Latest Updates
Tampilkan postingan dengan label Kitab Madzhab Hanbali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kitab Madzhab Hanbali. Tampilkan semua postingan

Download Tarjemah Kitab Klasik Daf'u Syubah al-Tasybih bi-Akaffi al-Tanzih (دفع شبه التشبيه بأكف التنزيه) karya Imam al-Hafidz Abul Faraj Abdurrahman bin al-Jauzi al-Hanbali (Imam Ibnul Jauzi)


Al-Imâm al-Hâfizh al-‘Allâmah Abul Faraj Abdurrahman bin Ali bin al-Jawzi as-Shiddiqi al-Bakri berkata:

“Ketahuilah --semoga petunjuk Allah selalu tercurah bagi anda--, bahwa aku telah meneliti madzhab Hanbali yang telah dirintis oleh Imam Ahmad bin Hanbal, aku mendapati bahwa beliau adalah sosok yang sangat kompeten dalam berbagai disiplin ilmu agama, beliau telah mencapai puncak keilmuan dalam bidang fiqih dan dalam pendapat madzhab-madzhab terdahulu, hingga tidak ada suatu permasalahan sekecil apapun kecuali beliau telah menuliskan penjelasan atau catatan untuk itu, hanya saja metodologi yang dipakainya murni seperti para ulama Salaf sebelumnya; yang karenanya beliau tidak menulis kecuali hanya teks-teks yang benar-benar telah turun-temurun hingga ke generasinya (al Manqûlât).
Karena itu aku melihat madzhab Hanbali ini tidak memiliki karya-karya yang padahal jenis karya-karya semacam itu sangat banyak ditulis oleh musuh-musuh mereka. Lalu untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka aku menulis beberapa kitab tafsir yang cukup besar, di antaranya; al-Mughnî dalam beberapa jilid, Zâd al-Masîr, Tadzkirah al-Arîb, dan lainnya. Dalam bidang hadits aku menuliskan beberapa kitab, di antaranya; Jâmi al-Masânîd, al-Hadâ-iq, Naqiy an-Naql, dan kitab yang cukup banyak dalam al-Jarh Wa at-Ta’dîl.

Aku juga mendapati madzhab Hanbali ini tidak memiliki catatan-catatan tambahan (ta’lîqât) terhadap karya-karya terdahulu dalam masalah-masalah khilâfiyyah, kecuali ada satu orang saja, yaitu al-Qâdlî Abu Ya’la yang dalam hal ini ia berkata: “Aku selalu mengutip berbagai pendapat dari orang-orang luar madzhab Hanbali yang biasa menyebutkan berbagai pendapat dalam madzhab mereka masing-masing ketika mereka berdebat dengan lawan-lawan mereka, namun sedikitpun mereka tidak pernah menyinggung pendapat dalam madzhab Hanbali. Aku akui di hadapan mereka, memang benar kami dalam madzhab Hanbali tidak memiliki ta’lîq dalam masalah-masalah Fiqih. Oleh karena itu maka aku menuliskan beberapa ta’lîq”.
 
Begitulah ungkapan keprihatinan Imam Ibnul Jauzi terhadap perjalanan Madzhab Hanbali yang beliau tuliskan didalam muqaddimah kitab Da'fu Syubah al-Tasybih bi-Akaffi al-Tanzih (دفع شبه التشبيه بأكف التنزيه) yakni salah satu karya monumental beliau dalam bidang aqidah. Kitab ini memaparkan kesesatan-kesesatan aqidah tasybih ( menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta'alaa dengan makhluk) yang sangat penting untuk dibaca dan disebarkan guna menghalau kelompok-kelompok yang mempropagandakan aqidah tasybih seperti sekte Wahhabiyah dan semisalnya mereka.

Didalam kitab ini ebook ini juga terdapat beberapa muqaddimah dari penterjemah yakni H. Kholil Abou Fateh Lc. Biodata beliau juga ada didalam ebook ini. Semoga bermanfaat.

DOWNLOAD KITAB DAF'U SYUBAH AT-TASYBIH


TARJEMAH FORMAT CHM :  
KITAB BAHASA ARAB (PDF) : 
Kitab-kitab lainnya maupun ebook-ebook Islami lainnya bisa didownload di link berikut ini http://ashhabur-royi.blogspot.com/2011/04/download-ebook-gratis-kumpulan-bahtsul.html . Semoga bermanfaat. Amin.

    Kisah Menarik Dalam Karya Pembesar Hanabilah ; Obat Mujarab Di Qubur Shalihin

    Al-Imam al-Hafidz Abul Faraj Abdurrahman Ibn al-Jauzi merupakan imam pembesar madzhab Hanabilah. Dalam sebuah kitabnya yang berjudul Bahr ad-Dumu' (بحر الدموع), beliau menyebutkan sebuah kisah menarik tentang Imam Ma'ruf al-Karkhi (Salaf 'Alim Sufi), juga sedikit menuturkan tentang Imam Ahmad bin Hanbal. 

    كان أبو محفوظ معروف الكرخي قد خصّه الله بالاجتباء في حال الصبا، يذكر أن أخاه عيسى قال: كنت أنا وأخي معروف في المكتب، وكنا نصارى، وكان المعلم يعلم الصبيان: "أب" و"ابن" فيصيح أخي معروف: "أحد أحد" فيضربه المعلم على ذلك ضربا شديدا، حتى ضربه يوما ضربا عظيما، فهرب على وجهه.
    Imam Abu Mahfudh Ma’ruf al-Karkhi (Salaf ‘Alim Sufi) sungguh telah mendapat kemulyaan disisi Allah Ta’alaa sejak masih kecil. Saudaranya yakni ‘Isaa berkata : “aku bersama saudaraku Ma’ruf disebuah maktab, ketika itu kami masih nashrani, pengajar mengajarkan anak-anak tentang (Tuhan) bapak dan anak. Namun, saudaraku Ma’ruf berteriak “Ahad Ahad”, maka pengajar memukulnya dengan pukulan-pukulan yang keras, maka kemudian Ma’ruf kabur.

    وكانت أمه تبكي وتقول: لئن ردّ الله عليّ معروفا، لأتبعنّه على أي دين كان، فقدم عليها معروف بعد سنين كثيرة، فقالت له: يا بنيّ، على أي دين أنت؟ قال: على دين الإسلام، فقالت: أشهد أن لا اله إلا الله، وأشهد أن محمدا رسول الله، فأسلمت أمي وأسلمنا كلنا.
    Sedangkan ibunya menangis saraya mengatakan : “seandainya Allah (Tuhan) mengembalikan Ma’ruf kepadaku, niscaya aku akan mengikutinya yakni mengikuti agamanya. Maka setelah lebih dari dua tahun Ma’ruf kembali, maka ibunya berkata kepadanya : “wahai putraku, apakah agamumu ? Ma’ruf berkata : “aku beragama Islam”, Ibunya berkata : “aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, maka ibuku masuk Islam dan kami semua juga masuk Islam”.

    وقال أحمد بن الفتح: رأيت بشر بن الحارث في منامي وهو قاعد في بستان بين يديه مائدة وهو يأكل منها، فقلت: يا أبا نصر, ما فعل الله بك؟ قال: رحمني وغفر لي، وأباح لي الجنة بأسرها، وقال لي: كل من جميع ثمارها، واشرب من أنهارها، وتمتع بجميع ما فيها، كما كنت تحرم نفسك عن الشهوات في دار الدنيا.



    Ahmad bin al-Fath berkata : “aku melihat Bisyr bin al-Harits didalam mimpiku, ia duduk di disebuah taman yang dihadapannya ada hidangan dan ia memakannya. Aku berkata : “wahai Abu Nashr, apakah yang telah Allah lakukan kepada engkau ?. ia berkat : “Allah telah merahmatiku dan memberikan pengampunan kepadaku, serta memberikan surga beserta isinya kepadaku. Allah mempersilahkan kepadaku : “makanlah dari seluruh buah-buahnya, minumlah dari sungai-sungainya, serta nikmatilah seluruh apa yanga didalamnya sebagaimana engkau pernah mengharamkan (mencegah) atas dirimu sendiri dari syahwat-syahwat ketika berada di dunia”.


    فقلت له: فأين أخوك أحمد بن حنبل؟ فقال: هو قائم على باب الجنة يشفع لأهل السنة ممن يقولون: القرآن كلام الله غير مخلوق.
    Aku berkata (tanya lagi) kepadanya : dimanakah saudaramu yakni Ahmad bin Hanbal ?, ia berkata : Ia berdiri di pintu surga sedang memberikan syafa’at kepada Ahl Sunnah yakni mereka yang berkata bahwa al-Qur’an adalah Kalamullah bukan makhluk”.

    فقلت له: وما فعل الله بمعروف الكرخي؟ فحرّك رأسه، وقال هيهات هيهات! حالت بيننا وبينه الحجب. إن معروفا لم يعبد الله شوقا إلى جنّته، ولا خوفا من ناره، وإنما عبده شوقا إليه، فرفعه إلى الرفيق الأعلى، ورفع الحجاب بينه وبينه.
    Aku berkata (tanya lagi) kepalanya : apakah yang Allah perbuat kepada Ma’ruf al-Karkhi ? Ia menggerakkan kepadanya, kemudian ia berkata ; sungguh jauh, sungguh jauh, antara kami dan dia terpisah oleh hijab-hijab (banyak hijab). Sungguh Ma’ruf tidak menyembah Allah karena berharap kepada surga-Nya, tidak pula karena takut kepada neraka-Nya, karena itu ia diangkat ke sisi-Nya (ilaa Rafiqil A’laa), dan dihilangkan hijab antara ia (Ma’ruf) dan Rabb-Nya.

    ذلك الترياق المقدس المجرّب، فمن كانت له إلى الله حاجة، فليأت قبره، وليدع، فانه يستجاب له إن شاء الله تعالى
    Itulah obat suci yang mujarab, maka barangsiapa memiliki hajat kepada Allah,hendaknya ia mendatangi kuburan Ma’ruf al-Karkhi, dan berdo’ah disana. Maka sesungguhnya akan terkabul keinginannya, InsyaAllah Ta’alaa.

    بحر الدموع  للإمام الحافظ جمال الدين أبو الفرج عبد الرحمن بن علي بن محمد الجوزي

    al-Fatawa al-Kubra : Sebuah Bingkisan Fashal Khusus Dari Ibnu Taimiyah Membenarkan Sampainya Pahala Membaca al-Qur'an






    فصل
    SEBUAH PASAL

    وأما القراءة، والصدقة وغيرهما من أعمال البر، فلا نزاع بين علماء السنة والجماعة في وصول ثواب العبادات المالية، كالصدقة والعتق، كما يصل إليه أيضا الدعاء والاستغفار، والصلاة عليه صلاة الجنازة، والدعاء عند قبره
    bacaan al-Qur'an dan shadaqah serta selain keduanya seperti amal-amal kebajikan : tidak ada perselisihan diantara ‘ulama’ Ahlus Sunnah wal Jama'ah tentang sampainya pahala ibadah-ibadah maliyah, seperti shadaqah, memerdekakan budak, sebagaimana sampainya do’a dan istighafar kepada orang mati, shalat untuk orang mati yakni shalat jenazah, dan do’a disamping kubur orang mati.

    وتنازعوا في وصول الأعمال البدنية: كالصوم، والصلاة، والقراءة، والصواب أن الجميع يصل إليه
    ulama Ahlussunnah wal Jama'ah telah berselisih pendapat tentang sampainya amal-amal badaniyah, seperti puasa, shalat dan pembacaan al-Qur’an, namun yang shawab (benar) bahwa semuanya sampai kepada orang mati,

    "..NAMUN YANG BENAR (YANG SHAWAB) BAHWA SEMUANYA SAMPAI KEPADA ORANG MATI"

     فقد ثبت في الصحيحين عن النبي - صلى الله عليه وسلم - أنه قال: «من مات وعليه صيام صام عنه وليه» وثبت أيضا: «أنه أمر امرأة ماتت أمها، وعليها صوم، أن تصوم عن أمها» . وفي المسند عن النبي - صلى الله عليه وسلم - أنه قال لعمرو بن العاص: «لو أن أباك أسلم فتصدقت عنه، أو صمت، أو أعتقت عنه، نفعه ذلك» وهذا مذهب أحمد، وأبي حنيفة، وطائفة من أصحاب مالك، والشافعي
    sungguh telah tsabit didalam Ash-Shahihain (Bukhari Muslim) dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bahwa beliau bersabda : “barangsiapa yang wafat dan masih memiliki tanggungan puasa, maka hendaknya walinya berpuasa untuknya”, dan telah tsabit juga “bahwa Nabi memerintahkan perempuan yang ibunya wafat sedangkan masih memiliki tanggungan puasa, agar berpuasa untuknya”, dan didalam al-Musnad dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bahwa beliau berkata kepada ‘Amru bin ‘Ash “seandainya ayahmu masuk Islam maka engkau bershadaqahlah menggantikannya (untuknya), atau engkau berpuasa, atau memerdekan budak untuknya, niscaya itu bermanfaat untuknya”, dan inilah madzhab Imam Ahmad, Abu Hanifah, sekelompok dari Ashhab Malik dan asy-Syafi’i.

    وأما احتجاج بعضهم بقوله تعالى: {وأن ليس للإنسان إلا ما سعى} [النجم: 39] فيقال له قد ثبت بالسنة المتواترة وإجماع الأمة: أنه يصلى عليه، ويدعى له، ويستغفر له وهذا من سعي غيره. وكذلك قد ثبت ما سلف من أنه ينتفع بالصدقة عنه، والعتق، وهو من سعي غيره. وما كان من جوابهم في موارد الإجماع فهو جواب الباقين في مواقع النزاع. وللناس في ذلك أجوبة متعددة
    adapun sebagian mereka yang berhujjah dengan firman Allah Ta'alaa {tiada bagi manusia kecuali apa yang diusahakan} maka dikatakan kepadanya (jawaban untuknya), sungguh telah tsabit berdasarkan Sunnah yang Mutawatir dan Ijma’ Umat : bahwa sesungguhnya mayyit dishalatkan atasnya, dido’akan untuknya, di istighfarkan (dimohonkan ampun) untuknya dan ini dari usaha orang lain, dan sebagaimana juga telah tsabit pada salafush shaleh seperti mayyit mendapatkan manfaat dengan shadaqah untuknya dan membebaskan budak, dan semua itu dari usaha orang lain, dan jawaban mereka didalam masalah yang bersifat ijma' merupakan jawaban yang telah berlalu sebelumnya terhadap yang diperselisihkan, dan masalah tersebut bagi umat Islam terdapat jawaban yang bermacam-macam.

    لكن الجواب المحقق في ذلك أن الله تعالى لم يقل: إن الإنسان لا ينتفع إلا بسعي نفسه، وإنما قال: {وأن ليس للإنسان إلا ما سعى} [النجم: 39] فهو لا يملك إلا سعيه، ولا يستحق غير ذلك. وأما سعي غيره فهو له، كما أن الإنسان لا يملك إلا مال نفسه ونفع نفسه. فمال غيره ونفع غيره هو كذلك للغير؛ لكن إذا تبرع له الغير بذلك جاز
    akan tetapi jawaban ulama ahli Tahqiq terhadap masalah tersebut (an-Najm : 39) adalah yakni Allah Ta'alaa tidak berfirman : "bahwasanya manusia tidak bisa mendapatkan manfaat kecuali dengan amalnya sendiri", sebaliknya Allah Ta'alaa berfirman : "dan tiada bagi manusia kecuali apa yang diusahakan", maka ia tidak memiliki kecuali yang diusahakannya dan juga tidak berhak selain yang demikian. adapun usaha orang lain maka itu untuk orang lain tersebut, sebagaimana manusia tidak memiliki (harta) kecuali harta yang ia usahakan sendiri dan memanfaatkannya sendiri, maka harta orang lain dan manfaat orang lain itu sebagaimana untuk orang lain itu sendiri, akan tetapi jika orang lain memberikan untuknya dengan hal yang demikian maka itu boleh

    وهكذا هذا إذا تبرع له الغير بسعيه نفعه الله بذلك، كما ينفعه بدعائه له، والصدقة عنه، وهو ينتفع بكل ما يصل إليه من كل مسلم، سواء كان من أقاربه، أو غيرهم، كما ينتفع بصلاة المصلين عليه ودعائهم له عند قبره
    dan seperti itu juga apabila orang lain memberikan untuknya dengan usaha orang tersebut niscaya Allah memberikan manfaat dengan hal tersebut, sebagaimana bermanfaatnya do'a orang tersebut untuknya, juga shadaqah untuknya, dan itu berarti mendapatkan manfaat dengan setiap yang sampai kepadanya yang berasal dari setiap muslim, sama saja baik yang berasal dari kerabatnya atau orang lain, sebagaimana mendapatkan manfaat dengan shalat umat Islam atas mayyit dan do'a umat islam untuk mayyit disamping quburnya. []

    Sumber : Al-Fatawa al-Kubra [3/63-64] karya Ibni Taimiyah [w. 728 H]

    Ibnu Taimiyah Ditanya Tentang QS. an-Najm 39 dan Hadits Terputusnya Amal (Inqatha'a Amaluhu)


    سئل: عن قوله تعالى: {وأن ليس للإنسان إلا ما سعى}  وقوله - صلى الله عليه وسلم -: «إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له» فهل يقتضي ذلك إذا مات لا يصل إليه شيء من أفعال البر؟
    Ibnu Taimiyah di tanya tentang firman Allah {tiada bagi manusia kecuali apa yang diusahakan} dan sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam {apabila anak adam wafat maka terputuslah amalanya kecuali 3 hal yakni shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat untuknya dan anak shalih yang berdo’a untuknya}, apakah hal itu menunjukkan apabila seseorang wafat tidak perbuatan-perbuatan kebajikan tidak sampai kepadanya ?

    الجواب: الحمد لله رب العالمين. ليس في الآية، ولا في الحديث أن الميت لا ينتفع بدعاء الخلق له، وبما يعمل عنه من البر بل أئمة الإسلام متفقون على انتفاع الميت بذلك، وهذا مما يعلم بالاضطرار من دين الإسلام، وقد دل عليه الكتاب والسنة والإجماع، فمن خالف ذلك كان من أهل البدع
    Jawab ; al-Hamdulillahi Rabbil ‘Alamiin, tiada didalam ayat dan tidak pula didalam hadits bahwa mayyit (orang mati) tidak mendapat manfaat dengan do’a untuknya dan dengan apa yang amalkan (kerjakan) untuknya seperti kebajikan bahkan para Imam telah sepakat bahwa mayyit (orang mati) mendapatkan manfaat atas hal itu, dan ini diketahui dengan jelas dari agama Islam, dan sungguh al-Kitab (al-Qur’an), as-Sunnah dan Ijma’ telah menunjukkannya, oleh karena itu barangsiapa yang menyelisihi hal itu maka ia termasuk dari ahli bid’ah.

    Karena panjangnya bahasan inii (ulasan Ibnu Taimiyah) yang intinya baik ibadah maliyah dan badaniyah bisa sampai kepada mayyit dan memberikan manfaat bagi orang mati, telah tersebar pembahasan ini dalam kitab-kitab beliau, maka kami singkatkan (cukupkan) untuk menyoroti hadits Inqatha'a Amaluhu menurut Ibnu Taimiyah [3/31] :

    أما الحديث فإنه قال: «انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له» فذكر الولد، ودعاؤه له خاصين؛ لأن الولد من كسبه، كما قال: {ما أغنى عنه ماله وما كسب} [المسد: 2] . قالوا: إنه ولده. وكما قال النبي - صلى الله عليه وسلم -: «إن أطيب ما أكل الرجل من كسبه، وإن ولده من كسبه» . فلما كان هو الساعي في وجود الولد كان عمله من كسبه، بخلاف الأخ، والعم والأب، ونحوهم. فإنه ينتفع أيضا بدعائهم، بل بدعاء الأجانب، لكن ليس ذلك من عمله
    mengenai hadits bahwa Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda :

    "apabila seorang manusia mati maka terputus darinya amalnya (perbuatanya) kecuali yang berasal dari tiga hal yakni : shadaqah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak shalih yang berdo’a untuknya",

    disini menyebutkan walad (anak) dan do'anya kepadanya secara khusus karena sungguh seorang anak termasuk dari usahanya, sebagaimana firman Allah Ta'alaa :

    "Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan” (QS. Al-Lahaab : 2)

    Ulama telah berkata : sesungguhnya yang dimaksud itu anaknya, dan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam :

    "Sungguh sebaik-baiknya apa yang dimakan oleh seseorang adalah yang berasal dari usahanya dan sungguh anaknya bagian dari usahanya"

    Maka ia sebagai orang yang berusaha (sa’i) didalam hal wujudnya seorang anak maka amalnya (amal anaknya) termasuk dari kasabnya (usahanya), berbeda halnya dengan saudara, paman, ayah dan seumpama mereka. Namun, mereka itu bisa memberikan manfaat juga dengan do’a mereka bahkan juga do’a yang lainnya, akan tetapi yang demikian itu bukan dari amalnya.

    والنبي - صلى الله عليه وسلم - قال: «انقطع عمله إلا من ثلاث» لم يقل: إنه لم ينتفع بعمل غيره. فإذا دعا له ولده كان هذا من عمله الذي لم ينقطع، وإذا دعا له غيره لم يكن من عمله، لكنه ينتفع به
    dan Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda :

    "terputus amalnya kecuali 3 hal"

    namun tidak dikatakan : sesunggguhnya tidak mendapat manfaat dari amal orang lain. maka ketika anaknya berdo'a untuknya, itu menjadi bagian dari amalnya yang tidak terputus,sedangkan apabila orang lain yang berdo'a untuknya, maka itu tidak menjadi bagian dari amalnya, akan tetapi bisa mendapatkan manfaat dengan hal tersebut. []

    Sumber : al-Fatawa al-Kubraa [3/27] karya Ibnu Taimiyah.

    Ibnu Taimiyah Lagi , Hanya Masalah Afdlaliyah (Keutamaan) : Membaca al-Qur'an Untuk Kedua Orang Tua, Umat Islam dan Diri Sendiri



    من يقرأ القرآن ويهدي ثوابه لوالديه ولموتى المسلمين
    MEMBACA AL-QUR'AN DAN MENGHADIAHKAN PAHALANYA UNTUK KEDUA ORANG TUANYA DAN UNTUK KAUM MUSLIMIN YANG WAFAT

    سئل: عمن يقرأ القرآن العظيم، أو شيئا منه، هل الأفضل أن يهدي ثوابه لوالديه، ولموتى المسلمين؟ أو يجعل ثوابه لنفسه خاصة؟
    Ibnu Taimiyah ditanya tentang orang yang membaca al-Qur’an al-‘Adhim atau sebagian dari al-Qur’an, apakah lebih utama (afdlall) agar menghadiahkan pahalanya kepada kedua orang tuanya, dan kepada orang muslim yang wafat ? atau hanya menjadikan pahalanya untuk dirinya sendiri saja ?

    الجواب: أفضل العبادات ما وافق هدي رسول الله - صلى الله عليه وسلم - وهدي الصحابة، كما صح عن النبي - صلى الله عليه وسلم - أنه كان يقول في خطبته: «خير الكلام كلام الله، وخير الهدي هدي محمد، وشر الأمور محدثاتها، وكل بدعة ضلالة» . وقال - صلى الله عليه وسلم -: خير القرون قرني، ثم الذين يلونهم

    Jawab : Ibadah-ibadah yang lebih utama adalah yang sesuai dengan pentunjuk Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan petunjuk para sahabat, sebagaimana telah shahih dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam yang mana beliau bersabda didalam khutbahnya : "sebaik-baiknya perkataan adalah Kalamullah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad, sedangkan seburuk-buruknya perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid'ah itu sesat", Nabi shallallahu 'alayhi wa salam juga bersabda : "sebaik-baiknya qurun (generasi) adalah kurun-ku, kemudian yang datang setelah mereka".

    وقال ابن مسعود: من كان منكم مستنا فليستن بمن قد مات؛ فإن الحي لا تؤمن عليه الفتنة، أولئك أصحاب محمد

    Ibnu Ma'sud berkata : barangsiapa diantara kalian yang ingin mengikuti petunjuk, maka ambillah petunjuk dari orang-orang yang sudah mati. Karena orang yang masih hidup tidaklah aman dari fitnah. Mereka yang harus diikuti adalah para sahabat Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam

    فإذا عرف هذا الأصل. فالأمر الذي كان معروفا بين المسلمين في القرون المفضلة، أنهم كانوا يعبدون الله بأنواع العبادات المشروعة، فرضها ونفلها، من الصلاة، والصيام، والقراءة، والذكر، وغير ذلك وكانوا يدعون للمؤمنين والمؤمنات، كما أمر الله بذلك لأحيائهم، وأمواتهم، في صلاتهم على الجنازة، وعند زيارة القبور، وغير ذلك
    maka apabila telah diketahui pondasi (pokok) ini, maka perkara yang telah ma’ruf diantara kaum muslimin pada qurun mufadldlalah (penuh karunia), bahwa mereka beribadah kepada Allah dengan berbagai macam ibadah yang masyru’, baik fardlu maupun nafilah (sunnah), seperti shalat, puasa, qiraa’ah (membaca al-Qur'an), dzikir dan yang lainnya, mereka berdo’a untuk mukminin dan mukminat, sebagaimana Allah perintahkan dengan hal itu untuk orang-orang yang hidup dan orang mati, baik didalam shalat jenazah juga ketika ziarah kubur dan yang lainnya.

    وروي عن طائفة من السلف عند كل ختمة دعوة مجابة، فإذا دعا الرجل عقيب الختم لنفسه، ولوالديه، ولمشايخه، وغيرهم من المؤمنين والمؤمنات، كان هذا من الجنس المشروع. وكذلك دعاؤه لهم في قيام الليل، وغير ذلك من مواطن الإجابة
    telah diriwayatkan dari sekelompok salafush shaleh dimana setiap kali khatam (al-Qur’an) merupakan waktu do’a yang di ijabah, maka apabila seseorang berdo’a mengiringi khatmil Qur’an untuk dirinya sendiri, kedua orang tuanya, masyayikh-nya dan yang lainnya seperti mukminin dan mukminaat, hal ini merupakan termasuk dari jenis ibadah yang masyru’, dan sebagaimana juga do’anya untuk mereka ketika qiyamul lail (shalat malam), dan yang lainnya seperti momen-momen yang di ijabah

    وقد صح عن النبي - صلى الله عليه وسلم -: أنه أمر بالصدقة على الميت، وأمر أن يصام عنه الصوم. فالصدقة عن الموتى من الأعمال الصالحة، وكذلك ما جاءت به السنة في الصوم عنهم. وبهذا وغيره احتج من قال من العلماء: إنه يجوز إهداء ثواب العبادات المالية، والبدنية إلى موتى المسلمين. كما هو مذهب أحمد، وأبي حنيفة، وطائفة من أصحاب مالك، والشافعي
    dan telah shahih dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bahwa beliau memerintahkan bershadaqah untuk mayyit dan puasa untuk mayyit. Shadaqah untuk mayyit termasuk dari amal-amal shalih, dan demikian juga perkara yang berasal dari sunnah tentang puasa untuk mereka, dan berdasarkan hal ini serta berdasarkan yang lainnya sebagian ulama berhujjah : bahwa boleh menghadiahkan (memberikan) pahala ibadah-ibadah maliyah dan badaniyah kepada orang muslim yang meninggal, sebagaimana itu adalah madzhab Ahmad, Abu Hanifah dan sekelompok ulama dari Ashhab Malikk dan asy-Syafi’i

    فإذا أهدي لميت ثواب صيام، أو صلاة، أو قراءة، جاز ذلك، وأكثر أصحاب مالك، والشافعي يقولون: إنما يشرع ذلك في العبادات المالية، ومع هذا لم يكن من عادة السلف إذا صلوا تطوعا، وصاموا، وحجوا، أو قرءوا القرآن. يهدون ثواب ذلك لموتاهم المسلمين، ولا لخصوصهم، بل كان عادتهم كما تقدم، فلا ينبغي للناس أن يعدلوا عن طريق السلف، فإنه أفضل وأكمل. والله أعلم.
    Maka (oleh karena itu), apabila puasa, shalat dan qiraa’ah di hadiahkan untuk mayyit maka itu boleh, namun kebanyakan Ashhab Malik dan Ashhab asy-Syafi’i mengatakan : sesungguhnya yang demikian disyariatkan pada ibadah-ibadah maliyah saja, dan bersamaan hal ini tiada dari kebiasaan salafush shaleh ketika mereka shalat sunnah, puasa, haji atau membaca al-Qur’an kemudian menghadiahkan pahala yang demikian untuk orang-orang mati diantara mereka yang muslim, tidak pula kepada orang-orang khusus diantara mereka, bahkan itu menjadi kebiasaan mereka sebagaimana (pemaparan) sebelumnya, maka tidak sepatutnya bagi manusia untuk mengadili dari jalan shalafush shaleh, sebab itu lebih utama (afdlaliyah) dan lebih sempurna. Wallahu A’lam. []

    Sumber : Al-Fatawa al-Kubra [3/37-38 ] karya Ibnu Taimiyah [w. 728 H]

    Hukum Keluarga al-Marhum Membaca al-Qur'an Untuk Orang Mati Menurut Ibnu Taimiyah


    سئل: عن قراءة أهل الميت تصل إليه؟ والتسبيح والتحميد، والتهليل والتكبير، إذا أهداه إلى الميت يصل إليه ثوابها أم لا؟
    (Ibnu Taimiyah) ditanya tentang keluarga al-Marhum yang membaca al-Qur’an yang disampaikan kepada mayyit ? Tasybih, tahmid, tahlil dan takbir, apabila menghadiahkannya kepada mayyit, apakah pahalanya sampai kepada mayyit ataukah tidak ?

    الجواب: يصل إلى الميت قراءة أهله، وتسبيحهم، وتكبيرهم، وسائر ذكرهم لله تعالى، إذا أهدوه إلى الميت، وصل إليه، والله أعلم
    Jawab : Pembacaaan al-Qur’an oleh keluarga almarhum sampai kepada mayyit, dan tasbih mereka, takbir dan seluruh dziki-dzikir karena Allah Ta’alaa apabila menghadiahkannya kepada mayyit, maka sampai kepada mayyit. Wallahu A’lam.


    سئل: هل القراءة تصل إلى الميت من الولد أو لا؟ على مذهب الشافعي
    (Ibnu Taimiyah) ditanya tentang pembacaan al-Qur’an oleh seorang anak apakah sampai kepada mayyit atau tidak ? Bagaimana menurut madzhab asy-Syafi’i ?

    الجواب: أما وصول ثواب العبادات البدنية: كالقراءة، والصلاة، والصوم، فمذهب أحمد، وأبي حنيفة، وطائفة من أصحاب مالك، والشافعي، إلى أنها تصل، وذهب أكثر أصحاب مالك، والشافعي، إلى أنها لا تصل، والله أعلم.
    Jawab : Adapun sampai pahala ibadah-ibadah badaniyah seperti membaca al-Qur’an, shalat dan puasa, oleh karena itu madzhab Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah dan sekelompok dari Ashhab Malik dan asy-Syaf’i menyatakan sampai, sedangkan pendapat kebanyakan Ashhab Malik dan asy-Syafi’i menyatakan tidak sampai. Wallahu A’lam.

    Sumber : Sumber : al-Fatawa al-Kubraa [3/38] karya Ibnu Taimiyah [w. 728 H]

    Oleh : Ats-Tsauriy (Bangkalan). Penjelasan atau uraian mendalam tentang madzhab Asy-Syafi'i dapat dibaca di sini http://www.facebook.com/notes/tahlilan-yasinan-selamatan-dibawah-naungan-dan-kebijaksanaan-ahlul-ilmi/doa-shadaqah-bacaan-al-quran-dan-dzikir-lainnya-untuk-orang-mati-menurut-madzhab/150114065043069 atau http://ashhabur-royi.blogspot.com/2011/03/doa-shadaqah-bacaan-al-quran-dan-dzikir.html

    Hukum Tahlil 70.000 Kali Dan Menghadiahkan Kepada Orang Mati Menurut Ibnu Taimiyah


    Bertahlil 70.000 kali dan Menghadiahkannya Kepada Orang Mati Menurut Ibnu Taimiyah



    سئل: عمن «هلل سبعين ألف مرة، وأهداه للميت، يكون براءة للميت من النار» حديث صحيح؟ أم لا؟ وإذا هلل الإنسان وأهداه إلى الميت يصل إليه ثوابه، أم لا؟
    (Ibnu Taimiyah) ditanya tentang orang yang bertahlil sebanyak 70.000 kali dan menghadiahkan pahalanya kepada orang mati, bisa memutus mayyit dari terkena api (neraka),  haditsnya shahih ataukah tidak ? Dan apakah ketika seseorang bertahlil dan menghadiahkannya kepada mayyit, pahalanya bisa sampai ataukah tidak ?

    الجواب: إذا هلل الإنسان هكذا: سبعون ألفا، أو أقل، أو أكثر. وأهديت إليه نفعه الله بذلك، وليس هذا حديثا صحيحا، ولا ضعيفا. والله أعلم
    Jawab : Apabila seorang manusia bertahlil sebanyak yang demikian yakni 70.000 kali, atau lebih sedikit, atau lebih banyak lagi, dan menghadiahkannya kepada orang mati niscaya Allah akan memberikan manfaat dengan yang demikian, dan haditsnya tidak shahih, tidak pula dlaif. Wallahu A’lam.


    Sumber : al-Fatawa al-Kubraa [3/38] karya Ibnu Taimiyah [w. 728 H]

    Media Islam

    Thariqat Sarkubiyah

    NU Online