Latest Updates
Tampilkan postingan dengan label Sunni al-Asya'irah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunni al-Asya'irah. Tampilkan semua postingan

Syaikh Yusuf al-Qaradlawi ; al-Azhar asy-Syarif, az-Zaituniyah, ad-Deoband, Nadwah al-‘Ulama, Madrasah Pakistan & Seluruh Alam Adalah Asy’ari



عقيدة الأزهر

وردا على سؤال آخر من أحد الحضور جاء فيه: "بعض الناس يطعن في عقيدة الأزهر الشريف، فما رد فضيلتكم على هذا الكلام؟"
Aqidah al-Azhar : telah ada pertanyaan lain dari salah seorang yang hadlir bahwa “sebagian masyarakat mengkritik tentang aqidah al-Azhar asy-Syarif, maka apakah jawab anda yang terhormat tentang perkataan semacam ini ?”

قال الشيخ القرضاوي بنبرة استفهام ساخرة: "عقيدة الأزهر الشريف؟!"
Syaikh al-Qaradlawi berkata dengan berupa pernyataan yang mengagumkan terkait “Aqidah al-Azhar asy-Syarif”.

ورأى أن من يقول ذلك "فهو يطعن في الأشعرية"، وتابع: "ليس الأزهر وحده أشعريا.. الأمة الإسلامية أشعرية.. الأزهر أشعري والزيتونة أشعري والديوباندي (بالهند) أشعري وندوة العلماء أشعرية ومدارس باكستان أشعرية.. وكل العالم الإسلامي أشعرية".
Saya telah melihat bahwa orang mengatakan demikian “adalah orang yang mengkritik tentang al-Asy’ariyah”, kemudian beliau berkata : “al-Azhar bukan satu-satunya yang berpaham Asy’ariah. .. Umat Islamiyah adalah Asy’ariyah, al-Azhar adalah Asy’ariy, az-Zaituniyyah adalah Asy’ari, ad-Deobandi (di India) adalah Asy’ari, Nadwah al-‘Ulama adalah Asy’ari, madrasah-madrasah di Pakistan adalah Asy’ari, hingga seluruh dunia Islam (mayoritas) adalah Asy’ariyah”.

وأشار إلى أنه حتى الأشعرية موجودة بالسعودية التي تعد مركز السلفية الوهابية، وقال: "السلفيون مجموعة صغيرة، حتى إذا قلنا السعودية فليس كل السعودية سلفيين، فالحجازيون غير النجديين غير المنطقة الشرقية غير منطقة جيزان وهكذا".
Beliau juga mengisyaratkan hingga Asy’ariyah juga terdapat di negeri Saudi yang dianggap sebagai markas salafiyah al-Wahabiyah, beliau berkata : “Salafiyah (Wahabi) hanya segelitir saja (minoritas), hingga apabila kita katakan Saudi, maka bukan seluruh Saud adalah Salafy (Wahabi). Penduduk Hijaz (Asy’ariy) selain Najed, (penduduk Nejd) pun yang bukan bagian timur, (yang bagian timur) pun bukan seperti di wilayah Jizan, begitulah seterusnya”

وأضاف: "فإذا أخذنا بالأغلبية، فإن أغلبية الأمة أشعرية.. هذه كلها اجتهادات في فروع العقيدة، والكل متفق على شهادة أن لا اله إلا الله وأن محمد رسول الله وعلى النبوة في الإيمان بالله وكتبه ورسله وفي اليوم الآخر".
Beliau menambahkan : apabila kita mengambil perkiraan, maka sesungguhnya mayoritas umat adalah ‘Asyariyah, ini semuanya hanya ijtihad-ijtihad dalam masalah cabang aqidah (furu’ aqidah), dan semua bersepakat atas persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan atas kenabian didalam beriman kepada Allah, kitab-Nya, rasul-Nya dan hari Qiamat.

وشدد على أن "هذه الاختلافات لا ينبغي أن نكفر بها أحدا
Kemudian beliau menekankan bahwa “ini semua hanya masalah ikhtilaf yang tidak sepatutnya kita mengkafirkan seseorang muslim karena sebab ini”.
Penterjemah al-Ustadz al-Fadlil Mukhlis Hafidzahullah, dengan beberapa penyesuai oleh “Ashhabur Ro’Yi”. Sumber utama : http://www.qaradawi.net/site/topics/article.asp?cu_no=2&item_no=6914&version=1&template_id=116&parent_id=114

Fatwa Syaikh al-'Allamah Ali Jumu'ah (Mufti Mesir) Tentang Aqidah Asy'ariyah dan Al-Azhar

Fatwa Syaikh al-'Allamah Ali Jumu'ah (Mufti Mesir) Tentang Aqidah Asy'ariyah dan Al-Azhar
Fatwa Syaikh al-'Allamah Ali Jumu'ah (Mufti Mesir) Tentang Aqidah Asy'ariyah, al-Azhar asy-Syarif & Kelompok Pencela Bernama "Salafy".

Pertanyaan :

    اطلعنا على الطلب المقيد برقم 2908 لسنة 2005م المتضمن ينتمي كثير من الشباب إلى فرقة تقول بأنها الوحيدة التي تسير على نهج السلف الصالح وعلى الطريق المستقيم ، وترمي كل من يخالفهم بالعمالة والكفر والزندقة ، حتى العلماء لم يسلموا منهم ؛ حيث يتهجمون على عقيدة الأزهر وعلمائه ويرمون الأشعرية بالابتداع ، فما رأيكم في هذه الجماعة وفيما يقولونه : من إطلاق اللحية ، وتقصير الثياب ، وتبديع القنوت في الفجر وغير ذلك ؟
    Kami memuthala’ah (mempelajari) tentang pemintaan fatwa no. 2908 yang berisi penjelasan banyaknya syabab (pemuda) mengikuti firqah (kelompok) yang dikatakan berada diatas manhaj salafus shaleh dan atas jalan yang lurus, dan mereka menuduh setiap orang yang menyelisihi mereka sebagai kafir dan zindiq sampai ulama pun tidak selamat (tidak lepas) dari tudingan mereka ; mereka juga menyerang aqidah al-Azhar, ulama-ulama al-Azhar dan melempar tuduhan bahwa al-Asy’aiyah sebagai pelaku bid’ah. Apa pendapat anda tentang kelompok ini ? …….

 Jawab :

إنه يجب على الشباب المسلم - خاصة طلبة العلم - أن يعملوا على توحيد كلمة المسلمين ، وأن لا يسعَوْا بينهم بالفرقة والنزاع والخصام ؛ حيث أمرنا الله تعالى أن نعتصـم جميعا بحبـله المتين وألا نتفرق في الدين ، قال تعالى : { وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُو } (آل عمران 103)، وقال سبحانه : (الأنفال 46) وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ، وأن نقول للناس الحسن من الكلام ، قال عز من قائل :وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لاَ تَعْبُدُونَ إِلاَّ اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَذِي القُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْناً وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنكُمْ وَأَنتُم مُّعْرِضُونَ (البقرة 83)، ، وأمرنا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم بكل ما يؤدي إلى الوَحدة ، حتى جعل التبسم في وجه الأخ صدقة
Wajib bagi para pemuda Islam – khususnya penuntut ilmu- untuk melakukan pemersatuan kaum muslimin, dan bukan mencari-cari perbedaan diantara kaum muslimi dengan perpecahan, perbedaan dan pertikaian. Allah subhanu wa Ta’alaa telah memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan Tali-Nya dan tidak berpecah belah dalam agama. Firman Allah :

    "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai"

Juga Firman Allah :

    “Dan ta'atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Dan kita harus berkata-kata kepada manusia denga perkataan yang bagus, firman Allah :

    “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.”



Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam juga telah memerintahkan kita dengan setiap hal yang membawa pada persatuan, sehingga senyum kepada suadara sesama Islam merupakan shadaqah.

كما يجب على الشباب أن ينأوا بأنفسهم عن مناهج التكفير وتيارات التبديع والتفسيق والتضليل التي انتشرت بين المتعالمين في هذا الزمان ، وأن يلتزموا بحسن الأدب مع الأكابر من علماء الأمة وصالحيها ، وأي جماعة تتخذ من اسم " السلف الصالح " ستارا لتفرقة المسلمين وسببا للشقاق والنزاع تكون قد لبَّست الحق بالباطل ؛ قال تعالى :وَلاَ تَلْبِسُوا الحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ (البقرة 42).
Sebagaimana diwajibkan kepada pemuda-pemuda Islam agar menjauhkan diri mereka dari manhaj-manhaj takfir (pengkafiran), tabdi’ (pembid’ahan), pemfasikan dan penyesatan yang banyak tersebar diantara para penuntut ilmu pada zaman ini. Mereka (pemuda Islam) harus berakhlak yang baik terhadap ulama-ulama besar umat dan orang-orang shalih. Adalah kelompok yang mengambil nama “as-Salafush Shaleh” untuk memecah belah kaum muslimin sehingga terjadi perpecahan dan pertikaian , sungguh telah mencapur adukkan antara hak dan bathil. Allah berfirman :

    “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu , sedang kamu mengetahui”.

ومن المعلوم أن عقيدة الأزهر الشريف هي العقيدة الأشعرية وهي عقيدة أهل السنة والجماعة ، والسادة الأشاعرة رضي الله تعالى عنهم وأرضاهم هم جمهور العلماء من الأمة ، وهم الذين صَدُّوا الشبهات أمام المَلاَحِدَةِ وغيرهم ، وهم الذين التزموا بكتاب الله وسنة سيـدنا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم عبر التاريخ ، ومَنْ كفّرهم أو فسّقهم يُخْشَى عليه في دينه ، قال الحافظ ابن عساكر رحمه الله في كتابه " تبيين كذب المفتري ، فيما نسب إلى الإمام أبي الحسن الأشعري " : " اعلم وفقني الله وإياك لمرضاته ، وجعلنا ممن يتقيه حق تقاته ، أن لحوم العلماء مسمومة ، وعادة الله في هتك أستار منتقصيهم معلومة ، وأن من أطلق عليهم لسانه بالثلب ، ابتلاه الله قبل موته بموت القلب " ا هـ

Dan termasuk hal yang ma’lum (telah diketahui) bahwa aqidah al-Azhar asy-Syarif adalah Aqidah al-Asy’ariyah dan itu adalah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Semoga Allah subahanhu wa Ta’alaa meridlai ulama-ulama al-Asy’ariyah dan menjadikan mereka diridlai, dan mereka adalah jumhur ‘Ulama dari umat Islam ini. Mereka adalah ulama-ulama yang telah membantah syubhat-syubhat kelompok atheis dan selainnya. Merekalah yang berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah sayyid kita yaitu Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam sepanjang sejarah.


Barangsiapa yang mengkafirkan dan memfasikkkan ulama-ulama Asy’ariyah maka mereka itu patut diselidiki agamanya. al-Imam al-Hafidz Ibnu ‘Asakir rahimahullah didalam kitabnya “Tabyin Kidzb al-Muftariy, Fimaa Nusiba Ilaal Imam Abul Hasan al-Asy’ariy” berkata : Ketahuilah dan semoga Allah memberikan taufikan kepadaku dan kepadamu untuk memperoleh ridla-Nya, serta menjadikan kami termasuk orang-orang yang bertaqwa, bahwa SESUNGGUHNYA DAGING ULAMA ITU BERACUN, dan sudah hal yang biasa bahwa Allah akan membongkar (menjadikan buruk) orang yang mencela ulama sehingga diketahui oleh umat. Dan sungguh barangsiap yang memfitnah ulama dengan lisannya maka Allah akan mematikan hatinya sebelum kematiannya.

والأزهر الشريف هو منارة العلم والدين عبر التاريخ الإسلامي ، وقد كوَّن هذا الصرحُ الشامخُ أعظم حوزة علمية عرفتها الأمة بعد القرون الأولى المُفَضَّلة ، وحفظ الله تعالى به دينه ضد كل معاند ومشكك ؛ فالخائض في عقيدته على خطر عظيم ، ويُخْشَى أن يكون من الخوارج والمرجفين الـذين قال الله تعالى فيهم :لَئِن لَّمْ يَنتَهِ المُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي المَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لاَ يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلاقَلِيلاً (الأحزاب 60)

Al-Azhar asy-Syarif adalah menara ilmu dan agama sepanjang sejarah Islam, dan sungguh keberadaan al-Azhar asy-Syarif merupakan binaaan ilmu tertinggi yang pernah diketahui setelah masa kurun awal Islam. Allah telah menjaganya untuk agamanya dari setiap kekacauan dan keraguan ; maka yang menetang aqidahnya berada diatas bahaya yang besar, dan dikhawatirkan dia termasuk dari golongan Khawarij (sesat) dan kelompok orang-orang munafik yang telah Allah ta’alaa firman tentang mereka ;

    “Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar,”


Source : http://www.dar-alifta.org/ViewFatwa.aspx?ID=261&Home=1&LangID=1

Mengenal Golongan Ahlussunnah Al-Asya'irah

Mengenal Golongan Ahlussunnah Al-Asya'irah
Kalangan wahabi (Ahlul Wahabi) mengatakan :

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin (ulama wahabi)berkata: "Kemudian muncul juga kelompok yang lain, dan mereka menyebut dirinya Asy'ariyah. Mereka mengingkari sebagian sifat Allah dan menetapkan sebagian yang lain. Mereka menetapkan sifat-sifat tersebut berdasar kepada akal. Maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu merupakan bid'ah dan perkara baru dalam agama Islam" (Ensiklopedia Bid'ah, hal. 140).

Syekh Muhammad bin Musa Alu Nashr (ulama Wahabi) berkata: "Tetapi, apakah Asya'irah dan Maturidiyah itu Ahlussunnah, ataukah mereka termasuk Ahli Kalam? Hakikatnya, mereka ini termasuk Ahli Kalam. Mereka bukan termasuk Ahlussunnah, walaupun mereka ahlul-millah, ahli qiblah (umat Islam). Dikarenakan al-Asya'irah dan Maturidiyah itu menyelisihi Ahlussunnah Wal-Jama'ah" ( lihat Majalah As-Sunnah, edisi 01/tahun XII, April 208, hal. 35).

Sementara kalangan Ulama agung Ahlussunnah tentang Al-Asya'irah mengatakan ;


إِذَا أُطْلِقَ أَهْلُ السُّنَّةِ فَالْمُرَادُ بِهِ اْلأَشَاعِرَةُ وَالْمَاتُرِيْدِيَّةُ (إتحاف سادات المتقين، محمد الزبدي، ج. 2، ص. 6)
"Apabila disebut nama Ahlussunnah secara umum, maka maksudnya adalah Asya'irah (para pengikut faham Abul Hasan al-Asy'ari) dan Maturidiyah (para pengikut faham Abu Manshur al-Maturidi" (Ithaf Sadat al-Muttaqin, Muhammad Az-Zabidi, juz 2, hal. 6.).

وأما حكمه على الإطلاق وهو الوجوب فمجمع عليه في جميع الملل وواضعه أبو الحسن الأشعري وإليه تنسب أهل السنة حتى لقبوا بالأشاعرة (الفواكه الدواني، أحمد النفراوي المالكي، دار الفكر، بيروت، 1415، ج: 1 ص: 38)
"Adapun hukumnya (mempelajari ilmu aqidah) secara umum adalah wajib, maka telah disepakati ulama pada semua ajaran. Dan penyusunnya adalah Abul Hasan Al-Asy'ari, kepadanyalah dinisbatkan (nama) Ahlussunnah sehingga dijuluki dengan Asya'irah (pengikut faham Abul Hasan al-Asy'ari)" (Al-Fawakih ad-Duwani, Ahmad an-Nafrawi al-Maliki, Dar el-Fikr, Beirut, 1415, juz 1, hal. 38).

كذلك عند أهل السنة وإمامهم أبي الحسن الأشعري وأبي منصور الماتريدي (الفواكه الدواني ج: 1 ص: 103)
"Begitu pula menurut Ahlussunnah dan pemimpin mereka Abul Hasan al-Asy'ari dan Abu Manshur al-Maturidi" (Al-Fawakih ad-Duwani, juz 1 hal. 103)

وأهل الحق عبارة عن أهل السنة أشاعرة وماتريدية أو المراد بهم من كان على سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فيشمل من كان قبل ظهور الشيخين أعني أبا الحسن الأشعري وأبا منصور الماتريدي (حاشية العدوي، علي الصعيدي العدوي، دار الفكر، بيروت، 1412 ج. 1، ص. 151)
"Dan Ahlul-Haqq (orang-orang yang berjalan di atas kebenaran) adalah gambaran tentang Ahlussunnah Asya'irah dan Maturidiyah, atau maksudnya mereka adalah orang-orang yang berada di atas sunnah Rasulullah Saw., maka mencakup orang-orang yang hidup sebelum munculnya dua orang syaikh tersebut, yaitu Abul Hasan al-Asy'ari dan Abu Manshur al-Maturidi" (Hasyiyah Al-'Adwi, Ali Ash-Sha'idi Al-'Adwi, Dar El-Fikr, Beirut, 1412, juz 1, hal. 105).

والمراد بالعلماء هم أهل السنة والجماعة وهم أتباع أبي الحسن الأشعري وأبي منصور الماتريدي رضي الله عنهما (حاشية الطحطاوي على مراقي الفلاح، أحمد الطحطاوي الحنفي، مكتبة البابي الحلبي، مصر، 1318، ج. 1، ص. 4)
"Dan yang dimaksud dengan ulama adalah Ahlussunnah Wal-Jama'ah, dan mereka adalah para pengikut Abul Hasan al-Asy'ari dan Abu Manshur al-Maturidi radhiyallaahu 'anhumaa (semoga Allah ridha kepada keduanya)" (Hasyiyah At-Thahthawi 'ala Maraqi al-Falah, Ahmad At-Thahthawi al-Hanafi, Maktabah al-Babi al-Halabi, Mesir, 1318, juz 1, hal. 4).

Ibn Taymiah dalam menuturkan tentang Asy’ariyyah, pernah berkata :

والعلماء أنصار علوم الدين والأشاعرة أنصار أصول الدين – الفتاوى الجزء الرابع
“Para Ulama adalah pembela ilmu-ilmu agama dan Al-Asya'irah adalah pembela ushul (dasar-dasar) agama" (Al-Fatawa, Juz 4)

al-Imam ash-Sakhawi juga mengatakan dalam kitab Al-Maqashid Al-Hasanah, sebagai berikut ;

ولقد وصف رسول الله ‘ الفرقة النـاجية بأنهم السواد الأعظم من الأمة، وهذا الوصف منطبق على الأشاعرة والماتريدية وأصحاب الحديث، إذ هم غالب أمة الإسلام، والمنفي عنهم الاجتماع على الضلالة بنص الحديث المشهور (لا تجتمع أمتـي علـى الضلالة

Imam Tajuddin As-Subki

قال الإمام تاج الدين السبكي رحمه الله تعالى (إتحاف السادة المتقين 2/6):

اعلم أن أهل السنة والجماعة كلهم قد اتفقوا على معتقد واحد فيما يجب ويجوز ويستحيل، وإن اختلفوا في الطرق والمبادئ الموصلة لذلك، أو في لِميّة([2]) ما هنالك، وبالجملة فهم بالاستقراء ثلاث طوائف:

الثانية: أهل النظر العقلي والصناعة الفكرية، وهم الأشعرية والحنفية، وشيخ الأشعرية أبو الحسن الأشعري، وشيخ الحنفية أبو منصور الماتريدي

Imam Jalal ad-Dawaniy

وقال الإمام الجلال الدواني رحمه الله تعالى (شرح العقائد العضدية 1/ 34)

الفرقة الناجية، وهم الأشاعرة أي التابعون في الأصـول للشيخ أبي الحسـن

Imam al-Baihaqiy

ال الإمام البيهقي : " إن أبا الحسن الأشعري رحمه الله لم يحدث في دين الله حَدَثا ، ولم يأت فيه ببدعة ، بل أخذ أقاويل الصحابة والتابعين ومن بعدهم من الأئمة في أصول الدين فنصرها بزيادة وشرح وتبيين".

Imam Izz bin Abdussalam

وذكر العز بن عبد السلام أن عقيدة الأشعري أجمع عليها الشافعية والمالكية والحنفية وفضلاء الحنابلة ووافقه على ذلك من أهل عصره شيخ المالكية في زمانه أبو عمرو بن الحاجب وشيخ الحنفية جمال الدين الحصيري وأقره على ذلك التقي السبكي .

ويقول تاج الدين السبكي: وهؤلاء الحنفية والشافعية والمالكية وفضلاء الحنابلة في العقائد يد واحدة كلهم على رأي أهل السنة والجماعة يدينون لله تعالى بطريق شيخ السنّة أبي الحسن الأشعري رحمه الله. ثم يقول: وبالجملة عقيدة الأشعري هي ما تضمنته عقيدة أبي جعفر الطحاوي التي تلقاها علماء المذاهب بالقبول ورضوها عقيدة.

Imam Ibnu 'Abidin

وقال الفقيه الحنفي ابن عابدين في حاشيته: " أهل السنة والجماعة وهم الأشاعرة والماتريدية".


SIAPA SESUNGGUHNYA GOLONGAN AL-ASYA'IRAH ?

Penjelasan dari As-Sayyid Muhammad bin 'Alawi al-Maliki al-Hasani :

Banyak kaum muslimin jahil (tidak mengetahui) mengenai madzhab al-‘Asya’irah (kelompok ulama pengikut madzhab Imam Abul Hasan al-Asy’ari) dan tidak mengetahui siapakah mereka, serta metode mereka dalam bidang aqidah. Karena ketidak tahuan itu, ada sebagian dari kaum Muslimin, tidak berhati-hati, melemparkan tuduhan bahwa golongan Asya’irah sesat atau telah keluar dari Islam dan mulhid (menyimpang dari kebenaran) di dalam memahami sifat-sifat Allah.

Kejahilan terhadap madzhab al-Asya’irah ini adalah faktor retaknya kesatuan golongan Ahlus Sunnah dan terpecah-pecahnya kesatuan mereka, sehingga sebagian golongan yang jahil memasukkan al-Asya’irah dalam kelompok golongan yang sesat . Saya tidak tahu, mengapa golongan yang beriman dan golongan yang sesat disamakan ? Dan bagaimana golongan Ahl as-Sunnah dan golongan ekstrim mu’tazilah (Jahmiyyah) disamakan?


أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ
مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ
"Maka apakah patut Kami menjadikan orng-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir) ?, Atau adakah kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan ?" (QS. Al-Qalam : 35 - 36)

Al-Asya’irah adalah para pemimpin ulama yang membawa petunjuk dari kalangan ulama muslimin yang ilmu mereka memenuhi bagian timur dan barat dunia dan disepakati oleh manusia sepakat atas keutamaan, keilmuan dan keagamaan mereka. Mereka adalah tokoh-tokoh besar ulama Ahlussunnah berwibawa tinggi yang berdiri teguh menentang kecongkaan dan kesombongan golongan Mu’tazilah.

Dalam menuturkan tentang golongan Al-Asya’irah, Ibnu Taimiyyah berkata:


والعلماء أنصار علوم الدين والأشاعرة أنصار أصول الدين – الفتاوى الجزء الرابع
“Para ulama adalah pembela ilmu agama dan al-Asya’irah pembela dasar-dasar agama (ushuluddin) - (Al-Fataawaa, juz 4)


Sesungguhnya mereka (penganut madzhab al-Asya’irah) terdiri dari tokoh-tokoh hadits (Muhadditsin), para Ahli fiqih dan para Ahlitafsir dari kalangan tokoh Imam-imam yang utama (yang menjadi panutan dan sandaran para ulama lain) seperti :


-] Syaikhul Islam Ahmad ibn Hajar al-‘Asqalani رحمه الله, tokoh hadits yang tidak dipertikaikan lagi sebagai gurunya para ahli hadits, penyusun kitab Fathul Baari ‘ala Syarhil Bukhaari. Bermazhab Asya’irah. Karyanya sentiasa menjadi rujukan para ulama’.
-] Syaikhul Ulama Ahl as-Sunnah, al-Imam an-Nawaawi رحمه الله, penyusun Syarh Shahih Muslim, dan penyusun banyak kitab yang masyhur. Beliau bermazhab Asya’irah.
-] Syaikhul Mufassirin al-Imam al-Qurthubi رحمه الله penyusun tafsir al-Jaami’ li Ahkaamil Qur’an. Beliau bermazhab Asya’irah.
-] Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haithami رحمه الله, penyusun kitab az-Zawaajir ‘an al-Iqtiraaf al-Kabaa’ir. Beliau bermazhab Asya’irah.
-] Syaikhul Fiqh wal Hadits al-Imam al-Hujjah wa ats-Tsabat Zakaaria al-Anshari رحمه الله Beliau bermazhab Asya’irah.
-] Al-Imam Abu Bakar al-Baaqilani رحمه الله
-] Al-Imam al-Qashthalani رحمه الله
-] Al-Imam an-Nasafi رحمه الله
-] Al-Imam asy-Syarbini رحمه الله
-] Abu Hayyan an-Nahwi رحمه الله, penyusun tafsir al-Bahr al-Muhith.
-] Al-Imam Ibn Juza رحمه الله, penyusun at-Tashil fi ‘Uluumittanziil.
-] Dan lain sebagainya, yang kesemua merupakan tokoh-tokoh Ulama ‘Asya’irah.


Seandainya kita menghitung jumlah ulama besar dari Ahli Hadits, Ahli Tafsir dan Ahli Fiqh yang bermazhab al-Asya’irah, maka tidak mungkin mampu untuk dilakukan dan kita memerlukan beberapa jilid buku untuk merangkai nama para ulama besar yang ilmu mereka memenuhi wilayah timur dan barat bumi. Adalah salah satu kewajiban kita untuk berterimakasih kepada orang-orang yang telah berjasa dan mengakui keutamaan orang-orang yang berilmu dan memiliki kelebihan yakni para tokoh ulama, yang telah menabur khidmat mereka kepada syari’at Sayyid Para Rasul, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alayhi wa Sallam.

Darimana lahi kebaikan yang kita harapkan sekiranya kita melemparkan tuduhan menyimpang daripada kebenaran dan sesat kepada para ulama besar kita dan para salafus sholeh ? Bagaimana Allah akan membukakan mata hati kita untuk mengambil manfaat dari ilmu-ilmu mereka setelah kita beri’tiqad bahwa mereka berada dalam keraguan dan menyimpang dari jalan Islam ???.

Sungguh saya ingin mengatakan: “Adakah ulama masakini dari kalangan Doktor [penyandang ijazah PhD] dan cerdik pandai, mampu melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dan Al-Imam An-Nawawi رحمهماالله dalam berkhidmat terhadap Sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang suci ? Adakah kita mampu untuk memberi khidmat terhadap Sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم sebagaimana yang dilakukan oleh kedua-dua ulama besar ini ? Semoga Allah memberikan karunia kepada mereka rahmat serta keridhaan-Nya. Lalu bagaimana kita bisa menuduh mereka berdua telah sesat dan juga para ulama al-Asya’irah yang lain, padahal kita memerlukan ilmu-ilmu mereka ?

Dan bagaimana kita bisa mengambil ilmu dari mereka jika mereka didalam kesesatan ? Padahal Al-Imam Ibnu Sirin رحمه الله pernah berkata :

إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم
"Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikan daripada siapa kalian mengambil agama kalian."

Apakah tidak cukup bagi orang yang tidak sependapat dengan para Imam di atas, untuk mengatakan, “Mereka rahimahullah telah berijtihad dan mereka salah dalam menafsirkan sifat-sifat Allah. Maka yang lebih baik adalah tidak mengikuti metode mereka.” Sebagai pengganti dari ungkapan kita yang telah menuduh mereka menyimpang dan sesat lalu kita marah atas orang yang mengkategorikan mereka sebagai Ahlussunnah.

Dan seandainya Al-Imam an-Nawawi, Al-‘Asqalani, Al-Qurthubi, Al-Fakhrurrazi, Al-Haithami dan Zakaria Al-Anshari dan ulama berwibawa yang lain tidak dikategorikan sebagai Ahlussunnah Wal Jama’ah, lalu siapakah lagi yang termasuk Ahlussunnah Wal Jama’ah ?.

Sungguh, dengan tulus kami mengajak semua pendakwah dan mereka yang bergiat di medan dakwah Islam agar bertaqwa kepada Allah dalam urusan ummat Muhammad صلى الله عليه وسلم, khususnya terhadap tokoh-tokoh ulama dan para fuqaha’nya. Karena, ummat Muhammad صلى الله عليه وسلم senantiasa berada dalam kebaikan hingga hari kiamat. Dan tidak ada kebaikan bagi kita jika tidak mengakui kedudukan dan keutamaan para Ulama kita sendiri.


Al-Asya’irah adalah pengikut Imam Abu Hasan al-Asy'ari yang mempunyai jasa yang besar dalam membersihkan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah daripada kekeruhan yang dicetuskan oleh golongan Mu'tazilah. Kebanyakan pendukung dan Ulama besar umat ini adalah dari golongan al-Asya’irah. Sedangkan golongan yang memperdebatkan mereka ini sama sekali mencapai secarik buku mereka pun dari segi ilmu, wara' dan taqwa.

Di antara ulama Al-Asya’irah ialah: Imam Al-Haramain, Imam al-Ghazali, al-Hafidz Ibn Hajar al-'Asqalani, Imam Fakhruddin ar-Razi dan sebagainya. Apakah dosa yang telah mereka lakukan ? Adakah karena mereka bersunggung-sungguh untuk membuat bantahan atas kekeliruan yang ditimbulkan oleh golongan Musyabbihah yang berhubungan dengan Dzat Allah ? Golongan Musyabbihah ini mencoba untuk menetapkan bahwa Allah Ta’ala mempunyai jisim melalui ayat-ayat Mutasyabihat dan hadits-hadits yang menyatakan secara dzahirnya bahwa Allah mempunyai tangan, mata, siku, jari-jari dan sebagainya. -Selesai.

ULAMA-ULAMA BERMADZHAB AL-ASYA'IRAH


::: Peringkat Pertama : Dari Kalangan Murid Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari


* Abu Abdullah bin Mujahid Al-Bashri
* Abu Al-hasan Al-Bahili Al-Bashri
* Abu Al-Hasan Bandar bin Al-Husein Al-Syirazi As-Sufi
* Abu Muhammad At-Thobari Al-‘Iraqi
* Abu Bakr Al-Qaffal As-Syasyi
* Abu Sahl As-So’luki An-Naisaburi
* Abu Yazid Al-Maruzi
* Abu Abdillah bin Khafif As-Syirazi
* Abu Bakr Al-Jurjani Al-Isma’ili
* Abu Al-Hasan Abdul ‘Aziz At-Thobari
* Abu Al-Hasan Ali At-Thobari
* Abu Ja’far As-Sulami Al-Baghdadi
* Abu Abdillah Al-Asfahani
* Abu Muhammad Al-Qursyi Al-Zuhri
* Abu Bakr Al-Bukhari Al-Audani
* Abu Al-Manshur bin Hamsyad An-Naisaburi
* Abu Al-Husein bin Sam’un Al-Baghdadi
* Abu Abdul Rahman As-Syaruthi Al-Jurjani
* Abu Ali Al-Faqih Al-Sarkhosyi


::: Peringkat Kedua,


* Abu Sa’ad bin Abi Bakr Al-Isma’ili Al-Jurjani
* Abu Thayyib bin Abi Sahl As-So’luki An-Naisaburi
* Abu Al-Hasan bin Daud Al-Muqri Al-Darani Ad-Dimasyqi
* Al-Qodhi Abu Bakr bin At-Thoyyib bin Al-Baqillani
* Abu ‘Ali Ad-Daqqaq An-Naisaburi (guru Imam Al-Qusyairi)
* Al-Hakim Abu Abdillah bin Al-Bai’e An-Naisaburi
* Abu Manshur bin Abi Bakr Al-Isma’ili
* Al-Ustaz Abu Bakr Furak Al-Isfahani
* Abu Sa’ad bin Uthman Al-Kharkusyi
* Abu Umar Muhammad bin Al-Husein Al-Basthomi
* Abu Al-Qasim bin Abi Amr Al-Bajli Al-Baghdadi
* Abu Al-Hasan bin Maysazah Al-Isfahani
* Abu Tholib bin Al-Muhtadi Al-Hasyimi
* Abu Mu’ammar bin Abi Sa’ad Al-Jurjani
* Abu Hazim Al-‘Abdawi An-Naisaburi
* Al-Ustaz Abu Ishaq Al-Isfara’ini
* Abu ‘Ali bin Syazan Al-Baghdadi
* Abu Nu’aim Al-Hafiz Al-Isfahani
* Abu Hamid Ahmad bin Muhammad Al-Istawa’ie Ad-Dalwi


::: Peringkat ketiga,


* Abu Al-Hasan As-Sukri Al-Baghdadi
* Abu Manshur Al-Ayyubi An-Naisaburi
* Abu Muhammad Abdul Wahab Al-Baghdadi
* Abu Al-Hasan An-Na’imi Al-Bashri
* Abu Thohir bin Khurasah Ad-Dimasyqi
* Al-Ustaz Abu Manshur An-Naisaburi
* Abu Dzar Al-Haraqi Al-Hafiz
* Abu Bakr Ad-Dimsyaqi (Ibn Al-Jurmi)
* Abu Muhammad Al-Juwaini (ayahnda Imam Al-Haramain Al-Juwaini)
* Abu Al-Qasim bin Abi Uthman Al-Hamdani
* Abu Ja’far As-Samnani
* Abu Hatim At-Thobari Al-Qozwini
* Abu Al-Hasan Rasya bin Nazhif Al-Muqri
* Abu Muhammad Al-Isfahani (Ibn Al-Laban)
* Abu Al-Fath Salim bin Ayyub Al-Razi
* Abu Abdillah Al-Khobazi Al-Muqri
* Abu Al-Fadhl bin ‘Amrus Al-Baghdadi Al-Maliki
* Al-Ustaz Abu Al-Qasim Al-Isfarayini
* Al-Hafiz Abu Bakr Al-Baihaqi (pemilik Al-Asma’ wa As-Sifat)


::: Peringkat keempat,


* Abu Bakr Al-Khatib Al-Baghdadi
* Al-Ustaz Abu Al-Qasim Al-Qusyairi
* Abu ‘Ali bin Abi Harishoh Al-Hamdani Ad-Dimasyqi
* Abu Al-Muzhoffar Al-Isfara’ini
* Abu Ishaq Ibrahim bin ‘Ali As-Syirazi
* Imam Al-Haramain Abu Al-Ma’ali Al-Juwaini
* Abu Al-Fath Nasr bin Ibrahim Ad-Dimasyqi
* Abu Abdillah At-Thobari


::: Peringkat kelima,


* Abu Al-Muzoffar Al-Khowafi
* Al-Imam Abu Al-Hasan At-Thobari (Balika Al-Harrasi)
* Hujjatul Islam Al-Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali
* Al-Imam Abu Bakr Al-Syasyi
* Abu Al-Qashim Al-Anshori An-Naisaburi
* Al-Imam Abu Nasr bin Abi Al-Qasim Al-Qusyairi
* Al-Imam Abu ‘Ali Al-Hasan bin Sulaiman Al-Isbahani
* Abu Sa’id As-ad bin Abi Nashr bin Al-Fadhl Al-‘Umri
* Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Yahya Al-Uthmani Ad-Dibaji
* Al-Qadhi Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Salamah (Ibn Al-Ratbi)
* Al-Imam Abu Abdillah Al-Farawi
* Imam Abu Sa’ad Isma’il bin Ahmad An-Naisaburi Al-Karmani
* Imam Abu Al-Hasan Al-Sulami Ad-Dimasyqi
* Imam Abu Manshur Mahmud bin Ahmad Masyazah
* Abu Al-Fath Muhammad bin Al-Fadhl bin Muhammad Al-Isfara’ini
* Abu Al-Fath Nasrullah bin Muhammad Al-Mashishi


::: Peringkat keenam,


* Al-Imam Fakhruddin Al-Razi (pemilik At-Tafsir Al-Kabir dan Asas At-Taqdis)
* Imam Saifullah Al-Amidi (empunya Abkar Al-Afkar)
* Sulton Al-Ulama’ Izzuddin bin Abdil Salam
* Sheikh Abu ‘Amr bin Al-Hajib
* Sheikhul Islam Izzuddin Al-Hushairi Al-Hanafi (pemilik At-Tahsil wal Hashil)
* Al-Khasru Syahi


::: Peringkat ketujuh,


* Sheikh Taqiyuddin Ibn Daqiq Al-‘Idd
* Sheikh ‘Ala’uddin Al-Baji
* Al-Imam Al-Walid Taqiyuddin Al-Subki (murid Sheikh Abdul Ghani An-Nablusi)
* Sheikh Shofiyuddin Al-Hindi
* Sheikh Shadruddin bin Al-Marhal
* Sheikh Zainuddin
* Sheikh Shodruddin Sulaiman Abdul Hakam Al-Maliki
* Sheikh Syamsuddin Al-Hariri Al-Khatib
* Sheikh Jamaluddin Az-Zamlakani
* Sheikh Jamaluddin bin Jumlah
* Sheikh Jamaluddin bin Jamil
* Qodhi Al-Quddho Syamsuddin As-Saruji Al-Hanafi
* Al-Qadhi Syamsuffin bin Al-Hariri
* Al-Qodhi ‘Addhuddin Al-Iji As-Syirazi (pemilik kitab Al-Mawaqif fi Ilm Al-Kalam)


::: Dan sebagainya… Nafa’anaLlahu bi ulumihim wa barakatihim.. amin…..... [Selesai nukilan].


Lihatlah, sesungguhnya Al-Asyairah diikuti oleh jumlah yang sangat besar dari para 'ULAMA'. Apakah mereka semua ini sesat jika ada pihak mengatakan golongan Al-Asyairah sesat ? Pikirkanlah...dan bagaimana pula dengan golongan-golongan yang lainnya, apakah ada aliran mereka yang mampu melahirkan para ULAMA' seperti Al-Asyairah? Wallahu 'alam..

Secuil Tentang Kitab al-Ibanah Yang Terdlalimi

Perhatikan warna hijau pada scan kitab dibawah ini.

Disana -diatas- (warna hijau) ada teks yang dilenyapkan. Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 1426H.


Dar al-Anshâr, 1379H : Scan diatas, yang digaris bawahi adalah teks yang dilenyap pada terbitan Daru Kutub.

Begitu juga pada awal bab tentang Istiwâ’, dalam cetakan Mesir, Imam al-Asy‘ari berkata;



إن الله عز و جل يستوي على عرشه استواء يليق به من غير طول استقرار
“Allah ‘azza wa jalla istiwâ’ atas ‘arsy-Nya, dengan Istiwâ’ yang layak dengan-Nya, tanpa istiqrâr (menempati)”

Namun, teks استواء يليق به من غير طول استقرار, tidak ditemukan dalam cetakan Beirut. Allahu A‘lam, apa dimakan tikus atau bagaimana.

Semoga Allah selalu menjaga para pewaris Nabi serta karya-karya mereka dari tangan zhalim. Dan Allah akan selalu mengutus ulama pembaharu, dalam arti selalu mengutus pada setiap abad, sebagaimana sabda Nabi, diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abi Hurairah;


إن الله يبعث لهذه الأمّة على رأس كل مائة سنة من يجدّد لها دينها
“Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini setiap penghujung awal abad, yaitu orang yang memperbaharui agamanya”

Dapat dipahami dari hadis ini, salah satunya, ilmu agama yang sifatnya urgen seperti akidah, selayaknya melalui transmisi sanad, sehingga kira-kira lima puluh sampai seratus tahun tidak terjadi pemutusan silsilah keguruan, terutama ilmu-ilmu pokok dalam agama. Allahu A‘lam bi al-Shawwâb.



Tabyin Kidzb al-Muftari (Ibnu 'Asakir) ; Hanya Satu Periode (Dari Muktazilah Kepada Ahl as-Sunnah)

Lima belas hari bersunyi diri untuk beribadah dan berdoa agar diberi petunjuk oleh Allah subhânahu wa ta‘âlâ. Pada hari yang ke enam belas ia beranjak menuju masjid guna mengumumkan apa yang ia alami. Di dalam masjid, ia naik mimbar, lalu berkata;




“Jama‘ah sekalian, sesungguhnya aku “menghilang” dari kalian beberapa waktu karena aku berpikir; aku dapati banyak dalil yang balancing (sehingga menjadi samar) dan aku tidak bisa mentarjih mana yang benar dari yang salah, begitu sebaliknya. Maka aku meminta petunjuk kepada Allah tabaraka wa ta‘ala, lalu Dia memberiku petunjuk kepada akidah yang aku tuangkan dalam kitab-kitabku ini, dan aku tanggalkan semua yang pernah aku yakini sebagaimana aku menanggalkan baju jubahku ini”.

Ia menanggalkanlah jubahnya itu, kemudian dilemparkan, dan ia berikan beberapa kitab kepada jama‘ah yang di antaranya adalah kitab al-Luma‘ (al-Luma‘ fî al-Radd ‘alâ Ahl al-Zaygh wa al-Bida‘) dan kitab yang mengungkap kecacatan (akidah) mu‘tazilah yang dinamakan dengan Kasyf al-Astâr wa Hatk al-Astâr, dll. Manakala kitab-kitab itu telah dibaca oleh ahli hadis dan ahli fikih dari kalangan Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ‘ah, mereka “mengambil” dan mengikuti isi kitab-kitab itu, mereka meyakini keunggulannya dan menjadikannya sebagai Imam, sehingga madzhab mereka dinisbatkan kepadanya, (al-Asy‘ariyyah/al-Asyâ‘irah).

Catatan : Prosesi ini (menurut riwayat shahih terjadi pada tahun 300H, penghujung periode salaf) disaksikan para Ulama dari kalangan ahli hadis dan ahli fiqh. *Jika akidah Imam al-Asy‘ari masih cenderung kepada mu‘tazilah tentunya para ulama Ahl al-Sunnah saat itu tidak akan memberi nilai plus untuk Imam al-Asy‘ari seperti menjadikannya sebagai Imam, dll. *Jika Imam al-Asy‘ari masih cenderung kepada mu‘tazilah, atau meyakini Allah bertempat sebagaimana syubhat yang dilontarkan oleh Musyabbihah -berdasarkan sisipan dalam al-Ibanah-, mengapa kalangan al-Asy‘ariyyah al-Kibâr seperti Abu al-Hasan al-Bahili, al-Qâdhi al-Baqillani, Ibn fawrak, al-Hakim, Abu Manshur al-Baghdadi, al-Baihaqi, Ustadz Isfarayaini, al-Juwayni,dll tidak meyakini hal itu? Bukankah mereka muttashil sanad kepada Imam al-Asy‘ari? Wa al-‘Iyâdzu billahi, dari Iftirâ’ dan Takdzîb terhadap pewaris Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. *Juga, seandainya Imam al-Asy‘ari masih cenderung kepada mu‘tazilah, bagaimana mungkin ia menulis karya sanggahan terhadap mu‘tazilah namun masih menganut paham mu‘tazilah. Dalam beberapa riwayat, selain kitab al-Luma‘ dan Kasyf al-Astâr, Imam al-Asy‘ari juga memberikan kitab al-Ibânah kepada jama‘ah. Maka untuk menjaga dari syubhat-syubhat yang dinisbatkan kepada kitab Imam al-Asy‘ari seperti penyisipan atau pengurangan isi kitab al-Ibanah, harus disandingkan dengan kitab al-Luma‘.

al-Hafizh Ibn ‘Asakir (w.571H) meriwayatkan beberapa sya‘ir dari gurunya;

لو لم يصنف عمره # غير الإبانة واللمع لكفى
“jikalau sepanjang umurnya tidak menulis, melainkan hanya al-Ibanah dan al-Luma‘, itu sudah mencukupi -sebagai pegangan-” (al-Tabyiin, Kairo: al-Maktabah al-Azhariyyah, cet.1, 1420H, hal.134)

Apakah al-Imam al-Asy'ariy mengatakan "Allah Bertempat" ?


al-Hafizh Ibn ‘Asakir meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada al-Qâdhi Abi al-Ma‘âlî Ibn ‘Abd al-Mâlik (murid Imam al-Asy‘ari). Ia berkata tentang Imam al-Asy‘ari; “menurut sekte al-Hasyawiyyah dan al-Mujassimah bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala hulul di ‘arsy, dan menjadikannya sebagai tempat untuk diduduki, lalu Imam al-Asy‘ari mengambil jalan tengah (antara Mu‘tazilah dan Mujassimah) bahwa Allah ada (sejak azali) tanpa tempat, kemudian Dia menciptakan ‘arsy dan kursi, tanpa membutuhkan tempat. Allah tetap sebagaimana adanya sebelum menciptakan tempat“ (yaitu ada tanpa tempat).

Selanjutnya, kalangan al-Musyabbihah dan al-Hasyawiyyah berkata bahwa Nuzûl adalah Nuzûl Zat-Nya dengan bergerak dan berpindah dari tempat ke tempat lain. -Mereka pun berkata- Istiwâ’ adalah duduk di atas ‘Arsy sembari menempatinya. Lalu Imam al-Asy‘ari mengambil jalan tegah dengan mengatakan bahwa Nuzûl adalah dalah satu dari sifat-sifat Allah, dan Istiwâ’ pun merupakan salah satu dari sifat-sifat Allah. Dan Fi‘liy yang dilakukan-Nya di ‘Arasy disebut dengan Istiwâ’.

Catatan; “fi‘liy yang dilakukan-Nya di ‘Arsy disebut dengan Istiwâ’” bukan menempatinya. Sebagaimana fi‘liy yang dilakukan-Nya di Bumi dalam rangka memberi rezki disebut dengan Tarzîq, juga bukan menempati bumi. Begitu juga ketika seseorang sedang shalat, dia dilarang meludah ke arah kiblat karena Allah ada di “hadapan” orang itu, apakah keberadaan Allah di hadapannya dengan makna hakiki? Tentunya tidak, karena mempunyai konsekuensi akan keberadaan Allah di tempat.

Hadis mengenai ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dan beberapa Ash-hâb al-Sunan, dari Ibn ‘Umar;

إذا كان أحدكم يصلي فلا يبصق قبل وجهه فإن الله قبل وجهه إذا صلى -أو كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم-
“apabila seorang di antara kalian melakukan shalat, maka jangan meludah ke arah depan karena sesungguhnya Allah ada di depannya”

Oleh : al-Ustadz 'Afshi Raihan Hafidhahullah

Media Islam

Thariqat Sarkubiyah

NU Online