Latest Updates
Tampilkan postingan dengan label Ahl As-Sunnah (Sunni). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahl As-Sunnah (Sunni). Tampilkan semua postingan

Download Tarjemah Kitab Klasik Daf'u Syubah al-Tasybih bi-Akaffi al-Tanzih (دفع شبه التشبيه بأكف التنزيه) karya Imam al-Hafidz Abul Faraj Abdurrahman bin al-Jauzi al-Hanbali (Imam Ibnul Jauzi)


Al-Imâm al-Hâfizh al-‘Allâmah Abul Faraj Abdurrahman bin Ali bin al-Jawzi as-Shiddiqi al-Bakri berkata:

“Ketahuilah --semoga petunjuk Allah selalu tercurah bagi anda--, bahwa aku telah meneliti madzhab Hanbali yang telah dirintis oleh Imam Ahmad bin Hanbal, aku mendapati bahwa beliau adalah sosok yang sangat kompeten dalam berbagai disiplin ilmu agama, beliau telah mencapai puncak keilmuan dalam bidang fiqih dan dalam pendapat madzhab-madzhab terdahulu, hingga tidak ada suatu permasalahan sekecil apapun kecuali beliau telah menuliskan penjelasan atau catatan untuk itu, hanya saja metodologi yang dipakainya murni seperti para ulama Salaf sebelumnya; yang karenanya beliau tidak menulis kecuali hanya teks-teks yang benar-benar telah turun-temurun hingga ke generasinya (al Manqûlât).
Karena itu aku melihat madzhab Hanbali ini tidak memiliki karya-karya yang padahal jenis karya-karya semacam itu sangat banyak ditulis oleh musuh-musuh mereka. Lalu untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka aku menulis beberapa kitab tafsir yang cukup besar, di antaranya; al-Mughnî dalam beberapa jilid, Zâd al-Masîr, Tadzkirah al-Arîb, dan lainnya. Dalam bidang hadits aku menuliskan beberapa kitab, di antaranya; Jâmi al-Masânîd, al-Hadâ-iq, Naqiy an-Naql, dan kitab yang cukup banyak dalam al-Jarh Wa at-Ta’dîl.

Aku juga mendapati madzhab Hanbali ini tidak memiliki catatan-catatan tambahan (ta’lîqât) terhadap karya-karya terdahulu dalam masalah-masalah khilâfiyyah, kecuali ada satu orang saja, yaitu al-Qâdlî Abu Ya’la yang dalam hal ini ia berkata: “Aku selalu mengutip berbagai pendapat dari orang-orang luar madzhab Hanbali yang biasa menyebutkan berbagai pendapat dalam madzhab mereka masing-masing ketika mereka berdebat dengan lawan-lawan mereka, namun sedikitpun mereka tidak pernah menyinggung pendapat dalam madzhab Hanbali. Aku akui di hadapan mereka, memang benar kami dalam madzhab Hanbali tidak memiliki ta’lîq dalam masalah-masalah Fiqih. Oleh karena itu maka aku menuliskan beberapa ta’lîq”.
 
Begitulah ungkapan keprihatinan Imam Ibnul Jauzi terhadap perjalanan Madzhab Hanbali yang beliau tuliskan didalam muqaddimah kitab Da'fu Syubah al-Tasybih bi-Akaffi al-Tanzih (دفع شبه التشبيه بأكف التنزيه) yakni salah satu karya monumental beliau dalam bidang aqidah. Kitab ini memaparkan kesesatan-kesesatan aqidah tasybih ( menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta'alaa dengan makhluk) yang sangat penting untuk dibaca dan disebarkan guna menghalau kelompok-kelompok yang mempropagandakan aqidah tasybih seperti sekte Wahhabiyah dan semisalnya mereka.

Didalam kitab ini ebook ini juga terdapat beberapa muqaddimah dari penterjemah yakni H. Kholil Abou Fateh Lc. Biodata beliau juga ada didalam ebook ini. Semoga bermanfaat.

DOWNLOAD KITAB DAF'U SYUBAH AT-TASYBIH


TARJEMAH FORMAT CHM :  
KITAB BAHASA ARAB (PDF) : 
Kitab-kitab lainnya maupun ebook-ebook Islami lainnya bisa didownload di link berikut ini http://ashhabur-royi.blogspot.com/2011/04/download-ebook-gratis-kumpulan-bahtsul.html . Semoga bermanfaat. Amin.

    Al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar (الكوكب الأزهار شرح الفقه الأكبر) Karya Imam al-Syafi'i ; Allah Ada Tanpa Tempat

    Al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar (الكوكب الأزهار شرح الفقه الأكبر) Karya Imam al-Syafi'i ; Allah Ada Tanpa Tempat
    Al-Imam al-Mujtahid Muhammad ibn Idris as-Syafi’i (w 204 H), perintis madzhab Syafi’i, dalam salah satu kitab karyanya, al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar, menuliskan:
    (فصل) وَاعْلَمُوْا أنّ اللهَ تَعَالَى لاَ مَكَانَ لَهُ، وَالدّلِيْلُ عَلَيْهِ هُوَ أنّ اللهَ تَعَالَى كَانَ وَلاَ مَكَانَ فَخَلَقَ الْمَكَانَ وَهُوَ عَلَى صِفَةِ الأزَلِيّةِ كَمَا كَانَ قَبْلَ خَلْقِهِ الْمَكَانَ لاَ يَجُوْزُ عَلَيْهِ التَّغَيُّرُ فِي ذَاتِهِِ وَلاَ التَّبَدُّلُ فِي صِفَاتِهِ، وَلأنّ مَنْ لَهُ مَكَانٌ فَلَهُ تَحْتٌ، وَمَنْ لَهُ تَحْتٌ يَكُوْنُ مُتَنَاهِي الذّاتِ مَحْدُوْدًا، وَالْمَحْدُوْدُ مَخْلُوْقٌ، تَعَالَى اللهُ عَنْ ذلِكَ عُلُوّا كَبِيْرًا، ولِهذَا الْمَعْنَى اسْتَحَالَ عَليْه الزّوْجَةُ وَالوَلدُ، لأنّ ذلِك لاَ يَتِمّ إلاّ بالْمُبَاشَرَةِ والاتّصَالِ والانْفِصَال.
    “Ketahuilah bahwa Allah tidak bertempat. Argumentasi atas ini ialah bahwa Dia ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Maka setelah menciptakan tempat Dia tetap pada sifat-Nya yang azali sebelum Dia menciptakan tempat; yaitu ada tanpa temapt. Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik perubahan pada Dzat-Nya maupun pad asifat-sifat-Nya. Karena sesuatu yang memiliki tempat maka ia pasti memiliki arah bawah. Dan bila demikian maka ia pasti memiliki bentuk tubuh dan batasan. Dan sesuatu yang memiliki batasan pasti sebagai makhluk, dan Allah maha suci dari pada itu semua. Karena itu mustahil pada haknya terdapat istri dan anak. Sebab hal semacam itu tidak akan terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel dan terpisah. Allah mustahil pada-Nya sifat terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan berpisah. Oleh sebab itu adanya istilah suami, astri dan anak pada hak Allah adalah sesuatu yang mustahil” (Lihat al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 13)

    Pada bagian lain dalam kitab yang sama dalam pembahasan firman Allah QS. Thaha: 5, al-Imam as-Syafi’i menuliskan sebagai berikut:
    فَإنْ قِيْل: أليْسَ قَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى (الرّحْمنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى)، يُقَال: إنّ هذِهِ الآيَة مِنَ الْمُتَشَابِهَاتِ، وَالّذِيْ نَخْتَارُ مِنَ الْجَوَابِ عَنْهَا وَعَنْ أمْثَالِهَا لِمَنْ لاَ يُرِيْدُ التّبَحُّر فِي العِلْمِ أنْ يُمِرَّ بِهَا كَمَا جَاءَتْ وَلاَ يَبْحَثُ عَنْهَا وَلاَ يَتَكَلّمُ فيْهَا لأنّهُ لاَ يَأمَنُ مِنَ الوُقُوْعِ فِي وَرَطَةِ التّشْبِيْهِ إذَا لَمْ يَكُنْ رَاسِخًا فِي العِلْمِ، وَيَجِبُ أنْ يَعْتَقِدَ فِي صِفَاتِ البَارِي تَعَالَى مَاذَكَرْنَاهُ، وَأنّهُ لاَ يَحْويْهِ مَكَانٌ وَلاَ يَجْرِي عَليْهِ زَمَانٌ، مُنَزَّهٌ عَنِ الحُدُوْدِ وَالنّهَايَاتِ، مُسْتَغْنٍ عَنِ الْمَكَانِ وَالْجِهَاتِ، وَيَتَخَلَّصُ مِن َالمَهَالِكِ وَالشُّبُهَاتِ.
    “Jika dikatakan bukankah Allah telah berfirman: “ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa”? Jawab: Ayat ini termasuk ayat mutasyabihat. Sikap yang kita pilih tentang hal ini dan ayat-ayat yang semacam dengannya ialah bahwa bagi seorang yang tidak memiliki kompetensi dalam bidang ini agar supaya mngimaninya dan tidak secara mendetail membahasnya atau membicarakannya. Sebab seorang yang tidak memiliki kompetensi dalam hal ini ia tidak akan aman, ia akan jatuh dalam kesesatan tasybih. Kewajiban atas orang semacam ini, juga seluruh orang Islam, adalah meyakini bahwa Allah -seperti yang telah kita sebutkan di atas-, Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku atas-Nya waktu dan zaman. Dia maha suci dari segala batasan atau bentuk dan segala penghabisan. Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah. Dengan demikian orang ini menjadi selamat danri kehancuran dan kesesatan” (al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 13)
     Oleh ; Utsadz Syahri Ramadhan  -Hafidzahullah-
     

    Upaya Menetralkan Suntikan Racun Tasybih Dalam Madzhab Hanbali


    AQIDAH IMAM AHMAD BIN HANBAL

    مطلب في عقيدة الإمام أحمد رضي الله عنه وأرضاه
    وسئل رضي الله عنه ونفعنا به : في عقائد الحنابلة ما لا يخفى على شريف علمكم ، هل عقيدة الإمام أحمد بن حنبل رضي الله عنه كعقائدهم ؟

     Syaikhul Islam Ibnu Hajar Al Haitami pernah ditanya tentang akidah para pengikut Mazhab Hambali, apakah akidah Imam Ahmad bin Hambal seperti akidah mereka ?


    Beliau menjawab:
    فأجاب بقوله : عقيدة إمام السنة أحمد بن حنل رضي الله عنه وأرضاه وجعل جنان المعارف متقلبه ومأواه وأقاض علينا وعليه من سوابغ امتنانه وبوأه الفردوس الأعلى من جنانه موافقة لعقيدة أهل السنة والجماعة من المبالغة التامة في تنزيه الله تعالى عما يقول الظالمون والجاحدون علوا كبيرا من الجهة والجسمية وغيرهما من سائر سمات النقص ، بل وعن كل وصف ليس فيه كمال مطلق ، وما اشتهر به جهلة المنسوبين إلى هذا الإمام الأعظم المجتهد من أنه قائل بشيء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه ، فلعن الله من نسب ذلك إليه أو رماه بشيء من هذه المثالب التي برأه الله منها 
    Akidah imam ahli sunnah, Imam Ahmad bin Hambal –semoga Allah meridhoinya dan menjadikannya meridhoi-Nya serta menjadikan taman surga sebagai tempat tinggalnya, adalah sesuai dengan akidah Ahlussunnah wal Jamaah dalam hal menyucikan Allah dari segala macam ucapan yang diucapkan oleh orang-orang zhalim dan menentang itu, baik itu berupa penetapan tempat (bagi Allah), mengatakan bahwa Allah itu jism (materi) dan sifat-sifat buruk lainnya, bahkan dari segala macam sifat yang menunjukkan ketidaksempurnaan Allah.

    Adapun ungkapan-ungkapan yang terdengar dari orang-orang jahil yang mengaku-ngaku sebagai pengikut imam mujtahid agung ini, yaitu bahwa beliau pernah mengatakan bahwa Allah itu bertempat dan semisalnya, maka perkataan itu adalah kedustaan yang nyata dan tuduhan keji terhadap beliau. Semoga Allah melaknat orang yang melekatkan perkataan itu kepada beliau atau yang menuduh beliau dengan tuduhan yang Allah telah membersihkan beliau darinya itu.



    وقد بين الحافظ الحجة القدوة الإمام أبو الفرج ابن الجوزي من أئمة مذهبه المبرئين من هذه الوصمة القبيحة الشنيعة أن كل ما نسب إليه من ذلك كذب عليه وافتراء وبهتان ، وأن نصوصه صريحة في بطلان ذلك وتنزيه الله تعالى عنه ، فاعلم ذلك فإنه مهم .
    وإياك أن تصغي إلى ما في كتب ابن تيمية وتلميذه ابن قيم الجوزية وغيرهما ممن اتخذ إلهه هواه وأضله الله على علم ، وختم على سمعه وقلبه وجعل على بصره غشاوة فمن يهديه من بعد الله ، وكيف تجاوز هؤلاء الملحدون الحدود وتعدوا الرسوم وخرقوا سياج الشريعة والحقيقة فظنوا بذلك أنهم على هذى من ربهم وليسوا كذلك بل هم على أسوإ الضلال وأقبح الخصال وأبلغ المقت والخسران وأنهى الكذب والبهتان فخذل الله متبعه وطهر الأرض من أمثالهم

    Al Hafizh Al Hujjah Al Imam, Sang Panutan, Abul Faraj Ibnul Jauzi, salah seorang pembesar imam mazhab Hambali yang membersihkan segala macam tuduhan buruk ini, telah menjelaskan tentang masalah ini bahwa segala tuduhan yang dilemparkan kepada sang imam adalah kedustaan dan tuduhan yang keji terhadap sang imam. Bahkan teks-teks perkataan sang imam telah menunjukkan kebatilan tuduhan itu, dan menjelaskan tentang sucinya Allah dari semua itu. Maka pahamilah masalah ini, karena sangat penting.

    Janganlah sekali-kali kamu dekati buku-buku karangan Ibnu Taimiyah dan muridnya, Ibnul Qayyim dan orang selain mereka berdua yang telah menjadikan hawa nafsu mereka sebagai tuhan sesembahan dan disesatkan oleh Allah atas ilmu, yang Allah telah menutup telinga, hati dan penglihatannya. Siapa yang bisa memberikan petunjuk orang seperti itu selain Allah?

    Bagaimana orang-orang atheis itu melampaui batas-batas, menabrak aturan-aturan dan merusak tatanan syariat dan hakikat, lalu mereka menyangka bahwa mereka berada di atas petunjuk dari tuhan mereka, padahal tidaklah demikian. Bahkan mereka berada pada kesesatan paling buruk, kemurkaan paling tinggi, kerugian paling dalam dan kedustaan paling besar. Semoga Allah menghinakan orang yang mengikutinya dan membersihkan bumi ini dari orang-orang semisal mereka.

    Sumber : Al Fatawa Al Haditsiyah 1/480 karya Syaikhul Islam al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami.

    TALBIS IBLIS (MEMBONGKAR TIPU DAYA IBLIS)

    Kitab ini berjudul "Talbis Iblis", [ artinya Membongkar Tipu Daya Iblis ], karya al Imam al Hafizh Abdurrahman ibn al Jawzi (w 579 H), salah seorang ulama terkemuka (--bahkan rujukan--) dalam madzhab Hanbali. Ibn al-Jauzi adalah al-Imam al-Hafizh Abdurrahman ibn Abi al-Hasan al-Jauzi (w 597 H), Imam Ahlussunnah terkemuka, ahli hadits, ahli tafsir, dan seorang teolog (ahli ushul) terdepan. Beliau bermadzhab Hanbali.
     

    Awas salah; beda antara Ibn al-Jauzi dengan Ibn Qayyim al-Jauziyyah. Adapun ibn Qayyim al-Jauziyyah ini adalah Muhammad ibn Abi Bakr az-Zar’i (w 751 H) murid dari Ibn Taimiyah yang dalam keyakinannya persis sama dengan Ibn Taimiyah sendiri; dua-duanya orang sesat dan menyesatkan.


    Dalam kitab Talbis Iblis ini, Imam Ibnu al-Jauzi mengatakan ;

    ومن الواقفين مَعَ الحس أقوام قالوا هو عَلَى العرش بذاته عَلَى وجه المماسة فَإِذَا نزل انتقل وتحرك وجعلوا لذاته نهاية وهؤلاء قد أوجبوا عَلَيْهِ المساحة والمقدار واستدلوا عَلَى أنه عَلَى العرش بذاته بقول النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "ينزل اللَّه إِلَى سماء الدنيا" قالوا ولا ينزل إلا من هو فوق  
    "Mereka yang memahami sifat-sifat Allah dalam makna indrawi ada beberapa golongan. Mereka berkata bahwa Allah bertempat di atas arsy dengan cara menyentuhnya, jika DIA turun (dari arsy) maka DIA pindah dan bergerak. Mereka menetapkan ukuran penghabisan (bentuk) bagi-NYA. Mereka mengharuskan bahwa Allah memiliki jarak dan ukuran. Mereka mengambil dalil bahwa Dzat Allah bertempat di atas arsy [--dengan pemahaman yang salah--] dari hadits nabi: "Yanzil Allah Ila Sama' ad Dunya", mereka berkata: "Pengertian turun (yanzil) itu adalah dari arah atas ke arah bawah".
    وهؤلاء حملوا نزوله عَلَى الأمر الحسي الذي يوصف به الأجسام وهؤلاء المشبهة الذين حملوا الصفات عَلَى مقتضى الحس وَقَدْ ذكرنا جمهور كلامهم فِي كتابنا المسمى بمنهاج الوصول إِلَى علم الأصول  
    Mereka memahami makna "nuzul" (dalam hadits tersebut) dalam pengertian indrawi yang padahal itu hanya khusus sebagai sifat-sifat benda. Mereka adalah kaum Musyabbihah yang memahami sifat-sifat Allah dalam makna indrawi (meterial). Dan Telah kami paparkan perkataan-perkataan mereka dalam kitab karya kami berjudul "Minhaj al Wushul Ila 'Ilm al Ushul".

    Cahaya Aqidah al-Haq dan Nasehat dari Imam asy-Syafi’i Rahimahullah

    Cahaya Aqidah al-Haq dan Nasehat dari Imam asy-Syafi’i Rahimahullah
    Imam asy-Syafi’i Muhammad ibn Idris (w. 204 H), seorang ulama Salaf terkemuka perintis madzhab Syafi’i, berkata:
    إنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكان ولا يجوز عليه التغير في ذاته ولا التبديل في صفاته (إتحاف السادة المتقين بشرح إحياء علوم الدين, ج 2، ص 24)
    “Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Kemudian Dia menciptakan tempat, dan Dia tetap dengan sifat-sifat-Nya yang Azali sebelum Dia menciptakan tempat tanpa tempat. Tidak boleh bagi-Nya berubah, baik pada Dzat maupun pada sifat-sifat-Nya” (LIhat az-Zabidi, Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn…, j. 2, h. 24).
    Dalam salah satu kitab karyanya; al-Fiqh al-Akbar[selain Imam Abu Hanifah; Imam asy-Syafi'i juga menuliskan Risalah Aqidah Ahlussunnah dengan judul al-Fiqh al-Akbar], Imam asy-Syafi’i berkata:
    واعلموا أن الله تعالى لا مكان له، والدليل عليه هو أن الله تعالى كان ولا مكان له فخلق المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان، إذ لا يجوز عليه التغير في ذاته ولا التبديل في صفاته، ولأن من له مكان فله تحت، ومن له تحت يكون متناهي الذات محدودا والحدود مخلوق، تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا، ولهذا المعنى استحال عليه الزوجة والولد لأن ذلك لا يتم إلا بالمباشرة والاتصال والانفصال (الفقه الأكبر، ص13)
    “Ketahuilah bahwa Allah tidak bertempat. Dalil atas hal ini adalah bahwa Dia ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Setelah menciptakan tempat Dia tetap pada sifat-Nya yang Azali sebelum menciptakan tempat, ada tanpa tempat. Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik pada Dzat-Nya maupun pada sifat-sifat-Nya. Karena sesuatu yang memiliki tempat maka ia pasti memiliki arah bawah, dan bila demikian maka mesti ia memiliki bentuk tubuh dan batasan, dan sesuatu yang memiliki batasan mestilah ia merupakan makhluk, Allah Maha Suci dari pada itu semua. Karena itu pula mustahil atas-Nya memiliki istri dan anak, sebab perkara seperti itu tidak terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel, dan terpisah, dan Allah mustahil bagi-Nya terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Karenanya tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan berpisah. Oleh sebab itu adanya suami, istri, dan anak pada hak Allah adalah sesuatu yang mustahil” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).
    Pada bagian lain dalam kitab yang sama tentang firman Allah QS. Thaha: 5 (ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa), Imam asy-Syafi’i rahimahullah menegaskan secara memberikan nasehat kepada kaum Muslimin dengan berkata berkata:
    إن هذه الآية من المتشابهات، والذي نختار من الجواب عنها وعن أمثالها لمن لا يريد التبحر في العلم أن يمر بها كما جاءت ولا يبحث عنها ولا يتكلم فيها لأنه لا يأمن من الوقوع في ورطة التشبيه إذا لم يكن راسخا في العلم، ويجب أن يعتقد في صفات الباري تعالى ما ذكرناه، وأنه لا يحويه مكان ولا يجري عليه زمان، منزه عن الحدود والنهايات مستغن عن المكان والجهات، ويتخلص من المهالك والشبهات (الفقه الأكبر، ص 13)
    “Ini termasuk ayat mutasyâbihât. Jawaban yang kita pilih tentang hal ini dan ayat-ayat yang semacam dengannya bagi orang yang tidak memiliki kompetensi di dalamnya adalah agar mengimaninya dan tidak --secara mendetail-- membahasnya dan membicarakannya. Sebab bagi orang yang tidak kompeten dalam ilmu ini ia tidak akan aman untuk jatuh dalam kesesatan tasybîh. Kewajiban atas orang ini --dan semua orang Islam-- adalah meyakini bahwa Allah seperti yang telah kami sebutkan di atas, Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha Suci dari batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).
    Secara panjang lebar dalam kitab yang sama, Imam asy-Syafi’i membahas bahwa adanya batasan (bentuk) dan penghabisan adalah sesuatu yang mustahil bagi Allah. Karena pengertian batasan (al-hadd; bentuk) adalah ujung dari sesuatu dan penghabisannya. Dalil bagi kemustahilan hal ini bagi Allah adalah bahwa Allah ada tanpa permulaan dan tanpa bentuk, maka demikian pula Dia tetap ada tanpa penghabisan dan tanpa bentuk. Karena setiap sesuatu yang memiliki bentuk dan penghabisan secara logika dapat dibenarkan bila sesuatu tersebut menerima tambahan dan pengurangan, juga dapat dibenarkan adanya sesuatu yang lain yang serupa dengannya. Kemudian dari pada itu “sesuatu” yang demikian ini, secara logika juga harus membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam bentuk dan batasan tersebut, dan ini jelas merupakan tanda-tanda makhluk yang nyata mustahil bagi Allah.

    Imam asy-Syafi’i, seorang Imam mujtahid yang madzhabnya tersebar di seluruh pelosok dunia, telah menetapkan dengan jelas bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah, maka bagi siapapun yang bukan seorang mujtahid tidak selayaknya menyalahi dan menentang pendapat Imam mujtahid. Sebaliknya, seorang yang tidak mencapai derajat mujtahid ia wajib mengikuti pendapat Imam mujtahid.

    Jangan pernah sedikitpun anda meyakini keyakinan tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), seperti keyakinan kaum Musyabbihah, (sekarang Wahhabiyyah) yang menetapkan bahwa Allah bertempat di atas arsy. Bahkan mereka juga mengatakan Allah bertempat di langit. Ada di dua tempat ?! Heh!!! Padahal mereka yakin bahwa arsy dan langit adalah makhluk Allah. Na’udzu Billahi Minhum.

    MENGENAL TENTANG AYAT-AYAT TASYBIH

    Mengenai  ayat  mutasyabih  yang  sebenarnya  para  Imam  dan  Muhadditsin  selalu  berusaha  menghindari  untuk  membahasnya,  namun  justru  sangat  digandrungi  oleh  sebagian  kelom pok  muslimin  sesat  masa  kini,  mereka  selalu  mencoba  menusuk  kepada  jantung  tauhid  yang  sedikit saja  salah memahami maka akan  terjatuh  dalam  jurang kemusyrikan, seperti membahas bahwa Allah ada dilangit, mempunyai tangan,  wajah  dll  yang  hanya  membuat  kerancuan  dalam  kesucian  Tauhid  ilahi  pada  benak  muslimin,  akan tetapi karena semaraknya masalah  ini diangkat ke permukaan, maka  perlu kita perjelas mengenai ayat ayat dan hadits tersebut.

    Sebagaimana  makna  Istiwa,  yang  sebagian  kaum  muslim in  sesat  sangat  gemar  membahasnya  dan  mengatakan  bahwa  Allah  itu  bersemayam  di  Arsy,  dengan  menafsirkan kalimat ”ISTIWA” dengan makna ”BERSEMAYAM atau ADA DI SUATU TEMPAT”  ,  entah  darimana  pula  mereka  menemukan  makna  kalimat  Istawa  adalah semayam,  padahal  tak  mungkin  kita  katakan  bahwa  Allah  itu  bersemayam  disuatu  tempat,  karena  bertentangan  dengan  ayat  ayat  dan  Nash  hadits  lain,  bila  kita  mengatakan Allah ada di Arsy, maka dimana Allah sebelum Arsy itu  ada?, dan berarti  Allah membutuhkan  ruang, berarti berwujud seperti makhluk, sedangkan dalam hadits  qudsiy  disebutkan  Allah  swt  turun  kelangit  yang  terendah  saat  sepertiga  malam  terakhir,  sebagaimana  diriwayatkan  dalam  Shahih  Muslim  hadits  no.758,  sedangkan kita memahami bahwa waktu di permukaan bumi terus bergilir,

    Maka  bila  disuatu  tempat  adalah  tengah malam ,  maka  waktu  tengah malam  itu  tidak  sirna, tapi terus berpindah ke arah barat dan terus ke yang lebih barat, tentulah berarti  Allah itu selalu bergelantungan  mengitari Bumi di langit yang terendah, maka semakin  ranculah  pemahaman  ini,  dan  menunjukkan  rapuhnya  pemahaman  mereka,  jelaslah  bahwa  hujjah  yang  mengatakan  Allah  ada  di  Arsy  telah  bertentangan  dengan  hadits  qudsiy  diatas,  yang  berarti  Allah  itu  tetap  di  langit  yang  terendah  dan  tak  pernah  kembali ke Arsy, sedangkan ayat itu mengatakan bahwa Allah ada di Arsy, dan hadits Qudsiy mengatakan Allah dilangit yang terendah.

    Berkata  Al hafidh  Almuhaddits  Al  Im am  Malik  rahimahullah  ketika  datang  seseorang yang  bertanya  makna  ayat  :  ”Arrahm aanu  ’alal  Arsyistawa”,  Imam  Malik  menjawab  : ”Majhul,  Ma’qul,  Imaan bihi wajib, wa su’al ’anhu bid’ah (tdk  diketahui maknanya, dan tidak  boleh  mengatakannya  mustahil,  percaya  akannya  wajib,  bertanya  tentang  ini adalah  Bid’ah  Munkarah),  dan  kulihat  engkau  ini  orang  jahat,  keluarkan  dia..!”, demikian  ucapan  Imam  Malik  pada  penanya  ini,  hingga  ia  mengatakannya  :  ”kulihat engkau ini orang jahat”, lalu mengusirnya, tentunya seorang Imam Mulia yang menjadi Muhaddits Tertinggi di Madinah Almunawwarah di masanya yang beliau itu Guru Imam Syafii ini tak sembarang mengatakan ucapan seperti itu, kecuali m enjadi dalil bagi kita bahwa hanya orang orang yang tidak baik yang mempermasalahkan masalah ini.

    Lalu bagaimana dengan firman Nya : ”Mereka yang berbai’at padamu sungguh mereka  telah berbai’at  pada  Allah, Tangan  Allah  diatas tangan  mereka” (QS  Al Fath  10),  dan disaat Bai’at itu tak pernah teriwayatkan bahwa ada tangan turun dari langit yang turut berbai’at pada sahabat.

    Juga sebagaimana hadits qudsiy yang mana Allah berfirman : ”Barangsiapa memusuhi  waliku sungguh kuumumkan perang kepadanya, tiadalah hamba Ku mendekat kepada Ku dengan hal hal yang fardhu, dan Hamba Ku terus m endekat kepada Ku dengan hal hal yang  sunnah  baginya  hingga Aku  mencintainya, bila  Aku mencintainya  maka  aku menjadi telinganya yang  ia  gunakan untuk mendengar,  dan menjadi  matanya yang ia gunakan  untuk  melihat,  dan  menjadi  tangannya  yang  ia  gunakan  untuk  memerangi, dan  kakinya  yang  ia  gunakan  untuk  melangkah,  bila  ia  meminta  pada  Ku  niscaya kuberi  permintaannya....”  (shahih  Bukhari  hadits  no.6137)  Maka  hadits  Qudsiy diatas tentunya jelas  jelas menunjukkan bahwa pendengaran, penglihatan, dan panca indera lainnya,  bagi  mereka  yang  taat  pada  Allah  akan  dilimpahi  cahaya  kemegahan  Allah, pertolongan  Allah,  kekuatan  Allah,  keberkahan  Allah,  dan  sungguh  maknanya bukanlah berarti Allah menjadi telinga, mata, tangan dan kakinya.

     Masalah  ayat/hadist  tasybih  (tangan/wajah)  dalam  ilmu  tauhid  terdapat  dua pendapat/madzhab dalam  menafsirkannya, yaitu:
    1.  Madzhab tafwidh ma’a tanzih
    Madzhab  ini  mengambil  dhahir  lafadz  dan  menyerahkan  maknanya  kpd  Allah  swt,  dengan i’tiqad tanzih (mensucikan Allah dari segala penyerupaan)

    Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal masalah hadist sifat, ia berkata ”Nu’minu biha  wa  nushoddiq  biha  bilaa  kaif  wala  makna”,  (Kita  percaya  dengan  hal  itu,  dan membenarkannya  tanpa  menanyakannya  bagaimana,  dan  tanpa  makna)  Madzhab inilah yang juga di pegang oleh Imam Abu hanifah.

    Dan  kini muncullah  faham  mujjassimah  yaitu  dhohirnya  memegang  madzhab  tafwidh tapi  menyerupakan  Allah  dengan  mahluk,  bukan  seperti  para  imam  yang  memegang madzhab tafwidh.
    2.  Madzhab takwil
    Madzab  ini  menakwilkan  ayat/hadist  tasybih  sesuai  dengan keesaan  dan  keagungan Allah  swt,  dan madzhab ini  arjah  (lebih  baik untuk diikuti) karena terdapat  penjelasan dan menghilangkan awhaam (khayalan dan syak wasangka) pada muslimin umumnya, sebagaimana Imam Syafii, Imam Bukhari,Imam Nawawi dll. (syarah Jauharat Attauhid oleh Imam Baajuri)

    Pendapat ini juga terdapat dalam Al Qur’an dan sunnah, juga banyak dipakai oleh para sahabat, tabiin dan imam imam ahlussunnah waljamaah.

    Seperti ayat  :

    ”Nasuullaha  fanasiahum”  (mereka  melupakan  Allah  maka  Allah  pun  lupa  dengan mereka) (QS Attaubah:67),  dan  ayat  :  ”Innaa  nasiinaakum”.  (sungguh  kam i  telah  lupa  pada  kalian  QS  Assajdah 14).

    Dengan ayat ini kita tidak bisa menyifatkan sifat lupa kepada Allah walaupun tercantum dalam  Alqur’an,  dan kita tidak boleh mengatakan  Allah  punya sifat  lupa, tapi berbeda dengan sifat lupa pada diri makhluk, karena Allah berfirman : ”dan tiadalah tuhanmu itu lupa” (QS Maryam 64)

    Dan  juga  diriwayatkan  dalam  hadtist  Qudsiy  bahwa  Allah  swt  berfirm an  :  ”Wahai Keturunan  Adam,  Aku  sakit  dan  kau  tak  menjenguk  Ku,  maka  berkatalah keturunan Adam  :  Wahai  Allah,  bagaimana  aku  menjenguk  Mu  sedangkan  Engkau  Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba Ku fulan sakit dan kau tak mau  menjenguknya?,  tahukah  engkau  bila  kau  menjenguknya  maka  akan  kau  temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits no.2569)

    Apakah kita bisa mensifatkan sakit kepada Allah tapi tidak seperti sakitnya kita ?

    Berkata  Im am  Nawawi  berkenaan  hadits  Qudsiy  diatas  dalam  kitabnya  yaitu  Syarah Annawawiy alaa Shahih Muslim bahwa yang dimaksud sakit pada Allah adalah hamba Nya, dan kemuliaan serta kedekatan Nya pada  hamba  Nya itu,  ”wa ma’na wajadtaniy indahu ya’niy  wajadta  tsawaabii wa karoomatii indahu” dan makna ucapan : akan  kau temui  aku  disisinya  adalah  akan  kau  temui  pahalaku  dan  kedermawanan Ku  dengan menjenguknya (Syarh Nawawi ala shahih Muslim Juz 16 hal 125)

    Dan banyak  pula  para sahabat, tabiin,  dan  para  Imam  ahlussunnah  waljamaah  yang berpegang pada pendapat Ta’wil, seperti Imam Ibn Abbas, Imam  Malik, Imam Bukhari, Imam  Tirmidziy,  Imam  Abul  Hasan  Al  Asy’ariy,  Imam  Ibnul  Jauziy  dll  (lihat Daf’ussyubhat Attasybiih oleh Imam Ibn Jauziy).

    Maka  jelaslah  bahwa  akal  tak  akan  mampu  memecahkan  rahasia  keberadaan  Allah swt,  sebagaimana  firman  Nya  :  ”Maha  Suci  Tuhan  Mu  Tuhan  Yang  Maha Memiliki Kemegahan  dari  apa apa  yang mereka sifatkan, maka salam  sejahtera  lah  bagi  para Rasul,  dan  segala  puji  atas  tuhan  sekalian  alam”  .  (QS  Asshaffat  180-182).

    Walillahittaufiq
    H. Kholilurrohman Abu Fateh, Lc, MA,
     

    Syaikh Yusuf al-Qaradlawi ; al-Azhar asy-Syarif, az-Zaituniyah, ad-Deoband, Nadwah al-‘Ulama, Madrasah Pakistan & Seluruh Alam Adalah Asy’ari



    عقيدة الأزهر

    وردا على سؤال آخر من أحد الحضور جاء فيه: "بعض الناس يطعن في عقيدة الأزهر الشريف، فما رد فضيلتكم على هذا الكلام؟"
    Aqidah al-Azhar : telah ada pertanyaan lain dari salah seorang yang hadlir bahwa “sebagian masyarakat mengkritik tentang aqidah al-Azhar asy-Syarif, maka apakah jawab anda yang terhormat tentang perkataan semacam ini ?”

    قال الشيخ القرضاوي بنبرة استفهام ساخرة: "عقيدة الأزهر الشريف؟!"
    Syaikh al-Qaradlawi berkata dengan berupa pernyataan yang mengagumkan terkait “Aqidah al-Azhar asy-Syarif”.

    ورأى أن من يقول ذلك "فهو يطعن في الأشعرية"، وتابع: "ليس الأزهر وحده أشعريا.. الأمة الإسلامية أشعرية.. الأزهر أشعري والزيتونة أشعري والديوباندي (بالهند) أشعري وندوة العلماء أشعرية ومدارس باكستان أشعرية.. وكل العالم الإسلامي أشعرية".
    Saya telah melihat bahwa orang mengatakan demikian “adalah orang yang mengkritik tentang al-Asy’ariyah”, kemudian beliau berkata : “al-Azhar bukan satu-satunya yang berpaham Asy’ariah. .. Umat Islamiyah adalah Asy’ariyah, al-Azhar adalah Asy’ariy, az-Zaituniyyah adalah Asy’ari, ad-Deobandi (di India) adalah Asy’ari, Nadwah al-‘Ulama adalah Asy’ari, madrasah-madrasah di Pakistan adalah Asy’ari, hingga seluruh dunia Islam (mayoritas) adalah Asy’ariyah”.

    وأشار إلى أنه حتى الأشعرية موجودة بالسعودية التي تعد مركز السلفية الوهابية، وقال: "السلفيون مجموعة صغيرة، حتى إذا قلنا السعودية فليس كل السعودية سلفيين، فالحجازيون غير النجديين غير المنطقة الشرقية غير منطقة جيزان وهكذا".
    Beliau juga mengisyaratkan hingga Asy’ariyah juga terdapat di negeri Saudi yang dianggap sebagai markas salafiyah al-Wahabiyah, beliau berkata : “Salafiyah (Wahabi) hanya segelitir saja (minoritas), hingga apabila kita katakan Saudi, maka bukan seluruh Saud adalah Salafy (Wahabi). Penduduk Hijaz (Asy’ariy) selain Najed, (penduduk Nejd) pun yang bukan bagian timur, (yang bagian timur) pun bukan seperti di wilayah Jizan, begitulah seterusnya”

    وأضاف: "فإذا أخذنا بالأغلبية، فإن أغلبية الأمة أشعرية.. هذه كلها اجتهادات في فروع العقيدة، والكل متفق على شهادة أن لا اله إلا الله وأن محمد رسول الله وعلى النبوة في الإيمان بالله وكتبه ورسله وفي اليوم الآخر".
    Beliau menambahkan : apabila kita mengambil perkiraan, maka sesungguhnya mayoritas umat adalah ‘Asyariyah, ini semuanya hanya ijtihad-ijtihad dalam masalah cabang aqidah (furu’ aqidah), dan semua bersepakat atas persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan atas kenabian didalam beriman kepada Allah, kitab-Nya, rasul-Nya dan hari Qiamat.

    وشدد على أن "هذه الاختلافات لا ينبغي أن نكفر بها أحدا
    Kemudian beliau menekankan bahwa “ini semua hanya masalah ikhtilaf yang tidak sepatutnya kita mengkafirkan seseorang muslim karena sebab ini”.
    Penterjemah al-Ustadz al-Fadlil Mukhlis Hafidzahullah, dengan beberapa penyesuai oleh “Ashhabur Ro’Yi”. Sumber utama : http://www.qaradawi.net/site/topics/article.asp?cu_no=2&item_no=6914&version=1&template_id=116&parent_id=114

    Fatwa Syaikh al-'Allamah Ali Jumu'ah (Mufti Mesir) Tentang Aqidah Asy'ariyah dan Al-Azhar

    Fatwa Syaikh al-'Allamah Ali Jumu'ah (Mufti Mesir) Tentang Aqidah Asy'ariyah dan Al-Azhar
    Fatwa Syaikh al-'Allamah Ali Jumu'ah (Mufti Mesir) Tentang Aqidah Asy'ariyah, al-Azhar asy-Syarif & Kelompok Pencela Bernama "Salafy".

    Pertanyaan :

        اطلعنا على الطلب المقيد برقم 2908 لسنة 2005م المتضمن ينتمي كثير من الشباب إلى فرقة تقول بأنها الوحيدة التي تسير على نهج السلف الصالح وعلى الطريق المستقيم ، وترمي كل من يخالفهم بالعمالة والكفر والزندقة ، حتى العلماء لم يسلموا منهم ؛ حيث يتهجمون على عقيدة الأزهر وعلمائه ويرمون الأشعرية بالابتداع ، فما رأيكم في هذه الجماعة وفيما يقولونه : من إطلاق اللحية ، وتقصير الثياب ، وتبديع القنوت في الفجر وغير ذلك ؟
        Kami memuthala’ah (mempelajari) tentang pemintaan fatwa no. 2908 yang berisi penjelasan banyaknya syabab (pemuda) mengikuti firqah (kelompok) yang dikatakan berada diatas manhaj salafus shaleh dan atas jalan yang lurus, dan mereka menuduh setiap orang yang menyelisihi mereka sebagai kafir dan zindiq sampai ulama pun tidak selamat (tidak lepas) dari tudingan mereka ; mereka juga menyerang aqidah al-Azhar, ulama-ulama al-Azhar dan melempar tuduhan bahwa al-Asy’aiyah sebagai pelaku bid’ah. Apa pendapat anda tentang kelompok ini ? …….

     Jawab :

    إنه يجب على الشباب المسلم - خاصة طلبة العلم - أن يعملوا على توحيد كلمة المسلمين ، وأن لا يسعَوْا بينهم بالفرقة والنزاع والخصام ؛ حيث أمرنا الله تعالى أن نعتصـم جميعا بحبـله المتين وألا نتفرق في الدين ، قال تعالى : { وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُو } (آل عمران 103)، وقال سبحانه : (الأنفال 46) وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ، وأن نقول للناس الحسن من الكلام ، قال عز من قائل :وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لاَ تَعْبُدُونَ إِلاَّ اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَذِي القُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْناً وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنكُمْ وَأَنتُم مُّعْرِضُونَ (البقرة 83)، ، وأمرنا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم بكل ما يؤدي إلى الوَحدة ، حتى جعل التبسم في وجه الأخ صدقة
    Wajib bagi para pemuda Islam – khususnya penuntut ilmu- untuk melakukan pemersatuan kaum muslimin, dan bukan mencari-cari perbedaan diantara kaum muslimi dengan perpecahan, perbedaan dan pertikaian. Allah subhanu wa Ta’alaa telah memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan Tali-Nya dan tidak berpecah belah dalam agama. Firman Allah :

        "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai"

    Juga Firman Allah :

        “Dan ta'atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

    Dan kita harus berkata-kata kepada manusia denga perkataan yang bagus, firman Allah :

        “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.”



    Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam juga telah memerintahkan kita dengan setiap hal yang membawa pada persatuan, sehingga senyum kepada suadara sesama Islam merupakan shadaqah.

    كما يجب على الشباب أن ينأوا بأنفسهم عن مناهج التكفير وتيارات التبديع والتفسيق والتضليل التي انتشرت بين المتعالمين في هذا الزمان ، وأن يلتزموا بحسن الأدب مع الأكابر من علماء الأمة وصالحيها ، وأي جماعة تتخذ من اسم " السلف الصالح " ستارا لتفرقة المسلمين وسببا للشقاق والنزاع تكون قد لبَّست الحق بالباطل ؛ قال تعالى :وَلاَ تَلْبِسُوا الحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ (البقرة 42).
    Sebagaimana diwajibkan kepada pemuda-pemuda Islam agar menjauhkan diri mereka dari manhaj-manhaj takfir (pengkafiran), tabdi’ (pembid’ahan), pemfasikan dan penyesatan yang banyak tersebar diantara para penuntut ilmu pada zaman ini. Mereka (pemuda Islam) harus berakhlak yang baik terhadap ulama-ulama besar umat dan orang-orang shalih. Adalah kelompok yang mengambil nama “as-Salafush Shaleh” untuk memecah belah kaum muslimin sehingga terjadi perpecahan dan pertikaian , sungguh telah mencapur adukkan antara hak dan bathil. Allah berfirman :

        “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu , sedang kamu mengetahui”.

    ومن المعلوم أن عقيدة الأزهر الشريف هي العقيدة الأشعرية وهي عقيدة أهل السنة والجماعة ، والسادة الأشاعرة رضي الله تعالى عنهم وأرضاهم هم جمهور العلماء من الأمة ، وهم الذين صَدُّوا الشبهات أمام المَلاَحِدَةِ وغيرهم ، وهم الذين التزموا بكتاب الله وسنة سيـدنا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم عبر التاريخ ، ومَنْ كفّرهم أو فسّقهم يُخْشَى عليه في دينه ، قال الحافظ ابن عساكر رحمه الله في كتابه " تبيين كذب المفتري ، فيما نسب إلى الإمام أبي الحسن الأشعري " : " اعلم وفقني الله وإياك لمرضاته ، وجعلنا ممن يتقيه حق تقاته ، أن لحوم العلماء مسمومة ، وعادة الله في هتك أستار منتقصيهم معلومة ، وأن من أطلق عليهم لسانه بالثلب ، ابتلاه الله قبل موته بموت القلب " ا هـ

    Dan termasuk hal yang ma’lum (telah diketahui) bahwa aqidah al-Azhar asy-Syarif adalah Aqidah al-Asy’ariyah dan itu adalah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Semoga Allah subahanhu wa Ta’alaa meridlai ulama-ulama al-Asy’ariyah dan menjadikan mereka diridlai, dan mereka adalah jumhur ‘Ulama dari umat Islam ini. Mereka adalah ulama-ulama yang telah membantah syubhat-syubhat kelompok atheis dan selainnya. Merekalah yang berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah sayyid kita yaitu Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam sepanjang sejarah.


    Barangsiapa yang mengkafirkan dan memfasikkkan ulama-ulama Asy’ariyah maka mereka itu patut diselidiki agamanya. al-Imam al-Hafidz Ibnu ‘Asakir rahimahullah didalam kitabnya “Tabyin Kidzb al-Muftariy, Fimaa Nusiba Ilaal Imam Abul Hasan al-Asy’ariy” berkata : Ketahuilah dan semoga Allah memberikan taufikan kepadaku dan kepadamu untuk memperoleh ridla-Nya, serta menjadikan kami termasuk orang-orang yang bertaqwa, bahwa SESUNGGUHNYA DAGING ULAMA ITU BERACUN, dan sudah hal yang biasa bahwa Allah akan membongkar (menjadikan buruk) orang yang mencela ulama sehingga diketahui oleh umat. Dan sungguh barangsiap yang memfitnah ulama dengan lisannya maka Allah akan mematikan hatinya sebelum kematiannya.

    والأزهر الشريف هو منارة العلم والدين عبر التاريخ الإسلامي ، وقد كوَّن هذا الصرحُ الشامخُ أعظم حوزة علمية عرفتها الأمة بعد القرون الأولى المُفَضَّلة ، وحفظ الله تعالى به دينه ضد كل معاند ومشكك ؛ فالخائض في عقيدته على خطر عظيم ، ويُخْشَى أن يكون من الخوارج والمرجفين الـذين قال الله تعالى فيهم :لَئِن لَّمْ يَنتَهِ المُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي المَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لاَ يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلاقَلِيلاً (الأحزاب 60)

    Al-Azhar asy-Syarif adalah menara ilmu dan agama sepanjang sejarah Islam, dan sungguh keberadaan al-Azhar asy-Syarif merupakan binaaan ilmu tertinggi yang pernah diketahui setelah masa kurun awal Islam. Allah telah menjaganya untuk agamanya dari setiap kekacauan dan keraguan ; maka yang menetang aqidahnya berada diatas bahaya yang besar, dan dikhawatirkan dia termasuk dari golongan Khawarij (sesat) dan kelompok orang-orang munafik yang telah Allah ta’alaa firman tentang mereka ;

        “Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar,”


    Source : http://www.dar-alifta.org/ViewFatwa.aspx?ID=261&Home=1&LangID=1

    Aqidatul ‘Awam ; Kitab Tauhid karya Syaikh as-Sayyid al-Marzuqiy

    Aqidatul ‘Awam ; Kitab Tauhid karya Syaikh as-Sayyid al-Marzuqiy
    Kitab Nazhom Aqidatul Awam (عقيدة العوام) merupakan kitab yang berisi syair-syair (nadham) tentang Tauhid, kitab ini dikarang oleh Syaikh as-Sayyid al-Marzuqiy. Nama lengkap beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin Sayyid Ramadhan al-Marzuqiy al-Hasaniy wal Husainiy al-Malikiy, al-Mishriy al-Makkiy,, dilahirkan sekitar tahun 1205 H di Mesir. Sepanjang waktu beliau bertugas mengajar di Masjid Mekkah. Karena kepandaian dan kecerdasannya, beliau kemudian diangkat menjadi Mufti Mazhab Maliki di Mekkah menggantikan Sayyid Muhammad yang wafat sekitar tahun 1261 H. Syaikh Ahmad al-Marzuqiy juga terkenal sebagai seorang Pujangga dan dijuluki dengan Abu Alfauzi.

    هو شيخ قراء مكة السيد الشريف الشيخ أبو الفوز أحمد بن محمد بن السيد رمضان المرزوقي الحسني والحسيني المالكي ، ‏ المصري ثم المكي ، والمرزوقي نسبة إلى العارف بالله مرزوق الكفافي . وآل المرزوقي مشهورون بالعلم والتقوى والورع

    Salah satu guru beliau adalah asy-Syaikh al-Kabir as-Sayyid Ibrahim al-‘Ubaidiy, beliau adalah ulama yang berkonsentasi pada Qira’ah al-Asyrah (Qira’ah 10).

    Dan diantara murid-murid beliau adalah Syaikh Ahmad Damhan (1260 – 1345 H), Syaikh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (1232 – 1304 H), Syaikh Thahir at-Takruniy dan lain sebagainya.

    Salah satu kitab yang beliau karang adalah kitab Aqidatul Awam. Beliau mengarang kitab ini, bermula ketika beliau mimpi berjumpa Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam dan para Sahabatnya pada akhir malam Jum'at pertama di bulan Rajab.

    Kitab Aqidatul ‘Awam telah beliau rincikan dalam sebuah kitab syarah yang diberi nama Tahshil Nail al-Maram Libayani Mandhumah ‘Aqidah al-‘Awam (تحصيل نيل المرام لبيان منظومة عقيدة العوام), dan turut memberikan syarah atas kitab ‘Aqidatul Awam yaitu Syaikh al-Imam an-Nawawiy ats-Tsaniy al-Bantaniy al-Jawiy asy-Syafi’i dengan nama kitab Nurudl Dlalam ‘alaa Mandhumah ‘Aqidah al-‘Awam (نور الظلام على منظومة عقيدة العوام) dan juga kitab syarah yang dikarang oleh Syaikh Ahmad al-Qaththa’aniy al-‘Aysawiy dengan nama Tashil al-Maram liDaarisil Aqidatil Awam (تسهيل المرام لدارس عقيدة العوام).

    Dalam kitab Nurudl Dlalam, Imam an-Nawawiy ats-Tsaniy al-Jawiy menuturkan bahwa alasan Syaikh al-Marzuqiy menulis kitab tersebut adalah karena beliau mimpi berjumpa dengan Rasulullah dan para sahabatnya. Dalam mimpi itu Rasulullah bersabda,

    اقرأ منظومة التوحيد التي من حفظها دخل الجنة ونال المقصود من كل خير وافق الكتاب والسنة
    “Bacalah nadham Tauhid yang barangsiapa yang memeliharanya akan masuk surga dan tercapai tujuan (maksud) dari segala kebaikan yang selaras dengan Qur’an dan Sunnah”


    Syaikh al-Marzuqiy berkata,

    وما تلك المنظومة يا رسول الله
    “Nadham-nadham apakah itu wahai Rasulullah ?”

    Para sahabat Nabi berkata,

    اسمع من رسول الله ما يقول
    “Dengarkanlah apa-apa yang akan Rasulullah katakan”


    Rasulullah bersabda,

    قل أبدَأُ باسْمِ اللهِ والرَّحْمنِ
    “Katakanlah, Aku memulai dengan menyebut nama Allah yang Maha Penyayang”


    Maka, Syaikh al-Marzuqiy pun berkata,

    أبدَأُ بِاسْمِ اللهِ والرَّحْمَنِ ... إلى آخرها
    “Aku memulai dengan menyebut Asma Allah yang Maha Penyayang …. (ilaa akhirihi, sampai nadham yang Rasulullah ajarkan selesai)”

    Yaitu sampai pada bait,

    وَصُحُـفُ الـخَـلِيلِ وَالكَلِيمْ : فِيهَـا كَلامُ الْـحَـكَمِ الْعَلِيمْ

    Nabi pun berdo’a dan para Sahabat meng-Amin-kannya. Begitulah asal mula Syaikh al-Marzuqiy mengarang kitab ‘Aqidatul ‘Awam. Mula-mula nadhamnya berjumlah 26 bait, kemudian Syaikh al-Marzuqiy menambahkan lagi sebanyak 31 bait hingga berjumlah 57 bait, karena kecintaan Syaikh al-Marzuqiy kepada Rasulullah. 31 nadham yang ditambahkan tersebut dimulai dengan bait berikut,

    وَكُلُّ مَا أَتَى بِهِ الرَّسُولُ : فحَقُّهُ التسْليمُ وَالْقَبُولُ

    Hingga selesai yaitu sampai pada bait,

    أبْيَاتُهَا ( مَـيْـزٌ ) بِـعَدِّ الْجُمَّل : تَارِيْخُها ( لِيْ حَيُّ غُرٍّ ) جُمَّلِ
    سَـمَّـيْـتُـهَا عَـقِـيْدَةَ الْـعَوَام : مِـنْ وَاجِبٍ فِي الدِّيْنِ بِالتَمَامِ

    Huruf-huruf pada lafadz (مَـيْـز) dalam hitungan Jummal berjumlah 57 yaitu (م)=40, (ي)=10, (ز)=10. Angka 57 tersebut adalah jumlah dari nadham (bait) dari kitab ‘Aqidatul ‘Awam, oleh karena itu baitnya berbunyi,

    “Jumlah bait-baitnya adalah (ميز) atau 57 berdasarkan hitungan Jummal”
    “Sejarahnya (selesainya) adalah (لِيْ حَيُّ غُرٍّ) atau 1258 juga berdasarkan hitungan Jummal”

    Angka 1258 adalah tahun selesainya nadham ‘Aqidatul ‘Awam yaitu 1258 Hijriyah. Rincian dari kalimat (لِيْ حَيُّ غُرٍّ) adalah (ل)=30, (ي)=10, (ح)=8, (ي)=10, (غ)=1000, (ر)=200.

    Kitab yang sangat berharga dalam membangun aqidah ini, diawali dengan pujian kepada Allah dan shalawat dan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, keluarga, para Sahabat serta orang-orang yang mengikut jalan agama yang benar (Dinul Haq).


    أبـْـدَأُ بِـاسْمِ اللهِ والـرَّحْـمَن : وَبِـالـرَّحِـيـمِ دَائـِمِ الإحْـسَان
    فالـحَـمْـدُ للهِ الـقَدِيْمِ الأوَّلِ : الآخِـرِ الـبَـاقـِيْ بِلا تـَحَـوُّلِ
    ثـُمَّ الـصَّلاةُ وَالسَّلامُ سَرْمَدَا : عـَلَـى الـنَّـبِيِّ خَيْرِ مَنْ قَدْ وَحَّدا
    وآلِهِ وَصَـحْبِهِ وَمَـنْ تَـبِـعْ : سَـبِـيلَ دِيْنِ الْحَقِّ غَيْرَ مُـبْـتَدِعْ


    Berikutnya tentang sifat wajib bagi Dzat Allah dan juga sifat jaiz yang wajib diketahui oleh setiap kaum Muslimin yang mukallaf.

    وَبَـعْـدُ فَاعْلَمْ بِوُجُوبِ الْمَعْرِفَـهْ : مِنْ وَاجِـبٍ للهِ عِـشْرِينَ صِفَهْ
    فـَاللهُ مَـوْجُـودٌ قـَدِيمٌ بَاقِـي : مُخَـالـِفٌ لِلْـخَـلْقِ بِالإطْلاقِ
    وَقَـائِمٌ غَـنِـيْ وَوَاحِـدٌ وَحَيّ : قَـادِرٌ مُـريـدٌ عـَالِمٌ بكلِّ شَيْ
    سـَمِـيعٌ البَـصِـيْـرُ والْمُتَكَلِـمُ : لَهُ صِـفَـاتٌ سَـبْـعَـةٌ تَـنْـتَظِمُ
    فَقُـدْرَةٌ إرادَةٌ سـَمْـعٌ بـَصَرْ : حَـيَـاةٌ الْـعِلْـمُ كَـلامٌ اسْـتَمَرْ
    وَجَائـِزٌ بـِفَـضْـلِهِ و عَدْلِهِ : تـَرْكٌ لـِكُـلِّ مُمْـكِـنٍ كَفِعْلِهِ


    Sifat yang wajib terdiri dari 20 sifat yaitu al-Wujud (ada). Dalam kitab Nurudl Dlolam dituturkan dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah firman Allah,


    إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
    “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (QS. Thaaha : 14)


    Dan dalam kitab al-‘Aqidah ad-Diniyyah karangan Syaikh Abdurrahman bin Saqaf bin Husain as-Saqaf al-‘Alwiy al-Husainiy asy-Syafi’i al-Asy’ariy dituturkan bahwa makna Wujud didalam haq Allah adalah menyakini secara pasti (al-I’tiqadu al-Jazimu) bahwa sesungguhnya Allah itu ada secara haq (muhaqqaqan) tidak ada keraguan tentang hal itu, dan dalil yang menunjukkannya adalah firman Allah,

    اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الأَنْهَارَ, وَسَخَّر لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَآئِبَينَ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ , وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا
    “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai, Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang, Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni'mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (ni'mat Allah).” (QS. Ibrahim : 32-34)

    Sifat yang bertentangan sifat Maujud atau sifat yang mustahil bagi Haq Allah adalah al-‘Adam (ketiadaan). Berikutnya, al-Qadim (terdahulu), tidak ada awal bagi keberadaan Allah, tidak menciptakan diri-Nya sendiri dan tidak pula diciptakan oleh selain-Nya, berdasarkan firman Allah,

    لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
    “Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan” (QS. al-Ikhlas : 3)

    Maksud dari sifat ini, dalam karya Syaikh as-Saqaf diterangkan adalah wajib bagi umat Islam beri’tiqad secara pasti (al-I’tiqadu al-Jazimu) bahwa keberadaan Allah adalah terdahulu dan tidak ada awalnya bagi keberadaan Allah, dalil tentang hal ini adalah,

    هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
    “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin ; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. al-Hadiid : 3)


    Maka dari itu mustahil bagi Allah memiliki sifat al-Huduts (baru).


    Diatas adalah sekilas tentang penjelasan dua sifat wajib Allah dalam nadham ‘Aqidatul Awam dari kitab syarahnya yaitu kitab Nurudl Dlalam karya Imam an-Nawawiy ats-Tsani al-Jawiy dan juga disertai penjelasan dari kitab ad-Aqidah ad-Diniyah karya Syaikh as-Saqaf yang banyak di ajarkan disekolah-sekolah Islam Ahl as-sunnah wal al-Jama’ah dan juga di pesantren Ahl as-sunnah wal al-Jama’ah.


    Sifat berikutnya dari 20 sifat yang wajib bagi Allah adalah al-Baqa’ (kekal), al-Mukhalafah lil-Hawaaditsi (berbeda dengan makhluk), al-Qiyamu bin Nafs (berdiri sendiri), al-Wahdaniyah (Maha Esa), al-Qudrah (Maha Berkuasa), al-Iraadah (Maha Berkehendak), al-‘Ilm (Maha Mengetahui), al-Hayyu (Maha Hidup), as-Sam’u wa al-Bashar (Maha Mendengar lagi Maha Melihat), al-Kalam (Maha Berfirman). Berikutnya, Qadiran (Dzat yang Berkuasa), Muridan (Dzat yang Berkehendak), ‘Aliman (Dzat yang Mengetahui), Hayyan (Dzat yang Hidup), Sami’an (Dzat yang Mendengar), Bashiran (Dzan yang Melihat), Mutakalliman (Dzat yang Berfirman).

    Kebalikan dari sifat wajib bagi Allah adalah sifat yang mustahil yaitu sifat yang bertentangan dengan haq Allah, antara lain ; al-‘Adam (tiada), al-Huduts (baru), al-Fana’ (rusak), al-Mumatsalah lil-Hawaditsi (menyerupai dengan makhluk), al-Ihtiyaaju ilaa syai’in minal hawaditsi (butuh kepada makhluk), at-Ta’addu (berbilang), al-‘Ajzu (lemah), al-Karahah (terpaksa), al-Jahlu (bodoh), al-Maut (mati), ash-Shamamu (tuli), al-‘Amaa (buta), al-Bakamu (bisu), selanjutya Kaunuhu ‘Aajizan (Dzat yang lemah), Kaunuhu Mukrahan (Dzat yang terpaksa), Kaunuhu Jaahilan (Dzat yang bodoh), Kaunuhu Mayyitan (Dzat yang mati), Kaunuhu Ashamma (Dzat yang tuli), Kaunuhu A’maa (Dzat yang buta), Kaunuhu Abkama (Dzat yang bisu). Mahasuci Allah dari semua itu, Maha Tinggi Allah lagi Maha Besar.

    Dari 20 sifat wajib bagi Allah, terbagi menjadi 4 macam yaitu sifat an-Nafsiyah, sifat as-Salbiyah, sifat al-Ma’aniy dan sifat al-Ma’nawiyah. Pembagiannya sebagai berikut ;


    الصفات الواجبة لله تعالى عشرون صفة وهي أربعة أقسام :
    1. الصفة النفسية : الوجود
    2. الصفات السلبية (لأنها سلبت عن الله النقائص) :القِدَم –البَقاء – مخالفته للحوادث – قيامه بالنفس – الوحدانية
    3. الصفات المعاني :القدرة – الإرادة – العلم – الحياة – الكلام – السمع –البصر
    4. الصفات المعنوية : كونه حيّاً – كونه عليماً – كونه قادراً – كونه مريداً – كونه سميعاً – كونه بصيراً – كونه متكلماً

    Tentangs sifat al-Ma’aniy dan sifat al-Ma’anawiyah, Imam an-Nawawiy ats-Tsaniy mengumpamakannya bahwa al-Ma’anniy seperti al-Ashl (asal), sedangkan al-Ma’awiyah adalah cabang. Sebab sifat al-Ma’nawiyah merupakan sifat-sifat tidak ada seperti yang demikian kecuali dinisbatkan kepada ma’aninya.

    Sifat Jaiz bagi Allah adalah ,

    وَجَائـِزٌ بـِفَـضْـلِهِ و عَدْلِهِ : تـَرْكٌ لـِكُـلِّ مُمْـكِـنٍ كَفِعْلِهِ
    “dan boleh (jaiz) dengan karuania dan keadilan-Nya, Allah meninggalkan sesuatu ataupu mengerjakannya”

    Dalam hal ini, setiap Muslim wajib berkeyakinan bahwa Allah subhanahu wa Ta’alaa boleh (jaiz) untuk menciptakan sesuatu ataupun tidak menciptakannya, jaiz bagi Allah menciptakan kebaikan ataupun keburukan, jaiz bagi Allah semisal menjadikan Zaid itu muslim dan Umar itu kafir, menjadikan salah satu dari keduanya itu cerdas ataupun menjadikan bodoh, tidak wajib bagi Allah atas semua itu berdasarkan hukum akal dalam ilmu tauhid. Dalil yang menunjukkan atas hal ini adalah,

    وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ
    “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.(QS. al-Qashash : 68)

    Bait-bait berikutnya membahas tentang sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi Nabi dan Rasul Allah.

    أَرْسَـلَ أنبيا ذَوِي فـَطَـانَـهْ : بِالصِّـدْقِ وَالـتَـبْلِـيغِ والأمَانَهْ
    وَجَـائِزٌ فِي حَقِّهِمْ مِنْ عَرَضِ : بِغَـيْـرِ نَقْصٍ كَخَفِيْفِ الْمَرَضِ
    عِصْـمَـتُهُمْ كَسَائِرِ الْمَلائِكَهْ : وَاجِـبَـةٌ وَفَـاضَلُوا الـمَـلائِكَهْ
    وَالْـمُسْـتَحِيلُ ضِدُّ كُلِّ وَاجِبِ : فـَاحْـفَظْ لِخَمْسِينَ بِحُكْمٍ وَاجِبِ

    Wajib bagi setiap muslim yang mukallaf berkeyakinan bahwa Allah mengutus para Nabi dan Rasul dengan 4 sifat yang wajib pada haq mereka yaitu al-Fathanah (cerdas), as-Shiddiq (Jujur), at-Tabligh (Menyampaikan risalah) dan al-Amanah (Terpercaya). Didalam kitab Nurudl Dlalam dituturkan bahwa sifat-sifat wajib yang merupakan haq Rasul juga termasuk haq para Nabi kecuali sifat at-Tabligh karena ini khusus untuk para Rasul, sebab Nabi bukanlah Rasul dan tidak menyampaikan risalah.

    Sifat jaiz pada haq para Rasul dan Nabi adalah sifat-sifat kemanusiaan (sifat-sifat yang memang dimiliki oleh seorang manusia) yaitu wajib bagi setiap muslim berkeyakinan bahwa jaiz bagi haq para Rasul dan para Nabi memiliki sifat-sifat basyariyah (kemanusiaan) yang tidak sampai menyebabkan berkurangnya martabat atau derajat mereka, seperti sakit yang ringan, dan juga seumpama makan, minum, berdagang, melakukan perjalanan, berperang, menikah, tidur dan lain sebagainya.

    Dituturkan dalam kitab syarahnya, bahwa Nabi dan Rasul tidak ada yang perempuan ataupun waria. Pendapat yang mengatakan bahwa ada 6 nabi perempuan yaitu Maryam, Asiyah, Hawa, Ummu Musa, Hajar dan Sarah adalah pendapat yang marjuh. Adapun Luqman juga bukanlah Nabi melainkan seorang hamba yang bertakwa dan murid dari para Nabi.

    Nabi dan Rasul adalah ma’sum sebagaimana Malaikah. Wajib bagi seorang Muslim berkayakinan bahwa seluruh Nabi dan Rasul itu wajib ma’shum sebagaimana kema’shuman itu wajib bagi seluruh malaikat ‘alayhimus shalatu was salam. Allah menjaga mereka dari dosa serta hal-hal yang mustahil bagi haq mereka. Lafadz “wa fadlaluw al-Malaaikah”,

    وَفَـاضَلُوا الـمَـلائِكَهْ

    Maksudnya adalah para Nabi dan para rasul lebih utama dari para Malaikat. Adapun yang lebih utama diantara para Rasul Allah adalah Nabi Muhamma shallallahu ‘alayhi wa sallam, kemudian Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi ‘Isaa dan selanjutnya Nabi Nuh, mereka itulah yang disebut Ulul ‘Azmi. Wajib mengetahui urutan kelima Nabi tersebut.

    Maka, dari itu semua mustahil bagi para Nabi dan Rasul memiliki sifat kebalikan dari sifat wajib yaitu al-Balaadah (bodoh), al-Kadzib (pembohong), al-Kitman (menyembunyikan) dan al-Khiyanah (berkhianat). Setiap Muslim wajib berkeyakinan bahwa sifat-sifat seperti itu mustahil di miliki oleh para Nabi dan Rasul Allah.

    Bait-bait berikutnya adalah tentang rincian para Nabi dan Rasul Allah,

    تـَفْصِيلُ خَمْسَةٍ وَعِشْرِينَ لَزِمْ : كُـلَّ مُـكَـلَـفٍ فَحَقِّقْ وَاغْـتَنِمْ
    هُمْ آدَمُ اِدْرِيْسُ نُوْحٌ هُوْدُ مَعْ : صَالِـحْ وَإِبْرَاهِـيْـمُ كُـلٌّ مُـتَّبَعْ
    لُوْطٌ وَاِسْـمَاعِيلُ اِسْحَاقٌ كذا : يَعْـقُوبُ يُوسُفٌ وَأَيـُّوْبُ احْتَذى
    شُعَيبُ هارونُ وموسى وَالْـيَسَعْ : ذو الْكِـفْلِ دَاوُدُ سُلَيْمانُ اتَّـبَعْ
    إلْـيَـاسُ يُونُسْ زَكَرِيـَّا يَحْيَى : عِـيْسـى وَطَـه خاتِمٌ دَعْ غَـيَّا
    عَلَـيْـهِـمُ الصَّـلاةُ والسَّـلامُ : وآلِهِـمْ مـَـا دَامَـتْ الأيـَّـامُ

    Wajib bagi seorang Muslim mengetahui rincian 25 Rasul Allah. Kata (لَزِمْ) pada bait diatas adalah bermakna wajib, sebagaimana dituturkan dalam syarahnya dan disebutkan pula bahwa pendapat yang dituturkan dalam nadham diatas berbeda dengan apa yang dituturkan oleh as-Suhaimy yang juga mewajibkan bagi seorang Muslim mengetahui secara rinci anak-anak dari para Rasul, perempuan-perempuannya (istri-istrinya), khadim-khadim dari para Rasul yang disebutkan didalam al-Qur’an yang membenarkan dan beriman kepada mereka, dan tidak boleh berkeyakinan bahwa mengetahui semua itu hanya wajib untuk Sayyidina Muhammad semata, karena beriman kepada semua Nabi itu sama saja.


    25 Nabi tersebut adalah Adam, Idris, Nuh, Hud, Shalih, Ibrahim, Luth, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Ayyub, Su’aib, Harun, Musa, Yasa’, Dzul Kifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Yunus, Zakariyya, Yahya, ‘Isa dan Nabi Thaha (Muhammad).


    Dalam syarahnya dituturkan, lafadz Thaha (طَـه) sebagaimana disebutkan dalam nadham adalah nama lain dari Nabi Muhammad. Dikatakan, maknanya adalah purnama (badar) karena (طَ)=9 dan (ه)=5 maka jumlahnya adalah 14, dan bulan purnama muncul pada malam tanggal 14. Dikatakan, maknanya adalah obat (penawar) bagi setiap macam penyakit. Dikatakan, maknanya adalah “Thubaa limanih-Tadii” (Kebahagiaan bagi orang yang mendapat petunjuk).

    Ketahuilah, seluruh Nabi-nabi yang disebutkan tersebut adalah berbangsa ‘Ajamiyah kecuali hanya 4 yang berbangsa Arab yaitu Nabi Muhammad, Nabi Hud, Nabi Shalih dan Nabi Syu’aib.

    Selanjutnya bait-bait tentang Malaikat,

    وَالْـمَـلَكُ الَّـذِي بِلا أبٍ وَأُمْ : لا أَكْـلَ لا شـُرْبَ وَلا نَوْمَ لَهُمْ
    تَفْـصِـيلُ عَشْرٍ مِنْهُمُ جِبْرِيلُ : مِـيْـكَـالُ اسْـرَافِيلُ عِزْرَائِيلُ
    مُـنْـكَرْ نَـكِـيْرٌ وَرَقِيبٌ وكذا : عَـتِـيدُ مَالِكٌ ورِضْوانُ احْتـَذى


    Malaikat tidak berbapak, tidak beribu, tidak makan, tidak minum dan juga tidak tidur. Rinciannya terdiri dari 10 malaikat yaitu Jibril, Mikail, Israafil, ‘Izraail, Munkar, Nakir, Raqib, ‘Atid, Malik dan Ridwa.

    Dalam syarahnya dituturkan, wajib bagi setiap Muslim yang mukallaf berkeyakinan bahwa Malaikat adalah makhluk ciptaan Allah yang tidak berbapak dan beribu, bukan laki-laki, bukan perempuan dan bukan pula waria. Barangsiapa berkeyakinan bahwa malaikat adalah laki-laki maka orang itu fasik, barangsiapa berkeyakinan bahwa malaikat itu perempuan atau waria maka orang itu kafir berdasarkan Ijma’.

    Bait-bait berikutnya,

    أَرْبَـعَـةٌ مِنْ كُتُبٍ تَـفْصِيلُها : تَـوْارَةُ مُـوسى بالْهُدى تَـنْـزِيلُها
    زَبُـورُ دَاوُدَ وَاِنْـجِـيـلٌ على : عِيـسى وَفُـرْقَانٌ على خِيْرِ الْمَلا
    وَصُحُـفُ الـخَـلِيلِ وَالكَلِيمْ : فِيهَـا كَلامُ الْـحَـكَمِ الْعَلِيمْ


    Bait-bait diatas adalah tentang shuhuf dan kitab yang diturunkan oleh Allah. Ada 4 kitab yang Allah turunkan yaitu Taurat Musa, Zabur (Mazmur) Nabi Daud, Injil Nabi Isa dan Furqan (al-Qur’an) Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam. Dan juga shuhuf (mushhaf) Nabi Ibrahim dan mushhaf Nabi Musa sebelum diturunkannya kitab Taurat. Bagi muslim yang mukallaf, semua itu wajib di yakini. Termasuk juga wajib menyakini suhuf yang Allah turunkan, namun tidak wajib menyakini rincian jumlahnya karena tidak ada keterangan tentang ketentuan jumlahnya baik didalam al-Qur’an, namun berbeda dengan 4 kitab yang diturunkan, karena keterangan jumlah 4 kitab tersebut nasnya jelas didalam al-Qur’an. Oleh karena itu wajib mengetahui rinciannya.

    Demikian bait-bait yang terdapat dalam kitab Aqidatul ‘Awam yang merupakan bait-bait yang langsung diajarkan oleh Nabi Muhammad kepada Syaikh al-Marzuqiy. Adapun bait-bait berikutnya merupakan bait-bait tambahan oleh Syaikh al-Marzuqiy karena kecintaan beliau kepada Baginda Nabiyullah Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam. Yang berisi tentang pribadi Nabi Muhammad, kelahiran (di makkah), wafatnya Beliau (di Madinah), ayah dan ibu Nabi Muhammad, serta Ibu yang menyusui Nabi Muhammad. Selain itu, juga tentang putra-putra Nabi, istri-istri Nabi, paman dan bibi Nabi, peritiwa isra’ Mi’raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam dan diwajibkannya shalat maktubah.

    Kitab ‘Aqidatul Awam karya Syaikh al-Marzuqiy bisa di download di link berikut ini ;

    * http://www.4shared.com/file/s_YrZ3G3/Aqidatul_Awam_al-Marzuqiy.html
    * http://www.box.net/shared/s9jdnb98jp
    * http://rapidshare.com/files/414449486/aqidatul-awam.doc


    Wallaahu Subhaanahu wa Ta’alaa

    Bacaaan (Referensi) ;

    - Kitab ‘Aqidah al-‘Awam, Syaikh as-Sayyid al-Marzuqiy
    - Kitab Nur ad-Dlalaam, Syaikh Muhammad an-Nawawiy
    - Kitab al-‘Aqidah ad-Diniyyah, Syaikh Abdurrahman as-Saqaf

    Mengenal Golongan Ahlussunnah Al-Asya'irah

    Mengenal Golongan Ahlussunnah Al-Asya'irah
    Kalangan wahabi (Ahlul Wahabi) mengatakan :

    Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin (ulama wahabi)berkata: "Kemudian muncul juga kelompok yang lain, dan mereka menyebut dirinya Asy'ariyah. Mereka mengingkari sebagian sifat Allah dan menetapkan sebagian yang lain. Mereka menetapkan sifat-sifat tersebut berdasar kepada akal. Maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu merupakan bid'ah dan perkara baru dalam agama Islam" (Ensiklopedia Bid'ah, hal. 140).

    Syekh Muhammad bin Musa Alu Nashr (ulama Wahabi) berkata: "Tetapi, apakah Asya'irah dan Maturidiyah itu Ahlussunnah, ataukah mereka termasuk Ahli Kalam? Hakikatnya, mereka ini termasuk Ahli Kalam. Mereka bukan termasuk Ahlussunnah, walaupun mereka ahlul-millah, ahli qiblah (umat Islam). Dikarenakan al-Asya'irah dan Maturidiyah itu menyelisihi Ahlussunnah Wal-Jama'ah" ( lihat Majalah As-Sunnah, edisi 01/tahun XII, April 208, hal. 35).

    Sementara kalangan Ulama agung Ahlussunnah tentang Al-Asya'irah mengatakan ;


    إِذَا أُطْلِقَ أَهْلُ السُّنَّةِ فَالْمُرَادُ بِهِ اْلأَشَاعِرَةُ وَالْمَاتُرِيْدِيَّةُ (إتحاف سادات المتقين، محمد الزبدي، ج. 2، ص. 6)
    "Apabila disebut nama Ahlussunnah secara umum, maka maksudnya adalah Asya'irah (para pengikut faham Abul Hasan al-Asy'ari) dan Maturidiyah (para pengikut faham Abu Manshur al-Maturidi" (Ithaf Sadat al-Muttaqin, Muhammad Az-Zabidi, juz 2, hal. 6.).

    وأما حكمه على الإطلاق وهو الوجوب فمجمع عليه في جميع الملل وواضعه أبو الحسن الأشعري وإليه تنسب أهل السنة حتى لقبوا بالأشاعرة (الفواكه الدواني، أحمد النفراوي المالكي، دار الفكر، بيروت، 1415، ج: 1 ص: 38)
    "Adapun hukumnya (mempelajari ilmu aqidah) secara umum adalah wajib, maka telah disepakati ulama pada semua ajaran. Dan penyusunnya adalah Abul Hasan Al-Asy'ari, kepadanyalah dinisbatkan (nama) Ahlussunnah sehingga dijuluki dengan Asya'irah (pengikut faham Abul Hasan al-Asy'ari)" (Al-Fawakih ad-Duwani, Ahmad an-Nafrawi al-Maliki, Dar el-Fikr, Beirut, 1415, juz 1, hal. 38).

    كذلك عند أهل السنة وإمامهم أبي الحسن الأشعري وأبي منصور الماتريدي (الفواكه الدواني ج: 1 ص: 103)
    "Begitu pula menurut Ahlussunnah dan pemimpin mereka Abul Hasan al-Asy'ari dan Abu Manshur al-Maturidi" (Al-Fawakih ad-Duwani, juz 1 hal. 103)

    وأهل الحق عبارة عن أهل السنة أشاعرة وماتريدية أو المراد بهم من كان على سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فيشمل من كان قبل ظهور الشيخين أعني أبا الحسن الأشعري وأبا منصور الماتريدي (حاشية العدوي، علي الصعيدي العدوي، دار الفكر، بيروت، 1412 ج. 1، ص. 151)
    "Dan Ahlul-Haqq (orang-orang yang berjalan di atas kebenaran) adalah gambaran tentang Ahlussunnah Asya'irah dan Maturidiyah, atau maksudnya mereka adalah orang-orang yang berada di atas sunnah Rasulullah Saw., maka mencakup orang-orang yang hidup sebelum munculnya dua orang syaikh tersebut, yaitu Abul Hasan al-Asy'ari dan Abu Manshur al-Maturidi" (Hasyiyah Al-'Adwi, Ali Ash-Sha'idi Al-'Adwi, Dar El-Fikr, Beirut, 1412, juz 1, hal. 105).

    والمراد بالعلماء هم أهل السنة والجماعة وهم أتباع أبي الحسن الأشعري وأبي منصور الماتريدي رضي الله عنهما (حاشية الطحطاوي على مراقي الفلاح، أحمد الطحطاوي الحنفي، مكتبة البابي الحلبي، مصر، 1318، ج. 1، ص. 4)
    "Dan yang dimaksud dengan ulama adalah Ahlussunnah Wal-Jama'ah, dan mereka adalah para pengikut Abul Hasan al-Asy'ari dan Abu Manshur al-Maturidi radhiyallaahu 'anhumaa (semoga Allah ridha kepada keduanya)" (Hasyiyah At-Thahthawi 'ala Maraqi al-Falah, Ahmad At-Thahthawi al-Hanafi, Maktabah al-Babi al-Halabi, Mesir, 1318, juz 1, hal. 4).

    Ibn Taymiah dalam menuturkan tentang Asy’ariyyah, pernah berkata :

    والعلماء أنصار علوم الدين والأشاعرة أنصار أصول الدين – الفتاوى الجزء الرابع
    “Para Ulama adalah pembela ilmu-ilmu agama dan Al-Asya'irah adalah pembela ushul (dasar-dasar) agama" (Al-Fatawa, Juz 4)

    al-Imam ash-Sakhawi juga mengatakan dalam kitab Al-Maqashid Al-Hasanah, sebagai berikut ;

    ولقد وصف رسول الله ‘ الفرقة النـاجية بأنهم السواد الأعظم من الأمة، وهذا الوصف منطبق على الأشاعرة والماتريدية وأصحاب الحديث، إذ هم غالب أمة الإسلام، والمنفي عنهم الاجتماع على الضلالة بنص الحديث المشهور (لا تجتمع أمتـي علـى الضلالة

    Imam Tajuddin As-Subki

    قال الإمام تاج الدين السبكي رحمه الله تعالى (إتحاف السادة المتقين 2/6):

    اعلم أن أهل السنة والجماعة كلهم قد اتفقوا على معتقد واحد فيما يجب ويجوز ويستحيل، وإن اختلفوا في الطرق والمبادئ الموصلة لذلك، أو في لِميّة([2]) ما هنالك، وبالجملة فهم بالاستقراء ثلاث طوائف:

    الثانية: أهل النظر العقلي والصناعة الفكرية، وهم الأشعرية والحنفية، وشيخ الأشعرية أبو الحسن الأشعري، وشيخ الحنفية أبو منصور الماتريدي

    Imam Jalal ad-Dawaniy

    وقال الإمام الجلال الدواني رحمه الله تعالى (شرح العقائد العضدية 1/ 34)

    الفرقة الناجية، وهم الأشاعرة أي التابعون في الأصـول للشيخ أبي الحسـن

    Imam al-Baihaqiy

    ال الإمام البيهقي : " إن أبا الحسن الأشعري رحمه الله لم يحدث في دين الله حَدَثا ، ولم يأت فيه ببدعة ، بل أخذ أقاويل الصحابة والتابعين ومن بعدهم من الأئمة في أصول الدين فنصرها بزيادة وشرح وتبيين".

    Imam Izz bin Abdussalam

    وذكر العز بن عبد السلام أن عقيدة الأشعري أجمع عليها الشافعية والمالكية والحنفية وفضلاء الحنابلة ووافقه على ذلك من أهل عصره شيخ المالكية في زمانه أبو عمرو بن الحاجب وشيخ الحنفية جمال الدين الحصيري وأقره على ذلك التقي السبكي .

    ويقول تاج الدين السبكي: وهؤلاء الحنفية والشافعية والمالكية وفضلاء الحنابلة في العقائد يد واحدة كلهم على رأي أهل السنة والجماعة يدينون لله تعالى بطريق شيخ السنّة أبي الحسن الأشعري رحمه الله. ثم يقول: وبالجملة عقيدة الأشعري هي ما تضمنته عقيدة أبي جعفر الطحاوي التي تلقاها علماء المذاهب بالقبول ورضوها عقيدة.

    Imam Ibnu 'Abidin

    وقال الفقيه الحنفي ابن عابدين في حاشيته: " أهل السنة والجماعة وهم الأشاعرة والماتريدية".


    SIAPA SESUNGGUHNYA GOLONGAN AL-ASYA'IRAH ?

    Penjelasan dari As-Sayyid Muhammad bin 'Alawi al-Maliki al-Hasani :

    Banyak kaum muslimin jahil (tidak mengetahui) mengenai madzhab al-‘Asya’irah (kelompok ulama pengikut madzhab Imam Abul Hasan al-Asy’ari) dan tidak mengetahui siapakah mereka, serta metode mereka dalam bidang aqidah. Karena ketidak tahuan itu, ada sebagian dari kaum Muslimin, tidak berhati-hati, melemparkan tuduhan bahwa golongan Asya’irah sesat atau telah keluar dari Islam dan mulhid (menyimpang dari kebenaran) di dalam memahami sifat-sifat Allah.

    Kejahilan terhadap madzhab al-Asya’irah ini adalah faktor retaknya kesatuan golongan Ahlus Sunnah dan terpecah-pecahnya kesatuan mereka, sehingga sebagian golongan yang jahil memasukkan al-Asya’irah dalam kelompok golongan yang sesat . Saya tidak tahu, mengapa golongan yang beriman dan golongan yang sesat disamakan ? Dan bagaimana golongan Ahl as-Sunnah dan golongan ekstrim mu’tazilah (Jahmiyyah) disamakan?


    أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ
    مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ
    "Maka apakah patut Kami menjadikan orng-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir) ?, Atau adakah kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan ?" (QS. Al-Qalam : 35 - 36)

    Al-Asya’irah adalah para pemimpin ulama yang membawa petunjuk dari kalangan ulama muslimin yang ilmu mereka memenuhi bagian timur dan barat dunia dan disepakati oleh manusia sepakat atas keutamaan, keilmuan dan keagamaan mereka. Mereka adalah tokoh-tokoh besar ulama Ahlussunnah berwibawa tinggi yang berdiri teguh menentang kecongkaan dan kesombongan golongan Mu’tazilah.

    Dalam menuturkan tentang golongan Al-Asya’irah, Ibnu Taimiyyah berkata:


    والعلماء أنصار علوم الدين والأشاعرة أنصار أصول الدين – الفتاوى الجزء الرابع
    “Para ulama adalah pembela ilmu agama dan al-Asya’irah pembela dasar-dasar agama (ushuluddin) - (Al-Fataawaa, juz 4)


    Sesungguhnya mereka (penganut madzhab al-Asya’irah) terdiri dari tokoh-tokoh hadits (Muhadditsin), para Ahli fiqih dan para Ahlitafsir dari kalangan tokoh Imam-imam yang utama (yang menjadi panutan dan sandaran para ulama lain) seperti :


    -] Syaikhul Islam Ahmad ibn Hajar al-‘Asqalani رحمه الله, tokoh hadits yang tidak dipertikaikan lagi sebagai gurunya para ahli hadits, penyusun kitab Fathul Baari ‘ala Syarhil Bukhaari. Bermazhab Asya’irah. Karyanya sentiasa menjadi rujukan para ulama’.
    -] Syaikhul Ulama Ahl as-Sunnah, al-Imam an-Nawaawi رحمه الله, penyusun Syarh Shahih Muslim, dan penyusun banyak kitab yang masyhur. Beliau bermazhab Asya’irah.
    -] Syaikhul Mufassirin al-Imam al-Qurthubi رحمه الله penyusun tafsir al-Jaami’ li Ahkaamil Qur’an. Beliau bermazhab Asya’irah.
    -] Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haithami رحمه الله, penyusun kitab az-Zawaajir ‘an al-Iqtiraaf al-Kabaa’ir. Beliau bermazhab Asya’irah.
    -] Syaikhul Fiqh wal Hadits al-Imam al-Hujjah wa ats-Tsabat Zakaaria al-Anshari رحمه الله Beliau bermazhab Asya’irah.
    -] Al-Imam Abu Bakar al-Baaqilani رحمه الله
    -] Al-Imam al-Qashthalani رحمه الله
    -] Al-Imam an-Nasafi رحمه الله
    -] Al-Imam asy-Syarbini رحمه الله
    -] Abu Hayyan an-Nahwi رحمه الله, penyusun tafsir al-Bahr al-Muhith.
    -] Al-Imam Ibn Juza رحمه الله, penyusun at-Tashil fi ‘Uluumittanziil.
    -] Dan lain sebagainya, yang kesemua merupakan tokoh-tokoh Ulama ‘Asya’irah.


    Seandainya kita menghitung jumlah ulama besar dari Ahli Hadits, Ahli Tafsir dan Ahli Fiqh yang bermazhab al-Asya’irah, maka tidak mungkin mampu untuk dilakukan dan kita memerlukan beberapa jilid buku untuk merangkai nama para ulama besar yang ilmu mereka memenuhi wilayah timur dan barat bumi. Adalah salah satu kewajiban kita untuk berterimakasih kepada orang-orang yang telah berjasa dan mengakui keutamaan orang-orang yang berilmu dan memiliki kelebihan yakni para tokoh ulama, yang telah menabur khidmat mereka kepada syari’at Sayyid Para Rasul, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alayhi wa Sallam.

    Darimana lahi kebaikan yang kita harapkan sekiranya kita melemparkan tuduhan menyimpang daripada kebenaran dan sesat kepada para ulama besar kita dan para salafus sholeh ? Bagaimana Allah akan membukakan mata hati kita untuk mengambil manfaat dari ilmu-ilmu mereka setelah kita beri’tiqad bahwa mereka berada dalam keraguan dan menyimpang dari jalan Islam ???.

    Sungguh saya ingin mengatakan: “Adakah ulama masakini dari kalangan Doktor [penyandang ijazah PhD] dan cerdik pandai, mampu melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dan Al-Imam An-Nawawi رحمهماالله dalam berkhidmat terhadap Sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang suci ? Adakah kita mampu untuk memberi khidmat terhadap Sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم sebagaimana yang dilakukan oleh kedua-dua ulama besar ini ? Semoga Allah memberikan karunia kepada mereka rahmat serta keridhaan-Nya. Lalu bagaimana kita bisa menuduh mereka berdua telah sesat dan juga para ulama al-Asya’irah yang lain, padahal kita memerlukan ilmu-ilmu mereka ?

    Dan bagaimana kita bisa mengambil ilmu dari mereka jika mereka didalam kesesatan ? Padahal Al-Imam Ibnu Sirin رحمه الله pernah berkata :

    إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم
    "Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikan daripada siapa kalian mengambil agama kalian."

    Apakah tidak cukup bagi orang yang tidak sependapat dengan para Imam di atas, untuk mengatakan, “Mereka rahimahullah telah berijtihad dan mereka salah dalam menafsirkan sifat-sifat Allah. Maka yang lebih baik adalah tidak mengikuti metode mereka.” Sebagai pengganti dari ungkapan kita yang telah menuduh mereka menyimpang dan sesat lalu kita marah atas orang yang mengkategorikan mereka sebagai Ahlussunnah.

    Dan seandainya Al-Imam an-Nawawi, Al-‘Asqalani, Al-Qurthubi, Al-Fakhrurrazi, Al-Haithami dan Zakaria Al-Anshari dan ulama berwibawa yang lain tidak dikategorikan sebagai Ahlussunnah Wal Jama’ah, lalu siapakah lagi yang termasuk Ahlussunnah Wal Jama’ah ?.

    Sungguh, dengan tulus kami mengajak semua pendakwah dan mereka yang bergiat di medan dakwah Islam agar bertaqwa kepada Allah dalam urusan ummat Muhammad صلى الله عليه وسلم, khususnya terhadap tokoh-tokoh ulama dan para fuqaha’nya. Karena, ummat Muhammad صلى الله عليه وسلم senantiasa berada dalam kebaikan hingga hari kiamat. Dan tidak ada kebaikan bagi kita jika tidak mengakui kedudukan dan keutamaan para Ulama kita sendiri.


    Al-Asya’irah adalah pengikut Imam Abu Hasan al-Asy'ari yang mempunyai jasa yang besar dalam membersihkan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah daripada kekeruhan yang dicetuskan oleh golongan Mu'tazilah. Kebanyakan pendukung dan Ulama besar umat ini adalah dari golongan al-Asya’irah. Sedangkan golongan yang memperdebatkan mereka ini sama sekali mencapai secarik buku mereka pun dari segi ilmu, wara' dan taqwa.

    Di antara ulama Al-Asya’irah ialah: Imam Al-Haramain, Imam al-Ghazali, al-Hafidz Ibn Hajar al-'Asqalani, Imam Fakhruddin ar-Razi dan sebagainya. Apakah dosa yang telah mereka lakukan ? Adakah karena mereka bersunggung-sungguh untuk membuat bantahan atas kekeliruan yang ditimbulkan oleh golongan Musyabbihah yang berhubungan dengan Dzat Allah ? Golongan Musyabbihah ini mencoba untuk menetapkan bahwa Allah Ta’ala mempunyai jisim melalui ayat-ayat Mutasyabihat dan hadits-hadits yang menyatakan secara dzahirnya bahwa Allah mempunyai tangan, mata, siku, jari-jari dan sebagainya. -Selesai.

    ULAMA-ULAMA BERMADZHAB AL-ASYA'IRAH


    ::: Peringkat Pertama : Dari Kalangan Murid Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari


    * Abu Abdullah bin Mujahid Al-Bashri
    * Abu Al-hasan Al-Bahili Al-Bashri
    * Abu Al-Hasan Bandar bin Al-Husein Al-Syirazi As-Sufi
    * Abu Muhammad At-Thobari Al-‘Iraqi
    * Abu Bakr Al-Qaffal As-Syasyi
    * Abu Sahl As-So’luki An-Naisaburi
    * Abu Yazid Al-Maruzi
    * Abu Abdillah bin Khafif As-Syirazi
    * Abu Bakr Al-Jurjani Al-Isma’ili
    * Abu Al-Hasan Abdul ‘Aziz At-Thobari
    * Abu Al-Hasan Ali At-Thobari
    * Abu Ja’far As-Sulami Al-Baghdadi
    * Abu Abdillah Al-Asfahani
    * Abu Muhammad Al-Qursyi Al-Zuhri
    * Abu Bakr Al-Bukhari Al-Audani
    * Abu Al-Manshur bin Hamsyad An-Naisaburi
    * Abu Al-Husein bin Sam’un Al-Baghdadi
    * Abu Abdul Rahman As-Syaruthi Al-Jurjani
    * Abu Ali Al-Faqih Al-Sarkhosyi


    ::: Peringkat Kedua,


    * Abu Sa’ad bin Abi Bakr Al-Isma’ili Al-Jurjani
    * Abu Thayyib bin Abi Sahl As-So’luki An-Naisaburi
    * Abu Al-Hasan bin Daud Al-Muqri Al-Darani Ad-Dimasyqi
    * Al-Qodhi Abu Bakr bin At-Thoyyib bin Al-Baqillani
    * Abu ‘Ali Ad-Daqqaq An-Naisaburi (guru Imam Al-Qusyairi)
    * Al-Hakim Abu Abdillah bin Al-Bai’e An-Naisaburi
    * Abu Manshur bin Abi Bakr Al-Isma’ili
    * Al-Ustaz Abu Bakr Furak Al-Isfahani
    * Abu Sa’ad bin Uthman Al-Kharkusyi
    * Abu Umar Muhammad bin Al-Husein Al-Basthomi
    * Abu Al-Qasim bin Abi Amr Al-Bajli Al-Baghdadi
    * Abu Al-Hasan bin Maysazah Al-Isfahani
    * Abu Tholib bin Al-Muhtadi Al-Hasyimi
    * Abu Mu’ammar bin Abi Sa’ad Al-Jurjani
    * Abu Hazim Al-‘Abdawi An-Naisaburi
    * Al-Ustaz Abu Ishaq Al-Isfara’ini
    * Abu ‘Ali bin Syazan Al-Baghdadi
    * Abu Nu’aim Al-Hafiz Al-Isfahani
    * Abu Hamid Ahmad bin Muhammad Al-Istawa’ie Ad-Dalwi


    ::: Peringkat ketiga,


    * Abu Al-Hasan As-Sukri Al-Baghdadi
    * Abu Manshur Al-Ayyubi An-Naisaburi
    * Abu Muhammad Abdul Wahab Al-Baghdadi
    * Abu Al-Hasan An-Na’imi Al-Bashri
    * Abu Thohir bin Khurasah Ad-Dimasyqi
    * Al-Ustaz Abu Manshur An-Naisaburi
    * Abu Dzar Al-Haraqi Al-Hafiz
    * Abu Bakr Ad-Dimsyaqi (Ibn Al-Jurmi)
    * Abu Muhammad Al-Juwaini (ayahnda Imam Al-Haramain Al-Juwaini)
    * Abu Al-Qasim bin Abi Uthman Al-Hamdani
    * Abu Ja’far As-Samnani
    * Abu Hatim At-Thobari Al-Qozwini
    * Abu Al-Hasan Rasya bin Nazhif Al-Muqri
    * Abu Muhammad Al-Isfahani (Ibn Al-Laban)
    * Abu Al-Fath Salim bin Ayyub Al-Razi
    * Abu Abdillah Al-Khobazi Al-Muqri
    * Abu Al-Fadhl bin ‘Amrus Al-Baghdadi Al-Maliki
    * Al-Ustaz Abu Al-Qasim Al-Isfarayini
    * Al-Hafiz Abu Bakr Al-Baihaqi (pemilik Al-Asma’ wa As-Sifat)


    ::: Peringkat keempat,


    * Abu Bakr Al-Khatib Al-Baghdadi
    * Al-Ustaz Abu Al-Qasim Al-Qusyairi
    * Abu ‘Ali bin Abi Harishoh Al-Hamdani Ad-Dimasyqi
    * Abu Al-Muzhoffar Al-Isfara’ini
    * Abu Ishaq Ibrahim bin ‘Ali As-Syirazi
    * Imam Al-Haramain Abu Al-Ma’ali Al-Juwaini
    * Abu Al-Fath Nasr bin Ibrahim Ad-Dimasyqi
    * Abu Abdillah At-Thobari


    ::: Peringkat kelima,


    * Abu Al-Muzoffar Al-Khowafi
    * Al-Imam Abu Al-Hasan At-Thobari (Balika Al-Harrasi)
    * Hujjatul Islam Al-Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali
    * Al-Imam Abu Bakr Al-Syasyi
    * Abu Al-Qashim Al-Anshori An-Naisaburi
    * Al-Imam Abu Nasr bin Abi Al-Qasim Al-Qusyairi
    * Al-Imam Abu ‘Ali Al-Hasan bin Sulaiman Al-Isbahani
    * Abu Sa’id As-ad bin Abi Nashr bin Al-Fadhl Al-‘Umri
    * Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Yahya Al-Uthmani Ad-Dibaji
    * Al-Qadhi Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Salamah (Ibn Al-Ratbi)
    * Al-Imam Abu Abdillah Al-Farawi
    * Imam Abu Sa’ad Isma’il bin Ahmad An-Naisaburi Al-Karmani
    * Imam Abu Al-Hasan Al-Sulami Ad-Dimasyqi
    * Imam Abu Manshur Mahmud bin Ahmad Masyazah
    * Abu Al-Fath Muhammad bin Al-Fadhl bin Muhammad Al-Isfara’ini
    * Abu Al-Fath Nasrullah bin Muhammad Al-Mashishi


    ::: Peringkat keenam,


    * Al-Imam Fakhruddin Al-Razi (pemilik At-Tafsir Al-Kabir dan Asas At-Taqdis)
    * Imam Saifullah Al-Amidi (empunya Abkar Al-Afkar)
    * Sulton Al-Ulama’ Izzuddin bin Abdil Salam
    * Sheikh Abu ‘Amr bin Al-Hajib
    * Sheikhul Islam Izzuddin Al-Hushairi Al-Hanafi (pemilik At-Tahsil wal Hashil)
    * Al-Khasru Syahi


    ::: Peringkat ketujuh,


    * Sheikh Taqiyuddin Ibn Daqiq Al-‘Idd
    * Sheikh ‘Ala’uddin Al-Baji
    * Al-Imam Al-Walid Taqiyuddin Al-Subki (murid Sheikh Abdul Ghani An-Nablusi)
    * Sheikh Shofiyuddin Al-Hindi
    * Sheikh Shadruddin bin Al-Marhal
    * Sheikh Zainuddin
    * Sheikh Shodruddin Sulaiman Abdul Hakam Al-Maliki
    * Sheikh Syamsuddin Al-Hariri Al-Khatib
    * Sheikh Jamaluddin Az-Zamlakani
    * Sheikh Jamaluddin bin Jumlah
    * Sheikh Jamaluddin bin Jamil
    * Qodhi Al-Quddho Syamsuddin As-Saruji Al-Hanafi
    * Al-Qadhi Syamsuffin bin Al-Hariri
    * Al-Qodhi ‘Addhuddin Al-Iji As-Syirazi (pemilik kitab Al-Mawaqif fi Ilm Al-Kalam)


    ::: Dan sebagainya… Nafa’anaLlahu bi ulumihim wa barakatihim.. amin…..... [Selesai nukilan].


    Lihatlah, sesungguhnya Al-Asyairah diikuti oleh jumlah yang sangat besar dari para 'ULAMA'. Apakah mereka semua ini sesat jika ada pihak mengatakan golongan Al-Asyairah sesat ? Pikirkanlah...dan bagaimana pula dengan golongan-golongan yang lainnya, apakah ada aliran mereka yang mampu melahirkan para ULAMA' seperti Al-Asyairah? Wallahu 'alam..

    Secuil Tentang Kitab al-Ibanah Yang Terdlalimi

    Perhatikan warna hijau pada scan kitab dibawah ini.

    Disana -diatas- (warna hijau) ada teks yang dilenyapkan. Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 1426H.


    Dar al-Anshâr, 1379H : Scan diatas, yang digaris bawahi adalah teks yang dilenyap pada terbitan Daru Kutub.

    Begitu juga pada awal bab tentang Istiwâ’, dalam cetakan Mesir, Imam al-Asy‘ari berkata;



    إن الله عز و جل يستوي على عرشه استواء يليق به من غير طول استقرار
    “Allah ‘azza wa jalla istiwâ’ atas ‘arsy-Nya, dengan Istiwâ’ yang layak dengan-Nya, tanpa istiqrâr (menempati)”

    Namun, teks استواء يليق به من غير طول استقرار, tidak ditemukan dalam cetakan Beirut. Allahu A‘lam, apa dimakan tikus atau bagaimana.

    Semoga Allah selalu menjaga para pewaris Nabi serta karya-karya mereka dari tangan zhalim. Dan Allah akan selalu mengutus ulama pembaharu, dalam arti selalu mengutus pada setiap abad, sebagaimana sabda Nabi, diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abi Hurairah;


    إن الله يبعث لهذه الأمّة على رأس كل مائة سنة من يجدّد لها دينها
    “Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini setiap penghujung awal abad, yaitu orang yang memperbaharui agamanya”

    Dapat dipahami dari hadis ini, salah satunya, ilmu agama yang sifatnya urgen seperti akidah, selayaknya melalui transmisi sanad, sehingga kira-kira lima puluh sampai seratus tahun tidak terjadi pemutusan silsilah keguruan, terutama ilmu-ilmu pokok dalam agama. Allahu A‘lam bi al-Shawwâb.



    Tabyin Kidzb al-Muftari (Ibnu 'Asakir) ; Hanya Satu Periode (Dari Muktazilah Kepada Ahl as-Sunnah)

    Lima belas hari bersunyi diri untuk beribadah dan berdoa agar diberi petunjuk oleh Allah subhânahu wa ta‘âlâ. Pada hari yang ke enam belas ia beranjak menuju masjid guna mengumumkan apa yang ia alami. Di dalam masjid, ia naik mimbar, lalu berkata;




    “Jama‘ah sekalian, sesungguhnya aku “menghilang” dari kalian beberapa waktu karena aku berpikir; aku dapati banyak dalil yang balancing (sehingga menjadi samar) dan aku tidak bisa mentarjih mana yang benar dari yang salah, begitu sebaliknya. Maka aku meminta petunjuk kepada Allah tabaraka wa ta‘ala, lalu Dia memberiku petunjuk kepada akidah yang aku tuangkan dalam kitab-kitabku ini, dan aku tanggalkan semua yang pernah aku yakini sebagaimana aku menanggalkan baju jubahku ini”.

    Ia menanggalkanlah jubahnya itu, kemudian dilemparkan, dan ia berikan beberapa kitab kepada jama‘ah yang di antaranya adalah kitab al-Luma‘ (al-Luma‘ fî al-Radd ‘alâ Ahl al-Zaygh wa al-Bida‘) dan kitab yang mengungkap kecacatan (akidah) mu‘tazilah yang dinamakan dengan Kasyf al-Astâr wa Hatk al-Astâr, dll. Manakala kitab-kitab itu telah dibaca oleh ahli hadis dan ahli fikih dari kalangan Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ‘ah, mereka “mengambil” dan mengikuti isi kitab-kitab itu, mereka meyakini keunggulannya dan menjadikannya sebagai Imam, sehingga madzhab mereka dinisbatkan kepadanya, (al-Asy‘ariyyah/al-Asyâ‘irah).

    Catatan : Prosesi ini (menurut riwayat shahih terjadi pada tahun 300H, penghujung periode salaf) disaksikan para Ulama dari kalangan ahli hadis dan ahli fiqh. *Jika akidah Imam al-Asy‘ari masih cenderung kepada mu‘tazilah tentunya para ulama Ahl al-Sunnah saat itu tidak akan memberi nilai plus untuk Imam al-Asy‘ari seperti menjadikannya sebagai Imam, dll. *Jika Imam al-Asy‘ari masih cenderung kepada mu‘tazilah, atau meyakini Allah bertempat sebagaimana syubhat yang dilontarkan oleh Musyabbihah -berdasarkan sisipan dalam al-Ibanah-, mengapa kalangan al-Asy‘ariyyah al-Kibâr seperti Abu al-Hasan al-Bahili, al-Qâdhi al-Baqillani, Ibn fawrak, al-Hakim, Abu Manshur al-Baghdadi, al-Baihaqi, Ustadz Isfarayaini, al-Juwayni,dll tidak meyakini hal itu? Bukankah mereka muttashil sanad kepada Imam al-Asy‘ari? Wa al-‘Iyâdzu billahi, dari Iftirâ’ dan Takdzîb terhadap pewaris Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. *Juga, seandainya Imam al-Asy‘ari masih cenderung kepada mu‘tazilah, bagaimana mungkin ia menulis karya sanggahan terhadap mu‘tazilah namun masih menganut paham mu‘tazilah. Dalam beberapa riwayat, selain kitab al-Luma‘ dan Kasyf al-Astâr, Imam al-Asy‘ari juga memberikan kitab al-Ibânah kepada jama‘ah. Maka untuk menjaga dari syubhat-syubhat yang dinisbatkan kepada kitab Imam al-Asy‘ari seperti penyisipan atau pengurangan isi kitab al-Ibanah, harus disandingkan dengan kitab al-Luma‘.

    al-Hafizh Ibn ‘Asakir (w.571H) meriwayatkan beberapa sya‘ir dari gurunya;

    لو لم يصنف عمره # غير الإبانة واللمع لكفى
    “jikalau sepanjang umurnya tidak menulis, melainkan hanya al-Ibanah dan al-Luma‘, itu sudah mencukupi -sebagai pegangan-” (al-Tabyiin, Kairo: al-Maktabah al-Azhariyyah, cet.1, 1420H, hal.134)

    Apakah al-Imam al-Asy'ariy mengatakan "Allah Bertempat" ?


    al-Hafizh Ibn ‘Asakir meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada al-Qâdhi Abi al-Ma‘âlî Ibn ‘Abd al-Mâlik (murid Imam al-Asy‘ari). Ia berkata tentang Imam al-Asy‘ari; “menurut sekte al-Hasyawiyyah dan al-Mujassimah bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala hulul di ‘arsy, dan menjadikannya sebagai tempat untuk diduduki, lalu Imam al-Asy‘ari mengambil jalan tengah (antara Mu‘tazilah dan Mujassimah) bahwa Allah ada (sejak azali) tanpa tempat, kemudian Dia menciptakan ‘arsy dan kursi, tanpa membutuhkan tempat. Allah tetap sebagaimana adanya sebelum menciptakan tempat“ (yaitu ada tanpa tempat).

    Selanjutnya, kalangan al-Musyabbihah dan al-Hasyawiyyah berkata bahwa Nuzûl adalah Nuzûl Zat-Nya dengan bergerak dan berpindah dari tempat ke tempat lain. -Mereka pun berkata- Istiwâ’ adalah duduk di atas ‘Arsy sembari menempatinya. Lalu Imam al-Asy‘ari mengambil jalan tegah dengan mengatakan bahwa Nuzûl adalah dalah satu dari sifat-sifat Allah, dan Istiwâ’ pun merupakan salah satu dari sifat-sifat Allah. Dan Fi‘liy yang dilakukan-Nya di ‘Arasy disebut dengan Istiwâ’.

    Catatan; “fi‘liy yang dilakukan-Nya di ‘Arsy disebut dengan Istiwâ’” bukan menempatinya. Sebagaimana fi‘liy yang dilakukan-Nya di Bumi dalam rangka memberi rezki disebut dengan Tarzîq, juga bukan menempati bumi. Begitu juga ketika seseorang sedang shalat, dia dilarang meludah ke arah kiblat karena Allah ada di “hadapan” orang itu, apakah keberadaan Allah di hadapannya dengan makna hakiki? Tentunya tidak, karena mempunyai konsekuensi akan keberadaan Allah di tempat.

    Hadis mengenai ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dan beberapa Ash-hâb al-Sunan, dari Ibn ‘Umar;

    إذا كان أحدكم يصلي فلا يبصق قبل وجهه فإن الله قبل وجهه إذا صلى -أو كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم-
    “apabila seorang di antara kalian melakukan shalat, maka jangan meludah ke arah depan karena sesungguhnya Allah ada di depannya”

    Oleh : al-Ustadz 'Afshi Raihan Hafidhahullah

    Media Islam

    Thariqat Sarkubiyah

    NU Online