Latest Updates
Tampilkan postingan dengan label Buku Menarik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Menarik. Tampilkan semua postingan

SMS ABU-ABU, SALAFI MELAWAN SALAFI ; Pertentangan Fatwa Ulama Wahabi, (Al Albani- Bin Baz- Utsaimin)

SMS ABU-ABU, SALAFI MELAWAN SALAFI ; Pertentangan Fatwa Ulama Wahabi, (Al Albani- Bin Baz- Utsaimin)


Munculnya sekelompok orang yang menamakan dirinya Salafi - orang menyebutnya Wahabi - tiba-tiba berdatangan di neger ini. Kedatangan mereka telah mengubah suasana kaum muslimin. Dibeberapa daerah, umat yang semula hidup damai dan tenang berubah menjadi tegang. Pada sebagian mereka bahkan terjadi perseteruan hingga berujung pada bentrok fisik dan perebutan tempat ibadah. Penyebab utamanya -ya itu tadi - beredarnya buku-buku dan berkumandangnya ceramah-ceramah dari kelompok yang dikenal dengan sebutan “Abu-Abu” karena salah satu cirinya mereka menggunakan kata tersebut ketika menyebut namanya. Mereka memang selalu menebarkan kebencian dikalangan kaum muslimin dengan menuduh kaum muslimin Indonesia khususnya dan mayoritas Ummat Islam pada Umumnya sebagai para pelaku kemusyrikan, ahli bid’ah dan pengamal kesesatan. Seakan menjadi motto mereka, setiap kali memulai ceramah, mereka selalu menggunakan mukaddimah hadis-hadis yang menyebutkan tercelanya bid’ah. Setelah itu pada umumnya mereka akan membicarakan masalah bid’ah yang pada akhirnya sampai pada pembicaraan bahwa : membaca ushalli, qunut Subuh, Selmatan kematian, Ziarah Kubur, Shalat Tasbih, memuliakan malam nisfu sa’ban, berdo’a dengan tawassul, Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra’ Mi’raj dan sejenisnya adalah bid’ah dhallah, sesat dan menyesatkan serta pelakunya pasti masuk neraka.
 
Para pembicara atau penulis tersebut tampil seolah-olah ulama besar bahkan mujtahid yang memiliki segudang ilmu sekaligus otoritas menetapkan sesat dan tidak sesat, bid’ah dan sunnahnya amaliah. Ummat tentu saja tidak tahu, bahwa sebenarnya apa yang mereka kemukakan bukan sama sekali hasil kajian atau ijtihad mereka, melainkan taklid buta kepada beberapa ulama Timur Tengah terutama Saudi Arabia. Mereka yang menjadi rujukan kaum yang oleh para Ulama disebut kaum Wahhabi itu pada umumnya merupakan pengikut tiga orang syaikh; Syekh Muhammad Nasirudin Al Albani, Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dan Syekh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Ada memang satu syekh lagi yang juga memiliki pengikut di negeri ini yaitu Syekh Muqbil bin Hadi Al Madkhali dari Shan’a Yaman. namun orang ini pengikutnya tidak seberapa jika dibandingkan tiga orang di atas.
 
kaum muslimin Indonesia juga tidak tahu bagaimana sebenarnya mereka itu. Bagi yang rajin membaca kitab-kitab karya mereka niscaya akan terkejut dan kebingungan, sebab ternyata di antara mereka sendiri terdapat banyak pertentangan. bagaimana ini terjadi, padahal ketiganya mengaku sebagai Ahlussunnah waljama’ah dan pengkut madzhab Imam Ahmad bin hambali.
 
Dengan harapan memberi guna kepada segenap kaum muslimin Indonesia yang selama ini menjadi sasaran tembak maka buku ini disusun. Sekedar untuk mengingatkan orang-orang yang selalu merasa lebih suci dari yang lain dan mengingatkan kaum muslimin Indonesia. Tulisan dalam buku ini berisi berbagai pertentangan anatara tiga ulama tersebut dalam fatwa-fatwanya. Sebenarnya pertetangan itu sangat banyak namun sekedar sebagai contoh, rasanya empat puluh saja sudah mencukupi.
 
Semoga dengan ini kaum muslimin Indonesia berhati-hati dan sekaligus semaqin yaqin akan kebenaran ajaran nenek moyang mereka, Wali Songo dan para ulama lainnya.
 
Buku inipun tidak dimaksudkan untuk merendahkan ketiga ulama tersebut, sebab bagaimanapun kita semua mendapat manfaat dari karya-karyanya.
 
Buku inipun ditujukan kepada mereka orang-orang awam yang mudah terpesona dan latah dengan hal-hal baru.
 
Buku inipun ditujukan kepada mereka orang-orang yang mengklaim diri sebagai salafi, pengikut ulama salaf yang sejatinya pengikut para syaikh tadi.
 
KOMENTAR PROF. DR. H. NASARUDDIN UMAR, MA (Dirjen BIMAS ISLAM KEMENAG RI dan Rektor Institut PTIQ Jakarta) tentang buku ini.........
Buku yang ada ditangan anda ini merupakan sumbangsih yang tak terhingga dalam memperkaya peta dialektika pemikiran, terutama di kalangan Wahhabi. Buku ini memberikan gambaran wilayah-wilayah yang masih krusial untuk diperdebatkan dan menjadi isu yang layak untuk dikaji saat ini..
 
Penulis : KH. Syarif Rahmat RA, SQ, MA
Penerbit : SABILA PRESS UMMUL QURA
Berisi : 40 masalah yang menjadi pertentangan
Jumlah halaman : 190
Cetakan Kedua , Desember 2009

http://ummulqura.sch.id/berita-136-sms-abuabu-salafi-melawan-salafi--pertentangan-fatwa-ulama-wahabi-al-albani-bin-baz-utsaimin.html

Download Tarjemah Kitab Klasik Daf'u Syubah al-Tasybih bi-Akaffi al-Tanzih (دفع شبه التشبيه بأكف التنزيه) karya Imam al-Hafidz Abul Faraj Abdurrahman bin al-Jauzi al-Hanbali (Imam Ibnul Jauzi)


Al-Imâm al-Hâfizh al-‘Allâmah Abul Faraj Abdurrahman bin Ali bin al-Jawzi as-Shiddiqi al-Bakri berkata:

“Ketahuilah --semoga petunjuk Allah selalu tercurah bagi anda--, bahwa aku telah meneliti madzhab Hanbali yang telah dirintis oleh Imam Ahmad bin Hanbal, aku mendapati bahwa beliau adalah sosok yang sangat kompeten dalam berbagai disiplin ilmu agama, beliau telah mencapai puncak keilmuan dalam bidang fiqih dan dalam pendapat madzhab-madzhab terdahulu, hingga tidak ada suatu permasalahan sekecil apapun kecuali beliau telah menuliskan penjelasan atau catatan untuk itu, hanya saja metodologi yang dipakainya murni seperti para ulama Salaf sebelumnya; yang karenanya beliau tidak menulis kecuali hanya teks-teks yang benar-benar telah turun-temurun hingga ke generasinya (al Manqûlât).
Karena itu aku melihat madzhab Hanbali ini tidak memiliki karya-karya yang padahal jenis karya-karya semacam itu sangat banyak ditulis oleh musuh-musuh mereka. Lalu untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka aku menulis beberapa kitab tafsir yang cukup besar, di antaranya; al-Mughnî dalam beberapa jilid, Zâd al-Masîr, Tadzkirah al-Arîb, dan lainnya. Dalam bidang hadits aku menuliskan beberapa kitab, di antaranya; Jâmi al-Masânîd, al-Hadâ-iq, Naqiy an-Naql, dan kitab yang cukup banyak dalam al-Jarh Wa at-Ta’dîl.

Aku juga mendapati madzhab Hanbali ini tidak memiliki catatan-catatan tambahan (ta’lîqât) terhadap karya-karya terdahulu dalam masalah-masalah khilâfiyyah, kecuali ada satu orang saja, yaitu al-Qâdlî Abu Ya’la yang dalam hal ini ia berkata: “Aku selalu mengutip berbagai pendapat dari orang-orang luar madzhab Hanbali yang biasa menyebutkan berbagai pendapat dalam madzhab mereka masing-masing ketika mereka berdebat dengan lawan-lawan mereka, namun sedikitpun mereka tidak pernah menyinggung pendapat dalam madzhab Hanbali. Aku akui di hadapan mereka, memang benar kami dalam madzhab Hanbali tidak memiliki ta’lîq dalam masalah-masalah Fiqih. Oleh karena itu maka aku menuliskan beberapa ta’lîq”.
 
Begitulah ungkapan keprihatinan Imam Ibnul Jauzi terhadap perjalanan Madzhab Hanbali yang beliau tuliskan didalam muqaddimah kitab Da'fu Syubah al-Tasybih bi-Akaffi al-Tanzih (دفع شبه التشبيه بأكف التنزيه) yakni salah satu karya monumental beliau dalam bidang aqidah. Kitab ini memaparkan kesesatan-kesesatan aqidah tasybih ( menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta'alaa dengan makhluk) yang sangat penting untuk dibaca dan disebarkan guna menghalau kelompok-kelompok yang mempropagandakan aqidah tasybih seperti sekte Wahhabiyah dan semisalnya mereka.

Didalam kitab ini ebook ini juga terdapat beberapa muqaddimah dari penterjemah yakni H. Kholil Abou Fateh Lc. Biodata beliau juga ada didalam ebook ini. Semoga bermanfaat.

DOWNLOAD KITAB DAF'U SYUBAH AT-TASYBIH


TARJEMAH FORMAT CHM :  
KITAB BAHASA ARAB (PDF) : 
Kitab-kitab lainnya maupun ebook-ebook Islami lainnya bisa didownload di link berikut ini http://ashhabur-royi.blogspot.com/2011/04/download-ebook-gratis-kumpulan-bahtsul.html . Semoga bermanfaat. Amin.

    Ebook Islami Gratis : Kumpulan Bahtsul Masail, Kitab-Kitab Klasik Terjemah dan Risalah-Risalah Diniyyah

    Ebook Islami Gratis : Kumpulan Bahtsul Masail, Kitab-Kitab Klasik Terjemah dan Risalah-Risalah Diniyyah
    Beberapa ebook ini merupakan file yang kami dapati beberapa situs Islami. Dalam menyajikan ebook-ebook ini, kami juga menyertakan ebook yang berbahasa arab agar bisa sama-sama di download. Adapun untuk membuka file-file ebook yang ada bisa menggunakan software berikut :
      Membuka format .pdf dengan Adobe Reader [Download].

  • Membuka format .djvu dengan WinDJView [Download].
  • Membuka format .rar dengan WinRar [Download].
  • Membuka format .bok dengan EShamelaa [Download].
  • Membuka format .chm dengan (langsung di buka aja)
  • Membuka format .exe dengan (langsung di buka saja)

  • ASHHABUR RO'YI PRESS


    1. KUMPULAN BAHTSUL MASAAIL 
    2. ASH-SHALAH ‘ALAA MADZHIBIL ARBA’AH, karya Syaikh Abdul Qadir Ar Rahbawi. Sebuah kitab yang mampu mengurai beberapa perbedaan shalat 4 madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali).
    3. SAFINATUN NAJAA fiy Ushul al-Diin wa al-Fiqh ‘alaa Madzhab Imam asy-Syafi’i, karya ulama madzhab Syafi’iyyah yakni Syaikh al-‘Alim al-Fadlil Salim bin Samir al-Hadlrami. Merupakan kitab fiqh dasar yang masyhur yang diperuntukkan bagi pemula dan kitab ini tersebar hingga ke lini paling bawah.
    4. TAHLILAN MENURUT MADZHAB IMAM SYAFI'I, disusun oleh "Ashhabur Ro'Yi Press", yang mana didalamnya mengurai tentang amaliyah-amaliyah yang ada dialam tahlilan seperti shadaqah atas nama mayyit, membaca al-Qur'an untuk mayyit hingga permasalah diantara pendapat-pendapat ulama, termasuk dari ulama kalangan Wahhabiyah.
    5. KIMIA KEBAHAGIAN (KIMIYA-U AL SA'ADAH), dikarang oleh Imam Ghazali. Ebook ini mengajak kita untuk lebih mengenal hakikat diri kita, Allah Ta'alaa, alam dunia, akhirat hingga bagaimana memenejemen cinta kepada Allah.
    6. KUMPULAN ARTIKEL DINIYYAH NU ONLINE. Ebook ini berisi tentang artikel-artikel yang ada di Situs Resmi PBNU : http://www.nu.or.id terkait masalah ubudiyyah, syariah, khutbah, tokoh hingga humor.
    7. SERI RISALAH-RISALAH DINIYYAH : merupakan ebook-ebook dalam format CHM yang berisi tentang risalah-risalah keagamaan. Dikompilan oleh "AR Press".
    • Download : Risalah Amaliyah Nahdliyah - Tiga Lembaga NU Malang
    • Download : 77 Cabang Iman dan Perinciannya - Syaikh Nawawi
    • Download : Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan Ijtihad 
    • Download : Ayat Mutasyabihat dan Kritik Terhadap  Peringkatnya
    • Download : Dialektika Gaya Bahasa Al-Qur'an
    • Download : Eksistensi Ruh Dalam Tinjauan Ulama Islam
    • Download : Hadits Kontradiktif dan Solusinya
    • Download : Riwayat Perjuangan Jam'iyyah Nahdlatul Ulama'
    • Download : Tanya Jawab Bersama KH. Bisri Musthofa
    • Download : Mutiara Hikmah Buya Yahya
    8. FIQHUL AKBAR, karya Imam Abu Hanifah (150 H)
    9. FIQHUL AKBAR, karya Imam al-Syafi'i (204 H). Selain Imam Abu Hanifah, Imam Asy-Syafi'i pun memiliki kitab yang berjudul sama yakni Fiqhul Akbar.
    10. HAULAL IHTIFAL BIDZIKRI MAULIDIN NABAWI ASY-SYARIF, karya Al-'Allamah As-Sayyid Muhammad bin 'Alawi Al Maliki Al Hasani. Kitab ulama Malikiyyah yang memaparkan dengan gamblang tentang dalil-dalil kebolehan merayakan Maulid Nabi al-Syarif.
    11. NASEHAT INDAH ADZ-DZAHABI KEPADA IBNU TAIMIYYAH. Risalah seorang murid yang berusaha menasehati gurunya dengan tetap menjaga rasat hormat kepada sang guru.
    12. AD-DURARUS SANIYYAH FIY BAYAANIL MAQALAATI AS-SUNNIYYAH. Ebook ini merupakan kumpulan artikel-artikel yang di tulis oleh H. Kholilurrahman Abu Fateh, Lc. MA, yang di kompilasi ulang dari ebook "Masaail Diniyyah" dengan beberapa penambahan artikel-artikel lainnya.
    13. DAF'U SYUBAH AT-TASYBIH BI-AKAFF AT-TANZIH. Kitab bidang aqidah karya pembesar Hanabilah (Ulama Madzhab Hanbali) yang bernama al-Imam al-Hafidz Abul Faraj Abdirrahman bin al-Jauzi al-Hanbali.
          EBOOK DARI REKAN "AR PRESS"
            1. RISALAH FIQH WANITA : disusun oleh Tim Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah [KTB] yakni sebuah group fb yang di terdiri dari beberapa santri dan para simpatisan.
            2. MENYINGKAP TIPU DAYA DAN FITNAH KEJI FATWA SALAFY WAHHABI, diterbitkan oleh Majelis Ta'lim dan Rubath Darul Mukhtar (http://www.daarulmukhtar.org). Berisi tentang penjelasan tentang bid'ah, bukti-bukti kekejian fitnah yang di lontarkan oleh kalangan "salafy" hingga pelurusahan hal-hal yag telah di salah pahami.
            3. ’UQUD AL-LUJAIN FIY BAYAANI HUQUQ AL-ZAUJAIN, karya Syaikh Muhammad Nawawi bin 'Umar al-Jawi al-Bantani al-Syafi'i. Dalam kitab ini beliau rohimahulloh mengulas hak dan kewajiban suami istri dalam membina rumah tangga. Berikut pokok bahasan kitab 'Uqud al-Lujain: hak-hak seorang istri (kewajiban suami, hak-hak suami (kewajiban istri), keutamaan sholat di rumah bagi wanita, larangan melihat lawan jenis yang bukan mahrom dan kepribadian sebagian perempuan
            4. KASYFUL ASTAAR, karangan Al Fadlil Al 'Allamah Muhammad Nur Al Bughis. Kitab menguraikan berbagai pemasalahan terkait dengan kegiatan tahlilan dengan berdasarkan hadits-hadits Nabi dan komentar ulama.
            5. ALLAH ADA TANPA TEMPAT, dikarang oleh H. Kholilurrohman Abu Fateh, Lc, MA. Ebook ini sanga tuntuk dibaca  bagus guna membendung aqidah tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk) yang akhir-akhir ini mulai gencar dipropagandakan beberapa kalangan. Dalam ebook ini juga disertakan komentar para imam madzhab baik dari salaf maupun khalaf, baik dari fuhaqa hingga ahli hadits serta beberapa bantahan.
            6. KOMPILASI ARTIKEL "ISLAM DENGAN SUNNAH DAN BID'AH HASANAH", merupakan sebuah ebook yang diterbitkan oleh sebuah group fb bernama "Islam dengan Sunnah dan Bid'ah Hasanah" yang didalamnya berisi tentang  artikel-artikel yang di kompilasi dan di tulis oleh beberapa adminnya.
            7. DALIL-DALIL AMALIYAH WARGA NAHDLIYIN, disusun oleh al-Ustadz Imam an-Nawawi. Ebook mengupas tuntas seluruh amalan yang selama ini masyhur dilingkungan warga Nahdliyin baik terkait tahlilan, maulidan dan lain sebagainya.
            8. RIWAYAT IMAM 'ALI KARRAMALLAH WAJHAH. Ebook berisi biografi dan riwayat Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib yang di kompilasi dari situs Al Bayyinat oleh al-Ustadz Luqman Firmansyah.
            9. TANYA JAWAB BERSAMA KH. BISHRI MUSTHAFA. Dikompilasi oleh al-Ustadz Luqman Firmansyah. Tanya jawab ini meliputi tentang madzhab Syafi'i, adzan Jum'at dua kali, shalat Tarawih, Tahlilan, bid'ah, talqin mayyit hingga hukum membaca manaqib. Juga disertai dengan biografi KH. Bishri Musthafa.
            10. RISALATUL MAHIDL ; Mengurai problematika darah wanita yakni tentang haidl , nifas dan istihadlah. Dikarang oleh Ahmad Syadzirin Amin. Buku ini sangat penting bagi wanita supaya mengerti mengenai permasalahan yang ada pada diri mereka.
             KUMPULAN EBOOK LAINNYA

            1. TAFSIR AL-JALALAIN, karya ulama madzhab Syafi’iyyah yakni Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Mahalli (w 864 H) dan Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakr As-Suyuthi (w 911 H). 
            2. TAFSIRUL QUR’AN AL-‘ADHIIM, karya seorang ulama madzhab Syafi’iyyah yakni Abul Fida’ Isma’il bin Umar bin Katsir al-Bashri al-Dimasyqi al-Syafi’i (w 774 H), atau lebih dikenal dengan Imam Ibnu Katsir.
            • Tarjemah bahasa Indonesia : 
            1. Tafsir Al Qur'an al 'Adhim Juz 1 [.pdf] ; 
            2. Tafsir Al Qur'an al 'Adhim Juz 2 [.pdf] ;
            3. Tafsir Al Qur'an al 'Adhim Juz 3 [.pdf] ; 
            4. Tafsir Al Qur'an al 'Adhim Juz 4 [.djvu] ;
            5. Tafsir Al Qur'an al 'Adhim Juz 5 [.djvu] ; 
            6. Tafsir Al Qur'an al 'Adhim Juz 6 [.pdf] ; 
            7. Tafsir Al Qur'an al 'Adhim Juz 7 [.djvu] ;
            8. Tafsir Al Qur'an al 'Adhim Juz 8 [.djvu] ; 
            9. Tafsir Al Qur'an al 'Adhim Juz 9 [.pdf] ;
            10. Tafsir Al Qur'an al 'Adhim Juz 10 [.djvu] ;
            11. Tafsir Al Qur'an al 'Adhim Juz 11 [.djvu] ;
            12. Tafsir Al Qur'an al 'Adhim Juz 12 [.djvu] ; *
            13. Tafsir Al Qur'an al 'Adhim Juz 13 [.djvu] ; 
            14. Tafsir Al Qur'an al 'Adhim Juz 14 [.djvu] ; 
            15. Tafsir Al Qur'an al 'Adhim Juz 15 [.djvu] ;
            16. Tafsir Al Qur'an al 'Adhim Juz 16 [.djvu] ; *
            17. Tafsir Al Qur'an al 'Adhim Juz 17 [.djvu] ; *
            18. Tafsir Al Qur'an al 'Adhim Juz 18 [.djvu] ; * (Tidak Lengkap)

            26. Tafsir Al Qur'an al 'Adhim Juz 26  [.djvu] ; *
            27. Tafsir Al Qur'an al 'Adhim Juz 27  [.djvu] ; *
            28. Tafsir Al Qur'an al 'Adhim Juz 28  [.djvu] ; *
            29. Tafsir Al Qur'an al 'Adhim Juz 29  [.djvu] ; *
            30. Tafsir Al Qur'an al 'Adhim Juz 30  [.djvu] ; * (Tidak Lengkap)
            * kitab tarjemah ini dikompilasi dari beberapa situs yang memuat tarjemahan kitab tafsir karya ulama syari'iyyah ini namun sumber primernya adalah situs shirathalmustaqim.wordoress dan kampungsunah.org.
              3. RIYADLUSH SHALIHIN, karya ulama madzhab Syafi’iyyah yakni Abu Zakariyya Muhyiddin Yahya bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi, atau masyhur dengan sebutan Imam an-Nawawi (w 676 H).
              4. ASY-SYAMAAIL MUHAMMADIYAH, karya Abu ‘Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin adl-Dlahak at-Turmidzi, atau lebih dikenal dengan sebutan Imam At-Turmizi (w 279 H).
              6. SIRRUL ASRAR, karya Syaikh Abdul Qadir Al Jailani
              7. AL-I’TISHAM, karya ulama madzhab Malikiyah yakni Abu Ishaq Ibrahim bin Musa bin Muhammad al-Lakhmi al-Gharnathi, yang masyhur dengan sebutan Imam Al-Syathibi (w 790 H). Kitab yang memaparkan pembahasan bid'ah dengan sangat ketat.
              8. AL-MUNQIDZ MINADL DLALAL wa al Wushil Ilaa Dzi al-‘Izzah wal Jalal, karya ulama madzhab Syafi’iyyah yakni Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi, atau dikenal dengan Imam Ghazali (w 505 H). 
              9. AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH, disusun oleh Tim Litbang Syahamah dan di terbitkan oleh SYAHAMAH PRESS. Syahamah sendiri merupakan singkatan dari Syabab Ahlu Sunnah wal Jama'ah. Ebook ini memaparkan tentang perspektif aqidah Ahlu Sunnah wal Jama'ah dengan disertai beberapa komentar (pengantar) ulama Ahl Sunnah terkemuka.
              10. NAHJUH BALAGHAH (JALAN MENUJU KEFASHIHAN). Kitab ini di susun oleh Sayyid Syarif Ar Ridlo (w 406 H). Berisi kumpulan-kumpulan khutbah, surat-surat dan kalam hikmah Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib. Pendapat lain mengatakan bahwa kitab ini di karang oleh kakak dari Syarif Ridlo yakni Syarif Al Murtadho. Oleh karena itu, Ahlu Sunnah tidak mengakui bahwa isi kitab ini berasal dari Sayyidina 'Ali walaupun mungkin memang didalamnya ada yang benar, hingga ulama lainnya mengatakan bahwa kitab ini merupakan kitab golongan Syi'ah. Kalangan Habaib pun dengan tegas mengatakan bahwa kitab ini adalah kitab Syi'ah. Oleh karena itu sebelum mendownload ini, download terlebih dahulu Biografi Imam 'Ali diatas.
              11. KAMUS AL MUNAWWIR. Kamus ini merupakan kamus Arab Indonesia terlengkap yang disusun oleh  Ahmad Warson Munawwir dan juga menjadi pegangan kalangan pelajar hingga kalangan pesantren.
              12. AL-KABAIR (DOSA-DOSA BESAR). Karya ulama Syafi'iyyah yang bernama Syamsuddin Muhammad bin Utsman bin Qaimaz At-Turkmaniy al-Fariqy ad-Dimasyqi atau lebih dikenal dengan sebutan Imam Adz-Dzahabi (shahibu Siyar A'lamin Nubalaa'). Didalam kitab ini dipaparkan macam-macam dosa besar menurut perspektif Adz-Dzahabi.
              13. ILAA KULLI FATAATIN TU'MINU BILLAH. Karya Syaikh Sa'id Ramadhan Al Buthi. Sebuah kitab risalah terkait permasalahan-permasalahan yang ada pada wanita terkait hukum Islam.
              14. KITAB SYAIKH YUSUF AL QARDLAWI. Ebook ini berisi tentang beberapa kitab dan fatwa-fatwa Syaikh Yusul Al Qaradlawi yang telah di tarjemahkan ke bahasa Indonesia.
              15. IRSYADUL ANAM FIY TARJAMATI ARKANIL ISLAM. Karya Al-Habib Utsman bin Abdullah bin 'Aqil bin Yahya Al 'Alawi al-Husaini. Kitab ini merupakan kitab Fiqh yang sangat mudah di pahami dan telah di terjemahkan.
              16. AR-RA'ATUL GHAMIDLAH FI NAQSHI KALAMI AR-RAFIDLAH. Karya Al Habib Salim bin Ahmad bin Jindan. Merupakan kitab yang berisi penjelasan tentang apa dan siapa Syi'ah Rafidlah serta bagaimana sikap Ahl Sunnah terhadap mereka. Setelah kitab ini di tarjemahkan, kemudian di beri judul "Fatwa Isu Penting - Putusan UIama Indonesia".
              17. ASWAJA AN-NAHDLIYAH - Ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah yang berlaku di Lingkungan Nahdlatul 'Ulama. Sebuah buku yang diperuntukkan sebagai bacaan warga Nahdliyin dan dimaksuddkan agar menjadi referensi dan rujukan. Adapun isinya terdiri dari aqidah, syari'ah, tashawuf, tradisi dan budaya serta masalah kebangsaan.
              18. MATAN AQIDATUL 'AWAM, karya Syaikh As-Sayyid Ahmad al-Marzuqiy al-Maliki al-Makki. Merupakan kitab yang berisi syair-syair (nadham) tentang Tauhid.
              19. WEJANGAN SYAIKH ABDUL QADIR AL-JAILANI, ebook ini di kompilasi oleh Zainal M Anies yang berisi tentang nasehat-nasehat dan kalam-kalam hikmah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.
              20. TELA'AH KRITIS DOKTRIN DAN PAHAM SALAFI-WAHHABI, karya A Shihabuddin. Ebook ini mengulas berbagai amal-amal yang di permasalahakan oleh kalangan Wahhabiyah.
              21. AT-TIBYAN FIY ADABI HAMALATIL QUR'AN, karya ulama Syafi'iyyah yang bernama Imam Abu Zakariyya Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi, yang masyhur dengan sebutan Imam An-Nawawi.
              22. JAWAHIRUL KALAMIYYAH FIY IYDLAH AL-'AQIDAH AL-ISLAMIYAH. Kitab tauhid ini dikarang oleh Syaikh al-'Allamah Thahir bin  Shalih Al-Jaza-iriy.
              23. AQIDAH : SIFAT DUA PULUH, karya Al-Habib Utsman bin Abdullah bin 'Aqil bin Yahya.
              24. KENALILAH AQIDAHMU, karya Al-'Arif Billah al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa.

                            ** Walaupun kami menyajikan kitab-kitab atau ebook-ebook ini, namun kami hanya sebatas mengumpulkan sebagaimana diatas. Adapun mengenai isinya maka silahkan ambil yang sekiranya memang baik dan semoga bermanfaat. Amin Allahumma Amin.
                            *** Up to date, InsyaAllah.

                            Download Ebook Islami ; Fikih Shalat 4 Madzhab karya Abdul Qadir Ar-Rahbawi


                            FIKIH SHALAT 4 MADZHAB merupakan buku yang ditarjemahkan dari kitab berjudul al-Shalah 'alaa Madzahibil Araba'ah karya Syaikh Abdul Qadir al-Rahbawi.

                            Kitab ini menyajikan perbandingan shalat 4 madzhab dengan sangat menarik, lugas dan mudah dipahami oleh semua kalangan, juga disertai dengan dalil-dalil yang dijadikan sandaran didalamnya. Diharapkan dengan ini bisa saling memahami perbedaan yang ada diantara madzhab-madzhab Islam, sehingga dengan begitu tidak perlu adanya pecah belah diantara kaum Muslimin.

                            EBOOK [EDISI DOWNLOAD PERTAMA - TIDAK LENGKAP] ini tidak mencantumkan seluruh isi buku, namun hanya mencantumkan beberapa hal yang terkait dengan shalat mulai dari syarat hingga hal-hal yang membatalkan shalat (Tidak Lengkap). karena hanya menyoroti hal-hal yang dianggap bagian vital yang memang nampak terjadi gesekan dalam prakteknya. Berikut isi yang ada didalam ebook ini (hal. 188-259) :
                            • Syarat Wajib Shalat
                            • Beberapa Shalat Yang Di Fardlukan
                            • Waktu-Waktu Shalat
                            • Waktu-Waktu Yang Haram Mengerjakan Shalat
                            • Waktu-Waktu Yang Makruh Mengerjakan Shalat
                            • Syarat Sah Shalat
                            • Fardlu-Fardlu Shalat
                            • Sunnah-Sunnah Shalat
                            • Hal-Hal Yang Makruh Dalam Shalat
                            • Hal-Hal Yang Membatalkan Shalat
                            • Shalat Bagi Orang Sakit
                            Download file dalam bentuk PDF :
                            "Mempelajari hukum-hukum sholat adalah fardhu 'ain bagi setiap muslim. Sebab, dengan mengetahuinya, dia dapat mendirikan sholatnya dengan benar, khusyu' dan sempurna. Sementara jika sholatnya kurang sempurna atau rusak salah satu syarat dan rukunnya, dan tidak sesuai dengan contoh dari Rasulullah, maka sholat tersebut tertolak dan tidak akan diterima oleh Allah. Ironisnya, umat islam dewasa ini banyak yang tidak memahami bagaimana tata cara sholat yang benar sebagaimana dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW. Mereka sekadar sholat tanpa mengetahui dasar-dasar hukumnya. Bahkan, karena ketidakpahaman mereka tentang hukum-hukum sholat, ada yang berani menyalahkan kaum muslimin yang lain yang berbeda tata cara sholatnya. 

                            Dalam melaksanakan ibadah, tak terkecuali sholat, kaum muslimin banyak mengikuti empat madzhab yang besar, yaitu Hanafi, Maliki, syafi'i dan Hanbali. Seringkali perselisihan timbul diantara kaum Muslimin di berbagai masjid, disebabkan karena perbedaan madzhab. Contohnya mengenai membaca do'a qunut ketika sholat subuh, sebagian ada yang qunut dan sebagian lagi tidak qunut. Perbedaan itu mestinya dapat disikapi dengan baik dan penuh toleransi seandainya kaum Muslimin memahami agama Islam dengan benar.

                            Faktor-faktor diatas telah memotivasi Syaikh Abdul Qadir Ar-Rahbawi untuk menulis sebuah buku yang berjudul Ash-Shalatu 'ala al-Madzhahibi al-Arba'ah . [Rerensi Buku diambil dari Surau.net]

                              EBOOK FORMAT .DJVU [EDISI DOWNLOAD KEDUA - LENGKAP], memuat keseluruhan isi buku yang terdiri dari 262 halaman. Namun perlu di perhatikan : karena ebook ini di scan dari terbitan HIKAM PUSTAMA maka sesuai rekomendasi dari pihak penerbit buku yang telah kami konfirmasi via telp mengenai pembuatan dan penyebaran buku dlm format ebook ; maka bagi yang mendownload ebook ini, hanya diizinkan untuk dijadikan sebagai referensi pribadi.  Juga dianjurkan untuk membeli buku aslinya di toko yang menyediakan atau langsung menghubungi pihak HIKAM PUSTAKA yang beralamat di  Ngentak RT.03/08 No. 238 Baturento Banguntapan,  Bantul ~ Jogjakarta. Telp. (0274) 7455771). Fax. (0274) 488771.  HP. 0815 7025807. Email : hikmed-jogja@yahoo.com.
                              DAFTAR ISI FIQIH SHALAT 4 MADZHAB

                              Pengantar Penerbit
                              Daftar Isi
                              Biografi Empat Imam Madzhab
                              ·         - Imam Abu Hanifah
                              ·         - Imam Malik
                              ·         - Imam Syafi’i
                              ·         - Imam Ahmad bin Hanbal
                              Biografi Imam Perawi Hadits
                              ·         - Bukhari
                              ·         - Muslim
                              ·         - Abu Daud
                              ·        - Tirmidzi
                              ·        - Nasa’i
                              ·         - Ibnu Majah
                              Istilah Bahasa yang Digunakan Untuk Menerangkan Perawi Hadits
                              ·         - Sebab Terjadinya Perbedaan Pendapat Para Ulama
                              THAHARAH
                              ·         - Hukum Air Sumur
                              ·        - Hukum Air Sisa
                              ·         - Najis
                              ·         - Adab Buang Air dan Istinja’
                              ·         - Wudlu’
                              ·         - Mandi
                              ·         - Mengusap Khuff (Sepatu)
                              ·         - Tayammum dan Dalil yang Mensyariatkannya
                              ·         - Ketika tidak Ditemukan Alat Untuk Bersesuci (Air dan Debu)
                              ·         - Mengusap Jabiirah (Pembalut Luka)
                              HAIDL, NIFAS DAN ISTIHADLAH
                              ·         - Haidl
                              ·         - Nifas
                              ·         - Istihadlah
                              ADZAN
                              ·         - Sebab-Sebab Disyariatkannya Adzan
                              ·         - Syarat-Syarat Adzan
                              ·         - Sunnah-Sunnah Adzan
                              ·         - Iqamah
                              SHALAT
                              ·         - Syarat Wajib Shalat
                              ·         - Beberapa Shalat Yang Difardlukan
                              ·         - Waktu-Waktu Shalat
                              ·         - Waktu-Waktu Yang Haram Mengerjakan Shalat
                              ·         - Waktu-Waktu Yang Makruh Mengerjakan Shalat
                              ·         - Syarat Sahnya Shalat
                              ·         - Fardlu-Fardlu Shalat
                              ·         - Sunnah-Sunnah Shalat
                              ·         - Hal-Hal Yang Makruh dalam Shalat
                              ·         - Hal-Hal Yang Membatalkan Shalat
                              SHALAT BAGI ORANG SAKIT
                              SUNNAH SHALAT
                              ·         - Macam-Macam Shalat Sunnah
                              ·         - Shalat Witir
                              ·         - Qunut Nazilah
                              ·         - Shalat Tarawih
                              ·         - Shalat ‘Iidain (Dua Hari Raya)
                              ·         - Shalat Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan
                              ·         - Shalat Istisqa’
                              ·         - Shalat Dluha
                              ·         - Shalat Malam
                              SHALAT TAHIYYATUL MASJID
                              ·         - Shalat Sunnah Thaharah
                              ·         - Shalat Sunnah Istikharah
                              ·         - Shalat Hajat
                              ·         - Shalat Tasbih
                              SHALAT BERJAMA’AH
                              ·         - Syarat-Syarat Menjadi Imam
                              ·         - Syarat-Syarat Sahnya Shalat Bagi Makmum
                              ·         - Hal-Hal Yang Menggugurkan Shalat Berjama’ah
                              ·         - Hukum Masbuk Dalam Shalat
                              ·         - Penggantian Imam
                              ·         - Hal-Hal Yang Dianjurkan Bagi Imam
                              ·         - Kehadiran Seorang Wanita Dalam Shalat Berjama’ah
                              ·         - Kriteria Orang Yang lebih Berhak Menjadi Imam
                              SHALAT JUM’AT
                              ·         - Keutamaan Hari Jum’at
                              ·         - Hal-Hal Yang di Anjurkan Pada Hari Jum’at
                              ·         - Dalil Wajibnya Shalat Jum’at
                              ·         - Syarat Wajibnya Shalat Jum’at
                              ·         - Syarat Sahnya Shalat Jum’at
                              ·         - Syarat-Syarat Khutbah
                              ·         - Rukun-Rukun Khutbah
                              ·         - Sunnah-Sunnah Khutbah
                              ·         - Hal-hal Yang Makruh Dalam Khutbah
                              ·         - Hukum Masbuq Dalam Shalat Jum’at
                              ·         - Shalat Sunnah Rawatib Shalat Jum’at
                              SUJUD SAHWI
                              SUJUD TILAWAH
                              SUJUD TILAWAH
                              SHALAT BAGI MUSAFIR
                              ·         - Hukum Mengqashar Shalat
                              ·         - Syarat Sahnya Meringkas Shalat
                              ·         - Hal-Hal Yang Mengakibatkan Dilarangnya Mengqashar Shalat
                              SEPUTAR MENJAMA’ DUA SHALAT
                              ·         - Shalat Diatas Kendaraan
                              ·         - Mengganti Shalat Yang Terlewatkan
                              ·         - Udzur yang Menggugurkan Kewajiban Shalat
                              ·         - Udzur yang Menyebabkan Diperbolehkannya Mengakhirkan Shalat
                              ·         - Tatacara Mengqadla’ Shalat
                              SHALAT JENAZAH
                              ·         - Syarat-Syarat Shalat Jenazah
                              ·         - Rukun Shalat Jenazah
                              ·         - Sunnah-Sunnah Dalam Shalat Jenazah
                              ·         - Orang Yang Lebih Berhak Menjadi Imam Dalam Shalat Jenazah
                              DOWNLOAD (OPTIONAL) :
                              MEMBUKA FILE .DJVU
                              Bisa menggunakan WinDJView : [Download].





                              Tanda-Tanda Aliran Sesat Menurut Imam Asy-Syathibi Al-Maliki Al-Asy'ariy Al-Shufi

                              Tanda-Tanda Aliran Sesat Menurut Imam Asy-Syathibi Al-Maliki Al-Asy'ariy Al-Shufi

                              Bismillaahirrohmaanirrohiim

                              Pada beberapa waktu yang lalu, Majlis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang sesatnya aliran Ahmadiyah. Terdapat sekian banyak dalil yang diajukan oleh MUI sebagai bukti-bukti kesesatan Ahmadiyah. Dalam sebuah pertemuan di Surabaya saya mengemukakan bahwa aliran Wahhabi atau Salafi juga termasuk aliran sesat. Mendengar pernyataan ini salah seorang peserta diskusi mengajukan pertanyaan, apa bukti-bukti atau dalil-dalil kesesatan Wahhabi?

                              Menjawab pertanyaan tersebut, saya menjelaskan, bahwa al-Imam Abu Ishaq Asy-Syathibi telah menguraikan dalam kitabnya, al-I’tisham tentang tanda-tanda ahli bid’ah atau aliran sesat. Menurut beliau ada dua macam tanda-tanda aliran sesat. 

                              (1) tanda-tanda terperinci, yang telah diuraikan oleh para ulama dalam kitab-kitab yang menerangkan tentang sekte-sekte dalam Islam seperti al-Milal wa al-Nihal, al-Farq bayna al-Firaq dan lain-lain. 
                              (2) tanda-tanda umum. Menurut Asy-Syathibi, secara umum tanda-tanda aliran sesat itu ada tiga.

                              PERPECAHAN DAN PERCERAI-BERAIAN

                              Pertama, terjadinya perpecahan di antara mereka. Hal tersebut seperti telah diingatkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala: “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka”, (QS. 3 : 105). “Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat”, (QS. 5 : 64). Dalam hadits shahih, melalui Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah ridha pada kamu tiga perkara dan membenci tiga perkara. Allah ridha kamu menyembah-Nya dan janganlah kamu mempersekutukannya, kamu berpegang dengan tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai...”

                              Kemudian Asy-Syathibi mengutip pernyataan sebagian ulama, bahwa para sahabat banyak yang berbeda pendapat sepeninggal Nabi shallallahu alaihi wasallam, tetapi mereka tidak bercerai berai. Karena perbedaan mereka berkaitan dengan hal-hal yang masuk dalam konteks ijtihad dan istinbath dari al-Qur’an dan Sunnah dalam hukum-hukum yang tidak mereka temukan nash-nya.

                              Jadi, setiap persoalan yang timbul dalam Islam, lalu orang-orang berbeda pendapat mengenai hal tersebut dan perbedaan itu tidak menimbulkan permusuhan, kebencian dan perpecahan, maka kami meyakini bahwa persoalan tersebut masuk dalam koridor Islam. Sedangkan setiap persoalan yang timbul dalam Islam, lalu menyebabkan permusuhan, kebencian, saling membelakangi dan memutus hubungan, maka hal itu kami yakini bukan termasuk urusan agama. Persoalan tersebut berarti termasuk yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam menafsirkan ayat berikut ini. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada ‘Aisyah, “Wahai ‘Aisyah, siapa yang dimaksud dalam ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka”, (QS. 6 : 159)?” ‘Aisyah menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Mereka adalah golongan yang mengikuti hawa nafsu, ahli bid’ah dan aliran sesat dari umat ini.” Demikian uraian Asy-Syathibi.

                              Setelah menguraikan demikian, kemudian Asy-Syathibi mencontohkan dengan aliran Khawarij. Di mana Khawarij memecah belah umat Islam, dan bahkan sesama mereka juga terjadi perpecahan. Mereka sebenarnya yang dimaksud dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Mereka akan membunuh orang-orang Islam, tetapi membiarkan para penyembah berhala.”

                              Berkaitan dengan aliran Wahhabi, agaknya terdapat kemiripan antara Wahhabi dengan Khawarij, yaitu menjadi pemecah belah umat Islam dan bahkan sesama mereka juga terjadi perpecahan. Perpecahan sesama Wahhabi telah dibeberkan oleh Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad al-‘Abbad al-Badr, dosen di Jami’ah Islamiyah, Madinah al-Munawwaroh dalam bukunya, Rifqan Ahl al-Sunnah bi-Ahl al-Sunnah, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Mushri.

                              Ada kisah menarik berkaitan dengan perpecahan di kalangan Wahhabi. AD, salah seorang teman saya bercerita pengalaman pribadinya kepada saya. “Pada April 2010 saya mengikuti daurah (pelatihan) tentang aliran Syi’ah di Jakarta yang diadakan oleh salah satu ormas Islam di Indonesia. Daurah itu dilaksanakan di Gedung LPMP Jakarta Selatan dengan peserta dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Dalam daurah tersebut, salah seorang pemateri yang beraliran Salafi berkata, “Aliran Syi’ah itu pecah belah menjadi 300 aliran lebih. Antara yang satu dengan yang lain, saling membid’ahkan dan bahkan saling mengkafirkan. Jadi, itulah tanda-tanda ahli bid’ah, sesama kelompoknya saja saling membid’ahkan dan saling mengkafirkan. Kalau Ahlussunnah Wal-Jama’ah tidak demikian. Tidak saling membid’ahkan, apalagi saling mengkafirkan.” Demikian kata pemateri Salafi itu.

                              Setelah sesi dialog selesai, saya menghampiri pemateri Salafi tadi dan bertanya, “Ustadz, Anda tadi mengatakan bahwa tanda-tanda ahli bid’ah itu, sesama kelompoknya terjadi perpecahan, saling membid’ahkan dan saling mengkafirkan. Sedangkan Ahlussunnah Wal-Jama’ah tidak demikian. Ustadz, saya sekarang bertanya, siapa yang dimaksud Ahlussunnah Wal-Jama’ah menurut Ustadz? Bukankah sesama ulama Salafi di Timur Tengah yang mengklaim Ahlussunnah Wal-Jama’ah, juga terjadi perpecahan, saling membid’ahkan dan bahkan saling mengkafirkan.

                              Misalnya
                              • Abdul Muhsin al-’Abbad dari Madinah menganggap al-Albani berfaham Murji’ah. 
                              • Hamud al-Tuwaijiri dari Riyadh menilai al-Albani telah mulhid (tersesat). 
                              • Al-Albani juga memvonis tokoh Wahhabi di Saudi Arabia yang mengkritiknya, sebagai musuh tauhid dan sunnah. 
                              • Komisi fatwa Saudi Arabia yang beranggotakan al-Fauzan dan al-Ghudyan, serta ketuanya Abdul Aziz Alus-Syaikh memvonis Ali Hasan al-Halabi, murid al-Albani dan ulama Wahhabi yang tinggal di Yordania, berfaham Murji’ah dan Khawarij.

                              Kemudian
                              • Husain Alus-Syaikh yang tinggal di Madinah membela al-Halabi dan mengatakan bahwa yang membid’ahkan al-Halabi adalah ahli-bid’ah dan bahwa al-Fauzan telah berbohong dalam fatwanya tentang al-Halabi. 
                              • Al-Halabi pun membalas juga dengan mengatakan, bahwa Safar al-Hawali, pengikut Wahhabi di Saudi Arabia, beraliran Murji’ah. 
                              • Ahmad bin Yahya al-Najmi, ulama Wahhabi di Saudi Arabia, memvonis al-Huwaini dan al-Mighrawi yang tinggal di Mesir mengikuti faham Khawarij. 
                              • Falih al-Harbi dan Fauzi al-Atsari dari Bahrain menuduh Rabi’ al-Madkhali dan Wahhabi Saudi lainnya mengikuti faham Murji’ah. 
                              • Dan Banyak pula ulama Wahhabi yang hampir saja menganggap Bakar Abu Zaid, ulama Wahhabi yang tinggal di Riyadh, keluar dari mainstream Wahhabi karena karangannya yang berjudul Tashnif al-Nas baina al-Zhann wa al-Yaqin. []

                              Dengan kenyataan terjadinya perpecahan di kalangan ulama Salafi seperti ini, menurut Ustadz, layakkah para ulama Salafi tadi disebut Ahlussunnah Wal-Jama’ah?” Mendengar pertanyaan tersebut, Ustadz Salafi itu hanya menjawab: “Wah, kalau begitu, saya tidak tahu juga ya”. Demikian jawaban Ustadz Salafi itu yang tampaknya kebingungan.” Demikian kisah teman saya, AD.

                              Beberapa bulan sebelumnya, ketika data-data perpecahan di kalangan ulama Salafi di Timur Tengah tersebut disampaikan kepada Ustadz Ali Musri, tokoh Wahhabi dari Sumatera yang sekarang tinggal di Jember, Ustadz Ali Musri langsung mengatakan: “Data ini fitnah. Di kalangan ulama Salafi tidak ada perpecehan.” Demikian jawaban Ustadz Ali Musri pada waktu itu.

                              Namun tanpa diduga sebelumnya, beberapa hari kemudian, Ustadz Ali Musri membagi-bagikan beberapa buku kecil kepada mahasiswanya di STAIN Jember. Ketika saya mengajar di STAIN Jember, sebagian mahasiswa yang menerima buku-buku tersebut, meminjamkannya kepada saya. Dan ternyata, di antara buku tersebut ada yang berjudul, Rifqan Ahl al-Sunnah bi-Ahl al-Sunnah, karangan Dr. Abdul Muhsin bin Hamad al-‘Abbad al-Badar, dosen Ustadz Ali Musri ketika kuliah di Jami’ah Islamiyah, Madinah al-Munawwaroh. Ternyata dalam kitab Rifqan Ahl al-Sunnah bi-Ahl al-Sunnah, Dr. Abdul Muhsin membeberkan terjadinya perpecahan di kalangan Salafi yang sangat parah dan sampai klimaks, sampai pada batas saling membid’ahkan, tidak bertegur sapa, memutus hubungan dan sebagainya. Subhanallah, kesesatan suatu golongan dibeberkan oleh orang dalam sendiri. “Dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya”, (QS. 12 : 26).

                              MENGIKUTI TEKS MUTASYABIHAT

                              Kedua, mengikuti teks mutasyabihat, seperti yang diingatkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala: “Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya”. (QS. 3 : 7). Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang sesat selalu mengikuti ayat-ayat mutasyabihat dalam al-Qur’an. Mereka suka mengikuti teks yang mutasyabih, bukan yang muhkam.

                              Menurut Asy-Syathibi, yang dimaksud mutasyabih di sini adalah teks yang samar maknanya dan belum dijelaskan maksudnya. Menurutnya, mutasyabih itu ada dua; (1) mutasyabih haqiqi seperti lafal-lafal yang mujmal (global) dan ayat-ayat yang secara literal menunjukkan keserupaan Allah subhanahu wa ta’ala dengan makhluk. Dan (2) mutasyabih relatif (idhafi), yaitu ayat yang membutuhkan dalil eksternal untuk menjelaskan makna yang sebenarnya, meskipun secara sepintas, teks tersebut memiliki kejelasan makna, seperti ketika orang-orang Khawarij berupaya membatalkan arbitrase mengambil dalil dari ayat, “ini al-hukmu illa lillah (hukum hanya milik Allah)”. Secara literal, ayat tersebut dapat dibenarkan menjadi dalil mereka. Tetapi apabila dikaji lebih mendalam, ayat tersebut masih membutuhkan penjelasan. Berkaitan dengan hal ini Ibn Abbas memberikan penjelasan, bahwa hukum Allah subhanahu wa ta’ala itu terkadang terjadi tanpa proses arbitrase, karena ketika Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita melakukan arbitrase, maka hukum yang menjadi keputusannya juga dianggap sebagai hukum Allah subhanahu wa ta’ala.

                              Demikian pula pernyataan Khawarij yang menyalahkan Sayidina Ali radhiyallahu anhu. Menurut Khawarij, “Ali telah memerangi musuhnya, tetapi tidak melakukan penawanan.” Di sini kaum Khawarij membatasi logika mereka pada satu sisi saja, yaitu kalau memang kelompok ‘Aisyah dan Muawiyah itu boleh diperangi, mengapa mereka tidak dijadikan tawanan oleh Ali sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menawan musuh-musuhnya dalam peperangan? Dalam logika berpikir ini, Khawarij telah meninggalkan sisi lain, yaitu sisi yang dijelaskan oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala:

                              “Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah.” (QS. 49 : 9).

                              Ayat tersebut menjelaskan tentang peperangan tanpa operasi penawanan sesudahnya terhadap pihak yang kalah. Hal ini yang tidak disadari oleh kaum Khawarij. Akan tetapi dalam perdebatan dengan Khawarij, Ibn Abbas mengingatkan mereka pada aspek yang lebih mematahkan, yaitu bahwa jika dalam peperangan Ali radhiyallahu anhu terjadi operasi penawanan, maka sebagian mereka akan mendapat bagian Ummul Mu’minin ‘Aisyah sebagai tawanannya. Dengan demikian, pada akhirnya mereka akan menyalahi al-Qur’an, yang mereka klaim berpegang teguh dengannya.

                              Berkaitan dengan aliran Wahhabi, kita dapati mereka selalu berpegangan dengan ayat-ayat mutasyabihat. Misalnya ketika kaum Wahhabi membaca ayat al-Qur’an, “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”, (QS. 39 : 3), maka mereka mengatakan bahwa orang yang berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala melalui perantara (tawassul) orang yang sudah wafat, berarti telah syirik dan kafir. 

                              Kaum Wahhabi lupa, bahwa di samping mereka tidak memahami makna ibadah secara benar, mereka juga tidak menyadari bahwa bertawassul dengan para nabi dan orang-orang saleh, telah diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam, para sahabat, tabi’in dan generasi penerusnya. Sehingga dengan pemahaman yang dangkal terhadap ayat tersebut, Wahhabi akhirnya terjerumus pada pengkafiran terhadap kaum Muslimin. Dan jika diamati dengan seksama, dalam setiap pendapat yang keluar dari mainstream kaum Muslimin, kaum Wahhabi biasanya mengikuti teks-teks literal yang tidak dipahami maknanya secara benar. Al-Imam Asy-Syathibi berkata dalam kitabnya al-I’tisham yang sangat populer:

                              “Renungkanlah, logika berpikir mengikuti ayat-ayat mutasyabihat, dapat membawa seseorang pada kesesatan dan keluar dari jamaah. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila kalian melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat, maka merekalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah (sebagai orang-orang yang sesat). Hati-hatilah dengan mereka”.

                              MENGIKUTI HAWA NAFSU

                              Ketiga, mengikuti hawa nafsu sebagaimana diingatkan oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan (zaigh)”, (QS. 3 : 3). Kesesatan (zaigh) adalah lari dari kebenaran karena mengikuti hawa nafsu. Dalam ayat lain, “Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.” (QS. 28 : 50).

                              Ada kisah menarik berkaitan dengan mengikuti hawa nafsu ini. Ketika orang-orang Khawarij mengasingkan diri dan menjadi kekuatan oposisi terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, Ali selalu didatangi orang-orang yang memberinya saran: “Wahai Amirul Mu’minin, mereka melakukan gerakan melawan Anda.” Ali radhiyallahu anhu hanya menjawab: “Biarkan saja mereka. Aku tidak akan memerangi mereka, sebelum mereka memerangiku. Dan mereka pasti melakukannya.” Sampai akhirnya pada suatu hari, Ibn Abbas mendatanginya sebelum waktu zhuhur dan berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, aku mohon shalat zhuhur agak diakhirkan, aku hendak mendatangi mereka (Khawarij) untuk berdialog dengan mereka.” Ali radhiyallahu anhu menjawab: “Aku khawatir mereka mengapa-apakanmu.” Ibn Abbas berkata: “Tidak perlu khawatir. Aku laki-laki yang baik budi pekertinya dan tidak pernah menyakiti orang.” Akhirnya Ali radhiyallahu anhu merestuinya. Lalu Ibn Abbas memakai pakaian yang paling bagus produk negeri Yaman.

                              Ibn Abbas berkata: “Aku menyisir rambutku dengan rapi dan mendatangi mereka pada waktu terik matahari. Setelah aku mendatangi mereka, aku tidak pernah melihat orang yang lebih bersungguh-sungguh dari pada mereka. Pada dahi mereka tampak sekali bekas sujud. Tangan mereka kasar seperti kaki onta. Dari wajah mereka, tampak sekali kalau mereka tidak tidur malam untuk beribadah. Lalu aku mengucapkan salam kepada mereka. Mereka menjawab: “Selamat datang Ibn Abbas. Apa keperluanmu?”

                              Aku menjawab: “Aku datang mewakili kaum Muhajirin dan Anshar serta menantu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Al-Qur’an turun di tengah-tengah mereka. Mereka lebih mengetahui maksud al-Qur’an dari pada kalian. Lalu sebagian mereka berkata, “Jangan berdebat dengan kaum Quraisy, karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar”. (QS. 43 : 58). Kemudian ada dua atau tiga orang berkata: “Kita akan berdialog dengan Ibn Abbas.” Kemudian terjadi dialog antara Ibn Abbas dengan mereka. Setelah Ibn Abbas berhasil mematahkan argumentasi mereka, maka 2000 orang Khawarij kembali kepada barisan Sayidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Sementara yang lain tetap bersikeras dengan pendiriannya. 2000 orang tersebut kembali kepada kelompok kaum Muslimin, karena berhasil mengalahkan hawa nafsu mereka. Sementara yang lainnya, telah dikalahkan oleh hawa nafsunya, sehingga bertahan dalam kekeliruan.

                              Kita seringkali melihat atau mendengar kisah perdebatan para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah dengan tokoh-tokoh ahli bid’ah, misalnya orang Syi’ah, Wahhabi, atau lainnya. Akan tetapi meskipun mereka berulangkali dikalahkan dalam perdebatan, dengan dalil-dalil al-Qur’an, Sunnah dan pandangan ulama salaf, mereka tidak pernah kembali kepada kebenaran, karena hawa nafsu telah mengalahkan mereka.

                              TIDAK MENGETAHUI POSISI SUNNAH

                              Al-Imam Asy-Syathibi dalam kitabnya al-I’tisham membuat sebuah pertanyaan yang dijawabnya sendiri, mengapa seseorang itu mengikuti hawa nafsu dan kemudian pendapat-pendapatnya menjelma dalam bentuk sebuah aliran sesat? Hal tersebut ada kaitanya dengan latar belakang lahirnya aliran-aliran sesat, yang sebagian besar berangkat dari ketidaktahuan terhadap Sunnah. Hal ini seperti diingatkan oleh sebuah hadits shahih, “Manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin”.

                              Menurut Asy-Syathibi, setiap orang itu mengetahui terhadap dirinya apakah ilmunya sampai pada derajat menjadi mufti atau tidak. Ia juga mengetahui apabila melakukan introspeksi diri ketika ditanya tentang sesuatu, apakah ia berpendapat dengan ilmu pengetahuan yang terang tanpa kekaburan atau bahkan sebaliknya. Ia juga mengetahui ketika dirinya meragukan ilmu yang dimilikinya. Oleh karena itu, menurut Asy-Syathibi, seorang alim apabila keilmuannya belum diakui oleh para ulama, maka kealimannya dianggap tidak ada, sampai akhirnya para ulama menyaksikan kealimannya.

                              Kaitannya dengan aliran Wahhabi, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, sang pendiri aliran Wahhabi sendiri, termasuk orang yang tidak jelas kealimannya. Tidak seorang pun dari kalangan ulama yang semasa dengan Syaikh Muhammad, yang mengakui kealimannya. Bahkan menurut Syaikh Ibn Humaid dalam al-Suhub al-Wabilah, kitab yang menghimpun biografi para ulama madzhab Hanbali, Syaikh Muhammad sering dimarahi ayahnya, karena ia tidak rajin mempelajari ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Pernyataan Syaikh Ibn Humaid, diperkuat dengan pernyataan Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, kakak kandung Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Najdi, yang mengatakan dalam kitabnya al-Shawa’iq al-Ilahiyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah:

                              “Hari ini manusia mendapat ujian dengan tampilnya seseorang yang menisbatkan dirinya kepada al-Qur’an dan al-Sunnah dan menggali hukum dari ilmu-ilmu al-Qur’an dan Sunnah. Ia tidak peduli dengan orang yang berbeda dengannya. Apabila ia diminta membandingkan pendapatnya terhadap para ulama, ia tidak mau. Bahkan ia mewajibkan manusia mengikuti pendapat dan konsepnya. Orang yang menyelisihinya, dianggap kafir. Padahal tak satu pun dari syarat-syarat ijtihad ia penuhi, bahkan demi Allah, 1 % pun ia tidak memiliknya. Meski demikian pandangannya laku di kalangan orang-orang awam. Inna lillah wa inna ilayhi raji’un.” (Syaikh Sulaiman, al-Shawaiq al-’Ilahiyyah, hal. 5).

                              Dewasa ini, para pengikut aliran Wahhabi atau Salafi, sebagian besar memang orang-orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan agama yang memadai. Ada kisah menarik berkaitan hal ini. Bahrul Ulum, teman saya yang tinggal di Surabaya, bercerita kepada saya.

                              “Suatu hari saya mendatangi Ustadz Mahrus Ali yang populer dengan mantan kiai NU, di rumahnya, Waru Sidoarjo. Ternyata Ustadz Mahrus Ali sedang menulis buku yang isinya mengharamkan ayam. Melihat tulisan tersebut, saya segera membuka Shahih al-Bukhari, dan di situ ada sebuah hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah makan ayam. Saya tunjukkan kepada Ustadz Mahrus Ali, hadits dalam Shahih al-Bukhari itu sambil menyerahkan kitabnya. Ternyata, di luar dugaan, Ustadz Mahrus Ali bilang, “Hadits ini hanya diriwayatkan oleh seorang sahabat saja.” Mendengar jawaban tersebut, saya terkejut. Ternyata Ustadz Mahrus Ali mengikuti logika orientalis, menolak otoritas hadits ahad.” Demikian cerita Bahrul Ulum.

                              Menurut saya, sebenarnya Mahrus Ali itu bukan bermaksud mengikuti logika orientalis. Ia hanya bermaksud menutupi rasa malunya saja dengan alasan bahwa hadits tersebut hanya diriwayatkan oleh seorang sahabat saja. Sebab dalam logika Wahhabi, kedudukan hadits ahad (kebalikan hadits mutawatir) sama dengan hadits mutawatir, sama-sama menjadi pedoman dalam akidah dan hukum.

                              Sekitar dua tahun yang lalu, saya sering mendapat pertanyaan, mengapa LBM NU Jember tidak menulis bantahan terhadap buku-buku Mahrus Ali yang baru. LBM hanya membantah buku Mahrus Ali yang pertama. Kami dari tim LBM NU Jember memang tidak menulis bantahan terhadap buku-buku Mahrus Ali yang baru, karena disamping buku-buku yang baru, dalil dan argumentasinya sama dengan buku yang pertama, juga dalam buku-buku yang baru, pendapat-pendapatnya banyak yang berangkat dari ketidaktahuan terhadap hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam yang terdapat dalam kitab-kitab hadits.
                              Misalnya dalam buku kedua, Mahrus Ali mengatakan, “Kini, saya tidak mau lagi mencium tangan guru-guru saya, karena saya tidak pernah melihat para sahabat mencium tangan Nabi shallallahu alaihi wasallam.” Pernyataan ini jelas menyingkap siapa sebenarnya Mahrus Ali. Bukankah hadits-hadits yang menerangkan bahwa para sahabat mencium tangan Nabi shallallahu alaihi wasallam terdapat dalam kitab standart yang enam. Bahkan sebagian ulama ahli hadits dari generasi salaf, yaitu al-Imam al-Hafizh Abu Bakr Ibn al-Muqri’ al-Ashbihani, menulis kitab khusus tentang mencium tangan berjudul Juz’ fi Taqbil al-Yad. Tetapi Ustadz Mahrus Ali, seperti kebiasaan kaum Wahhabi, memang sangat mudah mendistribusikan vonis bid’ah dan syirik terhadap hal-hal yang tidak disetujuinya, tanpa mengetahui dalil-dalil yang semestinya.

                              MENGHUJAT GENERASI SALAF

                              Menurut al-Imam Asy-Syathibi, dari ketiga tanda-tanda aliran sesat di atas, tanda yang pertama diterangkan dalam hadits-hadits iftiraq (yang menerangkan tentang perpecahan umat Islam). Sedangkan tanda-tanda kedua dan ketiga, yaitu mengikuti teks mutasyabihat dan hawa nafsu, tidak diterangkan dalam hadits-hadits iftiraq, akan tetapi disebutkan dalam ayat al-Qur’an (QS. 3 : 7).

                              Selain hal tersebut, Asy-Syathibi juga menerangkan bahwa ciri khas ahli bid’ah dapat diketahui dari awal pembicaraan. Yaitu setiap bertemu orang lain, ia akan membeberkan kejelekan orang-orang terdahulu yang dikenal alim, saleh dan menjadi panutan umat. Sebaliknya ia akan menyanjung setinggi langit, orang-orang yang berbeda dengan para tokoh panutan tersebut.

                              Dalam hal ini Asy-Syathibi memberikan contoh bagi kita, bagaimana kaum Khawarij mengkafirkan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam. Padahal para sahabat telah dipuji oleh Allah dalam al-Qur’an dan dipuji oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam hadits-hadits shahih. Sebaliknya, kaum Khawarij justru memuji Abdurrahman bin Muljam al-Muradi karena telah membunuh Sayidina Ali radhiyallahu anhu.

                              Perbuatan serupa juga dilakukan oleh orang-orang Syi’ah. Syi’ah telah menghujat dan mengkafirkan para sahabat. Menurut Syiah, seperti dalam riwayat al-Kulaini dalam Ushul al-Kafi, sesudah Nabi shallallahu alaihi wasallam wafat, semua sahabat menjadi murtad kecuali tiga orang saja, yaitu Salman al-Farisi, Abu Dzarr al-Ghifari dan Miqdad bin al-Aswad.

                              Sementara kaum Wahhabi, secara ekslpisit tidak mengkafirkan para sahabat dan generasi salaf. Namun dari pandangan mereka yang membid’ahkan dan mengkafirkan beberapa amaliah generasi salaf sejak masa sahabat, tabi’in dan generasi penerusnya, seperti amaliah tawassul, istighatsah, tabarruk dan lain-lain, sebagian ulama menganggap kaum Wahhabi telah membid’ahkan dan mengkafirkan generasi salaf secara implisit. Bukankah amaliah tawassul, tabarruk, istighatsah dan lain-lain yang menjadi isu-isu kontroversi antara kaum Sunni dengan Wahhabi, telah diajarkan oleh kaum salaf, generasi sahabat, tabi’in dan generasi sesudahnya. Sebaliknya, kaum Wahhabi justru menganggap orang-orang Musyrik seperti Abu Jahal, Abu Lahab dan lain-lain lebih mantap tauhidnya dari pada kaum Muslimin yang bertawassul.

                              Belakangan, dari kaum Wahhabi kontemporer tidak sedikit terlontar pernyataan tokoh-tokoh mereka yang menistakan generasi salaf secara parsial (juz’i). Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, misalnya menganggap sahabat Bilal bin al-Harits al-Muzani radhiyallahu anhu telah musyrik, dalam komentarnya terhadap kitab Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari karena melakukan istighatsah di makam Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu. Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin dalam fatwanya, menganggap al-Imam al-Nawawi dan al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani bukan pengikut Ahlussunnah.

                              Syaikh Nashir al-Albani dalam fatwanya mengkafirkan al-Imam al-Bukhari karena melakukan ta’wil terhadap ayat mutasyabihat dalam al-Qur’an. Dalam kitab al-Tawassul Ahkamuhu wa Anwa’uhu, al-Albani juga mencela Sayyidah ‘Aisyah, dan menganggapnya tidak mengetahui kesyirikan. Syaikh Ahmad bin Sa’ad bin Hamdan al-Ghamidi, menganggap al-Imam al-Hafizh al-Lalika’i, pengarang kitab Syarh Ushul I’tiqad Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, tidak bersih dari kesyirikan. Demikian sekelumit contoh penistaan tokoh-tokoh Wahhabi terhadap generasi salaf dan para ulama terkemuka secara parsial.

                              SULIT DIAJAK DIALOG TERBUKA

                              Pada bulan Maret 2008, tim LBM NU Jember mengajak Mahrus Ali untuk berdialog dan berdebat secara terbuka di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Hasilnya, dengan berbagai alasan Mahrus Ali tidak siap datang. Sesudah itu, beberapa kali ia diajak dialog di Universitas Diponegoro Semarang, kemudian di Universitas Brawijaya Malang, ia juga tidak siap. Dan terakhir dia diajak dialog di masjid di sebelah rumah tempat tinggalnya, ternyata ia tidak datang. Sepertinya ia tidak berani berdialog terbuka dengan para ulama, karena ia merasa yakin bahwa dalil-dalil yang dimilikinya sangat lemah sekali dan tidak akan mampu bertahan di arena perdebatan ilmiah.

                              Al-Imam Asy-Syathibi menjelaskan dalam al-I’tisham, bahwa sebagian besar kaum ahli bid’ah dan pengikut aliran sesat tidak suka berdialog dan berdebat dengan pihak lain. Menurut Asy-Syathibi, mereka tidak akan membicarakan pendapatnya dengan orang yang alim, khawatir kelihatan kalau pendapat mereka tidak memiliki landasan dalil syar’i yang otoritatif. Sikap yang mereka tampakkan ketika bertemu dengan orang alim adalah sikap pura-pura. Tetapi ketika mereka bertemu dengan orang awam, mereka akan mengajukan sekian banyak kritik dan sanggahan terhadap ajaran dan amaliah umat Islam yang sesuai dengan syari’at. Sedikit demi sedikit, mereka masukkan ajaran bid’ahnya kepada kalangan awam.

                              Dalam beberapa kali diskusi dengan kaum Wahhabi, seperti awal Agustus 2010 di Sampang, beberapa bulan sebelumnya di Yogyakarta dan Juli 2010 di Denpasar, tidak sedikit dari kalangan Wahhabi yang melontarkan pernyataan kepada saya, “Kita tidak perlu berdialog soal-soal khilafiyah antara Sunni dengan Wahhabi. Ini sama sekali tidak penting. Musuh kita orang-orang kafir, Amerika, Zionis dan lainnya yang dengan rapi berupaya menghancurkan umat Islam.” Begitulah kira-kira ucapan mereka.

                              Tentu saja ucapan itu mereka lontarkan ketika posisi mereka terdesak dalam arena perdebatan dan diskusi ilmiah yang disaksikan oleh publik. Mereka merasa khawatir, pandangan-pandangan mereka yang keluar dari mainstream kaum Muslimin akan terbongkar kelemahan dan kerapuhannya. Terbukti, mereka sendiri ketika berbicara di hadapan orang awam, tidak pernah berhenti membid’ahkan dan mengkafirkan umat Islam di luar golongan mereka. Bahkan selama ini, kelompok mereka sangat agresif membicarakan dan menyebarkan isu-isu khilafiyah antara Sunni dengan Wahhabi, maupun dengan lainnya. Al-Imam Asy-Syathibi berkata dalam al-I’tisham:

                              “Jangan berharap mereka (ahli bid’ah) akan berdialog dengan seorang alim yang pakar dalam ilmunya.”

                              Alhamdulillaahirobbil'aalamiin
                              TAMBAHAN TENTANG AMBRUKNYA SALAFY

                              Perpecahan dan saling caki maki diatas, belum termasuk yang lainnya. Misalnya
                              • Abdurahman Wonosari mengatakan : berkaitan dengan fitnah tahazzub, yang dinukilkan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi, dengannya memecah-belah barisan salafiyyin dimana-mana, termasuk di Indonesia. Kemudian fitnah yang ditimbulkan oleh Yayasan Ihya’ ut Turots yang dipimpin oleh Abdurahman Abdul Kholiq serta Abdullah as Sabt. Abdurahman Abdul Khaliq telah dinasihati secara keras dan sebagian Ulama’ menyebutnya sebagai mubtadi’. Adapun Jum’iyyah Ihya’ ut Turots dan Abdurahman Abdul Khaliq telah berhasil menyusupkan perpecahan sehingga mencerai-beraikan Salafiyyin di Indonesia. Apakah Jum’iyah Ihya’ ut Turots (disingkat JI) ini memecah-belah dengan pemikiran, kepandaian,gaya bicara mereka saja ?
                              • Abu Ubaidah Syafrudin juga mengatakan : bahkan sampai ta’ashub dengan kelompoknya, golongannya, sehingga menyatakan bahwa salafy yang murni adalah kelompok salafy yang ada di tempat fulani dan berada di bawah ustadz fulan.. Perpecahan internal ini bisa sangat tajam, sehingga kata-kata yang diucapkan bisa sangat kasar, sehingga tidak layak diucapkan oleh seorang hamilud da’wah (pengemban da’wah).
                              • Abdul Mu’thi mengatakan khususnya yang berkenaan tentang Abu Nida’, Aunur Rafiq, Ahmad Faiz serta kecoak-kecoak yang ada di bawah mereka. Mereka ternyata tidak berubah seperti sedia kala, dalam mempertahankan hizbiyyah yang ada pada mereka
                              • Dzulqarnain Abdul Ghafur Al-Malanji mengatakan : KITA KATAKAN: apalagi yang kalian tunggu wahai hizbiyyun? Abu Nida’, Ahmad Faiz dan kelompok kalian At-Turatsiyyin !! Bukankah kalian menunggu pernyataan dari Kibarul Ulama’? Bahkan ‘kita hadiahkan’ kepada kalian fatwa dari barisan ulama salafiyyin yang mentahdzir Big Boss kalian!! Kenapa kalian tidak bara’ dan lari dari At-Turats?! Mengapa kalian masih tetap menjilat dan mengais-ngais makanan, proyek-proyek darinya ?.
                              • Abdul Hakim bin Amir Abdat yang oleh salafy lainnya dikatakan pakar hadits namun oleh salafy lainnya dikatakan sebagai Ahli Hadats bukan Ahli Hadits. Belajar hadits secara otodidak
                              Itu hanya sedikit kutipan yang bisa di baca langsung di uraian kajian ilmiyah berikut ini http://salafy.catatanku.com/2007_02/96.html  dan http://orgawam.wordpress.com/2007/07/31/kajian-ilmiah-tentang-harokah-salafy/ 

                              Kemudian juga, kira-kira kalau sedikit di petakan lagi adalah seperti ini :
                              • Ketika anda duduk di Majlis salafy turotsi, ustadz-ustadz dari Yayasan al-Sofwa bilang haram hukumnya bermajelis dan bertalim dengan salafy Yamani.
                              • Ketika Anda bermujalasah dg salafy Wahdah Islamiyyah, "pendeta-pendaeta" salafy Wahdah bilang salafiyyin aliran Turotsi itu Hizbi antek pekaes dan Ikhwanul muslimin yang termasuk 72 golongan yang masuk neraka jahanam. Anda akan tercengang jika membaca ini http://sunnisalafi.blogspot.com/2009/03/pembesar-turotsi-kuwait-bersama-rafidhi.html 
                              • Ketika anda hadir ditaklim salafy dari "geng" salafy Sururi, mereka akan bilang kalau salafy Wahdah Islamiyyah adalah Khawarij anjing-anjing neraka yang menggunakan sistem marhala.
                              • Ketika anda bermajlis bareng bersama salafy Yamani, "rabi-rabi" salafy Yamaninya bilang kalau salafy Sururi, salafy Haroki, salafy Turotsi, salafy Ghuroba, salafy Wahdah Islamiyyah, salafy MTA, salafy Persis, salafy Ikhwani, salafy Hadadi, salafy Turoby bukanlah salafy tapi salaf-i (salafi imitasi) yang khawarij, bidah dan hizbi.
                              • Jafar Umar Thalib (salafy ghuroba) bilang kalau Abdul Hakim Abdat (salafy turotsi) itu ustad otodidak yang pakar hadats ( najis) bukan pakar hadis). Silakan juga liat di http://darussalaf.or.id/
                              • Muhamad Umar As Seweed (Salafy yamani) bilang kalau Jafar Umar Thalib itu ahli bidah dan khawarij. bahkan komplotan A-Seweed bikin buku dengan judul "Pedang tertuju di leher Jafar Umar Thalib” yang artinya Jafar Umar Thalib halal dibunuh. Dia juga berseteru dg salafi Al Sofwah, Klik juga disini http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=557 dan http://www.scribd.com/doc/12229113/Persaksian-Ustadz-Muhammad-Umar-asSewed-Tentang-Yayasan-AlSofwah 
                              • Abdul Hakim Abdat (salafy turotsi) bilang kalau salafy Wahdah Islamiyyah itu sesat menyesatkan dan melakukan dosa besar (hanya) dengan mendirikan yayasan/organisasi. Oragnisasi adalah hizbi. Salafi ini juga di anggap sesat oleh yg lain, sehingga sampai terbit buku “Nasehat Ilmiyah Untuk Wahdah Islamiyyah” klik disini http://ashthy.wordpress.com/
                              • Salafy Wahdah Islamiyyah bilang kalau kalau salafy Yamani dan Abdul Hakim Abdat itu salafy-salafy primitif dan terbelakang yang hanya cocok hidup di jaman purba atau pra sejarah.
                               Lebih jauh lagi, ada juga yang seperti berikut ini ;
                              • Firanda Andirja www.firanda.com yang merupakan seorang ustadz salafy yang lagi menggembleng dirinya di Madinah diberi gelar "al-Kadzdzab (Pendusta)" oleh salah seorang ulama besar di Madinah Asy-Syaikh Abdullah bin Abdirrahim Al-Bukhari Hafizhahullah.
                              • Syaikh Ibnu Jibrin adalah Imaam Ad-Dholaalah (imam kesesatan). Biografi Ibnu Jibrin bisa di baca disini http://abuthalhah.wordpress.com/2009/07/16/biografi-syaikh-ibnu-jibrin/ . Informasi ini berdasarkan pernuturan Firanda
                              • Asy-Syaikh Abdullah Al-Bukhari –Hafizhahullah Ta’ala- menjelekkan Syaikh Abdurrazzaq Al-Abbad 
                              • Kemudian, Syaikh Abdullah Al-Bukhari marah besar kepadanya dan tidak memaafkannya.
                              • Menurut informasi dari Firanda, salafy lainnya mengatakan bahwa Syaikh Abdul Aziz As-Sadhaan bukanlah salafy, tidak bisa membedakan antara kurma dan bara api (padahal Syaikh Abdul Aziz As-Sadhan juga dinukil perkataannya oleh sang ustad dalam tulisannya di http://www.salafybpp.com/categoryblog/97-dusta-firanda-ditengah-badai-fitnah-yang-sedang-melanda-bag1.html)
                              Informasi diatas, selain bisa di dapat di link-link yang sudah disebutkan, berikut juga link yang bisa di baca ;
                              Tulisan tersebut juga bisa di baca di situs salafy wahhabi Balikpapan http://www.salafybpp.com/categoryblog/97-dusta-firanda-ditengah-badai-fitnah-yang-sedang-melanda-bag1.html  . Pembelaan Firanda bisa di baca disini
                              Simak juga komentar-komentar di link situs Firanda tersebut, sedangkan situs seteru (lawan)nya tidak menyediakan kolom komentar sebagaimana kebiasaan sebagain situs-situs salafy lainnya.

                              Ada lagi tentang RADIO RODJA.

                              Radio ini juga di fatwa sesat oleh ulama salafy lainnya yang bernama Syaikh Abdullah bin Mar'i al-Adni. Biografinya bisa di baca di situs salafy berikut ini http://ibnulqoyyim.com/content/view/213/9/. Adapun link fatwanya bisa di downloa di link berikut http://www.4shared.com/video/5tudMhZW/Fatwa_Syaikh_Abdullah_al-Mari_.html.
                              Disalin dari dari “Buku Pintar Berdebat dengan Wahhabi” karya Ust. Muhammad Idrus Ramli, alumni Pondok Pesantren Sidogiri tahun 1424/2004. (Tidak termasuk tambahannya)

                              Media Islam

                              Thariqat Sarkubiyah

                              NU Online