Latest Updates
Tampilkan postingan dengan label Tarikh Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarikh Islam. Tampilkan semua postingan

Daulah Khilafah Utsmaniyah, Pasukan Elit Penganut Tashawuf dan Jasa-Jasanya

Daulah Khilafah Utsmaniyah, Pasukan Elit Penganut Tashawuf dan Jasa-Jasanya
Daulah Utsmaniyyah yang pernah berpusat di Istanbul (Turki) merupakan pemerintahan Islam estafet dari pemerintahan sebelumnya yakni daulah Abbasiyah. Daulah ini pada masanya merupakan negara adidaya didunia dengan pasukan-pasukan elit yang siap bertempur melawan musuh-musuh Islam.

Sesungguhnya Daulah Utsmaniyah juga merupakan salah satu era gemilang Islam. Daulah ini telah banyak berjasa secara nyata terhadap Islam dan kaum Muslimin. Sebagian kecil diantaranya jasa-jasa daulah ini adalah :
  • Mengislamkan jutaan kaum Kristen Eropa Timur seperti di Bosnia, Herzegovina, Albania, Kosovo, Macedonia dan lain sebagainya.
  • Mengamankan jutaan mil persegi wilayah Isla hingga ke Indonesia.
  • Daulah Utsmaniyah ini sepanjang masa berdirinya hingga keruntuhannya mengisi hidupnya dengan jihad melawan kaum kafir. 
  • Berkat dukungan Khilafah Utsmaniyah ini, maka Aceh tertunda penjajahannya hingga 350 tahun. 
  • Dan tidak ada satu masa Khalifah pun dari Daulah ini yang tidak mengisi pemerintahannya dengan jihad, baik jihad tersebut bersifat pertahanan (defensif) maupun penyerangan (afensif).
  • Memperluas wilayah Islam hingga ke jantung Eropa. 
  • Berkat dakwah dan jihad Daulah Utsmaniyah ini, saat ini Turki, Albania, Kosovo, Macedonia, Bosnia, dan Herzegovina menjadi negeri Muslim meskipun saat ini belum menjadi negara Islam.
  • Bahkan pada masa kegemilangannya, mujahid Daulah Utsmaniyah melangkahkan kakinya hingga nyaris meerbut Wina Austria.
Rasulullah shallallahu alayhi wa aalihi wa sallam sendiri bangga dengan Daulah Utsmaniyah ini. Beliau shallallah alayhi wa aalihi wa sallam pernah bersabda,
“Sungguh (pasti) Qasthanthiniyah (Konstantinopel) akan di taklukkan, maka sungguh sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukan itu”
FAIDAH HADITS

Hadist ini juga mengandung makna (faidah) sebagai berikut,
  • Keridlaan Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam kepada Amir/Panglima penaklukan Konstantinopel, yang tidak lain adalah Sultan Muhammad Al Fatih rahimahullah.
  • Keridlaan Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam kepada seluruh anggota pasukan penaklukan Konstantinopel.
  • Keridhaan Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam terhadap aqidah seluruh anggota pasukan penaklukan Konstantinopel. Sebab jika mereka memiliki aqidah yang menyimpang, sudah tentu mereka tidak akan disebut sebagai pasukan terbaik.
  • Keridlaan Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam terhadap amaliyah tashawuf . Sebab seluruh anggota pasukan adalah pengamal tashawuf. Sultan Muhammad Al Fatih adalah sufi Tarekat Naqshabandiyah. Sedangkan anngota pasukan, khususnya pasukan elit Janissary sebagai pasukan inti adalah sufi Tarekat Bektasiyah. Sedangkan unit-unit pasukan lain, seperti Resimen Anatolia dan tentara irreguler hampir semuanya juga sufi dari berbagai macam Tarekat. Diantaranya adalah tarekat Maulawiyah, Qodiriyah, Naqshabandiyah dan lain sebagainya. 
Andaikan amaliyah tashawuf merupakan sebuah kesesatan, maka sudah tentu Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam tidak akan menyebut mereka sebagai pasukan terbaik. Tapi pasukan ahli bid’ah.
  • Keridhoan Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam terhadap aqidah Ahlussunnah wal jama’ah yang diajarkan oleh Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidy. Sebab seluruh pasukan Utsmani pada saat itu mengikuti ajaran kedua Imam Agung ini yakni mereka adalah al-Asyara'irah dan al-Maturidiyah.
Inilah salah satu sosok Sultan Khilafah Turki Utsmani yakni Sultan Muhammad Al-Fatih yang dibanggakan oleh Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam. Sebelum beliau lahir, Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam telah memberikan kabar gebira tentang beliau.

Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, 
“Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam, tiba-tiba beliau ditanya, “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab, “Kota Heraqlius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu.” Maksudnya adalah Konstantinopel.” [H.R. Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim]
“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]
Jika anda terkagum-kagum dengan penggambaran perang yang ketat antara Balian of Ibelin melawan Shalahudin Al-Ayyubi di film Kingdom of Heaven, maka perang antara Constantine XI Paleologus dengan Muhammad Al-Fatih jauh lebih ketat, tidak hanya dalam hitungan hari tapi berminggu-minggu. Sultan Muhammad Al Fateh atau yang disebut juga Mehmed II The Conqueror dilahirkan pada tanggal 29 March 1432. 

Saat kelahirannya pun sudah terdapat isyarat bahwa dia nantinya akan menjadi orang besar yang membuat sejarah besar. Ketika berita kelahirannya disampaikan, ayahnya, Sultan Murad II sedang membaca Al Quran tepat pada Surat Al Fath ayat 1:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan padamu kemenangan yang nyata.”
TANDA KELAHIRAN
Menjelang kelahirannya, Sultan Murad sebenarnya sedang mempersiapkan penyerbuan ke Konstantinopel (Constantinople), ibu kota Kekaisaran Romawi Timur atau Byzantium. Setelah anaknya Muhammad lahir, datanglah seorang ulama besar Islam ke istana Sultan dan beliau mengatakan bahwa bayi itulah yang nantinya akan menaklukkan Konstantinopel seperti sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam:

“Sungguh (pasti) Qasthanthiniyah (Konstantinopel) akan di taklukkan, maka sungguh sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukan itu”
Ulama itu bernama Syeikh Aq Syamsuddin Al-Wali dari Khurasan (sekarang Uzbekistan). Beliau adalah seorang syeikh tarekat Naqsyabandiyah. Sultan Murad sangat yakin dengan ilham Syeikh Syamsuddin Al Wali sehingga baginda menyerahkan putera mahkota yang masih kecil kepada Syeikh Syamsuddin untuk dididik.

DIDIKAN THARIQAT SUFIYAH DAN ILMU PERANG 

Syeikh Syamsuddin mendidik muridnya ini dengan disiplin tarikat yang cukup keras. Penuh dengan latihan mengekang hawa nafsu dan hidup susah sehingga hasilnya Pangeran Muhammad menjadi seseorang yang berjiwa kuat dan sangat tahan dalam menghadapi ujian. Beliau dididik memiliki cita-cita besar yaitu menepati janji Allah melalui Rasulullah Shalallalahu 'alayhi wa sallam yakni menaklukkan Konstantinopel. Untuk ilmu perang, ayahnya mendatangkan panglima-panglima yang paling berpengalaman untuk mendidik beliau. Beliau sendiri adalah seorang cendekiawan yang gemar mengumpulkan ilmuwan-ilmuwan di istana untuk berdiskusi.

Pada usia 19 tahun beliau naik tahta menggantikan ayahnya. Mulailah persiapan penaklukan dilakukannya. Beliau mendidik tentara dan rakyatnya agar menjadi orang-orang yang bertaqwa. Seluruh tentera dan rakyatnya dididik agar sanggup bangun malam dan merintih munajat pada Tuhan. Sebaliknya di siang hari mereka adalah singa-singa yang berjuang di jalan Allah. Beliau juga mengadakan operasi intelijen untuk membebaskan seorang ahli pembuat meriam dari penjara Romawi. Bersama para insinyurnya beliau membangun benteng, kapal-kapal perang dan meriam-meriam yang canggih untuk ukuran zaman itu. Bahkan dalam membangun benteng Rumeli Hasari di Selat Bosphorus beliau turun tangan ikut mengangkat batu dan pasirnya.

TAKLUKNYA KONSTANTINOPEL

Setelah persiapan matang, dimulailah penyerbuan ke Konstatinopel. Perang yang hebat berkecamuk lebih satu bulan, belum juga tampak tanda-tanda kemenangan. Bahkan pasukan Islam mengalami kesukaran mendekati benteng Romawi di tepi Selat Bosphorus tersebut karena di taut pasukan Romawi memasang rantairantai berukuran besar yang sangat panjang hingga menghalangi kapal yang akan mendekat. Dalam ketidakpastian itu Sultan Muhammad Al Fateh bertanya pada syeikhnya yang mulia, “Wahai Guruku, kapankah saat yang dijanjikan itu tiba?” Syeikh Syamsuddin Al Wali menjawab, “Pada hari ke 53, hari Selasa pukul 11 pagi.” Ini adalah ilham berbentuk berita ghaib yang diterima oleh Syeikh Syamsuddin Al-Wali. Sultan Muhammad sangat yakin pada ilham gurunya. Beliau makin bersungguh-sungguh meningkatkan ketaqwaan pada Allah dan mengajak tentaranya melaksanakan hal yang serupa sebab hanya orang bertaqwa yang mendapat bantuan Tuhan.

Pada suatu malam di bulan Mei 1453 terjadilah peristiwa yang luar biasa. Para insinyur Sultan telah menemukan inovasi teknologi luar biasa yang bisa disebut terobosan besar di zaman itu. Mereka berusaha membuat agar kapal-kapal perang Islam dapat berjalan di darat. Dengan memutari selat, pada tengah malam tibalah kapat-kapal pasukan Sultan Muhammad Al-Fateh ke bagian belakang benteng Konstantinopel. Kota Konstantinopel sebenarnya adalah kota yang sangat strategis karena ditindungi oleh benteng alami, yaitu perbukitan. Kapal-kapal tentara Islam yang berjumlah 70 kapal mendarat di Semenanjung Pera di pinggir perbukitan itu dan berusaha mendakinya. Terjadilah keajaiban yang merupakan karamah bantuan Tuhan di malam itu. Secara lahiriyah, meskipun kapal-kapal tersebut dapat ‘dipaksa’ berjalan di darat dengan menggunakan balok-balok kayu raksasa tapi tetap saja untuk mendaki bukit untuk membawa 70 kapal layar berukuran besar dalam tempoh beberapa jam adalah hal yang mustahil. Apa yang sebenarnya terjadi ?  Kapal-kapal itu bukanlah berjalan di darat tetapi seakan melayang mendaki dan menyusuri perbukitan sejauh 16 km sampai di Golden Horn sehingga operasi pendaratan 5.000 pasukan itu selesai dalam waktu singkat. Dari sanalah mereka menyerbu Konstantinopet. Paginya, pada hari Selasa 29 Mei 1453 Konstantinopel takhluk ke tangan tentara Islam di bawah pimpinan Sultan Muhammad Al Fateh.

Telah diceritakan bahwa ketika Sultan Muhammad At Fateh memasuki Konstantinopel, para perajuritnya menemukan makam sahabat Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam yaitu Abu Ayyub Al Anshari radliyallahu 'anh. Di makam tersebut mereka melihat sebagian kaki Abu Ayyub tersembul keluar dari tanah. Kaki tersebut putih bersih, sama sekali tidak terlihat rusak walaupun beliau telah wafat selama 600 tahun. Inilah karamah para sahabat Nabi. Sultan panglimanya bergiliran mencium kaki tersebut. Giliran Sultan yang terakhir. Ketika Sultan Muhammad Al Fateh akan mencium kaki Sahabat Rasulullah itu, tiba-tiba kaki tersebut masuk ke dalam tanah. Telah diceritakan pula bahwa pada petang hari setelah penaklukan bersejarah itu Syeikh Syamsuddin Al Wali bermimpi bertemu dengan Abu Ayyub Al Anshari. Beliau (Abu Ayyub) menyampaikan ucapan selamat pada Sultan Muhammad Al Fateh karena berhasil menaklukkan Konstantinopel dan menyatakan bahwa beliaulah yang sepatutnya mencium kaki Sultan Muhammad Al Fateh sebagai orang yang dijanjikan oleh Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallam.

Pada hari Jum’at pertama di Konstantinopel, ketika diadakan shalat Jum’at untuk pertama kalinya, terjadi kebingungan dalam menentukan siapa yang menjadi imam. Sultan pun dengan lantang meminta seluruh tentaranya berdiri dan mengajukan pertanyaan: “Siapa di antara kalian yang sejak baligh hingga saat ini pernah meninggalkan shalat fardhu silakan duduk!” Tidak ada seorang pun yang duduk. Ini berarti seluruh tentara Sultan sejak usia baligh tidak pernah meninggalkan shalat fardhu.

Sultan berkata lagi, “Siapa yang sejak baligh hingga saat ini pernah meninggatkan shalat sunat rawatib silakan duduk!” Sebagian tentaranya masih tegak berdiri dan sebagian lagi duduk. Jadi sebagian tentara sultan sejak balighnya tidak pernah meninggalkan shalat sunat rawatib.

Kemudian Sultan berkata lagi, “Siapa yang sejak baligh hingga hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud silakan duduk!” Kali ini seluruh tentara duduk. Yang tinggal berdiri hanya Sultan sendiri. Ternyata sejak usia baligh Sultan belum pernah meninggalkan shalat tahajud sehingga beliaulah yang paling pantas menjadi imam shalat Jum’at. Memang benarlah kata Rasulullah SAW, “Sebaik-baik pemimpin, sebaik-baik tentara dan sebaik-baik rakyat.”

Perkembangan Madzhab Syafi'i di Indonesia

Perkembangan Madzhab Syafi'i di Indonesia
Islam masuk ke Indonesia sejak abad ke I H, dengan damai. Daerah yang mula-mula dimasuki Islam adalah Lamno (kota pelabuhan di Aceh Barat), Fansur (Singkel), Pasai (Lhok Soumawe), Perlak, Perlaman, Jambi, Malaka dan Jepara (Jawa Tengah). Yang mula-mula menganut Islam di Indonesia ialah orang-orang persia yang tinggal di pantai-pantai Persia, Perlak. Mereka tinggal disana adalah dengan tujuan untuk menyambut kawan-kawan mereka sebangsa yang datang berdagang melalui daerah itu menuju Tiongkok.

Sebagaimana tercatat dalam sejarah, bahwa jauh sebelum Nabi Muhammad Saw lahir (571 M) hubungan dagang antara Persia, India dengan Tiongkok sudah lama terjalin. Pedagang-pedagang Persia dan India banyak yang pergi berdagang ke Tiongkok lewat laut dengan route perjalanan Persia-Gujarat (pantai Idia sebelah barat)-Ceylon-Koromandel (pantai India sebelah timur), Malaka (semenanjung malaya)-Kamboa (Indocina)-Kanton (Tiongkok).

Pada tahun 17 H, kaum Muslimin dibawah pimpinan Khalifah ke II Umar bin Khattab menguasai Persia, sesudah mengadakan pertempuran di Qadisiyah dan Madain. Orang-orang persia sesudah itu berbondong-bondong masuk Islam. Hal ini berpengaruh pada orang-orang Persia yang tinggal di Persia dan Perlak, sehingga mereka segera menyesuaikan diri dengan situasi yang terjadi di negeri mereka dan berbondong-bondong pula masuk Islam. Penduduk asli Indonesia ketika itu pada umumnya menganut agama Hindu, Budha dan banyak pula yang tidak beragama.

Setelah Mu’awwiyah bin Abi Sufyan memegang tampuk pemerintahan Islam tahun 41 H, dipindahkannya Ibu kota dari Madinah ke Damaskus, Damaskus pada zaman itu sudah lama menjadi route perdagangan antara Tiongkok dan Erofah melalui darat. Damaskus menjadi tempat persinggahan kafilah-kafilah dagang yang datang dari Eropah menuju Tiongkok atau sebaliknya untuk istirahat dan melengkapi perbekalan.

Muawwiyah bin Abi Sufyan disamping menaruh perhatian kepada kegiatan perdagangan melalui laut antara Basyrah-Teluk Persia-Tiongkok pulang pergi, beliau juga mengirim muballigh-muballigh Islam keluar negeri termasuk juga ke Indonesia. Utusan yang dikirim Khalifah Mu’awwiyah bin Abi Sufyan itu bahkan ada yang sampai ke hulu sungai Jambi di Sumatera Tengah dan ke Jepara di Jawa Tengah.

Sesudah kerajaan Fatimiyah ditumbangkan oleh Sulthan Shalahuddin Al Ayubi di Mesir pada tahun 577 H, mulailah datang muballig-muballig Islam bermazhab Syafi’i ke Indonesia. Mereka diutus oleh kerajaan Ayyubiyah dan kemudian oleh kerajaan Mamalik. Kerajaan Ayyubiyah berkuasa di Mesir selam,a 52 tahun, kemudian diganti oleh kerajaan Mamalik sampai akhir abad ke IX H (permulaan abad XIV M). 

Kedua kerajaan ini adalah penganut faham Ahlussunnah wal Jamaah bermazhab Syafi’i yang sangat gigih. Muballigh-muballigh yang dikirim oleh kedua kerajaan ini bertebaran keseluruh pelosok dunia termasuk Indonesia. Diantara muballigh-muballigh Islam dari kerajaan Mamalik itu adalah Ismail Ash Shiddiq yang datang ke Pasai mengajarkan Islam mazhab Syafi’i. Dengan usaha beliau, ummat Islam Pasai kembali menganut mazhab Syafi’i. Raja-raja Pasai pun sejak saat itu menjadi penganut mazhab Syafi’i yang gigih.

Ismail Ash Shiddiq juga berhasil mengangkat merah Silu, orang asli Indonesia menjadi raja di Pasai (1225-1297 M) dengan gelar Al Malikush Shalih. Berkat pengaruh Sulthan Al Malikush Shalih ini raja-raja Islam di Malaka, Sumatera Timur, dan orang-orang Islam di Pulau jawa sekitar abad ke VII H. berbondong-bondong menganut mazhab Syafi’i.

Mulai tahun 1441 M sampai tahun 1476 M (820-855 H), di Malaka berkuasa Sultan Mansyur Syah I, penganut mazhab Syafi’i yang tangguh. Sultan ini mengutus muballigh-muballigh Islam yang bermazhab Syafi’i ke Minangkabau timur yang sudah lama ditinggalkan oleh orang-orang yang bermazhab Syi’ah sesudah di kalahkan oleh kerajaan Majapahit tahun 1399 M. Berkat pejuangan dari muballigh-muballigh itulah mazhab Syafi’i berkembang kembali di Minangkabau Timur.

Kemudian dari Miangkabau timur Mazhab Syafi’I berkembang ke Batak, muara sungai Asahan dan Simalungun, disiarkan oleh muballigh-muballigh Islam bermazhab Syafi’i bekembang kembali di Minangkabau timur. Mereka juga sampai ke Ujung Pandang dan Bugis, bahkan sampai ke pulau-pulau di Philipina.

Dalam abad ke XV M, atau abad ke IX H. Kesultanan Samudra Pasai di Aceh dan kesultanan Malaka di negeri Malaya sangat aktif mengembangkan Islam mazhab Syafi’i ke Pulau Jawa, yaitu Demak dan Cirebon. Itulah sebabnya maka agama Islam bermazhab Syafi’i dianut oleh ummat Islam di Pulau Jawa. Sebagaimana diuraikan di atas, di pulau Jawa islam juga masuk sejak dini (abad 1 H), tetapi gelombang perkembangan agama Islam besar-besaran di Pulau awa terjadi dalam abad ke XV M. (IX H). khususnya sesudah priode Wali Songo (Wali Sembilan). Wali Songo adalah muballigh-muballigh Islam di tanah Jawa, semuanya menganut faham Ahlussunnah wal Jamaah bermazhab Syafi’i. Nama-nama mereka adalah :
  • Maulana Malik Ibrahim
  • Raden Rahmat (Sunan Ampel)
  • Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang)
  • Masih Ma’unat (Sunan Derajat)
  • Maulana ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri atau Raden Paku)
  • Sunan Kalijaga
  • Syaikh Ja’far Shadiq (Sunan Qudus)
  • Sunan Murio, dan
  • Fatahillah (Sunan Gunung Jati).
Kerajaan Islam Demak juga mengnut mazhab Syafi’i berkat Dakwah yang dilancarkan oleh Muballighin Islam bermazhab Syafi’i yang diutus oleh kerajaan pasai, sebagaimana sudah diuraikan di atas.

Demikian pula kesultanan Aceh di pasai (abad V-X H) dan di Aceh besar (abad X-XI) semua sultannya bermazhab Syafi’i dan berusaha pula mengembangkan mazhab Syafi’i di daerah kekuasaannya, bahkan sampai ke wilayah-wilayah lain di Nusantara ini.

Sekitar abad XVI dan abad XVII, tercatatlah dalam sejarah sseorang ulama’ besar mazhab Imam Syafi’i dari negeri Arab datang ke negeri Aceh, yaitu Syaikh Nuruddin Ar Raniri. Ulama’ ini sangat berpengaruh dan berwibawa baik dalam, kesultanan Aceh maupun di kalangan rakyat negeri itu. Beliau mengarang kitab Ash Shiratul Mustaqim kitab Bustanus Salathin. Kitab Ash Shiratal Mustaqim pada abad ke XVII, diberikan syarah oleh Syaikh Arsyad Al Banjari, mufti Syafi’i di Banjarmasin. Kitab Syafi’i ini tersebar luas di Indonesia dan di Semenanjung Malaya dari abad XVIII sampai abad XX ini.

Upaya Syaikh Nuruddin Ar Raniri dalam mengembangkan Islam mazhab Syafi’i dalam abad ke XVI dan XVII di Aceh medapat sambutan besar dikalangan ulama’-ulama’ Islam di seluruh Indonesia.

Adapula ulama’ Aceh yang masyhur ketika itu, yaitu Syaikh Abdur Ra’uf bin Ali Al Fansyuri, seorang ulama fiqih Syafi’I, yang mendapat kedudukan tinggi dan menjadi penasehat Sultan dalam hukum-hukum agama. Beliau pernah menerjemahkan tafsir Al-Qur’an Al Baidlowi ke dalam bahasa Melayu . Banyak thullab dan santri datang belajar kepada beliau, diatarnya :

1. Syaikh Arsyad Al Banjiri, yang kemudian menjadi mufti di Banjarmasin.
2. Syaikh Yusuf Tajul khalwati dari Makasar, yang kemudian menjadi mufti di Banten di bawah naungan Sultan Ageng Tirtayasa.

Berkat usaha dan perjuangan murid-murid Syaikh Ar Raniri dan Syaikh Abdur Ra’u Al Fansyuri dari Aceh ini bertambah tersiarlah agama Islam bermazhab Syafi’i ke seluruh penjuru tanah air pada abad XVII dan XVIII M.

Kitab-kitab karangan ulama’-ulama’ Syafi’iyah diajarkan di surau-surau dan langgar-langar sampai sekarang bukan saja di Indonesia tetapi juga di Malaysia dan Brunai Darussalam, seperti kitab Ash Shiratal Mustaqim karangan Syaikh Ar Raniri dan lain-lainnya.

Ditanah jawa, pahlawan nasional pangeran Dipenegoro, keturunan keraton yang berperang melawan Kolonial Belanda di sekitar Yogyakarta (1825-18930) adalah penganut faham Ahlusunnah wal Jamaah bermazhab Syafi’i. Keraton Yogyakarta, juga tidak mustahil, keseluruhannya menganut mazhab Syafi’i pula.

Di Sulawesi juga mazhab Syafi’i dianut oleh kaum muslimin. Yang membawa aaran mazhab ini kesana adalah mubaligh-muballigh Islam dari Minangkabau Timur. Salah seorang dari mereka yaitu Datuk Ri Bandang, telah berhasil meng Islamkan Raja Goa tanggal 22 Septmber 1605 M, dan diberi gelar Sulthan Alauddin Awwalul Islam. Wazirnya pun ikut memeluk Islam. Akhirnya seluruh rakyatnya memeluk agama Islam Ahlussunah wal Jama’ah yang bermazhab Syafi’i.

Kerajaan Goa kira-kira tahun 1606 M, berhasil menaklukkan Raja Bone, kemudian pada tahun 1616 sampai tahun 1626 M, menaklukkan Raja Bima, Sumbawa dan Nusa Tenggara dan Buton. Islam bermazhab Syafi’i masuk bersamaan dengan Islam ke Goa, Bone, Bima, Sumbawa, Lombok kemudian Buton.

Dari uraian di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa Islam yang berkembang di Indonesia sampai sekarang ini adalah Islam Ahlussuna wal Jamaah yang bemazhab Syafi’i.

Itulah sebabnya Pengadilan Agma di Indonesia menetapkan hukum Islam berdasarkan mazhab Syafi’i. Di Indonesia sekarang ini banyak terdapat organisasi massa yang menganut, memperjuangkan dan menegakkan Islam Ahlusunah wal jama’ah yang bemazhab Syafi’i, seperti : Nahdlatul Ulama’ (NU), Nahdlatul Wathan (NW), Al am’iyatul Washilah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah dan lain sebagainya.

Dikutip dari Ribath Nudul Hidayah - Pusat Pendidikan Islam

Saksi Mata Kenduri Arwah 7 Hari Di Makkah dan Madinah Didalam Kitab Kasyful Astaar dan al-Hawi lil-Fatawi

Didalam kitab Kasyful Astaar (كشف الأستار), sebuah kitab khusus membahas tentang hadits terkait kenduri arwah (tahlilan) seperti hadits yang dianggap sebagai larangan makan di kediaman keluarga orang mati dan hadits yang memperbolehkannya dengan disertai komentar-komentar para ulama Ahl Sunnah wal Jama’ah. Kitab ini dikarang oleh salah seorang ulama besar Indonesia yakni al-‘Allamah al-Jalil asy-Syaikh al-Fadlil Muhammad Nur al-Buqis.

Beliau lahir pada 7 Desember 1932 M didesa Langkean kabupaten Maros Sulawesi Selatan. Setelah taman Voikshool tahun 1941, kemudian beliau masuk pesantren. Tahun 1947 – 1958 berangkat ke tanah suci Makkah untuk menuntut ilmu Islam ke sumber aslinya yang murni. Tahun 1375 Hijriyah beliau tamat menghafal al-Qur’an di Madrasah Ulumul Qur’an Makkah, juga tamat dari Madrasah Fakhriyyah Utsmaniyyah tahun 1958 M dan Madrasah Darul ‘Ulum ad-Diniyyah hingga mendapatkan gelar “Asy-Syaikh al-Fadlil” dan mendapatkan ijazah untuk mengajar di Madrasah Darul ‘Ulum Makkah al-Mukarramah. Beliau juga mendapatkan ijazah silsilah hadits melalui guru beliau yang merupakan para ulama besar di zamannya, antara lain :

1. Syaikh Hasan al-Yamani
2. Syaikh Sayyid Muhammad Amin al-Kutubi
3. Syaikh Sayyid Alwi Abbas al-Maliki
4. Syaikh ‘Ali al-Maghribi al-Maliki
5. Syaikh Hasan al-Masysyath
6. Syaikh Alimuddin Muhammad Yasiin al-Fadani

Dari ijazah silsilah ini beliau diberi gelar “al-Allamah al-Jalil KH. Muhammad Nur Bughis”. Setelah kembali dari Makkah al-Mukarramah, beliau memberikan pengajian di masjid-masjid Ujuang Pandang sekaligus mendirikan serta memimpin Perguruan Islam Ma’had Dirasaati Islamiyah wal ‘Arabiyyah Ujung Pandang. Pada tahun 1988 membuka sebuah pesantren dengan nama Ma’had an-Nur fiy Ulumil Qur’an di Maccopa kabupaten Maros. Beliau juga merupakan ketua Majelis Ulama Indonesia wilayah Sulawesi Selatan.

Didalam kitabnya, Syaikh Muhammad Nur menyebutkan hadits-hadits Shahih riwayat Thawus disertai komentar beberapa Imam kaum Muslimin tentang anjuran memberikan hidangan makanan selama 7 hari, kemudian beliau pun memberikan informasi sebagai berikut :

أن سنة الإطعام سبعة أيام بلغني و رأيته أنها مستمرة إلى الأن بمكة والمدينة من السنة 1947 م إلى ان رجعت إلى إندونيسيا فى السنة 1958 م. فالظاهر انها لم تترك من الصحابة إلى الأن وأنهم أخذوها خلفاً عن سلف إلى الصدر الإول. اه. وهذا نقلناها من قول السيوطى بتصرفٍ. وقال الإمام الحافظ السيوطى : وشرع الإطعام لإنه قد يكون له ذنب يحتاج ما يكفرها من صدقةٍ ونحوها فكان فى الصدقةِ معونةٌ لهُ على تخفيف الذنوب ليخفف عنه هول السؤل وصعوبة خطاب الملكين وإغلاظهما و انتهارهما.
“Sungguh sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai informasi kepadaku dan aku menyaksikan sendiri bahwa hal ini (kenduri memberi makan 7 hari) berkelanjutan sampai sekarang di Makkah dan Madinah (tetap ada) dari tahun 1947 M sampai aku kembali Indonesia tahun 1958 M. Maka faktanya amalan itu memang tidak pernah di tinggalkan sejak zaman sahabat nabi hingga sekarang, dan mereka menerima (memperoleh) cara seperti itu dari salafush shaleh sampai masa awal Islam. Ini saya nukil dari perkataan Imam al-Hafidz as-Suyuthi dengan sedikit perubahan. al-Imam al-Hafidz As-Suyuthi berkata : “disyariatkan memberi makan (shadaqah) karena ada kemungkinan orang mati memiliki dosa yang memerlukan sebuah penghapusan dengan shadaqah dan seumpamanya, maka jadilah shadaqah itu sebagai bantuan baginya untuk meringankan dosanya agar diringankan baginya dahsyatnya pertanyaan kubur, sulitnya menghadapi menghadapi malaikat, kebegisannyaa dan gertakannya”. []

Begitulah informasi kenduri makan 7 hari, dan juga faktanya di Makkah dan Madinah pun sampai saat ini masih tetap ada, yang dilakukan oleh non-Wahhabiyah, demikian juga di negeri-negeri kaum Muslimin lainnya termasuk di Indonesia. Adapuan selengkapnya mengenai sakti mata dari salah satu pengarang Tafsir al-Jalalain yakni al-Imam al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthi sebagai berikut :

 أن سنة الإطعام سبعة أيام، بلغني أنها مستمرة إلى الآن بمكة والمدينة، فالظاهر أنها لم تترك من عهد الصحابة إلى الآن، وأنهم أخذوها خلفا عن سلف إلى الصدر الأول
"Sesungguhnya sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai kepadaku bahwa sesungguhnya amalan ini berkelanjutan dilakukan sampai sekarang (yakni masa al-Hafidz sendiri) di Makkah dan Madinah. Maka faktanya, amalan ini tidak pernah di tinggalkan sejak masa para shahabat Nabi hingga masa kini (masa al-Hafidz as-Suyuthi), dan sesungguhnya generasi yang datang kemudian telah mengambil amalan ini dari pada salafush shaleh hingga generasi awal Islam"

Untuk memahami dalil diperlukan penguasaan berbagai disiplin ilmu, namun melihat fakta dapat dengan mudah disaksikan tanpa memerlukan penguasaan berbagai disiplin ilmu dan juga tidak mungkin siapapun bisa mengingkarinya kecuali orang-orang yang memang buta mata hatinya. Dari itu juga, perlu di ketahui bahwa kegiatan-kegiatan yang telah mendarah daging di lingkungan masyarakat Muslimin pada dasarnya memiliki landasan dari sisi syariat, hanya saja kurangnya waktu luang kita serta masih awamnya kita dalam meneliti, mengkaji dan memahami dalil-dalil al-Qur’an, As-Sunnah serta komentar-komentar para Ulama Ahl Sunnah menjadikan kita tidak mengetahui landasannya. Sehingga taqlid adalah jalan satu-satunya jika tidak mampu menguasai berbagai disiplin ilmu Islam.

Oleh karena itu juga, tradisi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat Islam berbeda dengan tradisi yang ada pada masyarakat non-Islam, dan tidak boleh di qiyaskan (disamakan), sebab dari asasnya sudah berbeda. Wallahu A’lam []


Oleh : Ats-Tsauriy (Bangkalan); terima kasih kepada al-Akh Luqman Firmansyah atas kitab Kaysful Astaar yang telah di share.

Perjuangan Ulama Sufi di Medan Jihad Dalam Menegakkan Islam

Banyak sekali kita dengar dari golongan yang memusuhi dan anti sufi  bahwa ulama sufi tidak pernah mengikuti peperangan jihad fisabilillah, mereka hanya sibuk dengan ibadah dan melupakan kewajiban jihad, mereka mencoba untuk menghilangkan sejarah yang pernah diukir oleh pembesar-pembesar sufi yang ikut dalam perjuangan melawan kafir-kafir penjajah negeri islam, mereka memutar balikkan fakta yang ada, selanjutnya mereka membanggakan diri dengan menyebut sebagai pahlawan yang mati-matian menyerang musuh islam dan mengobarkan panji jihad, mereka adalah musuh Amerika yang tidak takut mati, musuh umat kristen yang gagah berani, ditangan mereka berdirinya syari`at, merekalah kelompok yang benar dan berjaya mendapatkan naungan surga.

Tetapi apakah jihad mereka sesuai dengan peraturan al-Qur`an dan sunnah Nabi, kenapa banyak umat islam yang mereka bunuh dengan letupan bom, berapa banyak nyawa melayang dengan serangan bom rakitan yang diledakkan oleh mereka, berapa banyak perempuan yang jadi janda hanya karena tidak faham makna jihad sebenarnya, berapa banyak anak-anak menjadi yatim karena bom bunuh diri, Bali yang indah digoncang oleh bom atas nama jihad mereka, Jakarta yang megah diserang bom atas nama jihad, Besawir Pakistan yang meriah hancur luluh lantah dihantam bom bunuh diri atas nama jihad, Syarmun Syeikh Mesir yang cerah tidak ketinggalan di bom oleh mereka, somalia menjadi tempat darah bersimbah hanya atas nama jihad, yang mati juga orang islam, yang diperangi juga orang islam, inikah jihad mereka, padahal Rasulullah saw melarang kita untuk membunuh kafir Zimmi, bagaimana pula mereka membunuh umat islam?

Para ulama sufi dari dahulunya memang sudah dikenal tangguh di medan perang, mereka tidak pernah takut mengikuti peperangan, tetapi mereka tidak suka membesar-besarkan keikutsertaan mereka di dalam peperangan, karena hal tersebut bisa membuat niat tidak ikhlas. Sebab itulah Imam Bukhari meletakkan hadits niat di dalam bab berjihad fisabilillah, karena niat yang ikhlas dalam bejihad sangat penting sekali, orang yang mati dalam peperangan fisabilillah jika tidak memiliki niat yang ikhlas maka dia mati sia-sia tidak mendapatkan gelar syahid.

Tetapi diantara para Sufi yang mengikuti peperangan melawan kaum kuffar ada terdapat sebagiannya yang telah ditulis oleh sejarah, diantara ulama-ulama sufi yang mengikuti peperangan melawan musuh adalah :

1 - Imam Abu Hasan Syadzuli, sebagai Imam Sufi yang teragung, dan telah menggambungkan ilmu hakikat dan syari`at, Qutub pada zamannya, mengikuti peperangan yang terjadi di Kota Mansurah ( Mesir ) pada tahun 642 hijriyah. Walaupun umur beliau telah melewati enam puluh tahun, mata beliau telah buta tetapi tidak mematikan semangatnya untuk menyertai jihad fisabilillah. Siang malam beliau berdo`a agar Allah memberikan kemenangan dalam peperangan melawan pasukan Salib yang datang melalui kota Dimyath. Akhirnya pada suatu malam beliau mendapat kabar gembira dari Rasulullah saw dalam mimpinya tentang kemenangan umat islam.  Sulthan ulama izzuddin Abdussalam meminta pasukan Islam mendengarkan kabar gembira dari Syeikh Abu Hasan Syadzuli sehingga kabar gembira tersebut menjadi kenyataan yang indah, pasukan salib dapat dikalahkan bahkan Raja Lois IX ditawan oleh umat islam dan diletakkan dirumah Ibnu Luqman dikota Mansurah ini terjadi pada tahun 648, tempat ini masih ada sampai sekarang, syeikh Abu Hasan meninggal dunia pada tahun 656 hijriyah dan dikuburkan di Humaisara. (1 )

2 - Syeikhul Islam Sulthonul ulama al-Mujtahid Izzuddin Abdussalam merupakan seorang sufi yang hebat dan berani, beliau merupakan ulama yang sangat ditakuti dan di segani, tidak hanya ahli dalam ilmu agama tetapi juga ikut tampil didalam peperangan melawan musuh islam, keberaniannya juga terlihat dihadapan para pemerintahan islam yang tidak patuh terhadap ajaran agama, beliau juga selalu mengikuti pengajian Syeikh Abu Hasan Syadzili dan sangat menghormatinya, diantara peperangan yang beliau ikuti adalah :

a ) Peperangan Salib yang terjadi di kota Mansurah menghadang pasukan musuk yang datang melalui kota Dimyath menuju kota Kairo, didalam peperangan ini beliau beserta Syeikh Abu Hasan Syadzuli ikut terjung langsung ke medan jihad sehingga tertawannya Raja Lois IX, diantara peristiwa yang sangat dikenang ketika itu adalah teriakan Syeikh Izzuddin kepada angin ketika melihat banyaknya kapal-kapal perang Francis yang menghadap ke dermaga Dimyath, dengan suara yang kuat Syeikh Izzuddin berkata : ” Wahai angin hancurkan meraka “, ketika itu juga angin menghancurkan kapal-kapal perang Francis, sehingga seorang prajurit muslim mengatakan :  Segala puji bagi Allah yang telah melihatkan kepada kami dari golongan umat Nabi Muhammad yang telah Allah mudahkan untuk menundukkan angin.

b) Peperangan melawan Tatar, ketika itu Tatar telah menguasai Baghdad dan ingin menuju Syam, mendengar kabar kedatangan tentra Tatar yang tidak berprikemanusian dan terkenal biadap, maka Sulton Saifuddin Quthruz mempersiapkan tentera untuk menyerang pasukan Tatar, tetapi serangan tersebut setelah hari raya, Syeikh Izzuddin menyeru kepada Sulthan agar menyerang mereka ketika bulan ramadhan dan menjanjikannya dengan kemenangan, janji tersebut menjadi kenyataan sehingga pasukan Tatar ( Mongngolia ) kalah didalam peperangan Ainul Jalut pada tahun 658 hijriyah.  Beliau meninggal dunia tahun 660 hijriyah (2 ).

3 – Pangeran Abdul Qadir al-Jaza`iri, seorang yang ahli didalam ilmu hadits dan tasawuf yang memiliki sifat tawadhu` dan rendah hati, tetapi tidak ingin negerinya dijajah oleh Francis, beliau menyerang tentera musuh dengan gagah berani sehingga melemahkan pasukkan Francis dan keuangan mereka, peperangan ini memakan waktu lebih dari tujuh belas tahun lamanya.(3 ).

4 -Syeikh Ahmad Syarif Sanusi, ketika Syeikh Ahmad telah dilantik menjadi pemimpin Zawiyah Tariqah Sanusiyah pada tahun 1900 Masehi bertepatan tahun 1320 Hijriyah, beliau langsung menyatakan perang melawan musuh Allah penjajah tanah air mereka, gerakan ini membuat pasukkan Francis kewalahan menghadapi serangan pasukan Sanusiyah, ketika itu juga pasukan Italia telah menguasai Barqah, tetapi mendapat perlawanan dari Syeikh Ahmad Syarif Sanusi, perjalanan hidupnya penuh dengan perjuangan sehingga beliau meninggal dengan tenang di kota Madinah setelah datang dari Syam.( 4 )

5 – Umar Mukhtar, seorang tenaga pendidik di Jawiyah Sanusiyah yang telah mengambil Tariqah dari Mursyid Sanusiyah, beliau mengajak murid-muridnya untuk berjihad fisabilillah melawan Italia yang telah menduduki kota Banghazi Libya, beliau telah memerangi Italia sebanyak 263 kali dalam masa duapuluh bulan saja, membuat Pasukkan Italia marah dan mengepung pasukkannya, sehingga banyak tentera islam yang menyertainya jatuh gugur menghadap Allah, akhirnya beliau ditangkap dan dipenjara selama empat hari, kemudian dihukum gantung sampai mati pada tahun 1350 hijriyah.( 5 )

6 – Muhammad Izzuddin Qassam Syadzuli, beliau merupakan seorang syeikh Jawiyah Syadzuliyah di gunung al-Adhamiyah dibahagian negeri Suria, setelah selesai perang dunia pertama tahun 1918 M negeri Francis menjajah bahagian tepi pantai Suria, ketika itu beliau mengajak para muridnya untuk mengangkat senjata menyerang penjajahan Francis, beliau juga turut perang melawan Israel yang telah menduduki Palestina, pada tahun 1934 meletus revolusi sehingga beliau gugur Syahid dalam peperangan, kemudian dikuburkan di Haifa, murid-muridnya sampai sekarang masih ada dan memiliki pasukkan yang berani didalam peperangan, pasukkan itu adalah Kata`ib Izzuddin Qassam. ( 6 )
Masih banyak lagi pahlawan-pahlawan sufi yang gugur didalam peperangan baik yang dicatat di dalam sejarah maupun tidak tertera, semoga Allah melimpahkan surga kepada mereka dan kita semua.
 
Catatan Kaki :
( 1 ) Bayanul Jazim Anna Tasawuf litazkiyatil Insan Nahjul Lazim karya Sa`id Abul `As`ad : 132, Tabaqat Syadzuliyah al-Kubra karya Abu Ali Hasan bin Muhammad al-Faasi : 20. Husnul Muhadharah Fi Tarikhi Mesr Wal Qahirah Karya Imam Sayuti : 1 /401.
( 2 ) Bayanul Jazim : 133 , Husnul Muhadharah Fi Tarikh Mesr wal Qahirah : 1 / 142, Maktabah al-`Ashriyah Lubnan.
( 3 ) Bayanul Jazim : 134
( 4 ) Bayanul Jazim : 136
( 5 ) Natsrul Jawahir Wa Dururu Fi Ulama Qarni Rabi` `Asyar :1/939, Bayanul Jazim : 144.
( 6 ) Natsrul Jawahir Wa Dururu Fi Ulama Qarni Rabi` `Asyar : 2 / 1352.
Penulis : al-Ustadz Husni Allangkati Hafidzahullah :

Medan, Sumatra Utara, Indonesia Lahir di Besitang Langkat tarikh 26 Dzulqa`idah 1400 H,Tamat SDN 050780 thn 1992, Ijazah Tsanawiyah Negeri 31 Mei 1996,Ijazah Tsanawiyah Ma`had Musthafawiyah 1997 M, Musthafa,Ijazah Mas 29 Mei 1999 M, Ijazah Lisence Universitas Al-Azhar 2004 M, Ijazah Defloma Master Ma`had Ali Darasat Islamiyah 17 Januari 2007 M, Kuliyah Usuluddin al-Azhar Jurusan Hadits Syarif. 

Sulthan al-Fatih dan Kekuatan Dibalik Keperkasaannya


Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda :
: لتفتحن القسطنطينية فلنعم الأمير أميرها ولنعم الجيش ذلك الجيش
“Sungguh (pasti) Qasthanthiniyah (Konstantinopel) akan di taklukkan, maka sungguh sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukan itu”
Banyak ulama yang berpendapat bahwa pemimpin yang dimaksudkan dalam hadits di atas ialah Sultan Muhammad II bin Sulthan Murad II al-'Utsmani yang masyhur dengan sebutan "Al-Fatih" (w. 886 H). Beliaulah yang berhasil menaklukkan kota Konstantinopel dan mengubahnya menjadi pusat pemerintahan kekhilafahan ‘Utsmaniyah yang dikenal dengan “Islambul” (yang berarti Kota Islam), yang sekarang disebut “Istanbul”, di Turki. ‘Ulama menyebut bahwa ini adalah salah satu penghormatan kepada Sulthan Muhammad al-Fatih yang mana Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam telah mengkhabarkan tentang kedatangannya serta telah memujinya.

Sebenarnya sebelum beliau, telah banyak pemimpin Islam yang berusaha untuk menawan kota Konstantinopel, mereka berusaha memenuhi nubuat Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam :
  1. Gerakan pertama dilancarkan pada tahun 44 H yakni di masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan radliyallah ‘anh. Akan tetapi, usaha tersebut gagal dan Abu Ayyub al-Ansari yang merupakan salah seorang sahabat Nabi yang ikut dalam gerakan tersebut, namun syahid di pinggir kota Konstantinopel tersebut. 
  2. Di zaman Sulaiman bin Abdul Malik, Khilafah Bani Umayyah telah menyiapkan pasukan elit untuk kembali mengepung kota tersebut pada tahun 98 H, tetapi masih belum diizinkan oleh Allah Ta’alaa untuk menaklukkannya.  
  3. Di zaman pemerintahan Khilafah Abbasiyyah, beberapa usaha terus dilancarkan tetapi masih menemui kegagalan termasuk usaha di zaman Khalifah Harun Ar-Rasyid tahun 190 H. Khalifah yang terkenal dengan kejayaannya, namun ternyata Allah Ta’alaa masih belum mengizinkannya.
  4. Setelah jatuhnya kota Baghdad tahun 656 H, usaha menaklukkan Konstantinopel tetap di lanjutkan oleh kerajaan-kerajaan kecil di Asia Minor (yakni Anatolia) terutamanya Kerajaan Seljuk. Pemimpin masyhurnya adalah Alp Arslan (455 – 465 H / 1063 – 1072 M) telah berhasil mengalahkan Raja Rum, Dimonos, pada tahun 463 H / 1070 M. 
  5. Daulah Khilafah ‘Utsmaniyyah di awal ada ke 8 H / 14 M, telah mengadakan persepakatan bersama Seljuk Rum yang ketika itu berpusat di bandar Konya. Di zaman Sultan Yildrim Beyazid (w. 1402 M) beliau telah berhasil mengepung kota Konstantinopel pada tahun 796 H / 1393 M hingga memaksa Raja Byzantine menyerahkan Konstantinopel secara damai kepada umat Islam. Tetapi, usahanya itu menemui kegagalan karena tentara Mongol di bawah pimpinan Timurlank telah menyerang Daulah Khilafah ‘Utsmaniyyah dan telah memaksa Sultan Beyazid untuk menarik kembali tentaranya untuk mempertahankan daulah dari serangan Mongol. Namun, beliau telah ditawan. 
  6. Kemudian Sultan Murad II (824-863 H / 1421-1451 M) melanjurkan usaha menaklukkan Konstantinopel, namun tidak berhasil hingga tibalah masa putra beliau yakni, Sultan Muhammad Al-Fatih, sultan ke-7 Khilafah Daulah ‘Utsmaniyyah.

Sultan Muhammad Al-Fatih menaiki tahta kekhilafahan pada tahun 855 H / 1451 M, dan kekuatan beliau banyak terletak pada ketinggian akhlaknya. Ini karena atas keprihatinan ayahnya, semenjak kecil beliau telah di didik secara intensif oleh para ulama terkenal di zamannya. Diantara gurunya adalah Syaikh Ahmad bin Ismail Al-Kurani (w. 893H), ulama yang disebut oleh Sultan al-Fatih sebagai "Abu Hanifah di Zamannya". Beliau juga mempunyai hubungan yang baik dengan para ulama lain diantaranya ;
  1. Seorang Syaikh Thariqat Naqsyabandiyyah yakni al-Mulla 'Abdur Rahman al-Jami (w. 898 H), 
  2. Seorang pakar ilmu kalam, al-Qadhi Mustafa bin Yusuf yang masyhur dengan sebutan "Khawajah Zadah" (w. 893 H), yang telah menyusun kitab al-Tahafut atas perintah Sulthan al-Fatih, yakni kitab tentang kajian komperehensif antara kitab Tahafut al-Falasifah karya Imam al-Ghazali dan kitab Tahafut al-Hukama' karya Ibn Rusyd, 
  3. Seorang alim sufi, Syaikh Muhammad bin Hamzah yang masyhur dengan sebutan "Aq Syamsuddin" Ad-Dimasyqi Ar-Rumi, nasabnya bersambung kepada Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq radliyallah ‘anh.
Syaikh Aq Syamsuddin mengajar al-Fatih ilmu-ilmu pokok yakni Al-Qur'an, Hadits, Fiqh, Linguistik (Arab, Parsi dan Turki) dan juga disiplin ilmu yang lain seperti Matematika, Falak, Sejarah, Ilmu Peperangan dan sebagainya. Syaikh Aq Syamsuddin telah berfirasat bahwa al-Fatih adalah orang yang dimaksudkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam di dalam hadits tentang penaklukan Konstantinopel tersebut, lalu beliau memberikannya motivasi dan meyakinkannya. Ketika Al-Fatih menjadi Khalifah, Syaikh Aq Syamsuddin  segera menemui beliayu, kemudian menyiapkan bala tentara untuk menaklukkan Konstantinopel, demi merealisasikan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallaml

Peperangan dahsyat berlangsung selama 54 hari. Sultan Muhammad Al-Fatih sangat menyayangi Syaikh Aq Syamsuddin dan mempunyai kedudukan yang istimewa pada diri baginda dan ini sangat jelas dinyatakan oleh beliau ketika futuhat Istanbul,
"...Sesungguhnya kalian melihat aku sangat gembira. Kegembiraanku ini bukanlah semata-mata karena keberhasilan menaklukkan kota ini, akan tetapi adalah karena hadirnya di sisiku Syaikh ku yang mulia, dialah pendidikku, Syaikh Aq Syamsuddin."
Sebagaimana yang diketahui, kebanyakan ulama dalam Khilafah 'Utsmaniyyah adalah bermadzhab Maturidiyyah dari segi akidah, bermazhab Hanafi dari segi fiqh dan merupakan ahli tasawuf. Didikan dan bimbingan yang diterima oleh Sultan Muhammad al-Fatih dari para ulama inilah yang merupakan rahasia kekuatan dan keberhasilan beliau. Sehingga Nabi shallalahu ‘alayhi wa sallam memberitakan tentang diri beliau serta memujinya ratusan tahun sebelum kemunculannya.

Fakta ini mungkin menyebabkan kumpulan "tajdid"  yang membenci aliran tradisi merasa kurang senang. Maka kadang cara membantahnya mereka adalah mengatakan bahwa hadits ini adalah dla'if ! Bagaimana mereka bisa membantah jika banyak ulama yang menyatakan bahwa hadits tersebut tsabit dari Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam.

HIKMAH YANG BISA DIPETIK :
  • Untuk menjadi pribadi yang tangguh diperlukan ketekunan dalam menuntut ilmu, kepribadian yang berakhlak serta penguasaan berbagai disiplin ilmu yang bermanfaat. 
  • Bagaimana pun ‘ulama adalah kekuatan umat Islam, mereka adalah pewaris Nabi yang seharusnya berada di garda terdepan dalam membawa kejayaan Islam, dalam mendidik generasi muda menjadi pemuda yang berpribadian Islam. Sebab bagaimana pun semangat seorang pemuda tanpa bimbingan ulaman niscaya akan tersesat dan salah arah. 
  • Tidak selayaknya umat Islam mencela kaum Sufi yang lurus, Ahli Kalam yang lurus, serta thariqat-thariqat lain, sebab kebanyakan merekalah yang banyak memperjuangkan Islam. Maka sangat disayangkan kaum pencela yang gencar dimasa kini yang banyak mencela sufi. 
  • Demikian juga tidak sepatutnya mencela Aqidah Maturidiyah yang merupakan aqidah ahlussunnah, juga Asy’ariyah yang banyak di pegang oleh mayoritas umat Islam. Sebab Maturidi lah aqidah al-Fatih dan Asy’ariyah aqidah Shalahuddin al-Ayyubi. Kenapa kalian cela wahai pencela ?!! 
  • Pemuda-pemudi Islam hendaknya menyibukkan diri dengan ilmu tanpa meninggalkan akhlakul karimah, dan berhati-hati dalam menuntut ilmu yakni kenali ahlussunnah wal jama’ah dengan benar, agar tidak keliru. 
Disalin dari tulisan Al-Ustadz Muhammad Khafidz bin Soron, dengan beberapa penambahan dan penyesuaian.

Wallahu A’lam.
http://www.darulfatwa.org.au/content/view/998/301/
http://www.khairaummah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=232&Itemid=107
http://al7ewar.net/forum/showthread.php?t=984
http://cb.rayaheen.net/showthread.php?tid=5246
http://cb.rayaheen.net/showthread.php?tid=4825
http://sawanih.blogspot.com/2009/12/kekuatan-di-sebalik-peribadi-sultan-al.html

Media Islam

Thariqat Sarkubiyah

NU Online