Latest Updates
Tampilkan postingan dengan label Kitab Madzhab Hanafi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kitab Madzhab Hanafi. Tampilkan semua postingan

Mufti Madzhab Syafi'i Menjelaskan Tentang Aliran Wahhabiyah

Syaikh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti Mekah  bermadzhab Syafi'i pada masanya sekitar masa akhir kesultanan Utsmaniyyah, dalam kitab Târikh yang beliau tulis menyebutkan sebagai berikut:
 
“Pasal; Fitnah kaum Wahhabiyyah. Dia -Muhammad ibn Abdil Wahhab- pada permulaannya adalah seorang penunut ilmu di wilayah Madinah. Ayahnya adalah salah seorang ahli ilmu, demikian pula saudaranya; Syekh Sulaiman ibn Abdil Wahhab. Ayahnya, yaitu Syekh Abdul Wahhab dan saudaranya Syekh Sulaiman, serta banyak dari guru-gurunya mempunyai firasat bahwa Muhammad ibn Abdil Wahhab ini akan membawa kesesatan. Hal ini karena mereka melihat dari banyak perkataan dan prilaku serta penyelewengan-penyelewengan Muhammad ibn Abdil Wahhab itu sendiri dalam banyak permasalahan agama. Mereka semua mengingatkan banyak orang untuk mewaspadainya dan menghindarinya. Di kemudian hari ternyata Allah menentukan apa yang telah menjadi firasat mereka pada diri Muhammad ibn Abdil Wahhab. Ia telah banyak membawa ajaran sesat hingga menyesatkan orang-orang yang bodoh. Ajaran-ajarannya tersebut banyak yang berseberangan dengan para ulama agama ini. bahkan dengan ajarannya itu ia telah mengkafirkan orang-orang Islam sendiri. Ia mengatakan bahwa ziarah ke makam Rasulullah, tawassul dengannya, atau tawassul dengan para nabi lainnya atau para wali Allah dan orang-orang, serta menziarahi kubur mereka untuk tujuan mencari berkah adalah perbuatan syirik. Menurutnya bahwa memanggil nama Nabi ketika bertawassul adalah perbuatan syirik. Demikian pula memanggil nabi-nabi lainnya, atau memanggil para wali Allah dan orang-orang saleh untuk tujuan tawassul dengan mereka adalah perbuatan syirik. Ia juga meyakini bahwa menyandarkan sesuatu kepada selain Allah, walaupun dengan cara majâzi (metapor) adalah pekerjaan syirik, seperti bila seseorang berkata: “Obat ini memberikan manfa’at kepadaku” atau “Wali Allah si fulan memberikan manfaat apa bila bertawassul dengannya”. Dalam menyebarkan ajarannya ini, Muhammad ibn Abdil Wahhab mengambil beberapa dalil yang sama sekali tidak menguatkannya. Ia banyak memoles ungkapan-ungkapan seruannya dengan kata-kata yang menggiurkan dan muslihat hingga banyak diikuti oleh orang-orang awam. Dalam hal ini Muhammad ibn Abdil Wahhab telah menulis beberapa risalah untuk mengelabui orang-orang awam, hingga banyak dari orang-orang awam tersebut yang kemudian mengkafirkan orang-orang Islam dari para ahli tauhid” (al-Futûhat al-Islâmiyyah, j. 2, h. 66).

Dalam kitab tersebut kemudian Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan menuliskan:
 

“Banyak sekali dari guru-guru Muhammad ibn Abdil Wahhab ketika di Madinah mengatakan bahwa dia akan menjadi orang yang sesat, dan akan banyak orang yang akan sesat karenanya. Mereka adalah orang-orang yang di hinakan oleh Allah dan dijauhkan dari rahmat-Nya. Dan kemudian apa yang dikhawatirkan oleh guru-gurunya tersebut menjadi kenyataan. Muhammad ibn Abdil Wahhab sendiri mengaku bahwa ajaran yang ia serukannya ini adalah sebagai pemurnian tauhid dan untuk membebaskan dari syirik. Dalam keyakinannya bahwa sudah sekitar enam ratus tahun ke belakang dari masanya seluruh manusia ini telah jatuh dalam syirik dan kufur. Ia mengaku bahwa dirinya datang untuk memperbaharui agama mereka. Ayat-ayat al-Qur’an yang turun tentang orang-orang musyrik ia berlakukan bagi orang-orang Islam ahli tauhid. Seperti firman Allah: “Dan siapakah yang lebih sesat dari orang yang berdoa kepada selain Allah; ia meminta kepada yang tidak akan pernah mengabulkan baginya hingga hari kiamat, dan mereka yang dipinta itu lalai terhadap orang-orang yang memintanya” (QS. al-Ahqaf: 5), dan firman-Nya: “Dan janganlah engkau berdoa kepada selain Allah terhadap apa yang tidak memberikan manfa’at bagimu dan yang tidak memberikan bahaya bagimu, jika bila engkau melakukan itu maka engkau termasuk orang-orang yang zhalim” (QS. Yunus: 106), juga firman-Nya: ”Dan mereka yang berdoa kepada selain Allah sama sekali tidak mengabulkan suatu apapun bagi mereka” (QS. al-Ra’ad: 1), serta berbagai ayat lainnya. Muhammad ibn Abdil Wahhab mengatakan bahwa siapa yang meminta pertolongan kepada Rasulullah atau para nabi lainnya, atau kepada para wali Allah dan orang-orang saleh, atau memanggil mereka, atau juga meminta syafa’at kepada mereka maka yang melakukan itu semua sama dengan orang-orang musyrik, dan menurutnya masuk dalam pengertian ayat-ayat di atas. Ia juga mengatakan bahwa ziarah ke makam Rasulullah atau para nabi lainnya, atau para wali Allah dan orang-orang saleh untuk tujuan mencari berkah maka sama dengan orang-orang musyrik di atas. Dalam al-Qur’an Allah berfirman tentang perkataan orang-orang musyrik saat mereka menyembah berhala: “Tidaklah kami menyembah mereka -berhala-berhala- kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah” (QS. al-Zumar: 3), menurut Muhammad ibn Abdil Wahhab bahwa orang-orang yang melakukan tawassul sama saja dengan orang-orang musyrik para penyembah berhala yang mengatakan tidaklah kami menyembah berhala-berhala tersebut kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah” (al-Futûhat al-Islâmiyyah, j. 2, h. 67).

Pada halaman selanjutnya Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan menuliskan:

“Al-Bukhari telah meriwayatkan dari Abdullah ibn Umar dari Rasulullah dalam menggambarkan sifat-sifat orang Khawarij bahwa mereka mengutip ayat-ayat yang turun tentang orang-orang kafir dan memberlakukannya bagi orang-orang mukmin. Dalam Hadits lain dari riwayat Abdullah ibn Umar pula bahwa Rasulullah telah bersabda: “Hal yang paling aku takutkan di antara perkara yang aku khawatirkan atas umatku adalah seseorang yang membuat-buat takwil al-Qur’an, ia meletakan -ayat-ayat al-Qur’an tersebut- bukan pada tempatnya”. Dua riwayat Hadits ini benar-benar telah terjadi pada kelompok Wahhabiyyah ini” (al-Futûhat al-Islâmiyyah, j. 2, h. 68).


Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan masih dalam buku tersebut menuliskan pula:

“Di antara yang telah menulis karya bantahan kepada Muhammad ibn Abdil Wahhab adalah salah seorang guru terkemukanya sendiri, yaitu Syekh Muhammad ibn Sulaiman al-Kurdi, penulis kitab Hâsyiah Syarh Ibn Hajar Alâ Matn Bâ Fadlal. Di antara tulisan dalam karyanya tersebut Syekh Sulaiman mengatakan: Wahai Ibn Abdil Wahhab, saya menasehatimu untuk menghentikan cacianmu terhadap orang-orag Islam” (al-Futûhat al-Islâmiyyah, j. 2, h. 69).
Masih dalam kitab yang sama Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan juga menuliskan:

“Mereka (kaum Wahhabiyyah) malarang membacakan shalawat atas Rasulullah setelah dikumandangkan adzan di atas menara-menara. Bahkan disebutkan ada seorang yang saleh yang tidak memiliki penglihatan, beliau seorang pengumandang adzan. Suatu ketika setelah mengumandangkan adzan ia membacakan shalawat atas Rasulullah, ini setelah adanya larangan dari kaum Wahhabiyyah untuk itu. Orang saleh buta ini kemudian mereka bawa ke hadapan Muhammad ibn Abdil Wahhab, selanjutnya ia memerintahkan untuk dibunuh. Jika saya ungkapkan bagimu seluruh apa yang diperbuat oleh kaum Wahhabiyyah ini maka banyak jilid dan kertas dibutuhkan untuk itu, namun setidaknya sekedar inipun cukup” (al-Futûhat al-Islâmiyyah, j. 2, h. 77).

Di antara bukti ke
benaran apa yang telah ditulis oleh Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dalam pengkafiran kaum Wahhabiyyah terhadap orang yang membacakan shalawat atas Rasulullah setelah dikumandangkan adzan adalah peristiwa yang terjadi di Damaskus Siria (Syam). Suatu ketika pengumandang adzan masjid Jami’ al-Daqqaq membacakan shalawat atas Rasulullah setelah adzan, sebagaimana kebiasaan di wilayah itu, ia berkata: “as-Shalât Wa as-Salâm ‘Alayka Ya Rasûlallâh…!”, dengan nada yang keras. Tiba-tiba seorang Wahhabi yang sedang berada di pelataran masjid berteriak dengan keras: “Itu perbuatan haram, itu sama saja dengan orang yang mengawini ibunya sendiri…”. Kemudian terjadi pertengkaran antara beberapa orang Wahhabi dengan orang-orang Ahlussunnah, hingga orang Wahhabi tersebut dipukuli. Akhirnya perkara ini dibawa ke mufti Damaskus saat itu, yaitu Syekh Abu al-Yusr Abidin. Kemudian mufti Damaskus ini memanggil pimpinan kaum Wahhabiyyah, yaitu Nashiruddin al-Albani, dan membuat perjanjian dengannya untuk tidak menyebarkan ajaran Wahhabi. Syekh Abu al-Yusr mengancamnya bahwa jika ia terus mengajarkan ajaran Wahhabi maka ia akan dideportasi dari Siria.

Kemudian Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan menuliskan:

“Muhammad ibn Abdil Wahhab, perintis berbagai gerakan bid’ah ini, sering menyampaikan khutbah jum’at di masjid ad-Dar’iyyah. Dalam seluruh khutbahnya ia selalu mengatakan bahwa siapapun yang bertawassul dengan Rasulullah maka ia telah menjadi kafir. Sementara itu saudaranya sendiri, yaitu Syekh Sulaiman ibn Abdil Wahhab adalah seorang ahli ilmu. Dalam berbagai kesempatan, saudaranya ini selalu mengingkari Muhammad ibn Abdil Wahhab dalam apa yang dia lakukan, ucapakan dan segala apa yang ia perintahkan. Sedikitpun, Syekh Sulaiman ini tidak pernah mengikuti berbagai bid’ah yang diserukan olehnya. Suatu hari Syekh Sulaiman berkata kepadanya: “Wahai Muhammad Berapakah rukun Islam?” Muhammad ibn Abdil Wahhab menjawab: “Lima”. Syekh Sulaiman berkata: “Engkau telah menjadikannya enam, dengan menambahkan bahwa orang yang tidak mau mengikutimu engkau anggap bukan seorang muslim”.
Suatu hari ada seseorang berkata kepada Muhammad ibn Abdil Wahhab: “Berapa banyak orang yang Allah merdekakan (dari neraka) di setiap malam Ramadlan? Ia menjawab: “Setiap malam Ramadlan Allah memerdekakan seratus ribu orang, dan di akhir malam Allah memerdekakan sejumlah orang yang dimerdekakan dalam sebulan penuh”. Tiba-tiba orang tersebut berkata: “Seluruh orang yang mengikutimu jumlah mereka tidak sampai sepersepuluh dari sepersepuluh jumlah yang telah engkau sebutkan, lantas siapakah orang-orang Islam yang dimerdekakan Allah tersebut?! Padahal menurutmu orang-orang Islam itu hanyalah mereka yang mengikutimu”. Muhammad ibn Abdil Wahhab terdiam tidak memiliki jawaban.
    

Ketika perselisihan antara Muhammad ibn Abdil Wahhab dengan saudaranya; Syekh Sulaiman semakin memanas, saudaranya ini akhirnya khawatir terhadap dirinya sendiri. Karena bisa saja Muhammad ibn Abdil Wahhab sewaktu-waktu menyuruh seseorang untuk membunuhnya. Akhirnya ia hijrah ke Madinah, kemudian menulis karya sebagai bantahan kepada Muhammad ibn Abdil Wahhab yang kemudian ia kirimkan kepadanya. Namun, Muhammad ibn Abdil Wahhab tetap tidak bergeming dalam pendirian sesatnya. Demikian pula banyak para ulama madzhab Hanbali yang telah menulis berbagai risalah bantahan terhadap Muhammad ibn Abdil Wahhab yang mereka kirimkan kepadanya. Namun tetap Muhammad ibn Abdil Wahhab tidak berubah sedikitpun.
Suatu ketika, salah seorang kepala sautu kabilah yang cukup memiliki kekuatan hingga hingga Muhammad ibn Abdil Wahhab tidak dapat menguasainya berkata kepadanya: ”Bagaimana sikapmu jika ada seorang yang engkau kenal sebagai orang yang jujur, amanah, dan memiliki ilmu agama berkata kepadamu bahwa di belakang suatu gunung terdapat banyak orang yang hendak menyerbu dan membunuhmu, lalu engkau kirimkan seribu pasukan berkuda untuk medaki gunung itu dan melihat orang-orang yang hendak membunuhmu tersebut, tapi ternyata mereka tidak mendapati satu orangpun di balik gunung tersebut, apakah engkau akan membenarkan perkataan yang seribu orang tersebut atau satu orang tadi yang engkau anggap jujur?” Muhammad ibn Abdil Wahhab menjawab: ”Saya akan membenarkan yang seribu orang”. Kemudian kepada kabilah tersebut berkata: ”Sesungguhnya para ulama Islam, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, dalam karya-karya mereka telah mendustakan ajaran yang engkau bawa, mereka mengungkapkan bahwa ajaran yang engkau bawa adalah sesat, karena itu kami mengikuti para ulama yang banyak tersebut dalam menyesatkan kamu”. Saat itu Muhammad ibn Abdil Wahhab sama sekali tidak berkata-kata.
Terjadi pula peristiwa, suatu saat seseorang berkata kepada Muhammad ibn Abdil Wahhab: ”Ajaran agama yang engkau bawa ini apakah ini bersambung (hingga Rasulullah) atau terputus?”. Muhammad ibn Abdil Wahhab menjawab: ”Seluruh guru-guruku, bahkan guru-guru mereka hingga enam ratus tahun lalu, semua mereka adalah orang-orang musyrik”. Orang tadi kemudian berkata: ”Jika demikian ajaran yang engkau bawa ini terputus! Lantas dari manakah engkau mendapatkannya?” Ia menjawab: ”Apa yang aku serukan ini adalah wahyu ilham seperti Nabi Khadlir”. Kemudian orang tersebut berkata: ”Jika demikian berarti tidak hanya kamu yang dapat wahyu ilham, setiap orang bisa mengaku bahwa dirinya telah mendapatkan wahyu ilham. Sesungguhnya melakukan tawassul itu adalah perkara yang telah disepakati di kalangan Ahlussunnah, bahkan dalam hal ini Ibn Taimiyah memiliki dua pendapat, ia sama sekali tidak mengatakan bahwa orang yang melakukan tawassul telah menjadi kafir” (ad-Durar as-Saniyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah, h. 42-43).

Yang dimaksud oleh Muhammad ibn Abdil Wahhab bahwa orang-orang terdahulu dalam keadaan syirik hingga enam ratus tahun ke belakang dari masanya ialah hingga tahun masa hidup Ibn Taimiyah, yaitu hingga sekitar abad tujuh dan delapan hijriyah ke belakang. Menurut Muhammad ibn Abdil Wahhab dalam rentang masa antara hidup Ibn Taimiyah, yaitu di abad tujuh dan delapan hijriyah dengan masa hidupnya sendiri yaitu pada abad dua belas hijriyah, semua orang di dalam masa tersebut adalah orang-orang musyrik. Ia memandang dirinya sendiri sebagai orang yang datang untuk memperbaharui tauhid. Dan ia menganggap bahwa hanya Ibn Taimiyah yang selaras dengan jalan dakwah dirinya. Menurutnya, Ibn Taimiyah di masanya adalah satu-satunya orang yang menyeru kepada Islam dan tauhid di mana saat itu Islam dan tauhid tersebut telah punah. Lalu ia mengangap bahwa hingga datang abad dua belas hijriyah, hanya dirinya seorang saja yang melanjutkan dakwah Ibn Taimiyah tersebut. Klaim Muhammad ibn Abdil Wahhab ini sungguh sangat sangat aneh, bagaimana ia dengan sangat berani mengakafirkan mayoritas umat Islam Ahlussunnah yang jumlahnya ratusan juta, sementara ia menganggap bahwa hanya pengikutnya sendiri yang benar-benar dalam Islam?! Padahal jumalah mereka di masanya hanya sekitar seratus ribu orang. Kemudian di Najd sendiri, yang merupakan basis gerakannya saat itu, mayoritas penduduk wilayah tersebut di masa hidup Muhammad ibn Abdil Wahhab tidak mengikuti ajaran dan faham-fahamnya. Hanya saja memang saat itu banyak orang di wilayah tersebut takut terhadap dirinya, oleh karena prilakunya yang tanpa segan membunuh orang-orang yang tidak mau mengikuti ajakannya.

Prilaku jahat Muhammad ibn Abdil Wahhab ini sebagaimana diungkapkan oleh al-Amir ash-Shan’ani, penulis kitab Subul as-Salâm Syarh Bulûgh al-Marâm. Pada awalnya, ash-Shan’ani memuji-muji dakwah Muhammad ibn Abdil Wahhab, namun setelah ia mengetahui hakekat siapa Muhammad ibn Abdil Wahhab, ia kemudian berbalik mengingkarinya. Sebelum mengetahui siapa hakekat Muhammad ibn Abdil Wahhab, ash-Shan’ani memujinya dengan menuliskan beberapa sya’ir, yang pada awal bait sya’ir-sya’ir tersebut ia mengatakan:

    سَلاَمٌ عَلَى نَجْدٍ وَمَنْ حَلّ فِي نَجْدِ وَإنْ كَانَ تَسْلِيْمِيْ عَلَى البُعْدِ لاَ يجْدِي
“Salam tercurah atas kota Najd dan atas orang-orang yang berada di dalamnya, walaupun salamku dari kejauhan tidak mencukupi”.

Bait-bait sya’ir tulisan ash-Shan’ani ini disebutkan dalam kumpulan sya’ir-sya’ir (Dîwân) karya ash-Shan’ani sendiri, dan telah diterbitkan. Secara keseluruhan, bait-bait syair tersebut juga dikutip oleh as-Syaukani dalam karyanya berjudul al-Badr at-Thâli’, juga dikutip oleh Shiddiq Hasan Khan dalam karyanya berjudul at-Tâj al-Mukallal, yang oleh karena itu Muhammad ibn Abdil Wahhab mendapatkan tempat di hati orang-orang yang tidak mengetahui hakekatnya. Padahal al-Amir ash-Shan’ani setelah mengetahui bahwa prilaku Muhammad ibn Abdil Wahhab selalu membunuh orang-orang yang tidak sepaham dengannya, merampas harta benda orang lain, mengkafirkan mayoritas umat Islam, maka ia kemudian meralat segala pujian terhadapnya yang telah ia tulis dalam bait-bait syairnya terdahulu, yang lalu kemudian balik mengingkarinya. Ash-Shan’ani kemudian membuat bait-bait sya’ir baru untuk mengingkiari apa yang telah ditulisnya terdahulu, di antaranya sebagai berikut:

    رَجَعْتُ عَن القَول الّذيْ قُلتُ فِي النّجدِي فقَدْ صحَّ لِي عنهُ خلاَفُ الّذِي عندِي
    ظنَنْتُ بهِ خَيْرًا فَقُـلْتُ عَـسَى عَـسَى نَجِدْ نَاصِحًا يَهْدي العبَادَ وَيستهْدِي
    لقَد خَـابَ فيْه الظنُّ لاَ خَاب نصـحُنا ومَـا كلّ ظَـنٍّ للحَقَائِق لِي يهدِي
    وقَـدْ جـاءَنا من أرضِـه الشيخ مِرْبَدُ فحَقّق مِنْ أحـوَاله كلّ مَا يبـدِي
    وقَـد جَـاءَ مِـن تأليــفِهِ برَسَـائل يُكَـفّر أهْلَ الأرْض فيْهَا عَلَى عَمدِ
    ولـفق فِـي تَكْـفِيرِهمْ كل حُــجّةٍ تَرَاهـا كبَيتِ العنْكَبوتِ لدَى النّقدِ

    “Aku ralat ucapanku yang telah aku ucapkan tentang seorang yang berasal dari Najd, sekarang aku telah mengetahui kebenaran yang berbeda dengan sebelumnya”.
    “Dahulu aku berbaik sangka baginya, dahulu aku berkata: Semoga kita mendapati dirinya sebagi seorang pemberi nasehat dan pemeberi petunjuk bagi orang banyak”
    “Ternyata prasangka baik kita tentangnya adalah kehampaan belaka. Namun demikian bukan berarti nasehat kita juga merupakan kesia-siaan, karena sesungguhnya setiap prasangka itu didasarkan kepada ketaidaktahuan akan hakekat-hakekat”.
    “Telah datang kepada kami “Syekh” ini dari tanah asalnya. Dan telah menjadi jelas bagi kami dengan sejelas-jelasnya tentang segala hakekat keadaannya dalam apa yang ia tampakkan”.
    “Telah datang dalam beberapa tulisan risalah yang telah ia tuliskan, dengan sengaja di dalamnya ia mengkafirkan seluruh orang Islam penduduk bumi, -selain pengikutnya sendiri-”.
    “Seluruh dalil yang mereka jadikan landasan dalam mengkafirkan seluruh orang Islam penduduk bumi tersebut jika dibantah maka landasan mereka tersebut laksana sarang laba-laba yang tidak memiliki kekuatan”.
Selain bait-bait sya’ir di atas terdapat lanjutannya yang cukup panjang, dan ash-Shan’ani sendiri telah menuliskan penjelasan (syarh) bagi bait-bait syair tersebut. Itu semua ditulis oleh ash-Shan’ani hanya untuk membuka hekekat Muhammad ibn Abdil Wahhab sekaligus membantah berbagai sikap ekstrim dan ajaran-ajarannya. Kitab karya al-Amir ash-Shan’ani ini beliau namakan dengan judul “Irsyâd Dzawî al-Albâb Ilâ Haqîqat Aqwâl Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahhâb”.

Saudara kandung Muhammad ibn Abdil Wahhab yang telah kita sebutkan di atas, yaitu Syekh Sulaiman ibn Abdil Wahhab, juga telah menuliskan karya bantahan kepadanya. Beliau namakan karyanya tersebut dengan judul ash-Shawâ-iq al-Ilâhiyyah Fî al-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah, dan buku ini telah dicetak. Kemudian terdapat karya lainnya dari Syekh Suliman, yang juga merupakan bantahan kepada Muhammad ibn Abdil Wahhab dan para pengikutnya, berjudul “Fashl al-Khithâb Fî ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahhâb”.



MADZHAB HANBALI

Kemudian pula salah seorang mufti madzhab Hanbali di Mekah pada masanya, yaitu Syekh Muhammad ibn Abdullah an-Najdi al-Hanbali, wafat tahun 1295 hijriyah, telah menulis sebuah karya berjudul “as-Suhub al-Wâbilah ‘Alâ Dlarâ-ih al-Hanâbilah”. Kitab ini berisi penyebutan biografi ringkas setiap tokoh terkemuka di kalangan madzhab Hanbali. Tidak sedikitpun nama Muhammad ibn Abdil Wahhab disebutkan dalam kitab tersebut sebagai orang yang berada di jajaran tokoh-tokoh madzhab Hanbali tersebut. Sebaliknya, nama Muhammad ibn Abdil Wahhab ditulis dengan sangat buruk, namanya disinggung dalam penyebutan nama ayahnya; yaitu Syekh Abdul Wahhab ibn Sulaiman. Dalam penulisan biografi ayahnya ini Syekh Muhammad ibn Abdullah an-Najdi mengatakan sebagai berikut:

“Dia (Abdul Wahhab ibn Sulaiman) adalah ayah kandung dari Muhammad yang ajaran sesatnya telah menyebar ke berbagai belahan bumi. Antara ayah dan anak ini memiliki perbedaan faham yang sangat jauh, dan Muhammad ini baru menampakan secara terang-terangan terhadap segala faham dan ajaran-ajarannya setelah kematian ayahnya. Aku telah diberitahukan langsung oleh beberapa orang dari sebagian ulama dari beberapa orag yang hidup semasa dengan Syekh Abdul Wahhab, bahwa ia sangat murka kepada anaknya; Muhammad. Karena Muhammad ini tidak mau mempelajari ilmu fiqih (dan ilmu-ilmu agama lainnya) seperti orang-orang pendahulunya. Ayahnya ini juga mempunyai firasat bahwa pada diri Muhammad akan terjadi kesesatan yang sanat besar. Kepada banyak orang Syekh Abdul Wahhab selalu mengingatkan: ”Kalian akan melihat dari Muhammad ini suatu kejahatan...”. Dan ternyata memang Allah telah mentaqdirkan apa yang telah menjadi firasat Syekh Abdul Wahhab ini. 
Demikian pula dengan saudara kandungnya, yaitu Syekh Sulaiman ibn Abdil Wahhab, ia sangat mengingkari sepak terjang Muhammad. Ia banyak membantah saudaranya tersebut dengan berbagai dalil dari ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits-Hadits, karena Muhammad tidak mau menerima apapun kecuali hanya al-Qur’an dan Hadits saja. Muhammad sama sekali tidak menghiraukan apapun yang dinyatakan oleh para ulama, baik ulama terdahulu atau yang semasa dengannya. Yang ia terima hanya perkataan Ibn Taimiyah dan muridnya; Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah. Apapun yang dinyatakan oleh dua orang ini, ia pandang laksana teks yang tidak dapat diganggu gugat. Kepada banyak orang ia selalu mempropagandakan pendapat-pendapat Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim, sekalipun terkadang dengan pemahaman yang sama sekali tidak dimaksud oleh keduanya. Syekh Sulaiman menamakan karya bantahan kepadanya dengan judul Fashl al-Khithâb Fî ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb. 
Syekh Sulaiman ini telah diselamatkan oleh Allah dari segala kejahatan dan marabahaya yang ditimbulkan oleh Muhammad, yang padahal hal tersebut sangat menghkawatirkan siapapun. Karena Muhammad ini, apa bila ia ditentang oleh seseorang dan ia tidak kuasa untuk membunuh orang tersebut dengan tangannya sendiri maka ia akan mengirimkan orangnya untuk membunuh orang itu ditempat tidurnya, atau membunuhnya dengan cara membokongnya di tempat-tempat keramaian di malam hari, seperti di pasar. Ini karena Muhammad memandang bahwa siapapun yang menentangnya maka orang tersebut telah menjadi kafir dan halal darahnya. 
Disebutkan bahwa di suatu wilayah terdapat seorang gila yang memiliki kebiasaan membunuh siapapun yang ada di hadapannya. Kemudian Muhammad memerintahkan orang-orangnya untuk memasukkan orang gila tersebut dengan pedang ditangannya ke masjid di saat Syekh Sulaiman sedang sendiri di sana. Ketika orang gila itu dimasukan, Syekh Sulaiman hanya melihat kepadanya, dan tiba-tiba orang gila tersebut sangat ketakutan darinya. Kemudian orang gila tersebut langsung melemparkankan pedangnya, sambil berkata: ”Wahai Sulaiman janganlah engkau takut, sesungguhnya engkau adalah termasuk orang-orang yang aman”. Orang gila itu mengulang-ulang kata-katanya tersebut. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini jelas merupakan karamah” (as-Suhub al-Wâbilah Ala Dlara-ih al-Hanbilah, h. 275).

Dalam tulisan Syekh Muhammad ibn Abdullah an-Najdi di atas disebutkan bahwa Syekh Abdul Wahhab sangat murka sekali kepada anaknya; Muhammad, karena tidak mau mempelajari ilmu fiqih, ini artinya bahwa dia sama sekali bukan seorang ahli fiqih dan bukan seorang ahli Hadits. Adapun yang membuat dia sangat terkenal tidak lain adalah karena ajarannya yang sangat ekstrim dan nyeleneh. Sementara para pengikutnya yang sangat mencintainya, hingga mereka menggelarinya dengan Syekh al-Islâm atau Mujaddid, adalah klaim laksana panggang yang sangat jauh dari api. Para pengikutnya yang lalai dan terlena tersebut hendaklah mengetahui dan menyadari bahwa tidak ada seorangpun dari sejarawan terkemuka di abad dua belas hijriyah yang mengungkap biografi Muhammad ibn Abdil Wahhab dengan menyebutkan bahwa dia adalah seorang ahli fiqih atau seorang ahli Hadits.





MADZHAB HANAFI

Syekh Ibn Abidin al-Hanafi dalam karyanya; Hâsyiyah Radd al-Muhtâr ‘Alâ ad-Durr al-Mukhtâr menuslikan sebagai berikut:

“Penjelasan; Prihal para pengikut Muhammad ibn Abdil Wahhab sebagai kaum Khawarij di zaman kita ini. Pernyataan pengarang kitab (yang saya jelaskan ini) tentang kaum Khawarij: “Wa Yukaffirûn Ash-hâba Nabiyyina…”, bahwa mereka adalah kaum yang mengkafirkan para sahabat Rasulullah, artinya kaum Khawarij tersebut bukan hanya mengkafirkan para sahabat saja, tetapi kaum Khawarij adalah siapapun mereka yang keluar dari pasukan Ali ibn Abi Thalib dan memberontak kepadanya. Kemudian dalam keyakinan kaum Khawajij tersebut bahwa yang memerangi Ali ibn Abi Thalib, yaitu Mu’awiyah dan pengikutnya, adalah juga orang-orang kafir. Kelompok Khawarij ini seperti yang terjadi di zaman kita sekarang, yaitu para pengikut Muhammad ibn Abdil Wahhab yang telah memerangi dan menguasai al-Haramain; Mekkah dan Madinah. Mereka memakai kedok madzhab Hanbali. Mereka meyakini bahwa hanya diri mereka yang beragama Islam, sementara siapapun yang menyalahi mereka adalah orang-orang musyrik. Lalu untuk menegakan keyakinan ini mereka mengahalalkan membunuh orang-orang Ahlussunnah. Oleh karenanya banyak di antara ulama Ahlussunnah yang telah mereka bunuh. Hingga kemudian Allah menghancurkan kekuatan mereka dan membumihanguskan tempat tinggal mereka hingga mereka dikuasai oleh balatentara orang-orang Islam, yaitu pada tahun seribu dua ratus tiga puluh tiga hijriyah (th 1233 H)” (Radd al-Muhtâr ‘Alâ ad-Durr al-Mukhtâr, j. 4, h. 262; Kitab tentang kaum pemberontak.).

HASYIYAH ASH-SHAWI


Salah seorang ahli tafsir terkemuka; Syekh Ahmad ash-Shawi al-Maliki dalam ta’lîq-nya terhadap Tafsîr al-Jalâlain menuliskan sebagai berikut:

“Menurut satu pendapat bahwa ayat ini turun tentang kaum Khawarij, karena mereka adakah kaum yang banyak merusak takwil ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits-Hadits Rasulullah. Mereka menghalalkan darah orang-orang Islam dan harta-harta mereka. Dan kelompok semacam itu pada masa sekarang ini telah ada. Mereka itu adalah kelompok yang berada di negeri Hijaz; bernama kelompok Wahhabiyyah. Mereka mengira bahwa diri mereka adalah orang-orang yang benar dan terkemuka, padahal mereka adalah para pendusta. Mereka telah dikuasai oleh setan hingga mereka lalai dari mengenal Allah. Mereka adalah golongan setan, dan sesungguhnya golongan setan adalah orang-orang yang merugi. Kita berdo’a kepada Allah, semoga Allah menghancurkan mereka” (Mir-ât an-Najdiyyah, h. 86). 

Hukum Membaca al-Qur’an Di Atas Kubur Ketika Ziarah


Ziarah kubur adalah amalan sunnah yang sudah menjadi tradisi dikalangan kaum Muslimin sejak masa terdahulu hingga dimasa kini. Tidak ada perselisihan diantara fuqaha’ dalam hal ini. Diantara hal yang dilakukan peziarah (zair) qubur adalah mengucapkan salam kepada penghuni qubur sebagaimana telah warid tentang hal itu, membaca al-Qur’an di samping (diatas) qubur, kemudian mengiringinya dengan do’a untuk penghuni kubur.

Namun yang sering menjadi masalah dan dipermasalahkan adalah terkait pembacaan al-Qur’an di kuburan. Ada sebuah fitnah yang kurang ajar dan tidak bermoral (su’ul adab) yang keluar dari mulut orang ahli bicara yang mengatakan bahwa membaca al-Qur’an di atas kubur adalah seperti kaum Nasrani dan Yahudi. Mereka menebar permusuhan serta perpecahan diantara umat Islam dengan tidak segan-segan menuding dan mencap ahli bid’ah yang sesat terhadap kaum Muslimin.

Dalam Madzhab Syafi’i membaca al-Qur’an diatas kubur untuk mayyit atau penghuni kubur adalah perkara yang hukumnya sunnah.  Imam asy-Syafi’i rahimahullah, beliau adalah mujtahid mutlak ahli hadits generasi salafush shaleh yang menganjurkan agar membacakan al-Qur’an disamping kubur.

Imam Muhammad ‘Ali bin Muhammad bin ‘Allan bin Ibrahim al-Bakriasy-Syafi’i didalam Dalilul Falihin li-thuruqi Riyadl ash-Shalihiin [6/426] menyebutkan perkataan Imam asy-Syafi’i dan mensyarahnya sebagai berikut :
قال الشافعي رحمه الله: ويستحب أن يقرأ عنده شيء من القرآن) ليصيبه من الرحمة النازلة على القراء للقرآن نصيب (وإن ختموا القرآن) أي قرءوه (كله كان حسناً) لعظيم فضله.
“(Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata : disunnahkan agar membaca sesuatu dari al-Qur’an di samping qubur) agar ia mendapatkan rahmat yang diturunkan atas pembacanya karena al-Qur’an (apabila mengkhatamkan al-Qur’an) semuanya itu bagus karena banyaknya fadlilah”
Demikian juga dengan Imam al-Mawardi asy-Syafi’i didalam al-Hawi al-Kabir fiy Fiqh Madzhab asy-Syafi’i (Syarah Mukhtashar Muzanni) [3/26] :
فأما القراءة عند القبر فقد قال الشافعي: ورأيت من أوصى بالقراءة عند قبره وهو عندنا حسن
“adapun membaca al-Qur’an disisi qubur maka sungguh Imam asy-Syafi’i telah berkata : “aku memandang orang yang berpesan agar dibacakan al-Qur’an disisi quburnya adalah hasan (bagus) menurut kami”.
Namun kadang riwayat-riwayat perkataan Imam asy-Syafi’i seperti diatas dituduh sebagai perkataan ashhabusy syafi’i, namun tuduhan mereka tentu saja tidak benar. Hal itu hanya untuk memuluskan nafsu mereka dalam mengharamkan amalan tersebut. Untuk memperkuatnya, berikut riwayat dari al-Muhaddits al-Baihaqi  didalam Ma’rifatus Sunani wal Atsar [7743] :
قال الشافعى : وأحب لو قرئ عند القبر ودعى للميت.  
“asy-Syafi’i berkata : aku menyukai sendainya dibacakan al-Qur’an disamping qubur dan dibacakan do’a untuk mayyit”
Kitab Ma’rifatus Sunani wal Atsar merupakan kitab takhrij kepada kitab Mukhtashar al-Muzani salah seorang murid sekaligus penolong (penyebar) madzhab Imam Syafi’i.

Imam Abdul Karim bin Muhammad ar-Rafi’i asy-Syafi’i menyebutkan didalam Fathul ‘Aziz bisyarhi al-Wajiz [5/249] dan dari apa yang beliau tuturkan menunjukkan bahwa membaca al-Qur’an diatas kubur memang telah dilakukan oleh kaum Muslimin sejak dahulu.
والسنة ان يقول الزائر سلام عليكم دار قوم مؤمنين وانا ان شاء الله عن قريب بكم لاحقون اللهم لا تحرمنا أجرهم ولا تفتنا بعدهم وينبغي أن يدنو الزائر من القبر المزور بقدر ما يدنو من صاحبه لو كان حيا وزاره وسئل القاضى أبو الطيب عن ختم القرآن في المقابر فقال الثواب للقارئ ويكون الميت كالحاضرين يرجى له الرحمة والبركة فيستحب قراءة القرآن في المقابر لهذا المعني وأيضا فالدعاء عقيب القراءة أقرب الي الاجابة والدعاء ينفع الميت
“dan sunnah agar peziarah mengucapkan : “Salamun ‘Alaykum dara qaumi Mukminiin wa Innaa InsyaAllahu ‘an qariibi bikum laa hiquun Allahumma laa tahrimnaa ajrahum wa laa taftinnaa ba’dahum”, dan sepatutnya zair (peziarah) mendekat ke kubur yang diziarahi seperti dekat kepada sahabatnya ketika masih hidup dan menziarahinya, al-Qadli Abu ath-Thayyib ditanya tentang mengkhatamkan al-Qur’an dipekuburan maka beliau menjawab ; ada pahala bagi pembacanya, sedangkan mayyit seperti orang yang hadir yang diharapkan mendapatkan rahmat dan berkah baginya, maka disunnahkan membaca al-Qur’an di pekuburan berdasarkan makna ini, dan juga disunnahkan berdo’a mengiringi bacaan al-Qur’an sebab lebih dekat untuk di ijabah sedangkan do’a bermanfaat bagi mayyit”.
Imam al-Hafidz Syaikhul Islam Abu Zakariyya Muhyiddin Yahya bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi asy-Syafi’i didalam Raudlatuth Thalibiin wa ‘Umdatul Muftiin [2/139] :
فرع يستحب للرجال زيارة القبور، وهل يكره للنساء؟ وجهان. أحدهما: وبه قطع الأكثرون: يكره. والثاني، وهو الأصح عند الروياني: لا يكره إذا أمنت من الفتنة. والسنة أن يقول الزائر: سلام عليكم دار قوم مؤمنين، وإنا إن شاء الله عن قريب بكم لاحقون، اللهم لا تحرمنا أجرهم، ولا تفتنا بعدهم. وينبغي للزائر، أن يدنو من القبر بقدر ما كان يدنو من صاحبه في الحياة لو زاره. وسئل القاضي أبو الطيب عن قراءة القرآن في المقابر فقال: الثواب للقارئ، ويكون الميت كالحاضر، ترجى له الرحمة والبركة، فيستحب قراءة القرآن في المقابر لهذا المعنى، وأيضا فالدعاء عقيب القراءة أقرب إلى الإجابة، والدعاء ينفع الميت.
“Disunnahkan bagi laki-laki melakukan ziarah qubur, sedangkan apakah bagi perempuan dimakruhkan ? terdapa dua pendangan ; pertama, kebanyakan ‘ulama memuturkan bahwa dimakruhkan bagi perempuan melakukan ziarah qubur, kedua, yakni pendapat yang lebih shahih menurut Imam ar-Ruyani, tidak dimakruhkan apabila aman dari fitnah. Sunnah bagi peziarah mengucapkan “Salamun ‘alaykum dar qaumin Mukminiin, wa innaa InsyaAllahu ‘an qaribi bikum laa hiquun, Allahumma laa tahrimnaa ajrahum wa laa taftinnaa ba’dahum”, sepatutnya bagi peziarah supaya mendekat ke qubut seperti mendekat kepada kawannya ketika hidup, al-Qadli Abu Thayyib tentang pembacaan al-Qur’an di pekuburan, maka ia berkata : terdapat pahala bagi pembacanya, sedangkan mayyit seperti orang yang hadlir, yang diharapkan mayyit mendapatkan rahmat dan barakah, maka disunnahkan membaca al-Qur’an dipekuburan berdasarkan pengertian ini, dan juga disunnahkan berdo’a, do’a mengiringi pembacaan al-Qur’an sebab itu lebih dekat di ijabah, sedangkan do’a sendiri bermanfaat bagi mayyit”.
Dalam Riyadlush Shalihin [1/295] beliau menyebutkan :
قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمهُ اللَّه: ويُسْتَحَبُّ أنْ يُقرَأَ عِنْدَهُ شيءٌ مِنَ القُرآنِ، وَإن خَتَمُوا القُرآن عِنْدهُ كانَ حَسناً.
“Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata : disunnahkan agar membaca sesuatu dari al-Qur’an disisi quburnya, dan apabila mereka mengkhatamkan al-Qur’a disisi quburnya maka itu bagus”
Kembali disebutkan didalam al-Majmu’ syarah al-Muhadzdzab [5/294 dan 311] :
يستحب أن يمكث على القبر بعد الدفن ساعة يدعو للميت ويستغفر له نص عليه الشافعي واتفق عليه الأصحاب قالوا ويستحب أن يقرأ عنده شئ من القرآن وإن ختموا القرآن كان أفضل.... وروى البيهقي بإسناده أن ابن عمر رضي الله عنهما استحب قراءة أول البقرة وآخرها عند القبر والله أعلم.
“Disunnahkan agar berdiam sejenak diatas kubur setelah pemakaman untuk mendo’akan dan memohon ampunan untuk mayyit, nas al-Imam asy-Syafi’i dan ashhab sy-Syafi’i menyepakatinya, dan mereka juga berkata : disunnahkan agar membaca sesuatu dari al-Qur’an disisi qubur mayyit, namun apabila mengkhatamkan al-Qur’an itu lebih utama, ... Imam al-Baihaqi meriwayatkan beserta sanadnya bahwa Ibnu ‘Umar radliyallahu ‘anhumaa menganjurkan (mensunnahkan) pembacaan awal surah al-Baqarah dan akhirnya disisi qubur, wallahu a’lam”.

ويستحب للزائر أن يسلم على المقابر ويدعو لمن يزوره ولجميع أهل المقبرة والأفضل أن يكون السلام والدعاء بما ثبت في الحديث ويستحب أن يقرأ من القرآن ما تيسر ويدعو لهم عقبها نص عليه الشافعي واتفق عليه الأصحاب قال الحافظ أبو موسى الأصفهاني رحمه الله في كتابه آداب زيارة القبور الزائر بالخيار إن شاء زار قائما وإن شاء قعد
“disunnahkan bagi peziarah agar mengucapkan salam kepada penghuni kubur dan mendo’akan orang yang diziarahi dan seluruh penghuni qubur, dan yang afdlal mengucapkan salam dan do’a dengan yang telah tsabit didalam hadits, dan disunnahkan agar membaca sesuatu yang mudah dari al-Qur’an dan mendo’akan mereka mengiringi pembacaan al-Qur’an, nas Imam asy-Syafi’i dan telah disepakati oleh ashhab Syafi’i, al-Hafidz Abu Musa al-Ashfahani rahimahullah didalam kitabnya Adab Ziarah Qubur, peziarah qubur boleh memilih antara duduk dan berdiri”.
Juga didalam al-Adzkar :
وروينا في " سنن أبي داود " والبيهقي بإسناد حسن، عن عثمان رضي الله عنه، قال: كان النبيُّ صلى الله عليه وسلم إذا فرغَ من دفن الميت، وقفَ عليه فقال: " اسْتَغْفِرُوا لأَخِيكُمْ، وسألوا الله لَهُ التَّثْبِيتَ فإنَّهُ الآنَ يُسْألُ ". قال الشافعي والأصحاب: يُستحبّ أن يقرؤوا عنده شيئاً من القرآن، قالوا: فإن ختموا القرآن كلَّه كان حسناً.
“Kami meriwayatkan didalam Sunan Abi Daud dan al-Baihaqi dengan sanadnya hasan, dari ‘Utsman radliyallahu ‘anh, ia berkata ; Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam apabila selesai memakamkan mayyit, beliau berdiam diatasnya kemudian bersabda : mohon ampunkanlah kalian untuk saudara kalian dan mohonlah kepada Allah ketabahan untuknya, karena saat ini ia sedang ditanya”. Imam asy-Syafi’i dan ashhabnya (sahabat-sahabatnya) berkata : disunnahkan agar mereka membaca sesuatu dari al-Qur’an disisi quburnya, apabila mengkhatamkan al-Qur’an seluruhnya maka itu bagus”
وروينا في " سنن البيهقي " بإسناد حسن، أن ابن عمر استحبَّ أن يقرأ على القبر بعد الدفن أوّل سورة البقرة وخاتمتها.
“Kami meriwayatkan didalam Sunan al-Baihaqi dengan sanad yang hasan, bahwa Ibnu ‘Umar mensunnahkan agar membaca awal surah al-Baqarah dan mengkhatamkannya diatas qubur setelah pemakaman”.
Imam Zakariyya bin Muhammad bin Ahmad bin Zakariyya al-Anshariy didalam Al-Gharar al-Bahiyyah fi syarhi al-Bahjah al-Wardiyah [2/121] :
ويندب أن يقول الزائر: سلام عليكم دار قوم مؤمنين وإنا إن شاء الله بكم لاحقون اللهم لا تحرمنا أجرهم ولا تفتنا بعدهم وأن يقرأ ما تيسر من القرآن ويدعو لهم وأن يسلم على المزور من قبل وجهه وأن يتوجه في الدعاء إلى القبلة وعن الخراسانيين إلى وجهه وعليه العمل
“Disunnahkan bagi peziarah mengucapkan salam (..), kemudian (disunnahkan) membaca apa yang mudah dari al-Qur’an dan mendo’akan mereka, serta mengucapkan salam atas yang diziarahi sebelum menghadapnya, disunnahkan menghdap qiblat ketika berdo’a sedangkan Khurasaniyyun menghadap ke wajah mayyit, dan dengan ini mereka beramal.”
Kembali beliau menuturkan dalam Fathul Wahab bisyarhi Minhaj ath-Thullab [1/118] :
( و ) أن ( يقرأ ) من القرآن ما تيسر ( ويدعو ) له بعد توجهه إلى القبلة لأن الدعاء ينفع الميت وهو عقب القراءة أقرب إلى الإجابة
“dan disunnahkan agar membaca apa yang dirasa mudah dari al-Qur’an, kemudian berdo’a setelah menghadap ke qiblat, karena sesungguhnya do’a bermanfaat bagi mayyit, dan do’a yang mengiringi bacal al-Qur’an lebih dekat di ijabah”.
Juga didalam Asnal Mathalib [1/331] :
(وأن يقرأ) عنده ما تيسر من القرآن (ثم يدعو) له بعد توجهه إلى القبلة قال النووي ويستحب الإكثار من الزيارة وأن يكثر الوقوف عند قبور أهل الخير والفضل (والأجر له) أي للقارئ (والميت كالحاضر ترجى له الرحمة) والبركة
“(disunnahkan) agar perziarah membaca apa yang mudah dari al-Qur’an disisi kuburan, kemudian berdo’a untuk mayyit menghadap qiblat, an-Nawawi berkata, disunnahkan memperbanyak ziarah dan memperbanyak diam di qubur ahlul khair wal fadll, dan ada pahala bagi pembacanya sedangkan mayyit seperti orang yang hadir yang diharapkan mendapatkan syafa’at dan berkah”
Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad al-Khathib as-Sarbini didalam al-Iqnaa’ fi Halli Alfadh Abi Syuja’ [1/208] :
وَينْدب أَن يسلم الزائر لقبور الْمُسلمين مُسْتَقْبلا وَجه الْمَيِّت قَائِلا مَا علمه صلى الله عَلَيْهِ وَسلم إِذا خَرجُوا للمقابر السَّلَام على أهل الدَّار من الْمُؤمنِينَ وَالْمُسْلِمين وَإِنَّا إِن شَاءَ الله بكم لاحقون أسأَل الله لي وَلكم الْعَافِيَة أَو السَّلَام عَلَيْكُم دَار قوم مُؤمنين وَإِنَّا إِن شَاءَ الله بكم لاحقون رَوَاهُمَا مُسلم وَزَاد أَبُو دَاوُد اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمنَا أجرهم وَلَا تفتنا بعدهمْ لَكِن بِسَنَد ضَعِيف وَقَوله إِن شَاءَ الله للتبرك وَيقْرَأ عِنْدهم مَا تيَسّر من الْقُرْآن فَإِن الرَّحْمَة تنزل فِي مَحل الْقِرَاءَة وَالْمَيِّت كحاضر ترجى لَهُ الرَّحْمَة وَيَدْعُو لَهُ عقب الْقِرَاءَة لِأَن الدُّعَاء ينفع الْمَيِّت وَهُوَ عقب الْقِرَاءَة أقرب إِلَى الْإِجَابَة وَأَن يقرب زَائِره مِنْهُ كقربه مِنْهُ فِي زيارته حَيا احتراما لَهُ قَالَه النَّوَوِيّ وَيسْتَحب الْإِكْثَار من الزِّيَارَة وَأَن يكثر الْوُقُوف عِنْد قُبُور أهل الْخَيْر وَالْفضل
“disunnahkan bagi peziarah mengucapkan salam kepada qubur muslimin dengan menghadap wajah mayyit, ucapannya sebagaimna diajarakan oleh Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam ketika keluar kepekuburan, “assalaamu ‘alaa ahlid dar minal mukminiina wal muslimiin wa innaa insyaAllahu bikum la hiquun as-alullaha liy wa lakum al-‘afiyah” atau “Assalamu ‘alaykum dara qaumin mukminiin wa inna InsyaAllahu bikum laa hiquun, keduanya diriwayatkan oleh Imam Muslim, dan Imam Abu Daud menambahkan : “Allahumma laa tahrimnaa ajrahum wa laa taftinnaa ba’dahum”, tetapi sanadnya dlaif, adapun perkataan “InsyaAllah” bertujuan untuk tabarruq (ngalap berkah), dan disunnahkan membaca apa yang dirasa mudah dari al-Qur’an disisi kubur muslimin, karena sesungguhnya rahmat diturunkan ditempat pembacaan al-Qur’an, sedangkan mayyit seperti orang yang hadlir yang diharapkan baginya mendapatkan rahmat, kemudian disunnahkan mendo’akan mereka mengiringi bacaan al-Qur’an karena sesungguhnya do’a bermanfaat bagi mayyit apalagi mengiringi bacaan al-Qur’an maka itu lebih dekat kepada di ijabah, dan agar menziarahinya seperti dekatnya berziarah ketika masih hidup untuk memulyakannya, ini sebagaimana Imam an-Nawawi, dan disunnahkan memperbanyak ziarah qubut, dan supaya memperbanyak diam disisi qubut ahlul khair wal fadll”.
Beliau kembali menuturkan dalam kitab Mughni Muhtaj [2/56] :
(ويقرأ) عنده من القرآن ما تيسر، وهو سنة في المقابر فإن الثواب للحاضرين والميت كحاضر يرجى له الرحمة، وفي ثواب القراءة للميت كلام يأتي إن شاء الله تعالى في الوصايا (ويدعو) له عقب القراءة رجاء الإجابة؛ لأن الدعاء ينفع الميت وهو عقب القراءة أقرب إلى الإجابة، وعند الدعاء يستقبل القبلة وإن قال الخراسانيون باستحباب استقبال وجه الميت. قال المصنف: ويستحب الإكثار من الزيارة، وأن يكثر الوقوف عند قبور أهل الخير والفضل.
“dan membaca apa yang dirasa mudah dari al-Qur’an di sisi qubur, dan itu adalah sunnah di pekuburan, dan sesungguhnya pahala bagi orang-orang yang hadir sedangkan mayyit seperti orang yang hadlir yang diharapkan ia mendapatkan rahmat, dan tentang pahala pembacaan al-Qur’an bagi mayyit, InsyaAllah bahasannya yang akan datang pada pembasan al-Washaya, dan mendo’akan mayyit mengiringi bacaan al-Qur’an niscaya itu lebih dekat di ijabah, dan berdo’a menghadap kiblat sedangkan ulama Khurasan menganjurkan menghadap ke wajah mayyit”.
Syaikh Muhammad bin ‘Umar an-Nawawi al-Jawi al-Bantani (Sayyid ‘Ulama Hijaz) didalam Nihayatuz Zain [1/162] :
(وَسَلام) ندبا حَالَة كَون الزائر مُسْتَقْبلا وَجه الْقُبُور قَائِلا مَا علمه رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم لعَائِشَة رَضِي الله عَنْهَا وَهُوَ السَّلَام على أهل الدَّار من الْمُؤمنِينَ وَالْمُسْلِمين وَيرْحَم الله الْمُسْتَقْدِمِينَ والمستأخرين وَإِنَّا إِن شَاءَ الله بكم لاحقون أَو مَا علمه رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم لأَصْحَابه وَهُوَ السَّلَام على أهل الدَّار من الْمُؤمنِينَ وَالْمُسْلِمين وَإِنَّا إِن شَاءَ الله بكم لاحقون أسأَل الله لنا وَلكم الْعَافِيَة رَوَاهُ مُسلم زَاد أَبُو دَاوُد بِسَنَد ضَعِيف اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمنَا أجرهم وَلَا تفتنا بعدهمْ وَيقْرَأ وَيَدْعُو عقب قِرَاءَته وَالدُّعَاء ينفع الْمَيِّت وَهُوَ عقب الْقِرَاءَة أقرب للإجابة
“(disunnahkan mengucapkan salam) bagi peziarah dengan menghadap ke kubur, seperti yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam kepada ‘Aisyah radliyallahu ‘anhaa, yakni “(..)”, atau seperti yang diajar kepada shabatnya yakni (...), dan berdo’a mengiringi bacaan al-Qur’an, sedangkan do’a bermanfaat bagi mayyit, dan berdo’a mengirisi bacaan al-Qur’an lebih dekat untuk di ijabah”.
Syaikh al-'Allamah Zainuddin Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz bin Zainuddin bin ‘Ali bin Ahmad al-Malibari asy-Syafi’i didalam Fathul Mu’in bisyarhi Qurrati ‘Ain bin Muhimmatid Diin pada pembahasan terkait ziarah qubur :
ويسن كما نص عليه أن يقرأ من القرآن ما تيسر على القبر فيدعو له مستقبلا للقبلة.
“disunnahkan –sebagaimana nas (hadits) yang menerangkan tentang hal itu- agar membaca apa yang dirasa mudah dari al-Qur’an diatas qubur, kemudian berdo’a untuk mayyit menghadap ke qiblat”
Imam Syamsuddin Muhammad bin Abul ‘Abbas Ahmad bin Hamzah Syihabuddin ar-Ramli didalam Nihayatul Muhtaj ilaa syarhi al-Minhaj [3/36] pada pembahasan terkait ziarah qubur :
(ويقرأ ويدعو) عقب قراءته، والدعاء ينفع الميت وهو عقب القراءة أقرب للإجابة
“(kemudian disunnahkan) membaca al-Qur’an dan berdo’a mengiri pembacaan al-Qur’an, sedangkan do’a bermanfaat bagi mayyit, dan do’a mengiringi bacaan al-Qur’an lebih dekat di ijabah”
Imam Ahmad Salamah al-Qalyubiy didalam Hasyiyatani Qalyubi wa ‘Umairah pada pembahasan terkait ziarah qubur :
قوله: (ويقرأ) أي شيئا من القرآن ويهدي ثوابه للميت وحده أو مع أهل الجبانة، ومما ورد عن السلف أنه من قرأ سورة الإخلاص إحدى عشرة مرة، وأهدى ثوابها إلى الجبانة غفر له ذنوب بعدد الموتى فيها
“frasa (dan –disunnahkan- membaca al-Qur’an) yakni sesuatu yang mudah dari al-Qur’an, kemudian menghadiahkan pahalanya kepada mayyit secara sendiri atau bersama ahl qubur, dan diantara yang telah warid dari salafush shalih bahwa barangsiapa yang membaca surah al-Ikhlas 11 kali, dan menghadiahkan pahalanya kepada ahl qubur maka diampuni dosanya sebanyak orang yang mati dipekuburan itu”.
Syaikh al-'Allamah Sulaiman bin ‘Umar bin Manshur al-Azhariy (Syaikh al-Jamal) didalam Hasyiyatul Jamal ‘alaa syarhi al-Minhaj (Futuhaat al-Wahab) tentang ziarah qubur :
ح ل والتحقيق أن القراءة تنفع الميت بشرط واحد من ثلاثة أمور إما حضوره عنده أو قصده له، ولو مع بعد أو دعاؤه له، ولو مع بعد أيضا اهـ. شيخنا (قوله ما تيسر) أي ويهدي ثوابه للميت وحده أو مع أهل الجبانة (فائدة) ورد عن السلف أن من قرأ سورة الإخلاص إحدى عشرة مرة وأهدى ثوابها لجبانة غفر له ذنوب بعدد الموتى فيها وروى السلف عن علي - رضي الله تعالى عنه - أنه يعطى من الأجر بعدد الأموات اهـ.
“dan tahqiq bahwa pembacaan al-Qur’an bermanfaat bagi mayyit dengan memenuhi satu dari 3 syarath yakni apabila dibaca dihadapan mayyit (atau disisi kubur) atau apabila meng-qashad-kannya (meniatkan tujuannya) bagi mayyit walaupun jaraknya jauh, atau mendo’akannya (agar sampai) untuk mayyit walaupun jaraknya juga jauh. Intahaa. Syaikh kami (tentang perkataannya “apa yang mudah”) yakni menghadiahkan pahala bacaan al-Qur’an kepada mayyit sendirian atau beserta ahl qubur, (Faidah) telah warid dari salafush shalih bahwa barangsiapa yang membaca surah al-Ikhlas 11 kali dan menghadiahkan pahalanya kepada .... maka diampuni dosanya sebnya jumlah orang yang mati disana, dan salafush shalih telah meriwayatkan dari ‘Ali radliyallahu ‘anh, bahwa sesungguhnya beliau ...., Intahaa/selesai.
Syaikh Sayyid Abu Bakr bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi didalam I’anathuth Thalibin ‘alaa Halli Alfadh Fathul Mu’iin terkait ziarah qubur :
(قوله: ويسن كما نص عليه أن يقرأ الخ) أي لما ورد إن فمن زار قبر والديه أو أحدهما فقرأ عنده يس والقرآن الحكيم، غفر له بعدد ذلك آية أو حرفا. وعن الإمام أحمد بن حنبل أنه قال: إذا دخلتم المقابر فاقرأوا بفاتحة الكتاب والإخلاص والمعوذتين، واجعلوا ثواب ذلك لأهل المقابر، فإنه يصل إليهم. فالاختيار أن يقول القارئ بعد فراغه: اللم أوصل ثواب ما قرأته إلى فلان.
“(frasa, disunnahkan –sebagaimana nas tentang hal itu- agar membaca al-Qur’an...) yakni berdasarkan riwayat bahwa barangsiapa yang berziarah qubur kedua orang tuanya, atau salah satu dari keduanya, maka bacalah Yasiin dan al-Qur’an al-Kariim disisi quburnya, niscaya Allah akan memberikan ampun baginya sebanyak ayat atau huruf yag dibaca. Dan dari Imam Ahmad bin Hanbal bahwa ia berkata : apabila kalian memasuki pekuburan maka bacalah oleh kalian Fatihatul Kitab, al-Ikhlas dan Mu’awwidatain (al-Falaq dan an-Nas), dan jadikanlah pahalanya untuk penghuni pekuburan, sebab pahanya itu sampai kepada mereka, dan yang lebih baik (pendapat yang di pilih dalam madzhab Syafi’i) agar seorang qari berdo’a setelah selesai membaca al-Qur’an : ya Allah sampaikanlah pahala apa yang telah dibaca kepada Fulan”.
 (قوله: من القرآن) بيان لما، مقدم عليه. (قوله: فيدعو له) أي فعقب القراءة يسن أن يدعو للميت رجاء الإجابة، لأن الدعاء ينفع الميت، وهو عقب القراءة أقرب إلى الإجابة. وسيأتي - في باب الوصية - كلام في حصول ثواب الدعاء والقراءة للميت - إن شاء الله تعالى -
“(dan frasa –membaca sesuatu yang mudah- dari al-Qur’an) penjelasannya telah berlalu. (frasa, maka berdo’a untuknya) yakni mengikuti pembacaan al-Qur’an yang disunnahkan berdo’a untuk mayyit agar di ijabah, karena do’a bermanfaat bagi mayyi, sedangkan do’a mengiringi bacaan al-Qur’an lebih dekat di ijabah. dan akan datang  - di bab wasiat- perbincangan tentang sampainya pahala do’a dan pembacaan al-Qur’an untuk mayyit –InsyaAllah-.
Imam Sulaiman bin Muhammad bin ‘Umar al-Bujairami al-Mishri asy-Syafi’i didalam Tuhfatul Habib ‘alaa syarhi al-Khathib (Hasyiyah al-Bujairami ‘alaa al-Khatib) [2/302] terkait ziarah qubur :
قَوْلُهُ: (وَيَقْرَأُ عِنْدَهُمْ مَا تَيَسَّرَ) وَقَدْ اُشْتُهِرَ أَنَّ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْإِخْلَاص إحْدَى عَشْرَةَ مَرَّةً ثُمَّ أَهْدَى ثَوَابَهَا لِأَهْلِ مَقْبَرَةٍ غُفِرَ لَهُ ذُنُوبٌ بِعَدَدِهِمْ. اهـ. ق ل وَقَدْ نَقَلَ الْحَافِظُ السُّيُوطِيّ أَنَّ جُمْهُورَ السَّلَفِ وَالْأَئِمَّةَ الثَّلَاثَةَ عَلَى وُصُولِ ثَوَابِ الْقِرَاءَةِ لِلْمَيِّتِ، لَكِنْ ذَكَرَ الْقَرَافِيُّ أَنَّ مَذْهَبَ مَالِكٍ عَدَمُ الْوُصُولِ وَفِي الْمَنْهَجِ وَشَرْحِهِ وَحَوَاشِيه: وَيَنْفَعُهُ أَيْ الْمَيِّتَ مِنْ وَارِثٍ وَغَيْرِهِ صَدَقَةٌ وَدُعَاءٌ بِالْإِجْمَاعِ وَغَيْرَهُ، وَأَمَّا قَوْله تَعَالَى: {وَأَنْ لَيْسَ لِلإِنْسَانِ إِلا مَا سَعَى} [النجم: 39] فَعَامٌّ مَخْصُوصٌ بِذَلِكَ أَيْ بِالْإِجْمَاعِ وَغَيْرِهِ، وَقِيلَ مَنْسُوخٌ؛ وَالَأَوْلَى أَنْ يُقَالَ إنَّهُ شَرْعُ إبْرَاهِيمَ وَمُوسَى - عَلَيْهِمَا الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ -: {أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَى} [النجم: 36] {وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّى} [النجم: 37] إلَخْ وَشَرْعُ مَنْ قَبْلَنَا لَيْسَ شَرْعًا لَنَا، وَكَمَا يَنْتَفِعُ الْمَيِّتُ بِذَلِكَ يَنْتَفِعُ الْمُتَصَدِّقُ وَالدَّاعِي وَيَحْصُلُ لَهُ أَيْ الْمَيِّتِ ثَوَابُ الْقِرَاءَةِ إذَا نَوَاهُ أَوْ قَرَأَ عِنْدَهُ أَوْ دَعَا لَهُ عَقِبَهَا اهـ ثُمَّ إنَّ مَحِلَّ الْخِلَافِ حَيْثُ لَمْ يُخْرِجْهُ مَخْرَجَ الدُّعَاءِ، كَأَنْ يَقُولَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْ ثَوَابَ قِرَاءَتِي لِفُلَانٍ، وَإِلَّا كَانَ لَهُ إجْمَاعًا كَمَا ذَكَرَهُ فِي الْمَدْخَلِ
“frasa (membaca apa yang mudah dari al-Qur’an disisi qubur mereka) dan sungguh telah dimasyhurkan bahwa barangsiapa yang membaca surah al-Ikhlas sebanyak 11 kali kemudian menghadiahkannya kepada ahli pekuburan niscaya diampuni dosa sebanyak jumlah penghuni pekuburan”. Selesai. Imam al-Hafidz as-Suyuthi telah menaqal bahwa jumhur salafush shalih dan imam yang tiga (Hanafi, Maliki, Ahmad) berpegang paga sampainya pahala bacaan al-Qur’an untuk mayyit, akan tetapi al-Qarafi menyatakan bahwa madzhab Maliki tidak ada menyatakan sampai, dan didalam al-Minhaj, syarah al-Minhaj dan Hasyiyah al-Minhaj : memberikan manfaat bagi mayyit yakni dari ahli waris dan orang lain seperti shadaqah dan do’a berdasarkan Ijma dan dalil lainnya. Adapun firman Allah {wa an laysa lil-insaani ilaa maa sa’aa} itu ‘amun makhsush pada masalah itu yakni dengan Ijma’ dan yang lainnya. Dikatakan bahwa ayat itu mansukh (hukumnya dihapus), dan yang lebih utama agar dikatakan bahwa itu disyariatkan kepada Nabi Ibrahim ‘alayhis salaam dan Nabi Musa ‘alayhis salaam {am lam nunabba’ bimaa fi shuhufi musaa}, {wa Ibrahima al-ladzii waffaa} dan seterusnya, dan itu syari’at umat sebelum kita (sya’u man qablanaa) bukan syariat bagi kita. Sebagaimana mayyit mendapatkan manfaat dengan hal itu, orang yang bershadaqah dan yang mengajak juga mendapat mendapatkan manfaat, dan sampai bagi mayyit pahala bacaan al-Qur’an apabila diniatkan untuknya atau dibacakan disisi mayyit, atau dido’akan untuknya mengiringi bacaan al-Qur’an, ... agar mengucapkan : ya Allah jadikanlah pahala bacaan al-Qur’an ku untuk fulan, dan terkecuali ada baginya yakni Ijma’ sebagaimana disebutkan dalam al-Madkhal.”
Kembali disebutkan didalam At-Tajrid li-Naf’il ‘Abid [Hasyiyah al-Bujairami ‘alaa syarhi al-Minhaj] (1/497) terkait ziarah qubur :
قَوْلُهُ: وَأَنْ يَقْرَأَ) وَالْأَجْرُ لَهُ وَلِلْمَيِّتِ قَالَ شَيْخُنَا وَالتَّحْقِيقُ أَنَّ الْقِرَاءَةَ تَنْفَعُ الْمَيِّتِ بِشَرْطٍ وَاحِدٍ مِنْ ثَلَاثَةِ أُمُورٍ إمَّا حُضُورُهُ عِنْده أَوْ قَصْدُهُ لَهُ وَلَوْ مَعَ بُعْدٍ أَوْ دُعَاؤُهُ لَهُ وَلَوْ مَعَ بُعْدٍ أَيْضًا اهـ.
“frasa (agar membaca al-Qur’an) dan pahala baginya dan bagi mayyit, Syaikh kami berkata : dan tahqiq bahwa bacaan al-Qur’an bermanfaat bagi mayyit dengan memenuhi salah satu dari 3 syarat yakni apabila dihadapan mayyit (seperti disisi qubur), atau meniatkannya untuk mayyit walaupun jaraknya jauh, atau mendoakannya untuk mayyit walaupun jaraknya juga jauh”. Ih (Intahaa/selesai)
Syaikh Mushthafaa al-Buhgha dan Syaikh Mushthafaa al-Khin didalam al-Fiqh al-Manhaji ‘alaa Madzhab al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah [juz I, hal. 184]:
من آداب زيارة القبور: إذا دخل الزائر المقبرة، ندب له أن يسلم على الموتى قائلاً: " السلام عليكم دار قوم مؤمنين، وإنا إن شاء الله بكم لاحقون. وليقرأ عندهم ما تيسر من القرآن، فإن الرحمة تنزل حيث يُقرأ القرآن،ثم ليدع لهم عقب القراءة، وليهدِ مثل ثواب تلاوته لأرواحهم، فإن الدعاء مرجو الإِجابة، وإذا استجيب الدعاء استفاد الميت من ثواب القراءة. والله اعلم.
“diantara adab ziarah qubur : apabila seorang peziarah masuk area pekuburan, disunnahkan baginya mengucapkan salam kepada orang yang mati dengan ucapan : Assalamu ‘alaykum dara qaumin mukminiin wa innaa InsyaAllahu bikum laa hiquun”, kemudian disunnahkan supaya membaca apa yang mudah dari al-Qur’an disisi qubur mereka, sebab sesungguhnya rahmat akan diturunkan ketika dibacakan al-Qur’an, kemudian disunnahkan supaya mendo’akan mereka mengiringi bacaan al-Qur’an, dan menghadiahkan pahala tilawahnya untuk arwah mereka, sebab sesungguhnya do’a dihadapkan di ijabah, apabila do’a dikabulkan maka pahala bacaan al-Qur’an akan memberikan manfaat kepada mayyit , wallahu ‘alam.”
Al-Imam al-Hafidz Abdurrahman bin Abu Bakr Jalaluddin as-Suyuthi didalam al-Hawi lil-Fatawi [2/234] :
ورأيت] في التواريخ كثيرا في تراجم الأئمة يقولون: وأقام الناس على قبره سبعة أيام يقرءون القرآن، وأخرج الحافظ الكبير أبو القاسم بن عساكر في كتابه المسمى " تبيين كذب المفتري فيما نسب إلى الإمام أبي الحسن الأشعري ": سمعت الشيخ الفقيه أبا الفتح نصر الله بن محمد بن عبد القوي المصيصي يقول: توفي الشيخ نصر بن إبراهيم المقدسي في يوم الثلاثاء التاسع من المحرم سنة تسعين وأربعمائة بدمشق، وأقمنا على قبره سبع ليال نقرأ كل ليلة عشرين ختمة.
“Aku (al-Hafidz) melihat, didalam kitab-kitab Tarikh banyak sekali keterangan ketika menuturkan tentang biografi para Imam mereka mengatakan : umat Islam menegakkan amalan diatas quburnya selama 7 hari dengan membaca al-Qur’an, dan al-Hafidz al-Kabir Abul Qasim Ibnu ‘Asakir meriwayatkan didalam kitabnya yang berjudul Tabyin Kadzib al-Muftari fimaa Nusiba ilaal Imam Abul Hasan al-‘Asy’ari : aku mendengar Syaikh al-Faqih Abul Fath Nashrulllah bin Muhammad bin Abdul Qawi al-Mashishiy mengatakan : telah wafat Syaikh Nashr bin Ibrahim al-Maqdisi pada hari selasa 9 Muharram 490 H di Damaskus, dan kami menegakkan amalan diatas quburnya selama 7 malam dengan membaca al-Qur’an setiap malam dengan 20 kali khataman”.
Itulah perkataan-perkataan ‘ulama Syafi’iyah dalam kitab-kitab mereka. Betapa sungguh keji tudingan orang-orang kurang ajar yang menyamakan amalan kaum Muslimin dengan kaum Yahudi dan Nasrani. Semoga kitab terhindar dari kelompok-kelompok mereka yang senantiasa membuat keresahan dan menyakiti kaum Muslimin. Amin.


AQWAL IMAM-IMAM MADZHAB DAN ULAMA LAINNYA
Al-Mughni li-Ibnu Qudamah al-Maqdisi al-Hanbali.Namun, sebelumnya ada riwayat tentang Imam Ahmad termaktub dalam Masaail Imam Ahmad Riwayah Abi Daud as-Sijistani :
سمعت أحمد، " سئل عن القراءة عند القبر؟ فقال: لا ".
“Aku mendengar Imam Ahmad ditanya tentang membaca al-Qur’an di qubur ? beliau menjawab : “tidak”.
Dibeberapa kitab lainnya juga ada yang mengatakan bahwa Imam Ahmad mengatakan bid’ah, kemudian dalam kitab yang lain juga dinyatakan bahwa Imam Ahmad telah mengoreksi pernyataannya, salah satunya yang termaktub dalam ulama yang kredibel dari Madzhab Hanbali yakni al-Imam al-‘Alim al-‘Amil Syaikhul Islam Qudwatul Anam Majmu’ul Fadlail Muwaffaquddin Abu Muhammad Abdillah bin Ahmad bin Muhammad  bin Qudamah al-Maqdisi ad-Dimasyqi al-Hanbali didalam al-Mughni [2/422]:
فصل: قال: ولا بأس بالقراءة عند القبر، وقد روي عن أحمد أنه قال: إذا دخلتم المقابر اقرءوا آية الكرسي وثلاث مرات قل هو الله أحد، ثم قل: اللهم إن فضله لأهل المقابر.
“Tidak apa-apa dengan membaca al-Qur’an di samping qubur, dan sungguh telah diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa ia berkata : apabila kalian masuk area pequburan maka bacalah oleh kalian ayat Kursi dan 3 kali Qul huwallahu Ahad (surah al-Ikhlas) kemudian ucapkanlah : ya Allah sesungguhnya fadlilahnya untuk penghuni qubur”.
 وروي عنه أنه قال: القراءة عند القبر بدعة، وروي ذلك عن هشيم، قال أبو بكر: نقل ذلك عن أحمد جماعة، ثم رجع رجوعا أبان به عن نفسه، فروى جماعة أن أحمد نهى ضريرا أن يقرأ عند القبر، وقال له: إن القراءة عند القبر بدعة. فقال له محمد بن قدامة الجوهري: يا أبا عبد الله: ما تقول في مبشر الحلبي؟ قال: ثقة. قال: فأخبرني مبشر، عن أبيه، أنه أوصى إذا دفن يقرأ عنده بفاتحة البقرة وخاتمتها، وقال: سمعت ابن عمر يوصي بذلك. قال أحمد بن حنبل: فارجع فقل للرجل يقرأ.
“diriwayatkan bahwa beliau juga berkata : “pembacaan al-Qur’an disisi qubur adalah bid’ah”, diriwayatkan juga dari Husyaim. Abu Bakar kemudian berkata : jama’ah (hanbali) telah menaqal itu dari Imam Ahmad kemudian kembali ruju’ dari dirinya sendiri, maka jama’ah ulama meriwayatkan bahwa Ahmad melarang seorang buta untuk membaca al-Qur’an disisi qubur, kemudian ia berkata kepadanya : sesungguhnya membaca al-Qur’an disisi qubur adalah bid’ah, kemudian Muhammad bin Qudamah al-Jauhariy berkata kepada Imam Ahmad : wahai Abu Abdillah (Ahmad), apa yang akan engkau katakan tentang Mubasyyir al-Halabi ? Ahmad berkata : tsiqah (terpecaya). Ibnu Qudamah al-Jauhari berkata : telah mengkhabarkan kepadaku Mubasysyir, dari ayahnya, sesungguhnya ia berwasiat apabila dimakamkan agar dibacakan disisi quburnya pembukaan surah al-Baqarah dan mengkhatamkannya, dan ia berkata : aku mendengar Ibnu ‘Umar berwasiat tentang hal itu. Imam Ahmad bin Hanbal berkata : kembalilah maka katakanlah pada laki-laki itu agar membacanya.
وقال الخلال: حدثني أبو علي الحسن بن الهيثم البزار، شيخنا الثقة المأمون، قال: رأيت أحمد بن حنبل يصلي خلف ضرير يقرأ على القبور. وقد روي عن النبي - صلى الله عليه وسلم - أنه قال: «من دخل المقابر فقرأ سورة يس خفف عنهم يومئذ، وكان له بعدد من فيها حسنات» . وروي عنه - عليه السلام - «من زار قبر والديه أو أحدهما، فقرأ عنده أو عندهما يس غفر له   
‘al-Khallal berkata : menceritakan kepadaku Abu ‘Ali al-Hasan bin al-Haitsam al-Bazzar, syaikh kami seorang yang tsiqah lagi terpercaya, ia berkata :  aku melihat Imam Ahmad bin Hanbal shalat mengikuti (bermakmum pada) seorang buta yang selalu membaca al-Qur’an diatas quburan. Dan sungguh telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam  : “barangsiapa yang masuk pekuburuan kemudian membaca surah Yasiin niscaya diringankan (siksanya) dari mereka seketika itu, dan bagi pembacanya ada kebaikan sebanyak penghuni qubur itu”, dan juga diriwayatkan : barangsiapa yang melakukan ziarah qubur kedua orang tuanya atau salah satu dari orang tuanya, bacalah Yasiin disisi quburnya atau qubur keduanya niscaya diampuni baginya”.
Imam Abdurrahman bin Muhammad bin Ahmad bin Qudamah al-Maqdisi al-Hanbali [w. 682 H] didalam asy-Syarh al-Kabiir ‘alaa Matni al-Muqna’ [2/424], redaksinya mirip dengan al-Mughni :
مسألة) * (ولا تكره القراءة على القبر في أصح الروايتين) هذا هو المشهور عن أحمد فإنه روي عنه أنه قال: إذا دخلتم المقابر اقرأ آية الكرسي وثلاث مرار قل هو الله أحد ثم قل اللهم إن فضله لاهل المقابر، وروي عنه أنه قال: القراءة عند القبر بدعة، وروي ذلك عن هشيم. قال أبو بكر نقل ذلك عن أحمد جماعة ثم رجع رجوعاً أبان به عن نفسه. فروي جماعة أن أحمد نهى ضريراً يقرأ عند القبر وقال له: القراءة عند القبر بدعة. فقال له محمد ابن قدامة الجوهري: يا أبا عبد الله ما تقول في مبشر الحلبي؟ قال ثقة. قال فأخبرني مبشر عن أبيه أنه أوصى اذا دفن أن يقرأ عنده بفاتحة البقرة وخاتمتها. وقال سمعت ابن عمر يوصي بذلك؟ فقال أحمد بن حنبل: فارجع فقل للرجل يقرأ. وقال الخلال: حدثني أبو علي الحسن بن الهيثم البزار شيخنا الثقة المأمون قال: رأيت أحمد بن جنبل يصلي خلف ضريراً يقرأ على القبور، وقد روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال " من زار قبر والديه أو أحدهما فقرأ عنده أو عندهما (يس) غفر له " وروي عنه عليه السلام أنه قال " من دخل المقابر فقرأ سورة (يس) خفف عنهم يومئذ وكان له بعدد من فيها حسنات
Imam Abu Abdillah Muhammad bin Muflah al-Maqdisi ash-Shalihi al-Hanbali [w. 763 H], beliau adalah seorang mufti syaikhul Imam, didalam al-Furu’ wa Tashhih al-Furu (3/419) :
مسألة -: قوله: لا تكره القراءة على القبر وفي المقبرة، نص عليه، وهو المذهب، فقيل: تباح، وقيل: تستحب، قال ابن تميم: نص عليه، انتهى: أحدهما: يستحب، قال في الفائق: تستحب القراءة على القبر، نص عليه أخيرا، انتهى، وتقدم كلام ابن تميم و نقل المصنف. والقول الثاني: يباح، قال في الرعاية الكبرى: وتباح القراءة على القبر، نص عليه، قال في المغني والشرح وشرح ابن رزين لا بأس بالقراءة عند القبر، وقدم الإباحة في الرعاية الصغرى والحاويين. قلت: وهو الصواب.
“Frasa, tidak dimakruhkan pembacaan al-Qur’an diatas qubur dan diarea pequburan, terdapat nas atas hal itu, dan itulah madzhab Hanbali. Dikatakan : hukumnya mubah, juga dikatakan : hukumnya sunnah (disunnahkan). Ibnu Tamim berkata : nas tentang hal itu telah selesai (tidak bahas panjang lebar lagi) : salah satunya, disunnahkan, ia berkata didalam al-Faiq : disunnahkan membaca al-Qur’an diatas qubur, nas tentang hal itu telah diakhirkan, selesai, dan telah berlalu perkataan Ibnu Tamim yang dinukil oleh mushannif. Pendapat kedua, diperbolehkan, ia berkata didalam ar-Ra’ayatul Kubraa : diperbolehkan membaca al-Qur’an diatas qubur, ada nas tentang hal itu, Ia berkata didalam al-Mughni, dan syarahnya (al-Muqna’), serta syarah Ibnu Raziin yakni tidak apa-apa dengan membaca al-Qur’an diatas qubur. Dan telah berlalu kebolehannya (mubah) didalam ar-Ra’ayatu ash-Shughraa dan al-Hawiyayn. Aku katakan : itulah yang shawab (yang benar)”
Imam ‘Alauddin Abul Hasan ‘Ali bin Sulaiman al-Mardawi ad-Dimasyqi ash-Shalahi al-Hanbali [w. 885 H], didalam al-Inshaf fiy Ma’rifatir Rajih minal Khilaf [2/557]

قوله (ولا تكره القراءة على القبر في أصح الروايتين) ، وهذا المذهب، قاله في الفروع وغيره ونص عليه قال الشارح: هذا المشهور عن أحمد قال الخلال، وصاحب المذهب: رواية واحدة لا تكره، وعليه أكثر الأصحاب منهم القاضي وجزم به في الوجيز وغيره وقدمه في الفروع، والمغني، والشرح، وابن تميم، والفائق وغيرهم والرواية الثانية: تكره اختارها عبد الوهاب الوراق، والشيخ تقي الدين، قاله في الفروع واختارها أيضا أبو حفص.
frasa (tidak makruhkan membaca al-Qur’an diatas qubur pada dua riwayat yang lebih shahih), dan inilah madzhab (Hanbali), telah dikatakan didalam kitab al-Furu’ dan kitab lainnya, dan ada nas tentang hal itu. Ia berkata didalam asy-Syarih ; Ini masyhur dari Imam Ahmad yang al-Khallal berkata dan shahibul Madzhab : riwayat pertama, tidak dimakruhkan, dan atas hal ini kebanyakan ashhab (hanbali) berpegang termasuk al-Qadli dan menegaskan denganya didalam al-Wajiz dan yang lainnya, dan telah berlalu didalam al-Furu’, al-Mughni, asy-Syarh (al-Muqna’), Ibnu Tamim, al-Faiq dan selain mereka. Sedangkan riwayat kedua : dimakruhkan, yang telah dipilih oleh Abdul Wahab al-Warraq, Syaikh Taqiyuddin, telah dikatakan didalam al-Furu’ dan Abu Hafsh telah memilihnya juga.
قال الشيخ تقي الدين: نقلها جماعة، وهي قول جمهور السلف، وعليها قدماء أصحابه، وسمى المروذي، انتهى، قلت: قال كثير من الأصحاب: رجع الإمام أحمد عن هذه الرواية فقد روى جماعة عن الإمام أحمد: أنه مر بضرير يقرأ عند قبر فنهاه، وقال: القراءة عند القبر بدعة.
“Syaikh Taqiyuddin berkata : sekelompok ulama telah menukilnya, dan itu qaul jumhur salaf, dan atasnya  ashhabnya perpegang, dan namanya al-Marrudzi, selesai. Aku (al-Mardawi) katakan : banyak dari ashhab Hanbali berkata : Imam Ahmad telah ruju’ dari riwayat ini, dan sungguh jama’ah hanabilah telah meriwayatkan dari Imam Ahmad : bahwa ada seorang buta membaca al-Qur’an  disisi qubur, kemudian beliau melarangnya, dan berkata : membaca al-Qur’an disisi qubur adalah bid’ah.
فقال محمد بن قدامة الجوهري: يا أبا عبد الله، ما تقول في حبش الحلبي؟ فقال: ثقة فقال: حدثني مبشر عن أبيه أنه أوصى إذا دفن أن يقرأ عنده بفاتحة البقرة وخاتمتها، وقال: سمعت ابن عمر يوصي بذلك فقال الإمام أحمد: ارجع فقل للرجل: يقرأ فهذا يدل على رجوعه، وعنه لا يكره وقت دفنه دون غيره قال في الفائق: وعنه يسن وقت الدفن اختارها عبد الوهاب الوراق وشيخنا، وعنه القراءة على القبر بدعة، لأنها ليست من فعله عليه أفضل الصلاة والسلام ولا فعل أصحابه فعلى القول بأنه لا يكره: فيستحب، على الصحيح قال في الفائق: يستحب القراءة على القبر نص عليه أخيرا قال ابن تميم: لا تكره القراءة على القبر، بل تستحب نص عليه، وقيل: تباح قال في الرعاية الكبرى: وتباح القراءة على القبر نص عليه وقدمه في الرعاية الصغرى، والحاويين قال في المغني، والشرح، وشرح ابن رزين: لا بأس بالقراءة عند القبر، وأطلقهما في الفروع.
“Maka Muhammad bin Qudamah al-Jauhari berkata : wahai Abu Abdillah apa yang engkau katakan tentang al-Halabi ? Imam Ahmad berkata : ia tsiqah. Al-Jauhari berkata : menceritakan kepadaku Mubasysyir dari ayahnya bahwa ia berwasiat apabila dimakamkan agar dibacakan disisi quburnya dengan pembukaan al-Baqarah dan mengkhatamkannya, dan ia berkata : Aku mendengar Ibnu ‘Umar mewasiatkan hal itu. Maka Imam Ahmad berkata : kembalilah kemudian katakan kepada laki-laki itu ; bacalah kembali. Maka ini menunjukkan atas ruju’nya Imam Ahmad, dan darinya tidak dimakruhkan pada waktu dimakamkan bukan yang lainnya. Ia berkata didalam al-Faiq ; dan darinya disunnahkan pada waktu dimakamkan, Abdul Wahab al-Warraq dan Syaikh kami telah memilihnya, dan darinya pembacaan al-Qur’an diatas qubur bid’ah karena bukan dari perbuatan Nabi ‘alayhis afdllus shalatu wa salam dan bukan perbuatan shabahatnya, maka atas qaul bahwa sesungguhnya tidak dimakruhkan : adalah disunnahkan atas pendapat yang shahih yang ia berkata didalam al-Faiq : disunnahkan membaca al-Qur’an diatas qubur yang nas tentang telah diakhirnya, Ibnu Tamim berkata : tidak dimakruhkan membaca al-Qur’an diatas qubur bahkan disunnahkan atas nas tentang hal itu, juga dikatakan ; diperbolehkan yang ia berkata didalam ar-Ra’ayatul Kubraa : diperbolehkan membaca al-Qur’an diatas qubur sebab ada nas tentang hal itu, dan telah berlalu didalam ar-Ra’ayatush Shughraa dan al-Hawiyayn, didalam al-Mughni, asy-Syarhi dan syarah Ibnu Raziin : tidak masalah dengan membaca al-Qur’an diatas qubur, keduanya telah dimutlakkan didalam al-Furu’.
Imam Muhammad bin Abu Bakr bin Ayyub bin Sa’ad Syamsuddin Ibnu Qayyim al-Jauziyah [w. 751 H] didalam ar-Ruh fil Kalami ‘alaa Arwahil Amwat wal Ahya’ bid-Dalaili minal Kitab was Sunnah [1/10-11] :
وَقد ذكر عَن جمَاعَة من السّلف أَنهم أوصوا أَن يقْرَأ عِنْد قُبُورهم وَقت الدّفن قَالَ عبد الْحق يرْوى أَن عبد الله بن عمر أَمر أَن يقْرَأ عِنْد قَبره سُورَة الْبَقَرَة وَمِمَّنْ رأى ذَلِك الْمُعَلَّى بن عبد الرَّحْمَن وَكَانَ الامام أَحْمد يُنكر ذَلِك أَولا حَيْثُ لم يبلغهُ فِيهِ أثر ثمَّ رَجَعَ عَن ذَلِك
“dan sungguh telah disebutkan dari jama’ah salafush shalih bahwa mereka berwasiat agar dibacakan al-Qur’an disisi qubur mereka waktu dimakamkan, Abdul Haq berkata : telah diriwayatkan bahwa Abdullah bin ‘Umar –radliyallahu ‘anhumaa- memerintahkan agar dibacakan surah al-Baqarah disisi quburnya dan diantara yang meriwayatkan demikian adalah al-Mu’alla bin Abdurrahman, sedangkan awalnya Imam Ahmad mengingkari yang demikian karena atsar tentang hal itu tidak sampai kepadanya namun kemudian Imam Ahmad ruju’ dari yang demikian”
وَقَالَ الْخلال فِي الْجَامِع كتاب الْقِرَاءَة عِنْد الْقُبُور اُخْبُرْنَا الْعَبَّاس بن مُحَمَّد الدورى حَدثنَا يحيى بن معِين حَدثنَا مُبشر الحلبى حَدثنِي عبد الرَّحْمَن بن الْعَلَاء بن اللَّجْلَاج عَن أَبِيه قَالَ قَالَ أَبى إِذا أنامت فضعنى فِي اللَّحْد وَقل بِسم الله وعَلى سنة رَسُول الله وَسن على التُّرَاب سنا واقرأ عِنْد رأسى بِفَاتِحَة الْبَقَرَة فإنى سَمِعت عبد الله بن عمر يَقُول ذَلِك قَالَ عَبَّاس الدورى سَأَلت أَحْمد بن حَنْبَل قلت تحفظ فِي الْقِرَاءَة على الْقَبْر شَيْئا فَقَالَ لَا وَسَأَلت يحيى ابْن معِين فحدثنى بِهَذَا الحَدِيث
“dan al-Khallal didalam al-Jami’ kitab tentang pembacaan al-Qur’an disisi kubur, telah mengkhabarkan kepada kami al-‘Abbas bin Muhammad ad-Dauri, menceritakan kepada kami Yahya bin Mu’in, menceritakan kepada kami Mubasysyir al-Halabi, menceritakan kepadaku Abdurrahman bin al-‘Alaa’ bin al-Lajlaj dari ayahnya, ia berkata : ayahnya berkata : apabila aku mati, kuburlah aku didalam liang lahad dan ucapakanlah “dengan asma Allah dan atas Sunnah Rasulillah”, kemudian ratakanlah diatas tanah, dan bacalah disisi (qubur) kepalaku pembukaan surah al-Baqarah, sebab aku mendengar Abdullah bin ‘Umar mengatakan hal itu, ‘Abbas ad-Dauri lalu berkata : aku bertanya kepada Ahmad  bin Hanbal, aku katakan : Ia hafal sesuatu tentang pembacaan al-Qur’an diatas qubur, ia menjawab : tidak, dan aku bertanya kepada Yahya bin Mu’in, maka ia menceritakan kepadaku hadits ini.
قَالَ الْخلال وَأَخْبرنِي الْحسن بن أَحْمد الْوراق حَدَّثَنى على بن مُوسَى الْحداد وَكَانَ صَدُوقًا قَالَ كنت مَعَ أَحْمد بن حَنْبَل وَمُحَمّد بن قدامَة الجوهرى فِي جَنَازَة فَلَمَّا دفن الْمَيِّت جلس رجل ضَرِير يقْرَأ عِنْد الْقَبْر فَقَالَ لَهُ أَحْمد يَا هَذَا إِن الْقِرَاءَة عِنْد الْقَبْر بِدعَة فَلَمَّا خرجنَا من الْمَقَابِر قَالَ مُحَمَّد بن قدامَة لِأَحْمَد بن حَنْبَل يَا أَبَا عبد الله مَا تَقول فِي مُبشر الْحلَبِي قَالَ ثِقَة قَالَ كتبت عَنهُ شَيْئا قَالَ نعم فَأَخْبرنِي مُبشر عَن عبد الرَّحْمَن بن الْعَلَاء اللَّجْلَاج عَن أَبِيه أَنه أوصى إِذا دفن أَن يقْرَأ عِنْد رَأسه بِفَاتِحَة الْبَقَرَة وخاتمتها وَقَالَ سَمِعت ابْن عمر يُوصي بذلك فَقَالَ لَهُ أَحْمد فَارْجِع وَقل للرجل يقْرَأ
“al-Khallal berkata : telah mengkhabrkan kepadaku al-Hasan bin Ahmad al-Warraq, menceritakan kepadaku ‘Ali bin Musa al-Haddad sedangkan ia adalah orang yang jujur (shaduq), ia berkata : aku bersama Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Qudamah al-Jauhari pada sebuah jenazah, ketika itu telah selesai pemakaman mayyit maka duduklah seorang laki-laki buta membacakan al-Qur’an disisi qubur, kemudian Ahmad berkata kepadanya : “hai.. apa ini ? sesungguhnya pembacaan al-Qur’an disisi qubur adalah bid’ah”. Maka ketika kami keluar dari area pekuburan, kemudian Muhammad bin Qudamah berkata kepada Ahmad bin Hanbal : “wahai Abu Abdillah, apa yang engkau katakan tentang Mubasysyir al-Halabi ?” Ahmad berkata  : “tsiqah”, al-Jauhari berkata : “apakah engkau meriwayatkan sesuatu darinya ?” Ahmad berkata : “iya”. Maka mengkhabarkan kepada Mubasyyir dari Abdurrahman bin al-‘Alaa’ al-Lajlaj dari ayahnya bahwa ia berwasiat apabila dimakamkan agar membaca disisi kepala (qubur) nya dengan pembukaan al-Baqarah dan mengkhatamkannya, dan ia berkata : aku mendengar Ibnu ‘Umar mewasiatkan hal itu, kemudian Ahmad berkata kepadanya : maka kembalilah dan katakanlah kepada laki-laki agar membacanya”.
وَقَالَ الْحسن بن الصَّباح الزَّعْفَرَانِي سَأَلت الشَّافِعِي عَن الْقِرَاءَة عِنْد الْقَبْر فَقَالَ لَا بَأْس بهَا
“al-Hasan bin ash-Shabbah az-Za’farani berkata ; aku bertanya kepada Imam asy-Syafi’i tentang pembacaan al-Qur’an disisi qubur, maka beliau menjawab : hal itu tidak apa-apa”.
وَذكر الْخلال عَن الشّعبِيّ قَالَ كَانَت الْأَنْصَار إِذا مَاتَ لَهُم الْمَيِّت اخْتلفُوا إِلَى قَبره يقرءُون عِنْده الْقُرْآن قَالَ وَأَخْبرنِي أَبُو يحيى النَّاقِد قَالَ سَمِعت الْحسن بن الجروى يَقُول مَرَرْت على قبر أُخْت لي فَقَرَأت عِنْدهَا تبَارك لما يذكر فِيهَا فَجَاءَنِي رجل فَقَالَ إنى رَأَيْت أختك فِي الْمَنَام تَقول جزى الله أَبَا على خيرا فقد انتفعت بِمَا قَرَأَ أَخْبرنِي الْحسن بن الْهَيْثَم قَالَ سَمِعت أَبَا بكر بن الأطروش ابْن بنت أبي نصر بن التمار يَقُول كَانَ رجل يَجِيء إِلَى قبر أمه يَوْم الْجُمُعَة فَيقْرَأ سُورَة يس فجَاء فِي بعض أَيَّامه فَقَرَأَ سُورَة يس ثمَّ قَالَ اللَّهُمَّ إِن كنت قسمت لهَذِهِ السُّورَة ثَوابًا فاجعله فِي أهل هَذِه الْمَقَابِر
“al-Khallal menuturkan dari asy-Sya’bi, ia berkata : shahabat (qaum) Anshar ketika seseorang antara mereka wafat, mereka saling datang ke quburnya dan membacakan al-Qur’an disisi quburnya, Ia berkata : “dan mengkhabarkanepadaku Abu Yahya an-Naqid, ia berkata : aku mendengar al-Hasan bin al-Jarwiy mengatakan : aku berjalan ke qubur saudara perempuanku kemudian aku membaca surah Tabarak (al-Mulk) disisi (qubur) nya, setelah menuturkan tentangnya maka seorang laki-laki datang kepadaku, kemudian berkata :  sesungguhnya aku melihat saudara perempuanmu dalam mimpi mengatakan : semoga Allah membalas kebaikan Abu ‘Ali, sungguh memberikan manfaat kepadaku apa yang ia baca”, Telah mengkhabarkan kepadaku al-Hasan bin al-Haitsam, ia berkata : aku mendengar Abu Bakar bin al-Athrusy Ibnu binti Abu Nashr bin at-Tamar mengatakan : seorang laki-laki datang ke qubur ibunya pada hari Jum’at kemudian membaca surah Yasiin, pada sebgian hari yang lain ia juga datang membaca surah Yasiin, kemudian berdoa : “ya Allah jika Engkau membagikan pahala dengan surah ini, maka jadikanlah pahalanya untuk penghuni pekuburan ini”.
فَلَمَّا كَانَ يَوْم الْجُمُعَة الَّتِي تَلِيهَا جَاءَت امْرَأَة فَقَالَت أَنْت فلَان ابْن فُلَانَة قَالَ نعم قَالَت إِن بِنْتا لي مَاتَت فرأيتها فِي النّوم جالسة على شَفير قبرها فَقلت مَا أجلسك هَا هُنَا فَقَالَت إِن فلَان ابْن فُلَانَة جَاءَ إِلَى قبر أمه فَقَرَأَ سُورَة يس وَجعل ثَوَابهَا لأهل الْمَقَابِر فأصابنا من روح ذَلِك أَو غفر لنا أَو نَحْو ذَلِك
“Ketika telah tiba hari Jum’at berikutnya, seorang perempuan datang menemuinya kemudian perempuan itu berkata : apakah engkau Fulan bin Fulanah ? ia berkata : “betul”, perempuan itu berkata : sesungguhnya putriku meninggal dunia dan aku melihat didalam mimpi ia sedang duduk diatas quburnya, kemudian aku berkata : kenapa engkau duduk disini ? ia berkata : sesungguhnya Fulan bin Fulanah datang ke quburnya ibunya kemudian membaca surah Yasiin, dan menjadikan pahalanya untuk seluruh penghuni quburan, maka kami mendapatkan dari ruh yang demikian atau pengampunan bagi kami atau seumpama itu”.
Syaikh al-'Allamah Wahbah az-Zuhailiy didalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu [2/680] :
ويستحب للزائر أن يقرأ سورة {يس} لما ورد عن أنس أنه قال: قال رسول الله صلّى الله عليه وسلم : «من دخل المقابر فقرأ يس ـ أي وأهدى ثوابها للأموات ـ خفف الله عنهم يومئذ، وكان له بعدد ما فيها حسنات»  وقال عليه السلام: «اقرؤوا على موتاكم يس».ويقرأ أيضاً من القرآن ما تيسر له من الفاتحة، وأول البقرة إلى «المفلحون» وآية الكرسي، وآمن الرسول، وتبارك الملك، وسورة التكاثر، والإخلاص اثنتي عشرة مرة أو إحدى عشرة مرة، أو سبعاً أو ثلاثاً، والمعوذتين ثلاث مرات، ثم يقول: «اللهم أوصل ثواب ما قرأناه إلى فلان أو إليهم» . وروى الدارقطني: «من مر على المقابر، فقرأ: قل هو الله إحدى عشرة مرة، ثم وهب أجرها للأموات، أعطي من الأجر بعدد الأموات» .
disunnnahkan bagi peziarah supaya membaca surah Yasiin berdasarkan hadits dari Anas, ia berkata : Rasulullah shallalahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “barangsiapa yang masuk area pekuburan maka bacalah Yasiin”, yakni menghadiahkan pahanya bagi orang-orang yang mati, niscaya Allah akan meringankan (siksa) mereka seketika itu sedangkan baginya mendapat kebaikan sebanyak penghuni qubur itu”,  dan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam juga bersabda : “bacalah oleh kalian Yasiin atas orang mati diantara kalian”,  dan juga membaca apa yang mudah dari al-Qur’an untuknya seperti al-Fatihah dan awal surah al-Baqarah sampai “al-Muflihuun”, ayah Kursi, Amanar Rasuulu, Tabarakal Mulk, surah at-Takatsur, al-Ikhlas sebanyak 12 kali atau 11 kali, atau 7 kali, atau 3 kali, dan Mu’awwidatain (an-Nas dan al-Falaq) sebanyak 3 kali, kemudian berdoa : “ya Allah sampaikanlah pahala apa yang telah kami baca ke Fula atau kepada mereka”, ad-Daruquthni telah meriwayatkan : “barangsiapa berjalan diatas pekuburan maka bacalah Qul huwallahu Ahad 11 kali, kemudian hadiahkan pahalanya kepada orang-orang mati, niscaya akan diberikan pahala sejumlah orang yang mati”.
Imam al-Mufassir al-Hafidz Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr bin Farah al-Anshari Syamsuddin al-Qurthubi [w. 671 H] didalam at-Tadzkirah bi-Ahwalil Mautaa wa ‘Umuril Akhirah [1/274] :
قال محمد بن أحمد المروروذي سمعت أحمد بن حنبل رضي الله عنه يقول: إذا دخلتم المقابر فاقرؤوا بفاتحة الكتاب والمعوذتين وقل هو الله أحد واجعلوا ذلك لأهل المقابر فإنه يصل إليهم. وقال علي بن موسى الحداد: كنت مع أحمد بن حنبل في جنازة ومحمد بن قدامة الجوهري يقرأ. فلما دفنا الميت جاء رجل ضرير يقرأ عند القبر فقال له أحمد: يا هذا إن القراءة على القبر بدعة فلما خرجنا من المقابر قال محمد بن قدامة لأحمد: يا أبا عبد الله: ما تقول في مبشر بن إسماعيل؟ قال: ثقة. قال: هل كتبت عنه شيئاً؟ قال: نعم. قال: أخبرني مبشر بن إسماعيل عن عبد الرحمن بن العلاء بن الحجاج عن أبيه أنه أوصى إذا دفن أن يقرأ عند رأسه بفاتحة البقرة وخاتمتها، وقال: سمعت ابن عمر يوصي بذلك. قال أحمد: فارجع إلى الرجل فقل له يقرأ.
“Muhammad bin Ahmad al-Mardawi telah berkata : aku mendengar Ahmad bin Hanbal radliyallahu ‘anh mengatakan : “apabila kaliam memasuki area pekuburan maka bacalah oleh kalian Fatihatul Kitab (surah al-Fatihah), Mu’awwidatain (al-Falaq dan an-Nas) dan Qul huwallahu Ahad (al-Ikhlas) dan jadikanlah oleh kalian yang demikian itu untuk penghuni kuburan maka sesungguhnya itu sampai kepada mereka”. ‘Ali bin Musa al-Haddad berkata : aku bersama Ahmad bin Hanbal pada jenazah dan Muhammad bin Qudamah al-Jauhari sedang membaca al-Qur’an. Maka ketika mayyit telah dimakamkan, datanglah seorang lelaki buta membaca al-Qur’an disisi kubur, maka Ahmad berkata kepadanya : “hai apa ini, sesungguhnya pembacaan al-Qur’an diatas qubur adalah bid’ah”, ketika kami telah keluar dari area makam, Muhammad bin Qudamah berkaya kepada Ahmad : “wahai Abu Abdillah, apa yang akan engkau katakan tentang Mubasysyir bin Isma’il ? Ahmad menjawab : “ia orang yang tsiqah”, Ibnu Qudamah berkata lagi : apakah engkau menulis sesuatu darinya ? Ahmad menjawab : “iya”, Ibnu Qudamah berkata : telah mengkhabarkan kepadaku Mubasysyir bin Isma’il dari Abdurrahman bin al-‘Alaa’ bin al-Lajlaj dari ayahnya, bahwa sesungguhnya ia berwasiat apabila dimakamkan agar membacakan disisi kepalanya dengan pembukaan surah al-Baqarah dan mengkhatamkannnya. Ia berkata : aku mendengar Ibnu ‘Umar berwasiat dengan hal itu”. Ahmad berkata : kembalilah kepada laki-laki itu dan katakanlah kepadanya agar membacanya lagi”.
قلت: وقد استدل بعض علمائنا على قراءة القرآن على القبر بحديث العسيب الرطب الذي شقه النبي صلى الله عليه وسلم باثنين ثم غرس على هذا واحداً وعلى هذا واحداً ثم قال: «لعله أن يخفف عنهما ما لم يبسا» . خرجه البخاري ومسلم. وفي مسند أبي داود الطيالسي: «فوضع على أحدهما نصفاً وعلى الآخر نصفاً وقال: إنه يهون عليهما ما دام فيهما من بلوتهما شيء» ، قالوا: ويستفاد من هذا غرس الأشجار وقراءة القرآن على القبور وإذا خفف عنهم بالأشجار، فكيف بقراءة الرجل المؤمن القرآن.
“Aku (al-Hafidz al-Qurthubi) katakan : sebagian ‘ulama kami sunnguh telah beristidlal atas pembacaan al-Qur’an diatas kubur dengan hadits pelemah tamar yang basa yang telah Nabi shallallalahu ‘alayhi wa sallam membaginya menjadi dua kemudian menancapkan satu diatas ini dan satunya lagi diatas sana (kuburan lain), kemudian bersabda : semoga keduanya bisa meringankan meringankan (siksa) selama belum kering”, diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Dan didalam Musnad Abu Daud ath-Thayalisi : Maka beliau meletakkan sebagian diatas salah satunya dan sebagian lagi diatas kubur yang lain, dan bersabda : sesungguhnya keduanya akan meringakan siksa selama masih basa , ‘ulama berkata : dan dapat diambil faidah dari menancapkan pohon-pohon ini dan tentang pembacaan al-Qur’an diatas qubur, sehingga apabila dengan pohon ini bisa meringakan siksa bagi penghuni qubur, maka bagaimana dengan pembacaan al-Qur’an yang dilakukan seorang laki-laki muslim ?”.
وقد خرج السلفي «من حديث علي بن أبي طالب رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من مر على المقابر وقرأ قل هو الله أحد إحدى عشرة مرة ثم وهب أجره للأموات أعطي من الأجر بعدد الأموات. وروي" من حديث أنس خادم رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا قرأ المؤمن آية الكرسي، وجعل ثوابها لأهل القبور، أدخل الله تعالى في كل قبر مؤمن من المشرق إلى المغرب أربعين نوراً، ووسع الله عز وجل عليهم مضاجعهم، وأعطى الله للقارئ ثواب ستين نبياً، ورفع له بكل ميت درجة، وكتب له بكل ميت عشر حسنات ".
“Sungguh as-Salafi telah meriwayatkan, dari hadits ‘Ali bin Abdu Thalib radliyallahu ‘anh, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam berkata : barangsiapa yang berjalan diarea pemakaman maka bacalah Qul Huwallahu Ahad 11 kali, kemudian hadiahkan pahalanya kepada orang-orang yang meninggal, niscaya akan diberikan pahala sejumlah orang yang meninggal, dan diriwayatkan dari hadits Anas pelayan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : apabila seorang mukmin membaca ayat Kursi dan menjadikan pahalanya kepada penghuni qubur, niscaya Allah akan memasukkan pada setiap kubur orang mukmin dari timur hingga barat sebanyak 40 cahaya, Allah akan meluaskan tempat quburnya bagi mereka, Allah akan memberikan kepada pembacanya pahala 60 Nabi, diangkat derajatnya denga setiap orang yang meninggal, serta menuliskan untuknya 10 kebaikan dengan setiap mayyit”.
Syaikh Muhammad bin Badruddin bin Abdul Haq Ibnu Balbani al-Hanbali [w. 1083 H] didalam Akhshar al-Mukhtasharat fil Fiqh ‘alaa Madzhab al-Imam Ahmad bin Hanbal [1/138] :
وَسن لرجال زِيَارَة قبر مُسلم وَالْقِرَاءَة عِنْده وَمَا يُخَفف عَنهُ وَلَو بِجعْل جَرِيدَة رطبَة فِي الْقَبْر وَقَول زائر ومار بِهِ السَّلَام عَلَيْكُم دَار قوم مُؤمنين وانا ان شَاءَ الله بكم لاحقون يرحم الله الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنْكُم والمستأخرين نسال الله لنا وَلكم الْعَافِيَة اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمنَا اجرهم وَلَا تفتنا بعدهمْ واغفر لنا وَلَهُم
Imam Abdurrahman bin Ibrahim bin Ahmad Bahauddin al-Maqdisi al-Hanbali [w. 624 H] didalam al-‘Uddah syarah al-‘Ummah [1/134] dalam kitab al-Janaiz :
وأي قربة فعلها وجعل ثوابها للميت المسلم نفعه ذلك) ... وأما قراءة القرآن وإهداء ثوابه للميت فالإجماع واقع على فعله من غير نكير
Imam Burhanuddin Ibrahim bin Muhammad bin Abdullah bin Muhammad Ibnu Muflah al-Hanbali [w. 884 H] didalam al-Mabda’ fiy syarhi al-Muqna’ [2/280] :
ولا تكره القراءة على القبر) وفي المقبرة (في أصح الروايتين) هذا المذهب، روى أنس مرفوعا قال: «من دخل المقابر فقرأ فيها (يس) خفف عنهم يومئذ، وكان له بقدرهم حسنات» وصح عن ابن عمر أنه أوصى إذا دفن أن يقرأ عنده بفاتحة البقرة وخاتمتها، ولهذا رجع أحمد عن الكراهة، قاله أبو بكر، وأصلها أنه مر على ضرير يقرأ عند قبر، فنهاه عنها، فقال له محمد بن قدامة الجوهري: يا أبا عبد الله ما تقول في مبشر الحلبي؛ قال: ثقة فقال: أخبرني مبشر عن أبيه أنه أوصى إذا دفن أن يقرأ عنده بفاتحة البقرة وخاتمتها، وقال: سمعت ابن عمر أوصى بذلك. فقال أحمد عند ذلك: ارجع فقل للرجل يقرأ. فلهذا قال الخلال وصاحبه: المذهب رواية واحدة أنه لا يكره. لكن قال السامري: يستحب أن يقرأ عند رأس القبر بفاتحة البقرة وعند رجله بخاتمتها.
والثانية: يكره، اختارها عبد الوهاب الوراق، وأبو حفص؛ وهي قول جمهور السلف؛ لقول النبي ـ - صلى الله عليه وسلم - ـ «لا تجعلوا بيوتكم مقابر لا يقرأ فيها شيء من القرآن، فإن الشيطان ينفر من بيت يقرأ فيه سورة البقرة» وعلله أبو الوفاء وغيره بأنها مدفن النجاسة كالحش. قال بعضهم: شدد أحمد حتى قال: لا تقرأ فيها في صلاة الجنازة، ونقل المروذي فيمن نذر أن يقرأ عند قبر أبيه: يكفر عن يمينه، ولا يقرأ، واختار في " الفروع " أنه يقرأ إلا عند القبر، وعنه: إنها بدعة؛ لأنه ليس من فعله ـ - عليه السلام - ـ، ولا فعل أصحابه
Imam Syarifuddin Musa bin Ahmad bin Musa bin Salim bin ‘Isa bin Salim al-Hajawi al-Maqdisi al-Hanbali [w. 968 H] didalam Zadul Mustaqni’ fi Ikhtishar al-Muqna’ [1/72] :
ولا تكره القراءة على القبر وأي قربة فعلها وجعل ثوابها لميت مسلم "أو حي" نفعه ذلك.
Termaktub juga didalam al-Iqnaa’ fi Fiqh al-Imam Ahmad bin Hanbal [1/236] :
ولا تكره القراءة على القبر وفي المقبرة بل يستحب وكل قربة فعلها المسلم وجعل ثوابها أو بعضها كالنصف ونحوه لمسلم حي أو ميت جاز ونفعه لحصول الثواب له حتى لرسول الله صلى الله عليه وسلم
Imam Manshur bin Yunus bin Shalahuddin Ibnu Hasan bin Idris al-Bahuti al-Hanbali [w. 1051 H] didalam ar-Raudl al-Marbi’ syarh Zadul Mustaqna’ [1/191] :
ولا تكره القراءة على القبر) لما روى أنس مرفوعا «من دخل المقابر فقرأ فيها "يس " خفف عنهم يومئذ، وكان له بعددهم حسنات» ، وصح عن ابن عمر أنه أوصى إذا دفن أن يقرأ عنده بفاتحة البقرة وخاتمتها، قاله في " المبدع "، (وأي قربة) من دعاء واستغفار وصلاة وصوم وحج وقراءة وغير ذلك (فعلها) مسلم (وجعل ثوابها لميت مسلم أو حي نفعه ذلك) قال أحمد: الميت يصل إليه كل شيء من الخير للنصوص الواردة فيه، ذكره المجد وغيره حتى لو أهداها للنبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - جاز ووصل إليه الثواب.
Termaktub juga didalam Kasyaf al-Qana’ ‘alaa Matni al-Iqnaa’ [] :
ولا تكره القراءة على القبر و) لا (في المقبرة بل تستحب) لما روى أنس مرفوعا قال: «من دخل المقابر فقرأ فيها يس خفف عنهم يومئذ وكان له بعددهم حسنات» وصح عن ابن عمرو أنه أوصى إذا دفن أن يقرأ عنده بفاتحة البقرة وخاتمتها ولهذا رجع أحمد عن الكراهة قاله أبو بكر لكن قال السامري: يستحب أن يقرأ عند رأس القبر بفاتحة البقرة وعند رجليه بخاتمتها.
Imam Jamaluddin Abu Muhammad ‘Ali bin Abu Yahya Zakariya bin Mas’ud al-Anshari al-Manbaji al-Hanafi [w. 686 H] didalam al-Lubab fil Jam’i baynas Sunnah wal Kitab [1/330] :
وعنه: عن علي بن أبي طالب كرم الله وجهه أن النبي [صلى الله عليه وسلم] قال: " من مر على المقابر فقرأ قل هو الله أحد (إحدى عشرة) مرة، ثم وهب (أجرها) للأموات أعطي من الأجر بعدد الأموات ". وروى أبو بكر عبد العزيز صاحب الخلال بإسناده عن أنس بن مالك رضي الله عنه، قال: قال رسول الله [صلى الله عليه وسلم] : " من دخل المقابر فقرأ سورة يس خفف عنهم يومئذ، وكان له بعدد من فيها حسنات ". وعنه: عن أبي بكر الصديق رضي الله عنه قال: قال رسول الله [صلى الله عليه وسلم] : " من زار قبر والديه أو أحدهما فقرأ عنده أو عندهما يس غفر (الله) له "
Imam Muhammad Ibnu ‘Ali al-Maulaa al-Hanafi [w. 885 H] didalam Durar al-Hukkam syarah Gharar al-Ahkam [1/168] :
ويستحب قراءة يس لما ورد من دخل المقابر فقرأ سورة يس خفف الله عنهم يومئذ وكان له بعدد ما فيها حسنات كذا في البحر
Imam Zainuddin bin Ibrahim bin Muhammad, lebih dikenal sebagai Ibnu Najim al-Mishri al-Hanafi [w. 970 H] didalam al-Bahr ar-Raiq syarh Kanz ad-Daqaid [2/210] :
ولا بأس بقراءة القرآن عند القبور وربما تكون أفضل من غيره ويجوز أن يخفف الله عن أهل القبور شيئا من عذاب القبر أو يقطعه عند دعاء القارئ وتلاوته وفيه ورد آثار «من دخل المقابر فقرأ سورة يس خفف الله عنهم يومئذ وكان له بعدد من فيها حسنات» . اهـ
Imam Hasan bin ‘Ammar bin ‘Ali al-Mishri al-Hanafi [w. 1069 H] didalam Muraqi al-Falah syarh Matn Nur al-Idlah [1/229] :
ويستحب) للزائر (قراءة) سورة (يس لما ورد) عن أنس رضي الله عنه (أنه) قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (من دخل المقابر فقرأ سورة يس) يعني وأهدى ثوابها للأموات (خفف الله عنه يومئذ) العذاب ورفعه وكذا يوم الجمعة يرفع فيه العذاب عن أهل البرزخ ثم لا يعود على المسلمين (وكان له) أي للقارئ (بعدد ما فيها) رواية الزيلعي من فيها من الأموات حسنات)،
Sebelumnya termaktub dalam Nurul Idlah wa Najah al-Arwah fil Fiqh al-Hanafi [1/122] :
ندب زيارتها للرجال والنساء على الأصح. ويستحب قراءة "يس" لما ورد أنه "من دخل المقابر فقرأ "يس" خفف الله عنهم يومئذ وكان له بعدد ما فيها حسنات". ولا يكره الجلوس للقراءة على القبر في المختار.
Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Isma’il ath-Thahthawi al-Hanafi [w. 1231 H]  didalam Hasyiyah ath-Thahthawi ‘alaa Muraqi al-Falah [1/621] :
قوله: (ويستحب للزائر قراءة سورة يس) بعد أن يقعد لتأدية القرآن على الوجه المطلوب بالسكينة والتدبر والاتعاظ وفي السراج ويستحب أن يقرأ على القبر بعد الدفن أول سورة البقرة وخاتمتها اهـ
Imam Muhammad Amin bin ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz ‘Abidin ad-Dimasyqi al-Hanafi [w. 1252 H], masyhur dengan sebutan Imam Ibnu ’Abidin, didalam Raddul Mukhtar ‘alaa ad-Durr al-Mukhtar [2/242] terkait ziarah kubur :
قوله ويقرأ يس) لما ورد «من دخل المقابر فقرأ سورة يس خفف الله عنهم يومئذ، وكان له بعدد من فيها حسنات» بحر. وفي شرح اللباب ويقرأ من القرآن ما تيسر له من الفاتحة وأول البقرة إلى المفلحون وآية الكرسي - وآمن الرسول - وسورة يس وتبارك الملك وسورة التكاثر والإخلاص اثني عشر مرة أو إحدى عشر أو سبعا أو ثلاثا، ثم يقول: اللهم أوصل ثواب ما قرأناه إلى فلان أو إليهم. اهـ.
Imam Jamaluddin Abul Faraj Abdurrahman bin ‘Ali Muhammad al-Jauzi [w. 597 H]  didalam Bustan ul Wadhi’iin [1/212] :
حَدِيث فِي هَدِيَّة أهل الْقُبُور : فَإِنَّهُ رُوِيَ عَن النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم أَنه قَالَ (من دخل الْمَقَابِر وَقَرَأَ قل هُوَ الله أحد عشر مرّة وَأهْدى ثَوَابهَا للموتى غفر الله تَعَالَى للموتى وَأدْخل فِي قُبُورهم النُّور وَالسُّرُور وَيكْتب الله تَعَالَى للقارئ بِكُل ميت مَاتَ من يَوْم أهبط الله آدم إِلَى الأَرْض إِلَى يَوْم الْقِيَامَة عشر حَسَنَات
Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Muhamamd bin Abdurrahman ath-Tharabalisi al-Maghribi, yang lebih dikenal degan al-Hathib ar-Ru’ayni al-Maliki [w. 954 H] didalam Mawahibul Jalil fiy syarhi Mukhtashar Khalil [2/237] :
ثُمَّ قَالَ سَيِّدِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ الثَّعَالِبِيُّ قَالَ الْقُرْطُبِيُّ وَقَدْ قِيلَ: إنَّ الْأَرْوَاحَ تَزُورُ قُبُورَهَا كُلَّ جُمُعَةٍ عَلَى الدَّوَامِ وَلِذَلِكَ تُسْتَحَبُّ زِيَارَةُ الْقُبُورِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمَ الْجُمُعَةِ وَبُكْرَةَ السَّبْتِ فِيمَا ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ - رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ - وَذَكَرَ ابْنُ رُشْدٍ فِي الْبَيَانِ وَالتَّحْصِيلِ وَقَدْ جَاءَ فِي الْأَرْوَاحِ أَنَّهَا بِأَفْنِيَةِ الْقُبُورِ وَأَنَّهَا تَطْلُعُ بِرُؤْيَتِهَا وَأَنَّ أَكْثَرَ إطْلَاعِهَا يَوْمَ الْخَمِيسِ وَيَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ السَّبْتِ انْتَهَى.
ثُمَّ ذُكِرَ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ أَنَّهُ قَالَ: إذَا دَخَلْتُمْ الْمَقَابِرَ فَاقْرَءُوا الْفَاتِحَةَ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ، وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَاجْعَلُوا ثَوَابَ ذَلِكَ لِأَهْلِ الْمَقَابِرِ فَإِنَّهُ يَصِلُ إلَيْهِمْ، ثُمَّ ذُكِرَ عَنْ الْقُرْطُبِيِّ مِنْ حَدِيثِ عَلِيٍّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - «مَنْ مَرَّ عَلَى الْمَقَابِرِ وَقَرَأَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ إحْدَى عَشْرَةَ مَرَّةً، ثُمَّ وَهَبَ أَجْرَهُ لِلْأَمْوَاتِ أُعْطِيَ مِنْ الْأَجْرِ بِعَدَدِ الْأَمْوَاتِ» انْتَهَى.
Syaikh Abdurrahman al-Jaziri [w. 1360 H] didalam al-Fiqhu ‘alaa Madzahibil Arba’ah, terkait ziarah qubur :
وينبغي للزائر الاشتغال بالدعاء والتضرع والاعتبار بالموتى وقراءة القرآن للميت، فإن ذلك ينفع الميت على الأصح
Syaikh Sayyid Sabiq [w. 1420 H] didalam Fiqh as-Sunnah :
قراءة القرآن عند القبر: اختلف الفقهاء في حكم قراءة القرآن عند القبر، فذهب إلى استحبابها الشافعي ومحمد بن الحسن لتحصيل للميت بركة المجاورة، ووافقهما القاضي عياض والقرافي من المالكية، ويرى أحمد: أنه لا بأس بها. وكرهها مالك وأبو حنيفة لانها لم ترد بها السنة.
Asal dari Madzhab Maliki memang memakruhkan namun ulama mutaakhhirin Malikiyah mensunnahkannya seperti al-Qarafi yang disebutkan diatas dan yang lainnya.
 

Syaikh Abul ‘Alaa Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim al-Mubarakfuri [w. 1353 H] didalam Tuhfatul Ahwadzi bisyarhi Jami’ at-Turmidzi [3/275] :
الْخَامِسُ أَنَّ اللَّامَ فِي الْإِنْسَانِ بِمَعْنَى عَلَى أَيْ لَيْسَ عَلَى الْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى وَاسْتَدَلُّوا عَلَى الْوُصُولِ بِالْقِيَاسِ عَلَى الدُّعَاءِ وَالصَّدَقَةِ وَالصَّوْمِ وَالْحَجِّ وَالْعِتْقِ فَإِنَّهُ لَا فَرْقَ فِي نَقْلِ الثَّوَابِ بَيْنَ أَنْ يَكُونَ عَنْ حَجٍّ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ وَقْفٍ أَوْ دُعَاءٍ أَوْ قِرَاءَةٍ وَبِمَا أَخْرَجَ أَبُو مُحَمَّدٍ السَّمَرْقَنْدِيُّ فِي فَضَائِلِ قُلْ هُوَ اللَّهُ أحد عَنْ عَلِيٍّ مَرْفُوعًا مَنْ مَرَّ عَلَى الْمَقَابِرِ وقرأ قل هو الله أحد إِحْدَى عَشْرَةَ مَرَّةً ثُمَّ وَهَبَ أَجْرَهُ لِلْأَمْوَاتِ أُعْطِيَ مِنَ الْأَجْرِ بِعَدَدِ الْأَمْوَاتِ وَبِمَا أَخْرَجَ أَبُو الْقَاسِمِ سَعْدُ بْنُ عَلِيٍّ الزَّنْجَانِيُّ فِي فَوَائِدِهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ دَخَلَ الْمَقَابِرَ ثُمَّ قَرَأَ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَأَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ثُمَّ قَالَ إِنِّي جَعَلْتُ ثَوَابَ مَا قَرَأْتُ مِنْ كَلَامِكَ لِأَهْلِ الْمَقَابِرِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَانُوا شُفَعَاءَ لَهُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَبِمَا أَخْرَجَ صَاحِبُ الْخِلَالِ بِسَنَدِهِ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَخَلَ الْمَقَابِرَ فَقَرَأَ سُورَةَ يس خَفَّفَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَكَانَ لَهُ بِعَدَدِ مَنْ فِيهَا حَسَنَاتٌ  ،وَهَذِهِ الْأَحَادِيثُ وَإِنْ كَانَتْ ضَعِيفَةً فَمَجْمُوعُهَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ لِذَلِكَ أَصْلًا وَأَنَّ الْمُسْلِمِينَ مَا زَالُوا فِي كل مصر وعصر يجتمعون ويقرأون لِمَوْتَاهُمْ مِنْ غَيْرِ نَكِيرٍ فَكَانَ ذَلِكَ إِجْمَاعًا ذَكَرَ ذَلِكَ كُلَّهُ الْحَافِظُ شَمْسُ الدِّينِ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ الْمَقْدِسِيُّ الْحَنْبَلِيُّ فِي جُزْءٍ أَلَّفَهُ فِي الْمَسْأَلَةِ انْتَهَى
Sementara sampai disini nukilan kami.

Media Islam

Thariqat Sarkubiyah

NU Online