيح الحديث من سقيمه ، وأهلية فهم الحديث والعمل به والإحاطة بما في ذلك الباب من الأدلة ، ومعرفة شروط الترجيح وبشرط أن يكون نَظَر كلام الشافعي رحمه الله تعالى في تلك المسألة في مظانه ، وعلم أن الشافعي لم يطلع على ذلك الحديث وتركه لمعارض ، ولهذا قال الماوردي : مذهب الشافعي أن الصلاة الوسطى صلاة العصر لصحة الحديث به مع كون الشافعي نص على أنها الصبح لكونه لم يبلغه الحديث المذكور ، وأما آحاد الناس فليس لهم ذلك ، وكيف يعمل بالحديث من لا يميز صحيحه من سقيمه ولايتأهل للعمل به وليس عنده من النظر ومعرفة قواعد الأصول مايهتدي به إلى ذلك ولاعنده أيضاً إحاطة بكلام الشافعي بحيث يعلم كون الشافعي علم ذلك الحديث أو لم يعلم به ، والظن بسائر الأئمة رحمهم الله تعالى أنهم يقولون في ذلك كقول الشافعي لكن لما لم ينقل عنهم التصريح بذلك لم يجز لنا أن نجعل ذلك مذهباً لهم ونحكيه عنهم ونقوّلهم به ، نعم لايسوغ عندي لمن هو من أهل الفهم ومعرفة صحيح الحديث من سقيمه والتمكن من علمي الأصول والعربية ومعرفة خلاف السلف ومأخذهم إذا وجد حديثاً صحيحاً على خلاف قول مقلِّده أن يترك الحديث ويعمل بقول إمامه وإن لم يجوز له أن يجعل ذلك مذهباً له ، وقد روى البيهقي في " المدخل " بإسناد صحيح إلى عبدالله بن المبارك قال : سمعت أبا حنيفة يقول : إذا جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم فعلى الرأس والعين ، وإذا جاء عن أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم نختار من قولهم ، وإذا جاء عن التابعين زاحمناهم . أهـ 
Jika seorang muqallid menemukan sebuah hadits shahih yang dari segi dhahirnya bebeda dengan apa yang difatwakan oleh imam madzhabnya, apakah muqallid tersebut boleh mengamalkan  hadits tersebut dalam masalah ini atau tidak ? 

Jawaban al-Hafidz al-Iraqi :

Al-Hafidz al-Iraqi pernah ditanya tentang permasalahan tersebut, seperti yang terdapat dalam kitab; Al-Ajwibah al-Mardliyyah ‘an al-As’ilah al-Makiyyah hlm 65.

Jawaban beliau yaitu: Memang benar bahwasanya imam asy-Syafi’i telah berkata; Tidak ada seorang manusia pun kecuali dia akan semakin ditinggalkan oleh sunnah Rasul shalallahu’alaihi wasallam dan semakin jauh darinya. Maka ketika saya berfatwa tentang suatu permasalahan dan menyampaikan suatu masalah dan ternyata apa yang saya sampaikan menyelisihi apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah sahalalahu ‘alaihi wasallam, maka pegangilah apa yang telah disampaikan oleh Rasul tersebut. Dan apa yang telah disampaikan Rasul, itu adalah juga pernyataan saya.

Dalam redaksi yang lain beliau (Imam asy-Syafi’i berkata); Jika kamu semua menemukan dalam kitabku sebuah pernyataan yang menyelisihi sunnah Rasul shalallahu’alaihi wasallam, maka beramalah dengan sunnah Rasul tersebut dan tinggalkanlah pernyataanku.

Seorang yang mengikut pendapat Imam asy-Syafi’i jika menemukan sebuah hadits shahih yang menyelisihi atas apa yang telah difatwakan oleh imam asy-Syafi’i yang didasari atas pengetahuannya bahwasanya hadits tersebut bukan mansukh (dinasakh) atau tidak bertentangan dengan hadits yang lebih Raji, maka bagi sang muqallid harus mengamalkan hadits tersebut (dan meninggalakn apa yang telah difatwakan oleh imam as-Syafi’i-red). Dan apa yang diamalkan tersebut akan menjadi madzhabnya (ajarannya-red) imam asy-Syafi’i, dengan syarat sang muqallid tersebut haruslah orang yang :
  • Memang memiliki kemampuan dalam meneliti tentang keshahihan suatu hadits dan ketidak shahihannya. 
  • Mampu memahami pengertian yang dikandung hadits dan perbuatan yang dimaksudkannya. 
  • Mampu menguraikan bab tersebut dengan didukung oleh dalil-dalil yang lain. 
  • Mengetahui syarat-syarat dalam masalah Tarjih. 
  • Mengetahui pendapat imam asy-Syafi’i dalam masalah tersebut dan mengatahui apa yang yang dimaksudkan oleh beliau.
Mengetahui bahwasanya imam asy-Syafi’i belum pernah menelaah hadits yang ditemukannya tersebut dan meninggalkannya karena adanya pertentangan dengan dalil-dalil yang lain.

Dalam permasalahan ini, imam al-Mawardi memberikan contoh yaitu; dalam madzhab Syafi’iyyah yang dimaksud dengan shalat al-Wustha adalah shalat ‘Ashar dengan dasar adanya hadits shahih yang menjelaskan hal ini, walaupun dalam redaksi yang tertulis dalam kitabnya, imam asy-Syafi’i menuliskan bahwa maksud shalat al-Wustha adalah shalat Shubuh. Hal ini disebabkan karena hadits shahih yang menjelaskan bahwa shalat al-Wustha adalah shalat ‘Ashar tidak sampai kepada beliau.

Adapun mengenai seseorang yang tidak memiliki keahlian dalam hal-hal yang telah disebutkan di atas, bagaimana mungkin dia dapat mengamalkan suatu hadits (walaupun shahih-red), sedangkan dia tidak memiliki kemapuan untuk membedakan mana hadits yang shahih dan mana yang bukan, serta tidak mampu untuk mengusahakannya. Juga orang tersebut tidak mempunyai suatu kemampuan metodologis dan tidak mengetahui kaedah-kaedah ushul yang sangat penting untuk memahami hadits tersebut. Tidak mampu mejelaskan tentang apa yang disampaikan oleh imam asy-Syafi’i, dengan gambaran orang tersebut tidak mampu menunjukkan bukti bahwasanya imam asy-Syafi’i  mengetahui hadits tersebut atau tidak.

Dan persangkaan yang kuat adalah, bahwasanya seluruh Imam-imam Madzahib Rahimahumullah pasti akan menyatakan hal yang sama, seperti yang telah disampaikan oleh imam asy-Syafi’I di atas. Tetapi jika belum jelas benar hal-hal yang telah disebutkan di atas yang disandarkan kepada mereka (para Imam-imam), kita tidak boleh menjadikan penjelasan yang ada dalam hadits shahih yang kita temukan,  sebagai madzhab para imam-imam tersebut, atau menceritakan bahwa ini adalah ajaran dari salah satu imam madzhab.

Menurut kami, bagi orang yang memiliki kemampuan untuk memahami suatu hadits, memiliki pengetahuan tentang shahih atau tidaknya hadits, memiliki pengetahuan tetang ilmu-ilmu ushul, mengetahui tata bahasa arab, serta mengetahui perbedaan pendapat dikalangan ulama’ salaf dan mengetahui dasarnya masing-masing. Orang tersebut jika menemukan suatu hadits yang menyelisihi pendapat imam madzhabnya, tidak diperkenankan untuk meninggalkan hadits shahih tersebut, lalu memilih mengikuti pendapat imam madzhabnya. Walaupun pemahaman dari hadits yang ditemukannya tersebut, tidak boleh dijadikan sebagai madzhabnya sendiri.

Telah diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam kitab al-Madkhal dengan sanad yang shahih dari Imam Abdullah bin Mubarak beliau berkata, saya mendengar bahwasanya Imam Abu Hanifah telah berkata; “Jika sesuatu itu datangnya dari Nabi maka akan kami jadikanlah hal yang utama (tinggalkan yang lain-red), jika datangnya dari Sahabat Nabi maka kami akan memilih pendapat mereka, jika datangya dari Tabi’in maka kami akan mencukupkan diri”.

Wallahu A’lam bi ash-Showab.

Oleh : Kang As'ad http://www.facebook.com/asyad.adam

Syaikh Yusuf al-Qaradlawi ; al-Azhar asy-Syarif, az-Zaituniyah, ad-Deoband, Nadwah al-‘Ulama, Madrasah Pakistan & Seluruh Alam Adalah Asy’ari



عقيدة الأزهر

وردا على سؤال آخر من أحد الحضور جاء فيه: "بعض الناس يطعن في عقيدة الأزهر الشريف، فما رد فضيلتكم على هذا الكلام؟"
Aqidah al-Azhar : telah ada pertanyaan lain dari salah seorang yang hadlir bahwa “sebagian masyarakat mengkritik tentang aqidah al-Azhar asy-Syarif, maka apakah jawab anda yang terhormat tentang perkataan semacam ini ?”

قال الشيخ القرضاوي بنبرة استفهام ساخرة: "عقيدة الأزهر الشريف؟!"
Syaikh al-Qaradlawi berkata dengan berupa pernyataan yang mengagumkan terkait “Aqidah al-Azhar asy-Syarif”.

ورأى أن من يقول ذلك "فهو يطعن في الأشعرية"، وتابع: "ليس الأزهر وحده أشعريا.. الأمة الإسلامية أشعرية.. الأزهر أشعري والزيتونة أشعري والديوباندي (بالهند) أشعري وندوة العلماء أشعرية ومدارس باكستان أشعرية.. وكل العالم الإسلامي أشعرية".
Saya telah melihat bahwa orang mengatakan demikian “adalah orang yang mengkritik tentang al-Asy’ariyah”, kemudian beliau berkata : “al-Azhar bukan satu-satunya yang berpaham Asy’ariah. .. Umat Islamiyah adalah Asy’ariyah, al-Azhar adalah Asy’ariy, az-Zaituniyyah adalah Asy’ari, ad-Deobandi (di India) adalah Asy’ari, Nadwah al-‘Ulama adalah Asy’ari, madrasah-madrasah di Pakistan adalah Asy’ari, hingga seluruh dunia Islam (mayoritas) adalah Asy’ariyah”.

وأشار إلى أنه حتى الأشعرية موجودة بالسعودية التي تعد مركز السلفية الوهابية، وقال: "السلفيون مجموعة صغيرة، حتى إذا قلنا السعودية فليس كل السعودية سلفيين، فالحجازيون غير النجديين غير المنطقة الشرقية غير منطقة جيزان وهكذا".
Beliau juga mengisyaratkan hingga Asy’ariyah juga terdapat di negeri Saudi yang dianggap sebagai markas salafiyah al-Wahabiyah, beliau berkata : “Salafiyah (Wahabi) hanya segelitir saja (minoritas), hingga apabila kita katakan Saudi, maka bukan seluruh Saud adalah Salafy (Wahabi). Penduduk Hijaz (Asy’ariy) selain Najed, (penduduk Nejd) pun yang bukan bagian timur, (yang bagian timur) pun bukan seperti di wilayah Jizan, begitulah seterusnya”

وأضاف: "فإذا أخذنا بالأغلبية، فإن أغلبية الأمة أشعرية.. هذه كلها اجتهادات في فروع العقيدة، والكل متفق على شهادة أن لا اله إلا الله وأن محمد رسول الله وعلى النبوة في الإيمان بالله وكتبه ورسله وفي اليوم الآخر".
Beliau menambahkan : apabila kita mengambil perkiraan, maka sesungguhnya mayoritas umat adalah ‘Asyariyah, ini semuanya hanya ijtihad-ijtihad dalam masalah cabang aqidah (furu’ aqidah), dan semua bersepakat atas persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan atas kenabian didalam beriman kepada Allah, kitab-Nya, rasul-Nya dan hari Qiamat.

وشدد على أن "هذه الاختلافات لا ينبغي أن نكفر بها أحدا
Kemudian beliau menekankan bahwa “ini semua hanya masalah ikhtilaf yang tidak sepatutnya kita mengkafirkan seseorang muslim karena sebab ini”.
Penterjemah al-Ustadz al-Fadlil Mukhlis Hafidzahullah, dengan beberapa penyesuai oleh “Ashhabur Ro’Yi”. Sumber utama : http://www.qaradawi.net/site/topics/article.asp?cu_no=2&item_no=6914&version=1&template_id=116&parent_id=114

Fatwa Syaikh al-'Allamah Ali Jumu'ah (Mufti Mesir) Tentang Aqidah Asy'ariyah dan Al-Azhar

Fatwa Syaikh al-'Allamah Ali Jumu'ah (Mufti Mesir) Tentang Aqidah Asy'ariyah dan Al-Azhar
Fatwa Syaikh al-'Allamah Ali Jumu'ah (Mufti Mesir) Tentang Aqidah Asy'ariyah, al-Azhar asy-Syarif & Kelompok Pencela Bernama "Salafy".

Pertanyaan :

    اطلعنا على الطلب المقيد برقم 2908 لسنة 2005م المتضمن ينتمي كثير من الشباب إلى فرقة تقول بأنها الوحيدة التي تسير على نهج السلف الصالح وعلى الطريق المستقيم ، وترمي كل من يخالفهم بالعمالة والكفر والزندقة ، حتى العلماء لم يسلموا منهم ؛ حيث يتهجمون على عقيدة الأزهر وعلمائه ويرمون الأشعرية بالابتداع ، فما رأيكم في هذه الجماعة وفيما يقولونه : من إطلاق اللحية ، وتقصير الثياب ، وتبديع القنوت في الفجر وغير ذلك ؟
    Kami memuthala’ah (mempelajari) tentang pemintaan fatwa no. 2908 yang berisi penjelasan banyaknya syabab (pemuda) mengikuti firqah (kelompok) yang dikatakan berada diatas manhaj salafus shaleh dan atas jalan yang lurus, dan mereka menuduh setiap orang yang menyelisihi mereka sebagai kafir dan zindiq sampai ulama pun tidak selamat (tidak lepas) dari tudingan mereka ; mereka juga menyerang aqidah al-Azhar, ulama-ulama al-Azhar dan melempar tuduhan bahwa al-Asy’aiyah sebagai pelaku bid’ah. Apa pendapat anda tentang kelompok ini ? …….

 Jawab :

إنه يجب على الشباب المسلم - خاصة طلبة العلم - أن يعملوا على توحيد كلمة المسلمين ، وأن لا يسعَوْا بينهم بالفرقة والنزاع والخصام ؛ حيث أمرنا الله تعالى أن نعتصـم جميعا بحبـله المتين وألا نتفرق في الدين ، قال تعالى : { وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُو } (آل عمران 103)، وقال سبحانه : (الأنفال 46) وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ، وأن نقول للناس الحسن من الكلام ، قال عز من قائل :وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لاَ تَعْبُدُونَ إِلاَّ اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَذِي القُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْناً وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنكُمْ وَأَنتُم مُّعْرِضُونَ (البقرة 83)، ، وأمرنا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم بكل ما يؤدي إلى الوَحدة ، حتى جعل التبسم في وجه الأخ صدقة
Wajib bagi para pemuda Islam – khususnya penuntut ilmu- untuk melakukan pemersatuan kaum muslimin, dan bukan mencari-cari perbedaan diantara kaum muslimi dengan perpecahan, perbedaan dan pertikaian. Allah subhanu wa Ta’alaa telah memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan Tali-Nya dan tidak berpecah belah dalam agama. Firman Allah :

    "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai"

Juga Firman Allah :

    “Dan ta'atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Dan kita harus berkata-kata kepada manusia denga perkataan yang bagus, firman Allah :

    “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.”



Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam juga telah memerintahkan kita dengan setiap hal yang membawa pada persatuan, sehingga senyum kepada suadara sesama Islam merupakan shadaqah.

كما يجب على الشباب أن ينأوا بأنفسهم عن مناهج التكفير وتيارات التبديع والتفسيق والتضليل التي انتشرت بين المتعالمين في هذا الزمان ، وأن يلتزموا بحسن الأدب مع الأكابر من علماء الأمة وصالحيها ، وأي جماعة تتخذ من اسم " السلف الصالح " ستارا لتفرقة المسلمين وسببا للشقاق والنزاع تكون قد لبَّست الحق بالباطل ؛ قال تعالى :وَلاَ تَلْبِسُوا الحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ (البقرة 42).
Sebagaimana diwajibkan kepada pemuda-pemuda Islam agar menjauhkan diri mereka dari manhaj-manhaj takfir (pengkafiran), tabdi’ (pembid’ahan), pemfasikan dan penyesatan yang banyak tersebar diantara para penuntut ilmu pada zaman ini. Mereka (pemuda Islam) harus berakhlak yang baik terhadap ulama-ulama besar umat dan orang-orang shalih. Adalah kelompok yang mengambil nama “as-Salafush Shaleh” untuk memecah belah kaum muslimin sehingga terjadi perpecahan dan pertikaian , sungguh telah mencapur adukkan antara hak dan bathil. Allah berfirman :

    “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu , sedang kamu mengetahui”.

ومن المعلوم أن عقيدة الأزهر الشريف هي العقيدة الأشعرية وهي عقيدة أهل السنة والجماعة ، والسادة الأشاعرة رضي الله تعالى عنهم وأرضاهم هم جمهور العلماء من الأمة ، وهم الذين صَدُّوا الشبهات أمام المَلاَحِدَةِ وغيرهم ، وهم الذين التزموا بكتاب الله وسنة سيـدنا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم عبر التاريخ ، ومَنْ كفّرهم أو فسّقهم يُخْشَى عليه في دينه ، قال الحافظ ابن عساكر رحمه الله في كتابه " تبيين كذب المفتري ، فيما نسب إلى الإمام أبي الحسن الأشعري " : " اعلم وفقني الله وإياك لمرضاته ، وجعلنا ممن يتقيه حق تقاته ، أن لحوم العلماء مسمومة ، وعادة الله في هتك أستار منتقصيهم معلومة ، وأن من أطلق عليهم لسانه بالثلب ، ابتلاه الله قبل موته بموت القلب " ا هـ

Dan termasuk hal yang ma’lum (telah diketahui) bahwa aqidah al-Azhar asy-Syarif adalah Aqidah al-Asy’ariyah dan itu adalah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Semoga Allah subahanhu wa Ta’alaa meridlai ulama-ulama al-Asy’ariyah dan menjadikan mereka diridlai, dan mereka adalah jumhur ‘Ulama dari umat Islam ini. Mereka adalah ulama-ulama yang telah membantah syubhat-syubhat kelompok atheis dan selainnya. Merekalah yang berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah sayyid kita yaitu Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam sepanjang sejarah.


Barangsiapa yang mengkafirkan dan memfasikkkan ulama-ulama Asy’ariyah maka mereka itu patut diselidiki agamanya. al-Imam al-Hafidz Ibnu ‘Asakir rahimahullah didalam kitabnya “Tabyin Kidzb al-Muftariy, Fimaa Nusiba Ilaal Imam Abul Hasan al-Asy’ariy” berkata : Ketahuilah dan semoga Allah memberikan taufikan kepadaku dan kepadamu untuk memperoleh ridla-Nya, serta menjadikan kami termasuk orang-orang yang bertaqwa, bahwa SESUNGGUHNYA DAGING ULAMA ITU BERACUN, dan sudah hal yang biasa bahwa Allah akan membongkar (menjadikan buruk) orang yang mencela ulama sehingga diketahui oleh umat. Dan sungguh barangsiap yang memfitnah ulama dengan lisannya maka Allah akan mematikan hatinya sebelum kematiannya.

والأزهر الشريف هو منارة العلم والدين عبر التاريخ الإسلامي ، وقد كوَّن هذا الصرحُ الشامخُ أعظم حوزة علمية عرفتها الأمة بعد القرون الأولى المُفَضَّلة ، وحفظ الله تعالى به دينه ضد كل معاند ومشكك ؛ فالخائض في عقيدته على خطر عظيم ، ويُخْشَى أن يكون من الخوارج والمرجفين الـذين قال الله تعالى فيهم :لَئِن لَّمْ يَنتَهِ المُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي المَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لاَ يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلاقَلِيلاً (الأحزاب 60)

Al-Azhar asy-Syarif adalah menara ilmu dan agama sepanjang sejarah Islam, dan sungguh keberadaan al-Azhar asy-Syarif merupakan binaaan ilmu tertinggi yang pernah diketahui setelah masa kurun awal Islam. Allah telah menjaganya untuk agamanya dari setiap kekacauan dan keraguan ; maka yang menetang aqidahnya berada diatas bahaya yang besar, dan dikhawatirkan dia termasuk dari golongan Khawarij (sesat) dan kelompok orang-orang munafik yang telah Allah ta’alaa firman tentang mereka ;

    “Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar,”


Source : http://www.dar-alifta.org/ViewFatwa.aspx?ID=261&Home=1&LangID=1

Sebagian Dari Fatwa Imam an-Nawawi

Dalam shalat, ketika Imam membaca “Iyyyaka Na’budu wa Iyyaaka Nasta’iin”, kemudian makmum juga membacanya (mengikuti membacanya), apakah itu salah atau memang dianjurkan, dan apakah shalat seseorang yang membaca demikian itu batal ?

Jawab : Orang itu keliru dan telah melakukan bid’ah. Ba’dlu Ashhab kami (sebagian ulama kami yaitu Syafi’iyyah) berkata : “Shalatnya batal kecuali jika diniatkan untuk dzikir atau untuk membaca al-Fatihah”.


Sekelompok (jama’ah) manusia membaca al-Qur’an di Masjid dengan di-jahar-kan (nyaringkan) pada hari Jum’at. Dan memberikan manfaat kepada masyarakat yang mendengarkan bacaan mereka namun sebagian masyarakat terganggu. Apakah bacaan mereka lebih utama (afdlal) atau di tinggalkan saja ?


Jawab : Jika didalamnya terdapat maslahat dan manfaatnya lebih besar dari mafsadatnya bagi masyarakat, maka membacanya adalah lebih utama (afdlal), adapun jika lebih banyak mafsadatnya maka aku memakruhkannya.


a. Membaca al-Qur’an diluar shalat, apakah lebih utama (afldlal) di jaharkan atau di sir-kan ?. b. Dan manakah yang lebih afdlal (utama) pada bacaan shalat Tahajjud ?

Jawab : a. Membaca al-Qur’an diluar shalat lebih utama di-jaharkan daripada di sirr-kan, kecuali jika dengan menjaharkan terdapat mafsadat seperti riya’, ujub atau mengganggu orang yang shalat, orang sakit, orang tidur dan lainnya.

b. Adapun bacaan shalat tahajjud maka yang lebih utama (afdlal) adalah sedang-sedang saja (tawasuth) antara dijaharkan dan di sirrkan. Ini adalah yang ashah, namun dikatakan bahwa yang ashah adalah menjaharkannya, dengan syarat sebagaimana telah di tuturkan (tidak untuk riya’, ujub, dll).


Tentang kaifiyah (tatacara) shalawat kepada Nabi shallalllahu ‘alayhi wa sallam, yang mukhtar (yang terpilih) adalah dengan mengucapkan : “Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad ‘Abduka wa Rasuluka an-Nabiiyy al-Ummiyyi wa ‘alaa Ali Muhammad wa Azwajihi wa Dzurriiyatihi kamaa Shallayta ‘alaa Ibrahim wa ‘alaa Ali Ibrahim wa Barik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa Ali Muhammad wa Azwajihi wa Dzurriiyatihi kamaa Barakta ‘alaa Ibrahim wa ‘alaa Ali Ibrahim fil ‘Alaamiina Innaka Hamiidun Majiid”. Dalil kesunnahan (anjuran) kaifiyah ini adalah Firman Allah : “Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” Dan telah tsabit dalam hadits-hadits yang shahih bahwa para sahabat bertanya : “ya Rasulullah, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kami bershalawat kepadamu, maka bagaimanakah kami bershalawat ?” Rasul menjawab : ucapkanlah oleh kalian “Allahu shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa Ali Muhammad”. Penuturan Rasulullah ini terdapat dalam ash-Shahihain dan semua lafadz ini tsabit, tercantum dalam Shahihain kecuali perkataan “an-Nabiiyyu al-Ummiy”, itu terdapat dalam Sunan Abi Daud dan yang lainnya dengan sanad yang shahih.

a. Apakah membaca bershalawat kepada keluarga Nabi pada tasyahud awal lebih utama (afdlal) ataukah tidak ? b. Apakah membaca surah pada 2 raka’at terakhir dari shalat yang 4 raka’at atau raka’at terakhir pada shalat maghrib itu lebih utama (afdlal). ?

Jawab : a.Yang lebih afdlal adalah membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam pada tasyahud awal tanpa kepada keluarganya.

b. Adapun bacaaan surah para raka’at terakhir shalat, yang lebih utama (afdlal) adalah meninggalkannya (tidak membacanya).


a. Apakah dianjurkan memberikan isyarah dengan jari telunjuk tangan kanan pada tasyahud, kapan dimulainya (mengisyarahkannya), dan apakah menggerakannya atau apakah shalat bisa batal dengan mengulang-ngulang menggerakkannya ? b. Apakah juga mengisyarahkan dengan jari telunjuk tangan kiri ? dan apabila jari telunjuk tangan kanan putus, apakah merngisyarahkan dengan jari telunjuk tangan kiri ?

Jawab : a. Dianjurkan memberikan isyarah dengan mengangkat jari telunjuk tangan kanan ketika hamzah pada ucapan “Illallah” satu kali saja, tidak menggerakkannya dan apabila mengulang-ulang menggerakannya itu makruh, namun shalatnya tidak batal menurut qaul yang shahih. Namun, dikatakan oleh sebagian ulama bahwa shalatnya batal.

b. Dan tidak perlu menggunakan jari telunjuk tangan kiri baik jarinya ada (sehat) ataupun terputus. Apabila menggunakannya untuk isyarah maka itu makruh namun shalatnya tidak batal.


Apabila bersin didalam shalat ; apakah dianjurkan untuk mengucapkan “Alhamdulillah”, dan apabila mengucapkannya, apakah bagi yang mendengar dianjurkan mengucapkan “Yarhamukallah” ?

Jawab : Iya, dianjurkan mengucapkan yang demikian (mengucapkan “al-Hamdulillah”), dan dianjurkan juga bagi yang mendengarnya untuk mengucapkan “Yarhamukallah” namun bukan didalam shalat.


Apabila shalat sunnah dhuhur atau asar sebanyak 4 raka’at baik sebelumnya atau sesudahnya, apakah satu kali salam atau dua kali salam ?



Jawab : Boleh dengan satu kali salam dan satu kali tasyahud atau dengan dua tasyahud, namun yang lebih afdlal adalah dua kali salam.


Apakah disunnahkan (dianjurkan) melakukan qunut pada shalat shubuh ?

Jawab : Iya, disunnahkan untuk melakukan qunut pada shalat Shubuh, wallahu a’lam.

Apakah berjabat tangan setelah shalat ‘Asar dan Shubuh memiliki keutamaan atau tidak ?


Jawab : Berjabat tangan adalah sunnah ketika berjumpa, adapun sebagian manusia yang mengkhususkannya setelah selesai shalat, maka itu terhitung sebagai bid’ah mubahah (bid’ah yang mubah/perkara baru yang tidak pernah dilakukan Rasulullah namun mubah). Dan yang bagus (yang terpilih) bahwasanya apabila berjabat tangan ketika berkumpul sebelum shalat shalat maka itu bid’ah mubahah, seperti itu juga dikatakan bahwa apabila tidak berkumpul (sebelum shalat) maka itu di anjurkan sebab itu permualaan perjumpaan.


Sebagian manusia berdiri untuk sebagian yang lainya sebagaimana kebiasaaan, apakah itu boleh atau haram ?

Jawab : Berdiri untuk menghormati ahlul fadlil dan dzawil huquqi adalah memiliki keutamaan atas jalan yang mulya, dan sungguh telah ada hadits-hadits, kumpulan atsar salafush shaleh dan komentar-komentar ulama tentang yang demikian.


Dikutip dari "al-Masaail al-Mantsurah" yang disusun oleh al-Imam 'Alauddin al-Aththar.


Fatwa-Fatwa dan Pendapat Ulama Besar nan Agung Seputar Maulid Nabi Asy-Syarif

Fatwa-Fatwa dan Pendapat Ulama Besar nan Agung Seputar Maulid Nabi Asy-Syarif
Oleh : Ats-Tsauriy (Bangkalan)

Justify Full
Ikhwah fillah yang dirahmati Allah. Ulama adalah penjaga agama ini, dari mereka dan kitab-kitab mereka kita bisa mengetahui dan memahami agama yang mulya ini, sebab mereka adalah pewaris para Nabi (إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ) yang dalam setiap kurun selalu ada sebagai pembaharu (mujaddid) yang memiliki otoritas untuk memberikan penjelasan kepada kita dan meng-ijtihadkan hukum dan permasalahan baru yang memang pada masa sebelumnya belum dikenal. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah menjelaskan melalui sabda beliau bahwa ulama mujaddid akan selalu diutus oleh Allah pada setiap akhir masa 100 tahun,


إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ اْلأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا (رواه أبو داود والحاكم والبيهقي والطبراني
“Sungguh Allah akan mengutus untuk umat ini setiap akhir masa seratus tahun orang yang akan memperbaharui agamanya”

Didalam kitab ‘Aunul Ma’bud (عون المعبود) karangan Al-’Allamah Abu At-Thayyib Muhammad Syams Al-Haqq bin Amir bin ‘Ali bin Maqsud ‘Ali As-Shiddiq Al-‘Adhim Abadi, kitab yang merupakan syarah dari kitab Sunan Abu Daud karangan Al-Imam Abu Daud As-Sajistaniy, didalam kitab tersebut dituturkan bahwa Al-Imam Ahmad bin Hanbal (164 H – 241 H) meriwayatkan hadits senada dengan hadits diatas namun dengan redaksi berbeda,

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يُقَيِّضْ فِيْ رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمْ
“Sungguh Allah ta’alaa telah menetapkan pada setiap akhir masa seratus tahun orang yang mengajarkan manusia tentang agama mereka”

Hadis diatas jelas menandakan adanya legitimasi dan legalitas bagi umat untuk mendapatkan penjelasan tentang agama dari para ulama pewaris Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam yang bukan hanya dari kalangan shahabat beliau saja atau para ulama salaf saja, tetapi juga para ulama pada tiap-tiap masa yang diakui keluasan ilmunya. Artinya, memahami al-Qur'an dan hadits (sunnah) secara langsung tanpa melalui pemahaman dan penjelasan para ulama tersebut adalah tindakan yang bukan saja tidak bijaksana, tetapi juga merupakan sebuah keteledoran yang dapat berakibat terjerumus ke dalam kesesatan. Itulah rahasia kenapa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda demikian, karena beliau menyadari betul keadaan umatnya di masa belakangan yang sangat jauh jaraknya dari masa hidup beliau dan sangat berbeda kualitas keimanannya dibandingkan para shahabat atau para tabi'in. Dan kita yakin, hadits itu pasti dilatarbelakangi oleh wahyu Allah, dan ini bisa dikatakan sebagai salah satu rencana-Nya bagi kelestarian Islam di masa depan. Otoritas penjelasan ulama di setiap generasi dalam berijtihad, legalitasnya tidak hanya ditunjukkan oleh dalil di atas, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam secara umum menyebut mereka sebagai pewaris Nabi (وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ).

Jikalau ada yang bertanya, ulama yang manakah yang termasuk kategori mujaddid atau yang pantas mendapat label "pewaris para Nabi (وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ)” itu ? Nama-nama para Mujaddid dan para Ulama yang terkenal seperti berikut ini dapat dikategorikan ke dalam golongan "pewaris para Nabi (وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ)” sebagaimana pengakuan umat terhadap keutamaan mereka, yaitu : Khalifah Umar bin Abdul Aziz (Mujaddid abad ke-I), Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i (Mujaddid abad ke-II), Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Abul Hasan Asy'ari, Imam Isfarayini, Imam Rafi'i, Imam Abul-'Abbas bin Suraij (Mujaddid abad ke-III), Imam Sahl Ash-Sha'luki (mujaddid abad ke-IV), Imam Ghazali (mujaddid abad ke-V), Imam Fakhruddin Ar-Razi (mujaddid abad ke-VI), Imam Nawawi (mujaddid abad ke-VII), dan para ulama lain yang mengikuti jejak mereka ilaa yaumil Qiyamah. Mujaddid lainnya seperti Imam Suyuthiy, Imam Ramli, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalaniy, Imam Al-Baqilaniy dan lain sebagainya.

FATWA DAN PENDAPAT ULAMA BESAR NAN AGUNG SEPUTAR MAULID NABI

Berikut ini beberapa pendapat dan fatwa dari ulama kaum Muslimin yang kami kutip dari kitab-kitab ulama muktabar, namun masih banyak lagi yang belum sempat kami kutipkan ;

Pendapat Al-Imam Hasan Al-Bashriy Qaddasallahu Sirrah (wafat 116 H) yaitu generasi salafush shaleh dan ayah beliau adalah pelayan Sahabat Zaid bin Tsabit (penulis wahyu). Imam Hasan Al-Bashriy pernah berjumpa sekitar 100 sahabat Nabi. Menurut Qatadah, Imam Hasan paling tahu tengtang jala dan haram, pendapatnya seperti Sahabat Umar bin Khatththab radliyallahu ‘anh, menjadi rujukan dalam bertanya. Menurut Hisyam bin Hasan, Imam Hasan Al-Bashriy adalah paling pandai dimasanya dan menurut Abu Umar bin al-‘Ala’, orang yang sangat fashih. Beliau mengatakan tentang betapa istimewanya Maulid Nabi,


قال الحسن البصري، قدس الله سره: وددت لو كان لي مثل جبل أحد ذهبا لانفقته على قراءة مولد الرسول
“Seandainya aku memiliki emas seumpama gunung Uhud, niscaya aku akan menafkahkannya (semuanya) kepada orang yang membacakan Maulid ar-Rasul”. [1]


Pendapat Al-Imam Ma’aruf Al-Kharkhiy Qaddasallahu Sirrah (wafat 200 H), beliau juga termasuk generasi salafush shaleh yang alim, zuhud dan terkenal dikalangan fukaha’ sebagai orangyang fakih. Beliau mengungkap peringatan Maulid Nabi yang terjadi dimasa beliau, keistimewaan serta balasan bagi orang yang memperingati Maulid Nabi,


قال معروف الكرخي قدس الله سره: من هيأ لاجل قراءة مولد الرسول طعاما، وجمع إخوانا، وأوقد سراجا، ولبس جديدا، وتعطر وتجمل تعظيما لمولده حشره الله تعالى يوم القيامة مع الفرقة الاولى من النبيين، وكان في أعلى عليين
“Al-Imam Ma’aruf Al-Kurkhiy Qaddasallahu sirrah, barangsiapa menyajikan makanan untuk pembacaan Maulid ar-Rasul, mengumpulkan saudara-saudaranya, menghidupkan pelita dan memakai pakaian yang baru dan wangi-wangian dan menjadikannya untuk mengagungkan kelahirannya (Maulid Nabi), maka Allah akan membangkitkan pada hari qiyamat beserta golongan yang utama dari Nabi-Nabi , dan ditempatkan pada tempat (derajat) yang tinggi”. [2]


Pendapat Al-Imam Agung Nashirus Sunnah Asy-Syafi’i Rahimahullah (wafat 204 H). Beliau menuturkan bahwa peringatan Maulid Nabi dilakukan dengan berjamaah dan disediakan makanan sebagai rasa cinta kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, serta beliau juga menuturkan keutamaan orang yang memperingatinya,


قال الشافعى رحمه الله من جمع لمولد النبى صلى الله عليه وسلم اخوانا وتهياء لهم طعاما وعملا حسانا بعثه الله يوم القيامة مع الصديقين والشهداء والصالحين
“Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “barangsiapa yang mengumpulkan orang untuk melaksanakan perayaan Maulid Nabi (صلى الله عليه وسلم) karena kecintaan (ikhwanan) secara berjama’ah dengan menyediakan makanan dan berlaku baik, niscaya Allah bangkitkan di hari kiamat beserta para ahli kebenaran, syuhada dan para shalihin”.[3]


Pendapat Al-‘Arif Billah Al-Imam As-Sirriy As-Saqathiy Qaddasallahu Sirrah (wafat 257 H). Termasuk generasi salafush shaleh yaitu generasi tabiut tabi’in, seorang yang sangat berpendirian teguh, wara, sangat alim dan ahli ilmu tauhid. Beliau mengungkapkan keutamaan memperingati Maulid Nabi karena kecintaan kepada Rasulullah dan kelak akan bersama dengan Rasulullah,


وقال السري السقطي: من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي (صلى الله عليه وسلم) فقد قصد روضة من رياض الجنة لانه ما قصد ذلك الموضع إلا لمحبة الرسول. وقد قال عليه السلام: من أحبني كان معي في الجنة
“Imam As-Sirry As-Saqathiy berkata, barangsiapa yang menyediakan tempat untuk dibacakan Maulid Nabi (صلى الله عليه وسلم), maka sungguh dia menghendaki “Raudhah (taman)” dari taman-taman surga, karena sesungguhnya tiada dia menghendaki tempat itu melainkan karena cintanya kepada Rasul. Dan Sungguh Rasul (صلى الله عليه وسلم) bersabda : “barangsiapa mencintaiku, maka dia akan bersamaku didalam surga”. [4]


Pendapat Al-Imam Junaid Al-Baghdadiy Rahimahullah (wafat 297 H), masih termasuk generasi shalafuh shaleh. Beliau menuturkan beruntungnya keimanan seseorang yang menghadiri Maulid Nabi,


قال الجنيدي البغدادي رحمه الله: من حضر مولد الرسول وعظم قدره فقد فاز بالايمان
“Imam Junaid al-Baghdadiy rahimahullah berkata, barangsiapa yang menghadiri Maulid ar-Rasul dan mengagungkannya (Rasulullah), maka dia beruntung dengan keimanannya” [5]


Pendapat Al-Imam Ibnu Jauziy Rahimahullah, beliau menuturkan tentang keutamaan Maulid Nabi sebagai berikut,


قال ابن الجوزي رحمه الله تعالى من خواصه أنه أمان في ذلك العام وبشرى عاجلة بنيل البغية والمرام
“Al-Imam Ibnu Jauziy Rahimahullah berkata, diantara keistimewaan Maulid Nabi adalah keadaan aman (pencegah mushibah) pada tahun itu, kabar gembira serta segala kebutuhan dan keinginan terpenuhi” [6]


Pendapat Al-Imam Abu Syamah Rahimahullah (wafat 655 H). Beliau ulama agung bermadzhab Syafi’i dan merupakan guru besar dariAl-Imam Al-Hujjah Al-Hafidz Asy-Syekhul Islam An-Nawawiy Ad-Damasyqiy Asy-Syafi’I Rahimahullah. Al-Imam Abu Syamah menuturkan,


قال الامام أبو شامة شيخ المصنف رحمه الله تعالى: ومن أحسن ما ابتدع في زماننا ما يفعل في كل عام في اليوم الموافق ليوم مولده (صلى الله عليه وسلم): من الصدقات والمعروف وإظهار الزينة والسرور، فإن ذلك مع ما فيه من الاحسان إلى الفقراء يشعر بمحبة النبي (صلى الله عليه وسلم) وتعظيمه وجلالته في قلب فاعل ذلك، وشكر الله تعالى على ما من به من إيجاد رسوله الذي أرسله رحمة للعالمين
“dan sebagus-bagusnya apa yang diada-adakan pada masa sekarang ini yaitu apa yang dikerjakan (rayakan) setiap tahun dihari kelahiran (Maulid) Nabi dengan bershadaqah, mengerjakan yang ma’ruf, menampakkan rasa kegembiraan, maka sesungguhnya yang demikian itu didalamnya ada kebaikan hingga para fuqara’ membaca sya’ir dengan rasa cinta kepada Nabi, mengagungkan beliau, dan bersyukur kepada Allah atas perkara dimana dengan (kelahiran tersebut) menjadi sebab adanya Rasul-nya yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam” [7]


Pendapat Al-Imam Al-Muhaddits Al-Hafidz Al-Musnid Al-Jami’ Abul Khair Syamsuddin Muhammad Ibnu Abdullah Al-Jazariy Asy-Syafi’i (wafat 660 H). Beliau adalah guru dari para Qurra’ (Ahli baca Al-Qur’an) dan Imam Qira’at pada zamannnya. Beliau memiliki karya Maulid yang masih berupa manuskrip (naskah tulisan tangan) yang berjudul “ ‘Arfut Ta’rif bi Al-Maulidi Asy-Syarif”. Beliau mengatakan bahwa orang yang memperingati Maulid Nabi sangat pantas untuk menampati surga yang penuh kenikmatan,


فإذا كان أبو لهب الكافر الذي نزل القرآن بذمه جوزي في النار بفرحه ليلة مولد النبي صلى اله عليه وسلم به فما حال المسلم الموحد من أمة النبي صلى الله عليه وسلم يسر بمولده ويبذل ما تصل إليه قدرته في محبته صلى الله عليه وسلم، لعمري إنما يكون جزاؤه من الله الكريم أن يدخله بفضله جنات النعيم
“maka jika Abu Lahab yang kafir yang diturunkan ayat al-Qur’an untuk mencelanya masih diberi ganjaran kebaikan didalam neraka karena bergembira pada malam Maulid Nabi, lantas bagaimana dengan seorang Muslim yang mentauhidkan Allah, yang merupakan umat dari Nabi (صلى اله عليه وسلم) yang senang dengan kelahiran Beliau dan menafkahkan apa yang dia mampu demi kecintaannya kepada Nabi (صلى اله عليه وسلم). Demi Allah, sesungguhnya yang pantas bagi mereka berupa balasan dari Allah yang Maha Pemurah adalah memasukkan mereka dengan keutamannya kedalam surga yang penuh kenikmatan”[8]


Pendapat Al-Imam Yafi'i Al-Yamaniy Rahimahullah (wafat 768 H) turut menuturkan keutamaan Maulid Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam,


وقال الامام اليافعي اليمنى: من جمع لمولد النبي (ص) إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءة مولد الرسول بعثه الله يوم القيامة مع الصديقين والشهداء والصالحين ويكون في جنات النعيم
“Dan berkata Imam Al-Yafi’iy Al-Yamani : “Barangsiapa yang mengumulkan saudara-saudaranya untuk (merayakan) Maulid Nabi, menyajikan makanan, beramal yang baik dan menjadikannya untuk pembacaan Maulid ar-Rasul, maka Allah akan membangkitkan pada hari Kiamat bersama para Shadiqin, Syuhada, Shalihin dan menempatkannya pada tempat yang tinggi” [9]


Pendapat Al-Hafidz Al-Imam Al-Muhaddits Syamsuddin bin Nashiruddin Ad-Damasyqiy (777 H - 842 H) yang telah mengarang kitab Maulid, diantaranya kitab Jami’ul Atsar fi Maulidin Nabiyyil Mukhtar (terdiri dari 3 jilid), Al-Lafdzur Roiq fi Maulidi Khayril Khalaiq (bentuknya ringkas), Mauridush Shadi fi Maulidil Had. Beliau mengatakan (dalam sebuah syair),


إذا كان هـذا كافرا جـاء ذمـه
وتبت يـداه في الجحـيم مخـلدا
أتى أنـه في يـوم الاثنين دائـما
يخفف عنه للسـرور بأحــمدا
فما الظن بالعبد الذي طول عمره
بأحمد مسرورا ومات موحـــدا
“Jika orang kafir yang telah datang (tertera) celaan baginya (yakni) “dan celakalah kedua tangannya didalam neraka Jahannam kekal didalamnya” ; “Telah tiba pada (setiap) hari senin untuk selamanya diringankan (siksa) darinya karena bergembira ke (kelahiran) Ahmad ; “lantas bagaimanakah dugaan kita terhadap seorang hamba yang sepanjang usia, karena (kelahiran) Ahmad, lantas ia selalu bergembira dan tauhid menyertai kematiannya ???”[10]


Fatwa Al-Imam Asy-Syeikhul Islam Al-Hafidz Abu Al-Fadhl Ahmad Ibnu Hajar Al-Asqalaniy (773 H - 852H), yang telah mensyarah kitab monumental Imam Bukhari (Shahih Bukhari), dan beliau beri nama dengan kitabnya tersebut dengan nama Fathul Bari ‘alaa Shahih Bukhari. Beliau memfatwakan bahwa amal Maulid termasuk ke dalam bid’ah Hasanah (perkara baru yang bagus) dan beliau juga mendapati dasar syara’ yang sangat terang mengenai peringatan Maulid Nabi,


أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة، ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها، فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كان بدعة حسنة، وإلا فلا
“Asal amal Maulid adalah bid’ah, tidak pernah ada perkataan (perbincangan) dari salafush shaleh dari kurun ke tiga, dan akan tetapi bersamanya mencakup (mengandung) kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan. Maka barangsiapa yang mengambil kebaikan-kebaikannya pada amal Maulid dan menjauhi keburukannya maka itulah bid’ah Hasanah (بدعة حسنة), dan jika tidak (menjauhi keburukannya) maka tidak (bukan bid’ah Hasanah)” [11]


Lebih lanjut lagi, beliau memfatwakan dasar yang sangat jelas tentang peringatan Maulid Nabi,


وقد ظهر لي تخريجها على أصل ثابت، وهو ما ثبت في الصحيحين من أن النبي صلى الله عليه وسلم قدم المدينة فوجد اليهود يصومون يوم عاشوراء فسألهم؟ فقالوا: هو يوم أغرق الله فيه فرعون ونجى موسى فنحن نصومه شكرا لله تعالى، فيستفاد منه فعل الشكر لله على ما مَنَّ به في يوم معين من إسداء نعمة أو دفع نقمة، ويعاد ذلك في نظير ذلك اليوم من كل سنة، والشكر لله يحصل بأنواع العبادة كالسجود والصيام والصدقة والتلاوة، وأي نعمة أعظم من النعمة ببروز هذا النبي نبي الرحمة في ذلك اليوم
“dan sungguh telah jelas bagiku bahwa apa yang dikeluarkan (diriwayatkan) atas asal penetapan (hokum Maulid), sebagaimana yang ditetapkan didalam Ash-Shahihayn bahwa sesungguhnya Nabi datang ke Madinah, maka (beliau) menemukan orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura’, Rasulullah bertanya kepada mereka (tentang puasa tersebut)? Maka mereka menjawab : “Padanya adalah hari dimana Allah telah menenggelamkan Fir’aun dan menyelamatkan (Nabi) Musa, maka kami berpuasa untuk bersyukur kepada Allah Yang Maha Tinggi (atas semua itu)”. Maka faidah yang bisa diambil dari hal tersebut adalah bahwa (kebolehan) bersyukur kepada Allah atas sesuatu (yang terjadi) baik karena menerima sebuah kenikmatan yang besar atau penyelamatan (terhindar) dari bahaya, dan bisa diulang-ulang perkara (syukuran) tersebut pada hari (yang sama) setiap tahun. Adapun syukur kepada Allah dapat dilakukan dengan bermacam-macam Ibadah seperti sujud (sujud syukur), puasa, shadaqah dan tilawah (membaca al-Qur’an). dan sungguh adakah nikmat yang paling agung (besar) dari berbagai nikmat (yang ada) selain kelahiran Nabi (Muhammad) Nabi yang penyayang pada hari (peringatan Maulid) itu ?” [12]


Pendapat A-Imam Al-Hafidz Muhammad bin Abdurrahman Al-Qahiriy, dikenal dengan nama Al-Imam As-Sakhawiy (831 H – 902 H), beliau juga dikenal sebagai Ahli sejarah di Madinah, penulis kitab Adh-Dhaw’ul Lami’. Beliau juga telah menyusun sebuah karya Maulid yang diberi judul “Al-Fakhrul ‘Ulwi fil Mawlidin Nabawiy”


لَمْ يُنْقَلْ عَنْ أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ فِيْ الْقُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ الْفَاضِلَةِ، وَإِنَّمَا حَدَثَ بَعْدُ، ثُمَّ مَا زَالَ أَهْـلُ الإِسْلاَمِ فِيْ سَائِرِ الأَقْطَارِ وَالْمُـدُنِ الْعِظَامِ يَحْتَفِلُوْنَ فِيْ شَهْرِ مَوْلِدِهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ- يَعْمَلُوْنَ الْوَلاَئِمَ الْبَدِيْعَةَ الْمُشْتَمِلَةَ عَلَى الأُمُوْرِ البَهِجَةِ الرَّفِيْعَةِ، وَيَتَصَدَّقُوْنَ فِيْ لَيَالِيْهِ بِأَنْوَاعِ الصَّدَقَاتِ، وَيُظْهِرُوْنَ السُّرُوْرَ، وَيَزِيْدُوْنَ فِيْ الْمَبَرَّاتِ، بَلْ يَعْتَنُوْنَ بِقِرَاءَةِ مَوْلِدِهِ الْكَرِيْمِ، وَتَظْهَرُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَرَكَاتِهِ كُلُّ فَضْلٍ عَمِيْمٍ بِحَيْثُ كَانَ مِمَّا جُرِّبَ
“Tidak pernah dikatakan (perbincangkan) dari salah seorang ulama Salafush Shaleh pada kurun ke tiga yang mulya dan sungguh itu baru ada setelahnya. Kemudian umat Islam diseluruh penjuru daerah dan kota-kota besar senantiasa memperingati Maulid Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ) dibulan kelahiran Beliu. Mereka mengadakan jamuan yang luar biasa dan diisi dengan perkara-perkara yang menggembirakan serta mulya, dan bershaqadah pada malam harinya dengan berbagai macam shadaqah, menampakkan kegembiraan, bertambahnya kebaikan bahkan diramaikan dengan pembacaan (buku-buku) Maulid Nabi yang mulya, dan menjadi teranglah (jelaslah) keberkahan dan keutamaan (Maulid Nabi) secara merata dan semua itu telah teruji.[13]


Selanjutnya,


ثُمَّ قَالَ: “قُلْتُ: كَانَ مَوْلِدُهُ الشَّرِيْفُ عَلَى الأَصَحِّ لَيْلَةَ الإِثْنَيْنِ الثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ شَهْرِ رَبِيْع الأَوَّلِ، وَقِيْلَ: لِلَيْلَتَيْنِ خَلَتَا مِنْهُ، وَقِيْلَ: لِثَمَانٍ، وَقِيْلَ: لِعَشْرٍ وَقِيْلَ غَيْرُ ذَلِكَ، وَحِيْنَئِذٍ فَلاَ بَأْسَ بِفِعْلِ الْخَيْرِ فِيْ هذِهِ الأَيَّامِ وَاللَّيَالِيْ عَلَى حَسَبِ الاسْتِطَاعَةِ بَلْ يَحْسُنُ فِيْ أَيَّامِ الشَّهْرِ كُلِّهَا وَلَيَالِيْهِ
“Kemudian (beliau) berkata : “aku katakan : adanya (tanggal) kelahiran Nabi Asy-Syarif yang paling shahih adalah pada malam Senin, 12 Rabi’ul Awwal. Dikatakan (qoul yang lain) : pada malam tanggal 2, dikatakan juga pada tanggal 8, 10 dan lain sebagainya. Maka dari itu, tidak mengapa mengerjakan kebaikan pada setiap hari-hari ini dan malam-malamnya dengan persiapan (kemampuan) yang ada bahkan bagus dilakukan pada hari-hari dan malam-malam bulan (Rabi’ul Awwal)”[14]


Fatwa Al-Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthiy (849 H - 911 H), didalam kitabnya beliau menuturkan bahwa sangat jelas dasar syara’ mengenai peringatan Maulid Nabi,


وقد ظهر لي تخريجه على أصل آخر، وهو ما أخرجه البيهقي عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم عق عن نفسه بعد النبوة، مع أنه قد ورد أن جده عبد المطلب عق عنه في سابع ولادته،
والعقيقة لا تعاد مرة ثانية فيحمل ذلك على أن الذي فعله النبي صلى الله عليه وسلم إظهار للشكر على إيجاد الله إياه رحمة للعالمين، وتشريع لأمته كما كان يصلي على نفسه، لذلك فيستحب لنا أيضا إظهار الشكر بمولده بالاجتماع وإطعام الطعام ونحو ذلك من وجوه القربات وإظهار المسرات
“dan sungguh sangat jelas bagiku yang dikeluarkan (diriwayatkan) atas asal yang lain (dari pendapat Imam Ibnu Hajar) yaitu apa yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Baihaqiy dari Anas bahwa sesungguhnya Nabi (صلى الله عليه وسلم) mengaqiqahkan dirinya sendiri sesudah (masa) kenabian, (padahal) sesungguhnya telah dijelaskan (riwayat) bahwa kakek beliau Abdul Mutthalib telah mengaqiqahkan (untuk Nabi) pada hari ke tujuh kelahirannya. adapun aqiqah tidak ada perulangan dua kali, maka dari itu sungguh apa yang dilakukan oleh Nabi (صلى الله عليه وسلم) menerangkan tentang (rasa) syukur beliau karena Allah telah mewujudkan (menjadikan) beliau sebagai rahmat bagi semesta alam, dan sebagai landasan bagi umatnya. Oleh karena itu, maka juga boleh (mustahab/patut) bagi kita untuk menanamkan (menerangkan) rasa syukur kita dengan kelahirannya (Rasulullah) dengan mengumpulkan (kaum Muslimin), menyajikan makanan dan semacamnya dari (sebagai) perwujudan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) dan menunjukkan kegembiraan (karena kelahiran beliau)”. [15]


Fatwa beliau lainnya menyatakan bahwa orang yang memperingati Maulid Nabi akan mendapatkan pahala dan peringatan Maulid Nabi termasuk kedalam bid’ah hasanah. Beliau ditanya tentang Maulid Nabi,


فقد وقع السؤال عن عمل المولد النبوي في شهر ربيع الأول، ما حكمه من حيث الشرع؟ وهل هو محمود أو مذموم؟ وهل يثاب فاعله أو لا؟ الجـــــواب عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الآيات ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك هو من البدع الحسنة التي يثاب عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف وأول من أحدث فعل ذلك صاحب اربل الملك المظفر أبو سعيد كوكبرى بن زين الدين علي بن بكتكين أحد الملوك الأمجاد والكبراء الأجواد، وكان له آثار حسنة، وهو الذي عمر الجامع المظفري بسفح قاسيون
“Sungguh telah ada pertanyaaan tentang peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabiul awwal, tentang bagaimana hukumnya menurut syara’ dan apakah termasuk kebaikan atau keburukan serta apakah orang yang memperingatinya mendapatkan pahala ?” Jawabannya, menurutku pada dasarnya amal Maulid itu adalah berkumpulnya manusai, membaca apa yang dirasa mudah dari Al-Qur’an, riwayat hadits-hadits tentang permualaan perintah Nabi serta tanda-tanda yang datang mengiringi kelahiran Nabi kemudian disajikan beberapa hidangan bagi mereka selanjutnya mereka bubar setelah itu tanpa ada tambahan-tambahan lain, itu termasuk kedalam Bid’ah Hasanah (bid’ah yang baik) yang diberi pahala bagi orang yang merayakannya. Karena perkara didalamnya adalah bagian dari pengagungan terhadap kedudukan Nabi dan merupakan menampakkan rasa gembira dan suka cita dengan kelahiran yang Mulya (Nabi Muhammad, dan yang pertama mengadakan hal semacam itu (perayaan besar) adalah penguasa Irbil, Raja al-Mudhaffar Abu Sa’id Kaukabri bin Zainuddin Ali Ibnu Buktukin, salah seorang raja yang mulya, agung dan demawan. Beliau memiliki peninggal yang hasanah/baik (آثار حسنة), dan beliau lah yang membangun al-Jami’ al-Mudhaffariy dilembah Qasiyun”. [16]


Al-Imam As-Suyuthiy juga memfatwakan ketika ada syubhat yang menyatakan bahwa memperingati wafatnya Nabi itu lebih pantas daripada memperingati Maulid Nabi, dalam hal ini beliau membantahnya sebagai berikut,


إن ولادته صلى الله عليه وسلم أعظم النعم علينا، ووفاته أعظم المصائب لنا، والشريعة حثت على إظهار شكر النعم، والصبر والسلوان والكتم عند المصائب، وقد أمر الشرع بالعقيقة عند الولادة، وهي إظهار شكر وفرح بالمولود، ولم يأمر عند الموت بذبح ولا غيره، بل نهى عن النياحة وإظهار الجزع، فدلت قواعد الشريعة على أنه يحسن في هذا الشهر إظهار الفرح بولادته صلى الله عليه وسلم دون إظهار الحزن فيه بوفاته
“Sesungguhnya kelahiran Nabi (صلى الله عليه وسلم) adalah paling agungnya kenikmatan bagi kita semua, dan wafatnya Beliau (صلى الله عليه وسلم) adalah musibah yang paling besar bagi kita semua. Adapun syariat menganjurkan (menampakkan) untuk mengungkapkan rasa syukur dan kenikmatan. Dan bersabar serta tenang ketika tertimpa mushibah. Dan sungguh syari’at memerintahkan untuk (menyembelih) beraqiqah ketika (seorang anak) lahir, dan supaya menampakkan rasa syukur dan bergembira dengan kelahirannya, dan tidak memerintahkan untuk menyembelih sesuatu atau melakukan hal yang lain ketika kematiannya, bahkan syariat melarang meratap (an-niyahah) dan menampakkan keluh kesah (kesedihan). Maka (dari sini) jelas bahwa kaidah-kaidah syariat menunjukkan yang baik baik (yang paling layak) pada bulan ini (bulan Maulid) adalah menampakkan rasa gembira atas kelahirannya (Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم) dan bukan (malah) menampakkan kesedihan (mengungkapkan) kesedihan atas wafatnya Beliau" [17]


Bantahan beliau, sebagaimana juga pernyataan Al-Imam Ibnu Rajab,


وقد قال ابن رجب في كتاب اللطائف في ذم الرافضة حيث اتخذوا يوم عاشوراء مأتما لأجل قتل الحسين: لم يأمر الله ولا رسوله باتخاذ أيام مصائب الأنبياء وموتهم مأتما فكيف ممن هو دونهم
“dan sungguh telah berkata Ibnu Rajab di dalam kitab “al-Lathif” (اللطائف) tentang celaan terhadap ‘Ar-Rafidlah’ bahwa mereka telah menjadikan hari Asyura sebagai hari berkabung (bersedih) karena bertepatan dengan hari (pembunuhan) wafatnya sayyidina Husain : Sedangkan Allah dan Rasul-Nya tidak pernah memerintahkan untuk menjadikan hari-hari mushibah dan kematian para Nabi sebagai hari bersedih, maka bagaimana dengan orang derajatnya berada dibawah mereka ?” [18]


Lebih jauh lagi, Al-Imam As-Suyuthiy menjelaskan keutamaan tempat dan orang yang memperingati Maulid Nabi,


قال سلطان العارفين جلال الدين السيوطي في كتابه الوسائل في شرح الشمائل: ما من بيت أو مسجد أو محلة قرئ فيه مولد النبي (صلى الله عليه وسلم) هلا حفت الملائكة بأهل ذلك المكان وعمهم الله بالرحمة والمطوقون بالنور - يعني جبريل وميكائل وإسرافيل وقربائيل وعينائيل والصافون والحافون والكروبيون - فإنهم يصلون على ما كان سببا لقراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم
“Berkata Shulthan Al-‘Arifin Jalaluddin As-Suyuthiy didalam kitabnya “al-Wasail fiy Syarhi Asy-Syamil” : "tiada sebuah rumah atau masjid atau tempat pun yang dibacakan didalamnya Maulid Nabi (صلى الله عليه وسلم) melainkan dipenuhi Malaikat yang meramaikan penghuni tempat itu (menyelubunyi tempat itu) dan Allah merantai Malaikat itu dengan rahmat dan Malaikat bercahaya (menerangi) itu antara lain Malaikat Jibril, Mikail, Israfil, Qarbail, 'Aynail, ash-Shaafun, al-Haafun dan al-Karubiyyun. Maka sesungguhnya mereka (malaikat) itulah yang mendo’akannya karena membaca Maulid Nabi" [19]


Lanjut lagi,


قال: وما من مسلم قرئ في بيته مولد النبي (صلى الله عليه وسلم) إلا رفع الله تعالى القحط والوباء والحرق. والآفات والبليات والنكبات والبغض والحسد وعين السوء واللصوص عن أهل ذلك البيت، فإذا مات هون الله تعالى عليه جواب منكر ونكير، وكان في مقعد صدق عند مليك مقتدر
“tiada seorang Muslim pun yang didalam rumahnya dilakukan pembacaan Maulid Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam kecuali Allah akan mengangkat wabah kemarau, kebakaran, karam, kebinasaan, kecelakaan, kebencian, hasad dan pendengaran yang jahat, (terhindar) dari pencuri ahli-ahli rumah tersebut. Maka jika apabila mati, Allah akan memudahkan baginya dalam menjawab (pertanyaan) Malaikat Munkar dan Nakir. Dan mereka akan ditempatkan didalam tempat yang benar pada sisi-sisi raja yang berkuasa” [20]


Pendapat Al-Imam Ibnu Al-Hajj Al-Maliki Rahimahullah (ulama madzhab Malikiyyah),


قال ابن الحاج رحمه الله تعالى فكان يجب أن نزداد يوم الاثنين الثاني عشر من ربيع الأول من العبادات والخير شكرا للمولى على ما أولانا من هذه النعم العظيمة وأعظمها ميلاد المصطفى صلى الله عليه وسلم
“Menjadi sebuah kewajiban bagi kita untuk memperbanyak kesyukuran kepada Allah setiap hari Senin bulan Rabi’ul Awwal karena Dia (Allah) telah mengaruniakan kepada kita nikmat yang sangat besar dengan lahirnya Al-Musthafa Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam” [21]

وقال أيضا: ومن تعظيمه صلى الله عليه وآله وسلم الفرح بليلة ولادته وقراءة المولد
“berkata lagi, dan mengagungkan Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam adalah gembira pada malam kelahirannya dan melakukan pembacaan Maulid Nabi” [22]


Pendapat seorang Imam yang besar, tokoh yang sangat terkenal, penjaga Islam, tumpuan banyak orang, tempat rujukan para Ahli hadits yang sangat terkenal, Al-Hafidz Abdurrahim bin Al-Husain bin Abdurrahman Al-Mishriy yang terkenal dengan Al-Hafidz Al-Iraqiy (wafat 808 H). Beliau memiliki kitab Maulid yang dinamakan dengan “Al-Mawridul Haniy fiy Mawlidis Saniy”,


إن اتخاذ الوليمة وإطعام الطعام مستحب في كل وقت، فكيف إذا انضم إلى ذلك الفرح والسرور بظهور نور النبي صلى الله عليه وسلم في هذا الشهر الشريف، ولا يلزم من كونه بدعة كونه مكروها، فكم من بدعة مستحبة بل قد تكون واجب
“Sungguh melakukan perayaan (walimah) dan memberikan makan disunnahkan pada setiap waktu, apalagi jika padanya disertai dengan kesenangan dan kegembiraan dengan kehadiran Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pada bulan yang mulya ini, dan tidaklah setiap bid’ah itu makruh (dibenci), betapa banyak bid’ah yang disunnahkan bahkan diwajibkan” [23]


Pendapat Al-Imam Ibnu ‘Abidin didaam kitab syarahnya atas kitab Maulid Imam Ibnu Hajar,


قال ابن عابدين في شرحه على مولد ابن حجر اعلم أن من البدع المحمودة عمل المولد الشريف من الشهر الذي ولد فيه صلى الله عليه وسلم، وقال أيضاً: فالاجتماع استماع قصة صاحب المعجزات عليه أفضل الصلوات وأكمل التحيات من أعظم القربات لما يشتمل عليه من المعجزات وكثرة الصلوات
“Ketahuilah olehmu bahwa sebagian dari perkara baru yang terpuji (bid’ah mahmudah) adalah amal Maulid Nabi Asy-Syarif pada bulan yang mana Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam di lahirkan didalamnya”,,,[24]


Pendapat Asy-Syekh Husnain Muhammad Makhluf (Syeikhul Azhar) Rahimahullah,


وقال الشيخ حسنين محمد مخلوف شيخ الأزهر رحمه الله تعالى إن من إحياء ليلة المولد الشريف، وليالي هذا الشهر الكريم الذي أشرق فيه النور المحمدي إنما يكون بذكر الله وشكره لما أنعم به على هذه الأمة من ظهور خير الخلق إلى عالم الوجود، ولا يكون ذلك إلا في أدب وخشوع وبعد عن المحرمات والبدع والمنكرات، ومن مظاهر الشكر على حبه مواساة المحتاجين بما يخفف ضائقتهم وصلة الأرحام، والإحياء بهذه الطريقة وإن لم يكن مأثور في عهده صلى الله عليه وسلم ولا في عهد السلف الصالح إلا أنه لا بأس به وسنة حسنة
“Sunggung barangsiapa menghidupkan malam Maulid Nabi Asy-Syarif dan malam-malam-malam bulan yang mulya ini yang menerangi didalamnya dengan cahaya Muhammadiy yaitu dengan berdzikir kepada Allah, bersyukur atas nikmat-nikmat yang diberikan kepada umat ini termasuk dilahirkannya makhluk terbaik (Nabi Muhammad) ke ala mini, dan tidak ada yang demikian itu kecuali dengan sebuah akhlak dan kekhusuan serta menjauhi hal-hal yang diharamkan, amalan bid’ah serta kemungkaran-kemungkaran. Dan termasuk menampakkan kesyukuran sebagai bentuk kecintaan yaitu menyantuni orang-orang tidak mampu, menjalin shilaturahim dan menghidupkan dengan cara ini walaupun tidak ada pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan tidak pula ada dimasa salafush shaleh adalah tidak apa-apa serta termasuk sunnah hasanah” [25]


Pendapat Asy-Syekh Muhammad Mutawalla Asy-Sya’rawiy Rahimahullah,


قال الشيخ محمد متولي الشعراوي رحمه الله تعالى وإكراماً لهذه المولد الكريم، فإنه يحق لنا أن نظهر معالم الفرح و الابتهاج بهذه الذكرى الحبيبة لقلوبنا كل عام، وذلك بالاحتفال بها من وقتها
“Melakukan penghormatan untuk Maulid yang mulya ini, maka sesungguhnya itu hak bagi kita untuk menampakkan kegembiraan dan ..[26]


Pendapat Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitsamiy Rahimahullah,


قد قال ابن حجر الهيثمي رحمه الله تعالى والحاصل أن البدعة الحسنة متفق على ندبها، وعمل المولد واجتماع الناس له كذلك، أي بدعة حسنة
“walhasil, sesungguhnya bid’ah hasanah itu selarasa dengan sebuah kesunnahan, dan amal Maulid Nabi serta berkumpulnya manusia untuk memperingati yang demikian adalah bid’ah hasanah” [27]


Pendapat Al-Imam Al-Hafidz Al-Qasthalaniy Rahimahullah,


فرحم الله امرءا اتخذ ليالي شهر مولده المبارك أعيادا، ليكون أشد علة على من في قلبه مرض وإعياء داء
“maka Allah akan memberikan rahmat bagi orang-orang yang menjadian Maulid Nabi yang penuh berkah sebagai perayaan…”[28]

الإمام القسطلاني ت 922 هـ من جواز الاحتفال بالمولد النبوي بما هو مشروع لا منكر فيه، واستشف هذا الجواز من حديث البخاري في باب الجنائز من كون أبى بكر الصديق تمنى الموت في هذا اليوم لكونه اليوم الذي ولد فيه الرسول صلى الله عليه وسلم و فيه توفي
“sebagain dari kebolehan merayakan Maulid Nabi Nabawi dengan perkara yang masyru’ (disyariatkan) bukan dengan kemungkaran, [29]


Pendapat Al-Imam Al-Alusiy dalam kitab tafsirnya,


ما استنبطه الألوسى من تفسير قول الله تعالى "قل بفضل الله و رحمته فبذلك فليفرحوا" الآية 58 يونس. فالرسول صلى الله عليه وسلم رحمة كما قال عز و جل "وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين" الآية 107 الأنبياء. و كما جاء في الحديث: "إنما أنا رحمة مهداة" رواه الحاكم في مستدركه عن أبى هريرة. فوجب من هنا الاحتفال و الفرح بهذه الرحمة
“Firman Allah, “Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira” (Yunus : 58), dan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam adalah rahmat sebagaimana yang di firmankan Allah ‘azza wa jallah, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”, sebagaiman juga didalam hadits, “sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan Allah” (riwayat Imam Hakim dalam ktab Mustadraknya dari Abu Hurairah), maka wajib bagi sebagian dari kita untuk merayakannya dan bergembira dengan rahmat ini” [30]


Pendapat Al-‘Allamah Asy-Syekh Ahmad Zaini Dahlan, mantan Mufti Madzhab Syafi’iyyah di Mekkah,


العادة أن الناس إذا سمعوا ذكرى وضعه صلى الله عليه وسلم يقومون تعظيما له صلى الله عليه وسلم و هذا قيام مستحب لما فيه من تعظيم النبي صلى الله عليه وسلم، و قد فعل ذلك كثير من علماء الأمة الذين نقتدي بهم
“Kebiasaan manusia ketika disebut tentang Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam berdiri untuk menghormati beliau dan berdiri ini disunnahkan untuk menghormati Nabi, dan sungguh telah banyak ulama kaum Muslimin yang melakukan seperti yang demikian”’ [31]


Pendapat Al-'Allamah As-Syekh As-Sayyid Muhammad Ibnu Alwi Al-Maliki Al-Hasaniy Rahimahullah,


إننا نرى أن الاحتفال بالمولد النبوي الشريف ليست له كيفية مخصوصة لابد من الالتزام أو إلزام الناس بها ، بل إن كل ما يدعو إلى الخير ويجمع الناس على الهدى و يرشدهم إلى ما فيه منفعتهم في دينهم ودنياهم يحصل به تحقيق المقصود من المولد النبوي ولذلك فلو اجتمعنا على شئ من المدائح التي فيها ذكر الحبيب صلّىالله عليه وسلّم وفضله وجهاده وخصائصه ولم نقرأ القصة التي تعارف الناس على قراءتها واصطلحوا عليها حتى ظن البعض أن المولد النبوي لا يتم إلا بها ، ثم استمعنا إلى ما يلقيه المتحدثون من مواعظ وإرشادات وإلى ما يتلوه القارئ من آيات
“Kami memandang sesungguhnya memperingati Maulid Nabi yang mulya itu tidak mempunyai bentuk-bentuk yang khusus yang mana semua orang harus dan diharuskan untuk melaksanakannya. Akan tetapi segala sesuatu yang dilakukan, yang dapat menyeru dan mengajak manusia kepada kebaikan dan mengumpulkan manusia atas petunjuk (agama) serta menunjuki mereka kepada hal-hal yang membawa manfaat bagi mereka, untuk dunia dan akhirat maka hal itu dapat digunakan untuk memperingati Maulid Nabi, Oleh karena itu andaikata kita berkumpul dalam suatu majelis yang disitu dibacakan puji-pujian yang menyanjung Al-Habib (Sang Kekasih yakni Nabi Muhammad), keutamaan beliau, jihad (perjuangan) beliau, dan kekhususan-kekhususan yang berada pada beliau ; lalu kita tidak membaca kisah Maulid Nabi – yang telah dikenal oleh berbagai kalangan masyarakat dan mereka menyebutnya dengan istilah “Maulid” (seperti Maulid Diba’, Barzanji, Syaraful Anam, Al-Habsyi, dan lain sebagainya), yang nama sebagian orang menyangka bahwa peringatan Maulid Nabi itu tidak lengkap tanpa pembacaan kisah-kisah Maulid tersebut- kemudian kita mendengarkan mau’idzah-mau’idzoh (peringatan-peringatan), pengarahan-pengarahan, nasehat-nasehat yang disampaikan oleh para ulama dan ayat-ayat al-Qur’an yang dibacakan oleh seorang Qari" [32]

Lebih lanjut,

أقول : لو فعلنا ذلك فإن ذلك داخل تحت المولد النبوي الشريف ويتحقق به معنى الاحتفال بالمولد النبوي الشريف ، وأظن أن هذا المعنى لا يختلف عليه اثنان ولا ينتطح فيه عنـزان
"andaikan kita melakukan itu semua maka itu sama halnya dengan kita membaca kisah Maulid Nabi yang Mulya tersebut dan itu termasuk dalam makna memperingati Maulid Nabi yang Mulya. Dan saya yakin bahwa peringatan yang saya maksudkan ini tidak menimbulkan perbedaan serta adu domba antara dua kelompok"[33]


Pendapat Al-'Allamah Asy-Syaikh Ali Jumu'ah (Mufti Mesir), [34]


Sesungguhnya maulid (kelahiran) Nabi صلّى الله عليه و سلّم yang mulia merupakan limpahan rahmat Ilahi yang dihamparkan bagi sejarah manusia seluruhnya. Dan Al Qur’an Al-Karim mengungkapkan keberadaan Nabi صلّى الله عليه و سلّم sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Rahmat ini tidak terbatas, ia meresap masuk ke dalam pendidikan, pengajaran, dan pensucian jiwa manusia. Rahmat tersebut jugalah yang menunjukan manusia ke jalan kemajuan yang lurus dal lingkup kehidupan mereka, baik secara materi maupun maknawi.

Rahmat tersebut juga tidak terbatas untuk orang-orang di jaman itu saja, tetapi membentang luas sepanjang sejarah manusia seluruhnya. Allah سبحانه وتعالىberfirman,

Al-Jumu'ah (62) No. Ayat : 3

وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Merayakan peringatan maulid Nabi صلّى الله عليه و سلّم merupakan salah satu amal yang paling utama dan sebuah cara pendekatan diri kepada Tuhan. Kerena keseluruhan peringatan tersebut merupakan ungkapan kebahagiaan dan kecintaan kepada beliau صلّى الله عليه و سلّم . Dan cinta kepada Nabi صلّى الله عليه و سلّم merupakan salah satu prinsip dasar dari prinsip-prinsip iman. Sebuah hadits shahih dari Nabi صلّى الله عليه و سلّم bahwa beliau bersabda:

والذي نفسي بيده لا يؤمن أحدكم حتّى يحبّ إليه من والده وولده

”Demi dzat yang diriku berada di dalam genggaman-Nya, tidak beriman (sempurna) seseorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai daripada orang tua dan anaknya” 1

Di dalam hadits lain, beliau bersabda:

لا يؤمن أحدكم حتّى أكون أحبّ إليه من والده وولده والناس أجمعين

“Tidak beriman (sempurna) seseorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai daripada orang tua, anaknya dan manusia seluruhnya” 2

Ibnu Rajab berkata, “Cinta kepada Nabi صلّى الله عليه و سلّم termasuk prinsip-prinsip dasar Iman. Cinta ini seiring dengan cinta kepada Allah سبحانه وتعالى yang menyandingkan keduanya dan mengancam siapa saja yang lebih mengutamakan kecintaan kepada perkara-perkara lain yang sudah menjadi tabiat manusia seperti kerabat, harta benda, dan tanah air atas kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya. Allah سبحانه وتعالىberfirman,

At-Taubah (9) No. Ayat : : 24

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah: "jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Ketika Umar رضي الله عنه berkata kepada Nabi صلّى الله عليه و سلّم ,”Engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali diriku sendiri.” Beliau صلّى الله عليه و سلّم berkata, ”Tidak Umar, sampai aku lebih kamu cintai daripada dirimu sendiri.” Umar رضي الله عنه berkata, ”Demi Allah, Engkau sekarang lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Beliau صلّى الله عليه و سلّم berkata, ”Sekarang, wahai Umar.” 3

Merayakan peringatan maulid Nabi صلّى الله عليه و سلّم pada dasarnya adalah sambutan penghormatan terhadap beliau. Sambutan dan penghirmatan terhadap beliau صلّى الله عليه و سلّم merupakan perkara yang diisyaratkan secara pasti (Qath’i), karena termasuk prinsip utama dari segala prinsip dasar.

Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى mengetahui keistimewaan Nabi-Nya dan Allah سبحانه وتعالى memperkenalkan namanya, kebangkitan, kedudukan, dan martabatnya sebagai rahmat kepada alam semesta seluruhnya. Maka alam semesta dan segala isinya ini senantiasa bergembira dan bersuka cita terhadap beliau صلّى الله عليه و سلّم yang merupakan cahaya Allah, anugerah-Nya, nikmat dan hujjah-Nya pada semesta.

Telah menjadi kebiasaan dan tradisi di kalangan salafus saleh sejak abad ke-4 dan ke-5 merayakan peringatan maulid Nabi صلّى الله عليه و سلّم yang agung. Mereka menghidupkan malam maulid dengan berbagai macam ketaatan dan ibadah kepada Allah seperti memberi makan fakir miskin, membaca Al Qur’an, membaca dzikir-dzikir, melantunkan puisi-puisi dan pujian-pujian tentang Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم Hal ini ditegaskan oleh sebilangan ulama seumpama Al-Hafizh Ibnu Jauzi, Al-Hafizh Ibnu Kautsir, Al-Hafizh Ibnu Dihyah Al-Andalusi, Al-Hafizh Ibnu Hajar, dan Sang Penutup Huffadz (para penghapal hadits dalam jumlah yang sangat banyak) Jalaluddin Al-Suyuthi, semoga Allah سبحانه وتعالى melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka.

Banyak ulama dan fuqaha yang telah menulis buku-buku tentang anjuran merayakan peringatan maulid Nabi صلّى الله عليه و سلّم yang mulia. Mereka menjelaskan dalil-dalil yang shahih tentang sunnahnya kegiatan ini. Semua itu tidak menyisakan ruang bagi orang yang memiliki akal, pemahaman, dan pikiran yang sempurna untuk mengingkari apa yang ditempuh dan dilakukan oleh kalangan salafus saleh berupa perayaan maulid Nabi صلّى الله عليه و سلّم

Dalam kitab Al-Madkhal, Ibnu Hajj menjelaskan dengan panjang lebar tentang keutamaan-keutamaan yang berkaitan dengan perayaan ini dan beliau mengemukakan uraian penuh manfaat yang membuat lapang hati orang-orang yang beriman.

Perlu diketahui bahwa Ibnu Hajj sendiri menulis kitab dengan tema mencela perkara-perkara bid’ah yang diada-adakan yang tidak tersentuh oleh dalil syariat.

Sang penutup para Hafizh, Jalaluddin As-Syuyuthi, di dalam bukunya ”Husnul Maqshid fi Amalil Maulid” memberikan penjelasan tentang maulid Nabi صلّى الله عليه و سلّم dalam rangka menjawab pertanyaan yang diajukan kepada tentang kegiatan maulid Nabi صلّى الله عليه و سلّم pada bulan Rabi’ul awwal: Apa hukumnya dalam pandangan syariah? Apakah kegiatan itu terpuji atau tercela? Dan apakah pelakunya mendapatkan pahala? Beliau berkata, ”Jawabannya, menurutku, bahwa hukum dasar kegiatan maulid (yang berupa berkumpulnya orang-orang yang banyak; membaca Al Qur’an; menyapaikan khabar-khabar yang diriwayatkan tentang awal perjalanan hidup Nabi صلّى الله عليه و سلّم dan tanda-tanda kebesaran yang terjadi pada waktu kelahiran beliau; kemudian dihidangkan makanan untuk mereka dan mereka pun makan bersama; lalu mereka beranjak pulang, tanpa ada tambahan kegiatan lain) adalah termasuk bid’aah hasanah (bid’ah yang baik) dan diberikan pahala bagi orang yang melakukannya. Karena dalam kegiatan itu terkandung makna mengagungkan peran dan kedudukan Nabi صلّى الله عليه و سلّم serta menunjukan suka cita dan kegembiraan terhadap kelahiran beliau.”

Imam Syuyuthi membantah orang yang berkata, ”Aku tidak mengetahui dasar hukum perayaan maulid ini dalam Al Qur’an maupun dalam Sunnah,” dengan mengatakan, ”Ketidaktahuan terhadap sesuatu tidak lalu berarti tidak adanya sesuatu itu”. Beliau juga menjelaskan bahwa para Imam Hafizh, Abu Fadhl Ibnu Hajar رحمه الله تعالى عنه telah menjelaskan dasar hukumya dari Sunnah. Imam Syuyuthi sendiri juga mengemukakan dasar hukumnya yang kedua dan menjelaskan bahwa bid’ah tercela adalah perkara baru yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan dalil syari’at. Adapun jika ada hubungannya yang kuat dengan dalil syari’at yang memujinya, maka perkara itu tidak tercela.

Baihaqi meriwayatkan dari Imam Syafi’i رضي الله عنه bahwa beliau berkata, ”Perkara-perkara baru itu ada dua macam, yaitu pertama, perkara baru yang diada-adakan yang bertentangan dengan Al Qur’an, Sunnah, atsar, atau ijma’. Maka ini adalah bid’ah yang sesat. Kedua, perkara-perkara baru yang tidak tercela. Umar bin Khaththab Ra berkata tentang pelaksanaan shalat tarawih pada bulan Ramadlan,

نعم البدعة هذه

”Alangkah baiknya bid’ah ini”

Yakni ini adalah perkara baru yang belum dilaksanakan sebelumnya. Namun apabila dilakukan maka kita juga tidak akan menemukannya bertentangan dengan perkara yang dahulu (terjadi di jaman Nabi صلّى الله عليه و سلّم)”. Demikianlah akhir kutipan dari Imam Syafi’i.

Imam Syuyuthi berkata, ”Kegiatan merayakan maulid Nabi صلّى الله عليه و سلّم tidak bertentangan dengan Al Qur’an, Sunnah, atsar, maupun ijma’. Maka ini bukan perbuatan tercela sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Syafi’i. Justru kegiatan itu merupakan perbuatan baik yang belum dikenal pada masa awal-awal Islam. Kegiatan memberi makan yang terlepas dari perbuatan dosa adalah perbuatan baik. Dengan demikian, kegiatan maulid termasuk perkara baru yang dianjurkan sebagaimana diungkapkan oleh Sultannya para ulama, Izzuddin bin Abdissalam.”

Dan hukum dasar berkumpul untuk menyemarakkan syiar maulid adalah sunnah dan qurbah (ibadah, mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى). Sebab kelahiran Nabi صلّى الله عليه و سلّم merupakan nikamt terbesar untuk kita, dan syariat memerintahkan kita untuk mengungkapkan syukur atas nikmat yang kita peroleh.

Inilah yang dinyatakan kuat (rajih) oleh Ibnu Hajj di dalam kitab Al-Madkhal. Beliau berkata, ”karena pada bulan ini Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan kepada manusia di bumi tokoh junjungan untuk orang-orang terdahulu dan sekarang, maka wajib ditingkankan pada hari itu ibadah-ibadah, kebaikan dan syukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas nikmat besar yang dilimpahkan-Nya kepada kita.”

Dasar hukum yang dikeluarkan oleh Al-Hafizd Ibnu Hajar tentang kegiatan maulid Nabi صلّى الله عليه و سلّم adalah hadits yang terdapat di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Nabi صلّى الله عليه و سلّم tiba ke Madinah dan menemukan orang-orang Yahudi sedang berpuasa pada hari Asyu Ra, maka beliau menanyakan hal itu kepada mereka. Mereka pun menjawab, :”Ini adalah hari yang Fir’aun ditenggelamkan dan Musa diselamatkan oleh Allah. Maka kami berpuasa padanya sebagai ungkapan syukur kepada Allah سبحانه وتعالى .”

Ibnu Hajar berkata, ”Jadi, diambil faidah yang terkandung di dalam hadits ini yaitu melaksanakan syukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas anugerah yang Dia berikan pada hari tertentu, pemberian nikmat atau pencegahan dari bencana. Dan. Kegiatan itu diulang pada hari yang sama setiap tahun. Kegiatan syukur itu tercapai dengan berbagai bentuk ibadah seperti sujud (shalat), puasa, sedekah, dan membaca Al Qir’an. Dan, nikmat manakah yang lebh besar daripada nikmat munculnya Nabi صلّى الله عليه و سلّم ini, Nabi rahmat, pada hari itu?”.

Al-Hafizh Ibnu Hajar menegaskan bentuk-bentuk kegiatan di dalam perayaan tersebut dan berkata, ”Maka semestinya kita batasi bentuk-bentuk kegiatan itu pada hal-hal yang dipahami sebagai ungkapan syukur kepada Allah سبحانه وتعالى seperti yang telah disebutkan: membaca Al Qur’an, memberi makan, melantunkan puisi-puisi pujian bagi Nabi صلّى الله عليه و سلّم dan puisi-puisi zuhud yang menggerakkan hati untuk melakukan kebajikan dan amal akhirat. Perkara-perkara mubah yang mengandung nilai suka cita dan kegembiraan terhadap hari kelahiran itu tidak mengapa untuk disertakan dengannya.”

Imam Syuthi mengutip penjelasan Imam tokoh-tokoh qira’at, Al-Hafizh Syamsuddin Ibnu Jauzi dari kitabnya ”Urf Al-Ta’rif bi Al-Maulid Al-Syarif”, ”Jelas disebutkan dalam hadis shahih bahwa Abu Lahab mendapatkan keringanan dari siksa neraka pada setiap malam senin karena memerdekakan Tsuwaibah setelah mendengarkan berita gembira kelahiran Nabi صلّى الله عليه و سلّم yang disampaikannya. Jika Abu Lahab yang kafir dan dicela dengan nyata di dalam Al Qur’an mendapatkan keringanan di dalam neraka karena suka cita dan kegembiraannya pada malam kelahiran Nabi صلّى الله عليه و سلّم maka bagaimana lagi dengan seorang muslim dan bertauhid dari umat Nabi صلّى الله عليه و سلّم yang bergembira dengan kelahiran beliau dan berusaha sekuat tenaga yang ia mampu untuk mencintainya? Oh, sungguh balasannya dari Allah سبحانه وتعالى adalah Dia memasukannya kedalam surga yang penuh dengan karunia-Nya.”

Al-Hafizh Syamsuddin Ad-Dimasyqi di dalam kitabnya yang berjudul ”Mawrid Al-Shadi fi Maulid Al-Hadi” melantunkan beberapa bait syair:

Apabila orang ini kafir, baginya celaan nyata,

Dan binasa kedua tangannya, abadi di dalam neraka jahim

Telah shahih bahwa diringankan baginya senantiasa setiap hari Senin karena suka cita dengan Ahmad (Nabi صلّى الله عليه و سلّم)

Maka bagaimana kiranya dengan hamba

Yang sepanjang usianya bergembira terhadap Ahmad (Nabi صلّى الله عليه و سلّم) dan mati dalam keadaan bertauhid?! 4

Selain dasar-dasar hukum dan argumentasi yang disebutkan, bisa juga berdalil dengan umumnya firman Allah سبحانه وتعالى ,

Ibrahim (14) No. Ayat : : 5

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَى بِآيَاتِنَا أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللّهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang DAN INGATKANLAH MEREKA KEPADA HARI-HARI ALLAH ". Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.

Tidak ragu lagi bahwa kelahiran Nabi صلّى الله عليه و سلّم termasuk hari-hari Allah, sehingga memperingattinya berarti melaksanakan perintah Allah. Perkara yang demikian bukanlah bid’ah, tetapi merupakan ”sunnah hasanah” (tradisi baik), sekalipun tidak pernah ada pada masa Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم .

Kita merayalkan kelahiran Nabi صلّى الله عليه و سلّم keran kita mencintai beliau. Dan bagaimana tidak mencintai beliau, sedangkan seluruh alam semesta mengenal dan mencintainya. Ingatlah hadits tentang sebatang kurma, betapa ia menyayangi dan menyayangi Nabi صلّى الله عليه و سلّم serta rindu untuk selalu dekat dengan Nabi صلّى الله عليه و سلّم yang mulia, bahkan menangis sejadi-jadinya karena rindu kepada Nabi صلّى الله عليه و سلّم .

Hadits yang menceritakan kejadian ini mutawatir sehingg informasi yang terkandung didalamnya bersifat pasti.

Diriwayatkan dari sebagain besar sahabat Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم bahwa Nabi صلّى الله عليه و سلّم berkhutbah dengan berdiri dan mengandalkan posisi pada sebatang pohon kurma yang berdiri tegak. Apabila berdiri lama, beliau meletakkan tangan beliau yang mulia di batang kurma tersebut.

Setelah orang-orang yang shalat semakin banyak, para sahabat membuatkan mimbar untuk beliau. Suatu kali pada hari Jum’at, ketika Nabi صلّى الله عليه و سلّم keluar dari kamar yang mulia langsung menuju mimbar dan melewati batang kurma yang biasanya Nabi صلّى الله عليه و سلّم berkhutbah disisinya, tiba-tiba saja batang kurma itu mengeluarkan suara yang keras dan merintih dengan rintihan rindu yang mengharukan sehingga seluruh masjid bergetar dan batang pohon itu ’terkoyak-koyak’,

Batang pohon itu tidak menjadi tenang sampai Nabi صلّى الله عليه و سلّم turun dari mimbar dan mendatangi batang itu. Lalu beliau meletakkan tangan beliau yang mulia padanya dan mengusapnya. Kemudian beliau merengkuhnya ke dada beliau sehingga batang pohon itu pun diam. Kemudian Nabi صلّى الله عليه و سلّم mengajukan pilihan kepadanya mana yang lebih menggembirakan baginya, menjadi pohon di surga dan akar-akarnya menyerap makanan dari sungai-sungai surga, atau kembali menjadi pohon yang berbuah di dunia. Batang pohon itu memilih untuk menjadi pohon di surga. Lalu Nabi صلّى الله عليه و سلّم berkata, ”Aku lakukan, Insya Allah. Aku lakukan, Insya Allah. Aku lakukan, Insya Allah.”

Batang pohon itu pun semakin tenang. Kemudian Nabi صلّى الله عليه و سلّم bersabda, ”Demi Dzat yang diriku berada di dalam genggaman-Nya, seandainya aku tidak berjanji kepadanya, niscaya ia akan merintih sampai hari kiamat karena rindu kepada Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم .”5

Dari pendapat-pendapat para Imam seperti Ibnu Hajar, Ibnu Jauzi, Imam Syuyuthi, dan lain-lain, telah jelas bahwa itulah sikap uamt sejak abad ke-5 H. Kami berpendapat bahwa perayaan Maulid Nabi صلّى الله عليه و سلّم yang mulia itu sunnah dan dianjurkan, sesuai dengan sikap umat dan para ulama. Perayaan tersebut harus dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan seperti membaca Al Qur’an, dzikir, dan memberi makan; tidak diselingi dan disertai dengan hal-hal yang tercela seperti tari-tarian dan lain-lain.

Kami tidak setuju dengan pendapat sebagian orang yang diaanggap ganjil dan keluar dari ijma’ amali (konsensus praktis) umat ini. Dan tidak seiring dengan pendapat umum para imam dan ulama besar umat. Perayaan seperti itu belumlah cukup untuk mengungkapkan kesyukuran dan tidaklah berlebihan terhadap Nabi صلّى الله عليه و سلّم , sang rahmat yang dianugerahkan dan kekasih Tuhan semesta alam.

Pada bagian akhir, saya ingin mngutipkan bait-bait puisi pengarang Burdah (Imam al-Bushiri):


Dialah yang telah sempurna makna dan bentuknya
Kemudian dipilih menjadi kekasih oleh pencipta makhluk
Tidak ada bandingan dalam kebaikan-kebaikannya
Maka, inti kebaikan padanya tidak terbagi-bagi
Tinggalkanlah bagaimana klaim Nasrani tentang nabi meraka,
Dan simpulkan pujian baginya, sekehendakmu
Sematkan kemuliaan pada dirinya, sekehendakmu
Sematkan keagungan pada kedudukannya, sekehendakmu
Sesungguhnya tanpa batas keutamaan Rasulullah,
Sehingga dapat diungkapkan oleh penutur dengan lidah


Dan Allah سبحانه وتعالى Yang Mahatinggi lebih Mengetahui.



Demikianlah yang bisa kami sebutkan mengenai fatwa-fatwa dan pendapat-pendapat ulama-ulama besar nan agung Kaum Muslimin, masih banyak fatwa ulama lainnya yang dituturkan dalam kitab mereka seperti fatwa al-‘arif billah Abu Abdullah Muhammad bin Ibad, Asy-Syekh DR. Asy-Syarbasiy, Al-Imam Taqiyuddin As-Subki, Asy-Syekh Rasyid Ridla, Al-Imam Al-Wansyarsiy termasuk juga Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah * dan lain sebagainya. Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari tipudaya para penipu yang senantiasa mengincar umat Islam untuk dijauhkan dari ulama yang benar-benar mumpuni, yang lebih paham akan agama ini. Amin..!!!

والله سبحانه وتعالى أعلم
Abdurrohim ats-Tsauriy

Catatan Kaki ;

1. Kitab I’anah Thalibin (Syarah Fathul Mu’in) Juz. 3 hal. 415, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon.
2. Ibid, hal. 415.
3. Kitab Madarijus Su’uud hal. 16, karangan ...Al-‘Allamah Asy-Syekh An-Nawawiy Ats-Tsaniy (Sayyid Ulama Hijaz)
4. Kitab I’anah Thalibin (Syarah Fathul Mu’in) Juz. 3 hal. 415, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon.
5. Ibid, hal. 415.
6. Ibid, hal. 416 ; kitab As-Sirah Al-Halabiyah (1/83-84) karangan Al-Imam ‘Ali bin Burnahuddin Al-Halabiy.
7. Kitab I’anah Thalibin (Syarah Fathul Mu’in) Juz. 3 hal. 415, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon.
8. Ibid, hal. 415 ; kitab Anwarul Muhammadiyah hal.20, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh Yusuf An-Nabhaniy. Darul Kutub Al-Ilmiyyah, Beirut – Lebanon.
9. Ibid, hal. 415.
10. Kitab Husnul Maqshid fi Amal Maulid, karangan Al-Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthiy
11. Ibid.
12. Ibid.
13. Tercantum dalam kitab Al-Ajwibah al-Mardliyyah ; Kitab I’anah Thalibin (Syarah Fathul Mu’in) Juz. 3 hal. 415, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon ; kitab As-Sirah Al-Halabiyah (1/83-84) karangan Al-Imam ‘Ali bin Burnahuddin Al-Halabiy
14. Ibid.
15. Kitab Husnul Maqshid fi Amal Maulid, karangan Al-Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthiy.
16. Ibid ; kitab Al-Hawi Al-Fatawi hal. 189, karangan Al-Imam As-Suyuthiy ; kitab I’anatut Thalibin Juz 3 Hal. 415 , karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon ; Tuhfatul Muhtaj (تحفة المحتاج في شرح المنهاج) pada fasal (فَصْلٌ فِي وَلِيمَةِ الْعُرْسِ) karangan Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy.
17. Kitab Husnul Maqshid fi Amal Maulid, karangan Al-Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthiy.
18. Ibid.
19. Kitab I’anatut Thalibin Juz 3 Hal. 415 , karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon.
20. Ibid. ; Kitab Al-Wasail fiy Syarh Al-Masaail lis-Suyuthiy
21. Kitab Al-Madhkal, karangan Al-Imam Ibnu Al-Hajj jilid.1 hal. 261
22. Ibid.
23. Kitab Ad-Durar As-Saniyyah (الدرر السنية) hal. 190.
24. Kitab Syarah ‘Alaa Maulid Al-Imam Ibnu Hajar.
25. Kita Fatawa Syar’iyyah (1/131)
26. Kiab ‘Alaa Maidah Al-Fikr Al-Islami (على مائدة الفكر الإسلامي) hal. 25.
27. Pendapat Imam Ibnu Hajar Al-Haitsamiy
28. Kitab Mawahid Al-Ladunniyah (1/148) –Syarh ‘alaa Shahih Bukhari-, karangan Al-Imam AL-Qasthalaniy
29. Ibid.
30. Kitab Tafsir Al-Imam Al-Alusiy
31. Lihat : Sirah An-Nabawiyah wa Atsar al-Muhammadiyah, catatan pinggir As-Sirah Al-Halabiyah .
32. Kitab Haulal Ihtifal bidzikri Maulid Nabawi
33. Ibid.
34. Kitab Bayan Al-Qawim,
**. Mengenai pendapat Imam Ibnu Taimiyah terdapat dalam kitab Iqthidha’ Shirathal Mustaqim dan perlu penjelasan lebih rinci. Secara garis besar, Imam Ibnu Taimiyah tergolong ulama yang sangat ketat dan tidak mentolerir perbedaan apapun. Beliau bukanlah wahabi (sekte yang dinisbatkan kepada Syekh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahulla) serta mengenai perayaan yang disyariatkan, wajib mengambilnya namun hari-hari istimewa seperti hari kemenanhan perang badar, perang Hunain, perang Khandak, hari fathul Mekkah dan sebagainya tidak wajib diambil demikian juga Maulid Nabi namun merayakannya mendapatkan pahala.

Media Islam

Thariqat Sarkubiyah

NU Online