Latest Updates
Tampilkan postingan dengan label Kalam Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kalam Hikmah. Tampilkan semua postingan

Perasaan Malu Seorang Perempuan dan Kecerdasan Sang Imam (Abu Hanifah)

 Suatu ketika, tatkala al-Imam Abu Hanifah an-Nu’man radliyallahu’anh sedang duduk-duduk untuk memberikan pelajaran dan nashehat kepada para murid-muridnya, tiba-tiba datanglah seorang perempuan yang kemudian duduk lalu dengan penuh tatakrama, bergerak mendekati tempat sang Imam.

Setelah cukup dekat, tiba-tiba perempuan tersebut mengeluarkan dari kantong bajunya sebuah apel yang dikedua sisi buah apel tersebut sebagian berwana merah dan sebagian lagi berwarna kuning lalu meletakkan apel tersebut di depan sang Imam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Kemudian dengan tenang sang Imam mengambil buah apel tersebut lalu membelahnya menjadi dua.

Setelah sang Imam melakukan hal tersebut, tiba-tiba perempuan itu bangun lalu beranjak pergi meninggalkan majelis sang Imam.

Murid-murid sang Imam yang menyaksikan kejadian itu tak habis pikir, apa gerangan yang dikehendaki oleh perempuan tersebut sehingga berperilaku demikian di hadapan mereka dan sang Imam.

Tak tahan dengan tanda besar yang menghinggapi kepala para murid-murid tersebut, salah seorang diantara mereka memberanikan diri untuk ambil suara menanyakan apa gerangan yang dikehendaki oleh si perempuan sehingga berbuat demikian.

Kemudian dengan bijak dan penuh wibawa sang Imam menjelaskan;

“Sesungguhnya perempuan yang kalian saksikan tadi sedang mengalami haidl yang kadang-kadang darah haidlnya berwarna merah seperti sebagian sisi dari apel ini dan terkadang berwarna kuning seperti sebagian sisi yang lain.”

“dia ingin menanyakan padaku, mana diantara kedua warna darah tersebut yang masuk kategori haidl dan mana yang masuk kategori suci?!”.

“tetapi karena sifat malunya yang besar, dan didorong oleh kesadarannya bahwa menuntut ilmu tidak boleh dikalahkan oleh sekedar rasa malu…maka dia gunakanlah apel tersebut sebagai sarana bertanya padaku.”

“kemudian aku membelah apel yang dibawanya untuk aku perlihatkan kepadanya bagian dalam dari apel  tersbut.”

“hal itu aku lakukan, karena aku bermaksud mengajarkan kepadanya, bahwasanya kamu belum suci dari haidl sebelum kamu melihat cairan yang berwarna putih sebagaimna warna dari bagian dalam apel tersebut.”

“setelah aku lakukan itu, dia langsung memahaminya, kemudian perempuan tersebut beranjak pergi.”

**Cerita ini diterjemahkan secara sangat bebas dari cerita berbahasa arab yang berjudul Hayya’ Imra’ah yang di dapat dari  http://alharary.com/ , semoga bermanfaat dan menjadi I’tibar bagi kita semua.

اللهم صل وسلم على حبيبنا و قرة أعيننا سيدنا محمد و على أله وأصحابه أجمعين
http://www.facebook.com/profile.php?id=1693976815#!/notes/kang-asad/malu-perempuan-dan-kecerdasan-sang-imam/218969614789790

‎5 Malam Yang Apabila Berdo'a Mustajab, kata Imam asy-Syafi'i

‎5 Malam Yang Apabila Berdo'a Mustajab, kata Imam asy-Syafi'i
Imam asy-Syafi’i rahimahullah didalam kitab al-Umm mengatakan bahwa ada 5 malam yang apabila berdo’a dimalam tersebut akan di kabulkan yaitu

1. Malam Jum’at,
2. Malam ‘idul Fitri,
3. Malam ‘idul Adlhaa,
4. Malam pertama bulan Rajab,
5. Malam nishfu Sya’ban.

Beliau juga menganjurkan untuk berdo'a dimalam-malam tersebut.

روضة الطالبين وعمدة المفتين, جـ 2 صـ 75.
قال الشافعي رحمه الله وبلغنا أن الدعاء يستجاب في خمس ليال. ليلة الجمعة والعيدين وأول رجب ونصف شعبان قال الشافعي وأستحب كل ما حكيته في هذه الليالي والله أعلم

المــــــــــــــــــــجموع للنووي, جـ 5 صـ 48-47.
قال الشافعي في الأم : وبلغنا أنه كان يقال : إن الدعاء يستحاب في خمس ليال : في ليلة الجمعة ، وليلة الأضحى ، وليلة الفطر ، وأول ليلة من رجب ، وليلة النصف من شعبان

Sekilas Rambu-Rambu "Istiqamah" Dalam Madzhab Syafi'i

Sekilas Rambu-Rambu "Istiqamah" Dalam Madzhab Syafi'i
القديم أيضا أن أقلهم اثنا عشر اهـ ثم إن تقليد القول القديم أولى من تقليد المخالف لأنه يحتاج أن يراعي مذهب المقلد بفتح اللام في الوضوء والغسل وبقية الشروط، وهذا يعسر على غير العارف، فالتمسك بأقوال الإمام الضعيفة أولى من الخروج إلى المذهب الآخر.
"taqlid (mengikuti) pendapat qoul qodim itu lebih baik dari pada mengikuti madzab yang berbeda dengan (madzabnya). Karena itu memerlukan menjaga madzab yang diikutinya. Dalam wudlu, mandi dan semua syarat-syarat. Hal ini sulit bagi selain yang mengetahui. Maka berpegang teguh kepada pendapat-pendapat imamnya yang dhoif itu lebih baik dari pada keluar menuju madzab yang lain." [1]

 
إن تقليد القول أو الوجه الضعيف في المذهب بشرطه أولى من تقليد مذهب الغير لعسر اجتماع شروطه
"mengikuti pendapat atau wajah dhoif di dalam madzabnya dengan syarat-syaratnya, itu lebih utama dari pada mengikuti madzab-madzab lain, karena mengumpulkan sarat-saratnya." [2]
 
 وحينئذ تقليد أحد هذين القولين أولى من تقليد أبي حنيفة
"dengan demikian, mengikuti salah satu dari dua pendapat ini lebih baik dari mengikuti madzab Abu Hanifah." [3]
 
Tanbahan : Tentang Taqlid.

      ولايجوز تقليد غيرهم أى الأئمة الأربعة ولو كان من أكابر الصحابة لأن مذاهبهم لم تدوّن ولم تضبط كمذاهب هؤلآء لكن جوّز بعضهم ذلك في غير الإفتاء.
    "Tidak boleh taqlid kepada selain mereka yaitu imam -imam empat meskipun dari pembesar-pembesar sahabat Rasul, karena madzab mereka tidak dikodifikasikan (tidak dikukuhkan) dan tidak dibuat pedoman seperti madzab-madzab mereka (imam empat); namun sebagian ulama' ada yang memperbolehkan asal tidak untuk difatwakan. [4]

     مسألة ش ) نقل ابن الصلاح الإجماع على أنه لايجوز تقليد غير الأئمة الأربعة أى حتى العمل لنفسه فضلا عن القضاء والفتوى لعدم الثقة بنبستها لأربابها بأسانيد تمنع التحريف والتبديل كمذهب الزيدية المنسوبين الى الإمام زيد بن على بن الحسين البسط رضوان الله عليهم الخ.
    "Imam Ibnu Sholah menukil ijma' sesungguhnya tidak boleh taqlid/mengikuti selain kepada imam empat artinya sampai amal untuk dirinya pun tidak boleh. Apalagi untuk menghukumi, menfatwakan, karena tidak dapat dipertanggungjawabkan nisbatnya pada pemiliknya, dengan jalan yang mencegah, merubah dan mengganti, seperti Madzhab Zaibidiyah yang dinisbatkan kepada Imam Zaid bin Ali bin Husain yang jadi cucu Rasul Ra." [5]

Catatan Kaki ;

1. Jam’ur Risalatain Fi ta’addudil Jum’atain, hal. 14
2. Al-Fawaidu Al-Madaniyah al-Qubro ;dinukil juga dalam Bughyatul Mustarsyidi (1/185) :

جاء في " بغية المسترشدين " (1/185) : في الفوائد المدنية للكردي أن تقليد القول أو الوجه الضعيف في المذهب بشرطه أولى من تقليد مذهب الغير لعسر اجتماع شروطه . أهـ
 
3. Hamisy I’anatu al-Tholibin, II: 59
4. Tuhfatu Al-Murid Syarah Jauharu At-tauhid, hal: 90
5. Bughyatu al-Mustarsyidin, hal: 8  

http://www.facebook.com/notes.php?id=1521662184&notes_tab=app_2347471856#!/note.php?note_id=449565090291

Imam asy-Syafi'i rahimahullah ; Cinta Wanita

Imam asy-Syafi'i rahimahullah ; Cinta Wanita
Al-Imam asy-Syafi'i rahimahullah dalam kitab Diywan beliau menuturkan tentang mencintai wanita, sebagai berikut :

CINTA WANITA

أكثر الناس في النساء وقالوا # إن حب النساء جهد البـلاء
Aktsarun Naasu fin-Nisaa-i wa Qaaluu # Inna Hubban-Nisaa'i Jahdul Balaa-i
ليس حب النساء جهدا ولكن # قرب من لا تحب جهد البلاء
Laysa Hubbun Nisaa-i Jahdan wa Lakin # Qurbu Man Laa Tuhibbu Juhdul Balaa-i

Artinya :

"Kebanyakan manusia berpandangan tentang wanita dan mereka berkata # sesungguhnya cinta wanita adalah penderitaan yang menyakitkan",

"Bukanlah cinta wanita yang merupakan penderitaan, tetapi # dekat (akrab) dengan wanita yang tidak engkau cinta itulah penderitaan yang menyakitkan".

CINTA ORANG-ORANG SHALEH

أحب الصالحين و لست منهم * لعل أن أنال بهم شفاعة
و أكره من تجارتهم معاصى * و إن كنا سويا في البضاعة
Aku cinta orang-orang shaleh, sedangkan aku bukanlah bagian dari mereka, namun semoga dengan orang-orang shaleh tersebut aku mendapatkan syafa'at.




Aku benci terhadap para pengobral kema'shiatan (durhaka), walaupun mungkin terdapat kelakukanku sama dengan mereka


Imam Ahmad menimpali,

تحب الصالحين وانت منـهم
* ومنكم سوف يلقون الشفاعة
Aduhai engkau (wahai Imam al-Syafi'i) cinta orang-orang shalih sedangkan engkau bagian dari orang-orang shaleh, dan dari kalian semua akan di peroleh syafa'at

...وتكره من تجارته المعاصي
* وقــاك الله من شر البضاعة
Engkau benci orang-orang yang mengobral kedurhakaan (ma'shiat), dan semoga Allah menjaga engkau dari hal-hal yang buruk.

Mutiara 3 Fashal Awal Kitab Ta’lim al-Muta’allim Imam az-Zarnujiy

Mutiara 3 Fashal Awal Kitab Ta’lim al-Muta’allim Imam az-Zarnujiy
Hakikat Ilmu, Ilmu Fiqh dan Keutamaannya

Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda,

طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim dan Muslimah”

Seorang Muslim atau Muslimah tidaklah di tuntut untuk mencari atau menguasai seluruh ilmu namun yang paling di tekankan adalah menuntut ‘Ilmul Hal (ilmu yang berhubungan dengan tingkah laku). Sebagaimaan dikatakan bahwa,

وأفضل العلم علم الحال، وأفضل العمل حفظ الحال
“Ilmu yang paling utama adalah ilmu tingkah laku, dan amal yang paling utama adalah menjaga tingkah laku”

Seorang Muslim diwajibkan mencari ilmu yang mereka butuhkan untuk mengerjakan kewajibannya, semisal shalat, maka mencari ilmu yang berhubungan dengan shalat adalah wajib. Demikian juga ilmu-ilmu tentang zakat, haji, jual beli, perniagaan dan lain sebagainya. Termasuk juga diwajibkan bagi seorang Muslim untuk mengetahui ilmu-ilmu yang berhubungan dengan manajemen qalbu (hati).

Kemulyaan ilmu pada diri seseorang itu tidaklah samar, melainkan sangat jelas dan khas, karena seperti sifat-sifat berani, kuat, pemurah, pengasih dan lain sebagainya (selain ilmu) juga dimiliki oleh hewan. Jadi, bukan sesuatu yang khas bagi seorang manusia.

Syaikh Muhammad bin al-Hasan bin Abdillah –rahimahumullah- mengatakan dalam sebuah syair,

تعـلـم فــإن الـعلـم زيـن لأهــلــه # وفــضـل وعــنـوان لـكـل مـــحامـد
“belajarlah kalian, karena sesungguhnya ilmu adalah perhiasan bagi ahlinya, dan menjadi keutamaan serta sebagai penolong bagi setiap hal yang terpuji”

وكــن مـستـفـيدا كـل يـوم زيـادة # من العـلم واسـبح فى بحـور الفوائـد
“jadilah kalian orang yang selalu mengambil faidah (pelajaran) disetiap waktu sebagai tambahan ilmu, selamilah samudera-samudera faidah itu”

تـفـقـه فإن الـفــقـه أفــضـل قائـد # الى الــبر والتـقـوى وأعـدل قـاصـد
“belajarlah ilmu Fiqh, karena ilmu Fiqih adalah paling utamanya hal yang bisa menuntun kepada kebajikan, takwa kepada Allah dan merupakan tujuan yang seimbang”

هو العلم الهادى الى سنن الهدى # هو الحصن ينجى من جميع الشدائد
“Ilmu Fiqh adalah ilmu yang akan menuntun kepada jalan hidayah, ilmu Fiqh adalah yang akan menyelamatkan dari seluruh bencana (siksaan)”

فـإن فـقيــهـا واحــدا مــتـورعــا # أشـد عـلى الشـيطـان من ألـف عابد
“Sesungguhnya satu orang yang alim dalam ilmu Fiqh serta wara’, itu lebih ditakuti oleh syaithan-syaithan daripada seribu ahli Ibadah”.

Ulama mengatakan, sesungguhnya belajar (mengetahui) ilmu-ilmu yang dibutuhkan seseorang pada saat itu juga laksana makanan yang memang dibutuhkan setiap orang, adapun mengetahui ilmu-ilmu yang akan dibutuhkan pada suatu saat nanti adalah laksana obat yang dibutuhkan pada saat-saat tertentu, adapun belajar ilmu nujum laksana berada pada tempat yang kering, dan belajar ilmu nujum itu haram karena membahayakan dan tidak bermanfaat, serta menyalahi Qadla’ Qadar Allah dan itu tidak mungkin. Maka selayaknya bagi seorang Muslim senantiasa menyibukkan diri dengan berdzikir kepada Allah, berdo’a, selalu sopan santun dalam segala tingkah lakunya, senantiasa membaca al-Qur’an, memperbanyak shadaqah, selalu memohon ampun kepada Allah serta memohon selamat dunia dan akhirat, agar Allah menjaga dari segala bencana dan penyakit. Sebab, adanya penyakit itu sudah ketentuan, oleh karena itu mudah-mudahan Allah mempermudahnya.

Pengecualian, sekedar belajar ilmu nujum bisa dibolehkan jika seseorang senantiasa tetap menjaga ibadahnya dan tidak melupakan kedekatan kepada Allah.

Adapun belajar ilmu pengobatan adalah diperbolehkan, karena hal itu merupakan sebab dari berbagai sebab (perantara kesembuhan) dan Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam sendiri pernah berobat.

Imam asy-Syafi’i pernah berkata,
العلم علمان: علم الفقه للأديان، وعلم الطب للأبدان
“Ilmu itu ada 2 macam, pertama ilmu Fiqh untuk kepentingan agama, kedua, ilmu pengobatan untuk badan...”

Imam Abu Hanifah berkata,

الفقه معرفة النفس ما لها وما عليها
“Ilmu Fiqh adalah ma’rifatun nafs (mengetahui diri sendiri) tentang yang bermanfaat dan yang tidak”

ما العلم إلا للعمل به، والعمل به ترك العاجل الآجل
“tidaklah ilmu itu kecuali untuk beramal dengannya, dan beramal dengannya adalah dengan meninggalkan keduniaan demi akhiratnya”

Niat Belajar

Seorang pelajar (pencari ilmu) harus benar-benar memiliki niat untuk belajar, karena niat adalah dasar dari segala perbuatan, sebagaimana Nabi juga pernah bersabda dalam hadits shahih,

إنما الأعمال بالنيات
“setiap perbuatan tergantung pada niatnya”

Nabi juga bersabda,

كم من عمل يتصور بصورة عمل الدنيا، ثم يصير بحسن النية من أعمال الآخرة، وكم من عمل يتصور بصورة عمل الآخرة ثم يصير من أعمال الدنيا بسوء النية
“Betapa banyak perbuatan yang berupa amal-amal bersifat keduniaan, kemudian menjadi amal-amal akhirat disebabkan niat yang bagus, dan betapa banyak perbuatan yang berupa amal-amal akhirat namun hanya menjadi amal keduniaan karena jeleknya niat (niat yang keliru)”.

Oleh karena itu, sepatutnya bagi pelajar berniat mencari ilmu untuk semata-mata mencari keridlaan Allah Subhanahu wa Ta’alaa, untuk kepentingan kehidupan akhirat, menghilangkan kejahilan pada diri seorang pelajar dan dari orang-orang jahil serta untuk menghidupkan syiar agama Islam. Sifat zuhud dan takwa tidaklah berguna jika hanya dibarengi dengan kebodohan.

Syaikh al-Imam al-Ajall Burhanuddin az-Zarnujiy pernah melantunkan bait nasyid,

فـساد كـبير عـالم مـتهتـك # وأكـبر منه جاهل متنسك
“Celaka orang yang besar yaitu orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya, dan lebih celaka lagi yaitu orang bodoh yang melakukan ibadah”

Seorang pelajar harus berniat belajar dengan senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah seperti nikmat akal, nikmat kesehatan badan dan lain sebagainya. Tidaklah dibenarkan jikalau seorang pelajar berniat belajar hanya untuk menghadapi manusia lainnya, tidak boleh diniatkan untuk memperoleh perkara-perkara yang bersifat keduaniaan, kedudukan didepan penguasa dan lain sebagainya.

Syaikh al-Imam al-Ajall al-Ustadz Qiwamuddin Ibrahim bin Isma’il ash-Shaffar al-Anshariy pernah melantunkan nyanyian karena imla’ kepada Imam Abu Hanifah,

من طلب العلم للمعاد # فاز بفضل من الرشاد
“siapa yang mencari ilmu karena urusan akhirat, maka beruntunglah dia dengan memperoleh keutamaan dari perkara yang benar”

فـيالخسـران طالـبيـه # لـنيل فـضل من العباد
“hai.. hendaklah kalian semua mengetahui tentang betapa ruginya seorang pencari ilmu, karena mengharap keutamaan (kemulyaan) dari manusia-manusia lainnya”

Seorang pelajar harus selalu memikirkan tentang apa yang dipelajarinya dan merupakan hal yang wajar bagi seorang pencari ilmu menghadapi kesusahan (kepayahan). Maka, jangan berpaling dari ilmu kepada hal-hal duniawi yang hina yang sedikit yang rusak. Seorang pencari ilmu juga harus senantiasa merasa hina dan tidak bersifat tamak yang tidak pada tempatnya, selalu menjaga diri dari hal-hal yang bisa menghinakan ilmu dan ahli ilmu, sopan santun, tawadlu’ dan menjaga diri dari perkara yang haram.

Sesungguhnya sikap tawadlu’ merupakan salah satu dari tanda seseorang takut kepada Allah, yang dengannya (dengan tawadlu’) bisa mengangkat derajat yang tinggi.

Memilih Ilmu, Guru dan Teman

Seorang pencari ilmu harus benar-benar mencermati ilmu yang akan dipelajarinya dan memilih ilmu yang baik, yang dibutuhkan untuk kepentingan agama pada saat itu juga atau pada saat-saat yang akan datang (masa depan). Seorang penuntut ilmu juga harus mengedepankan ilmu Tauhid dan Ma’rifat, mengetahui tentang Allah beserta dalil-dalilnya. Keimanan seorang Muqallid walaupun sah menurut Ahlussunnah wal Jama’ah namun tetap berdosa karena telah meninggalkan beristidllal.

Penuntut ilmu harus benar-benar memilih kitab klasik bukan kitab yang baru dan janganlah sekali-kali menyibukkan diri dengan perdebatan sebab sudah jelas betapa banyak orang besar yang telah jauh dari Ulama.

Seorang penuntut ilmu harus benar-benar memilih guru yang akan mengajarkannya, maka selayaknya guru yang dipilihnya adalah guru yang lebih alim, lebih wara’ dan lebih sepuh, sebagaimana Imam Abu Hanifah memilih Imam Hammad bin Abi Sulaiman al-Asy’ariy sebagai gurunya setelah sebelumnya bertafakkur. Imam Abu Hanifah berkata,

وجدته شيخا وقورا حليما صبورا فى الأمور
“aku berjumpa dengannya (Imam Hammad) yang sepuh, memiliki kehormatan, halim dan sabar dalam segala hal”

ما رأيت أفقه من حماد
“aku tidak melihat ada yang lebih faqih dari Imam Hammad” (al-Jawahirul Madliyah)

ثبت عند حماد بن سليمان فنبت
“aku berada disisi Imam Hammad bin Sulaiman dan aku tumbuh”

Imam Abu Hanifah juga berkata,

وقال أبو حنيفة رحمة الله عليه: سمعت حكيما من حكماء سمرقند قال: إن واحدا من طلبة العلم شاورنى فى طلب العلم، وكان قد عزم على الذهاب إلى بخارى لطلب العلم
“aku mendengar hakim dari hakim-hakim yang ada di Samarqan berkata, sesungguhnya ada satu orang dari orang yang mencari ilmu bermusyawarah denganku, yang dimusyawarahkan adalah tentang keberangkan ke negeri Bukhara untuk tujuan menuntut ilmu”

Dari apa yang dituturkan oleh Imam Abu Hanifah, maka seorang penuntut ilmu hendaknya senantiasa bermusyarawah dalam setiap hal karena Allah dan Rasul-Nya juga memerintahkan bermusyawarah dalam segala hal, sedangkan Nabi sendiri adalah orang yang cerdas namun masih melakukan musyarawah dengan para sahabatnya hingga keperluan rumah tangga pun di musyawarahkan.

Sayyidina ‘Ali Karramallahu Wajhah berkata,

قال على كرم الله وجهه: ما هلك امرؤ عن مشورة
“seseorang tidak akan celaka hanya karena bermusyawarah”

Dikatakan (qil), ada 3 klasifikasi seorang laki-laki ;

1. Laki-laki yang sempurna (tam), yaitu laki-laki yang memiliki pemikiran (ra’yu) yang benar dan melakukan musyawarah.
2. Laki-laki yang kurang (nishf), yaitu laki-kali yang memiliki pemikiran yang benar namun tidak bermusyawarah, atau melakukan musyawarah namun tidak memiliki pendapat.
3. Laki-laki yang kosong (laa syai’), yaitu laki-laki yang tidak memiliki pandangan (pendapat) dan tidak melakukan musyawarah.

Imam Jakfar ash-Shadiq berkata kepada Imam Sufyan ats-Tsauriy,

شاور فى أمرك الذين يخشون الله تعالى
“hendaklah engkau memusyawarahkan perkara-perkaramu kepada orang-orang yang takut kepada Allah”

Musyarawah sangat dianjurkan dalam hal menuntut ilmu, sebab menuntut ilmu itu merupakan pekerjaan yang paling mulya sekaligus sulit, maka bermusyawarah itu sangatlah penting dan wajib. Imam Hakim pernah berkata,

إذا ذهبت إلى بخارى فلا تعجل فى الإختلاف إلى الأئمة وامكث شهرين حتى تتأمل وتختار أستاذا، فإنك إن ذهبت إلى عالم وبدأت بالسبق عنده فربما لا يعجبك درسه فتتركه فتذهب إلى آخر، فلا يبارك لك فى التعلم. فتأمل فى شهرين فى اختيار الأستاذ، وشاور حتى لا تحتاج إلى تركه والاعراض عنه فتثبت عنده حتى يكون تعلمك مباركا وتنتفع بعلمك كثيرا.
“Apabila engkau pergi ke negeri Bukhara (untuk menuntut ilmu), janganlah engkau terburu-buru (memutuskan) dalam hal ikhtilaf (perselisihan) para Imam, berdiam dirilah selama 2 bulan sambil berfikir dan memilih guru. Karena apabila engkau datang kepada orang alim dan memulai mengkaji pada orang alim maka kemungkinan kajiannya tidak cocok, engkau akan meninggalkannya dan mencari orang alim yang lain, Maka, apa yang engkau hasilkan dari belajar sama sekali tidak barakah pada diri engkau. Maka fikirlahkan oleh engkau selama dua bulan didalam hal memilih seorang guru, dan lakukanlah musyawarah sehingga tidak ada keinginan lagi untuk meninggalkan guru dan beralih, maka tetaplah engkau pada guru yang engkau pilih hingga apa yang engkau pelajari memberikan barakah dan ilmu yang engkau pelajari memberikan manfaat yang besar”

Seorang penuntut ilmu hendaknya selalu bersabar atas guru maupun kitab yang dipelajari selama seorang guru tidak meninggalkan kitab tersebut dan memulai kajian dengan kitab lainnya. Sebelumnya juga harus yakin bahwa tempat (negeri) yang ditempati untuk menuntut ilmu adalah sudah mantap, sehingga tidak menyebabkan seorang penuntut ilmu beralih ketempat lain kecuali hanya karena sebab dharurat. Karena jika hal itu terjadi, hanya akan menyia-nyiakan waktu, menyibukkan hati dan menyakiti hati seorang guru jika beralih ke tempat lain. Maka seorang penuntut ilmu, sekali lagi harus bersabar dari apa-apa yang diinginkan oleh dirinya.

Sayyidina ‘Ali karramallahu wajah pernah bersyair,

ألا لـن تنــال الــعـلم إلا بســتة : سأنبيك عن مجموعها ببيان
ذكاء وحرص واصطباروبلغة : وإرشاد أستاذ وطـول زمان
“Ingat-ingatlah, ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan 6 hal ; aku akan menjelaskan kepada engkau dari semuanya secara jelas”
“Cerdas, tamak (dalam mencari ilmu), sabar (atas ujian) dan memiliki biaya ; guru yang menunjukkan yang benar serta lamanya masa (zaman)”

Adapun dalam hal memilih teman, maka seorang penuntut ilmu hendaknya memilih teman yang rajin, wara’, memikili watak yang lurus dan mengerti serta yang jauh dari sifat malas, menganggur, banyak membantah, membuat kerusakan dan memfitnah.

Dalam sebuah syi’ir dikatakan,

عن المرء لا تسل وأبصر قرينه : فـإن الـقرين بالمـقارن يقــتـدى
فـإن كـان ذا شر فــجـنبه سرعـة : وإن كان ذا خير فقارنه تهـتدى
“Jangan tanyakan tentang seseorang, namun lihatlah teman-temannya ; karena teman dengan teman yang lainnya itu akan mengikuti”
“apabila temannya berperilaku buruk, maka menjauhlah secara cepat ; apabila baik maka dekatilah (bertemanlah) niscata engkau akan mendapat petunjuk”

Dalam syi’ir yang lain dikatakan,

لا تصحـب الكسلان فى حـالته : كـم صـالــح بفـسـاد آخــر يفسـد
عدوى البليد إلى الجليد سريعة : كالجمر يوضع فى الرماد فيخمد
“janganlah engkau bersahabat dengan orang malas didalam tingkah lakunya, karena betapa banyak orang shalih yang rusak disebabkan rusaknya yang lain (temannya) “
“Permusuhan orang bodoh terhadap orang alim itu cepat, laksana meletakkan bara dalam tumpukan abu, maka bara langsung mati”

Syi’ir yang lain mengatakan,

باربد بدتـر بود ازمـاربد : بحـق ذات بـاك الله الصـمـد
باربد ازدترا سوى حجيم : بار نـيكــوكــير نابـى نعــيم
“Teman yang memiliki keburukan itu lebih buruk dari ular yang buruk dan lebih bahaya, Demi dzat Allah yang suci dan yang Dituju”
“teman yang buruk hanya akan membawa kepada tepi neraka jahanam, sedangkan teman yang baik akan menjadi sebab memperoleh surga yang nikmat”

Wallahu subhanahu wa ta’alaa, selesai ringkasan 3 bab awal kitab Ta’lim al-Muta’allim Thariq at-Ta’allum. Semoga bermanfaat dan mohon koreksinya.



10 Bingkisan Mutiara Indah Dari 4 Khalifah Generasi Awal Islam (Khulafaur Rasyidin)

Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq radliyallahu ‘anh mengatakan, “tiada seorang hamba yang dianugerahi 10 hal, melainkan ia akan selamat dari berbagai bencana dan penyakit, dia sederajat dengan Muqarrabin serta akan mendapatkan derajat Muttaqin, yaitu ;


1. Jujur yang terus-menerus disertai hati yang qana’ah,
2. Kesabaran yang sempurna disertai dengan rasa syukur yang terus-menerus,
3. Kefaqiran yang abadi yang diikuti dengan sifat zuhud,
4. Berfikir yang terus-menerus disertai dengan perut yang lapar,
5. Keprihatinan yang abadi disertai dengan rasa takut yang terus-menerus,

6. Kerja keras yang terus-menerus disertai dengan sikap rendah diri,
7. Keramahan yang terus-menerus disertai dengan kasih sayang,
8. Cinta yang terus-menerus disertai dengan rasa malu,
9. Ilmu yang bermanfaat diikuti dengan pengamalan yang terus-menerus,
10. Iman yang langgeng yang disertai dengan akal yang kuat.”


Sayyidina Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anh berkata, “10 hal belum menjadi baik tanpa dibarengi dengan 10 hal lainnya, yaitu ;


1. Akal belum baik tanpa dibarengi dengan sikap wira’i,
2. Amal (perbuatan) belum baik tanpa dibarengi dengan ilmu,
3. Keberuntungan belum baik tanpa dibarengi dengan takwa kepada Allah,
4. Penguasa belum baik tanpa dibarengi dengan keadilan,
5. Reputasi belum baik tanpa dibarengi dengan adab (kesopanan),
6. Kesenangan belum baik (nyaman) tanpa dibarengi dengan keamanan,
7. Kekayaan belum baik tanpa dibarengi sikap dermawan,
8. Kefaqiran belum baik hingga disertai dengan sikap qana’ah,
9. Ketinggian nasab belum baik tanpa dibarengi dengan sikap tawadhu’,
10. Perjuangan menuju kebenaran belum baik tanpa di iringi taufik Allah.”


Sayyidina Utsman bin Affan radliyallahu ‘anh berkata, “10 hal yang paling disia-siakan, yaitu ;


1. Orang alim yang tidak dapat dijadikan tempat bertanya,
2. Ilmu yang tidak diamalkan,
3. Pendapat yang benar yang tidak diterima,
4. Senjata yang tidak dipakai,
5. Masjid yang tidak digunakan shalat,
6. Mushhaf (Al-Qur’an) yang tidak dibaca,
7. Harta yang tidak di infakkan,
8. Kuda yang tidak ditunggangi,
9. Ilmu zuhud yang ada pada hati orang yang cinta dunia,
10. Umur panjang yang tidak digunakan sebagai bekal untuk bepergian (menuju akhirat).”


Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib Karramallahu wajhah berkata,


1. Ilmu adalah sebaik-baiknya warisan,
2. Etika adalah sebaik-baiknya pekerjaan,
3. Takwa adalah sebaik-baiknya bekal,
4. Ibadah adalah sebaik-baiknya perdagangan,
5. Amal shaleh adalah sebaik-baiknya penuntun (menuju surga),
6. Akhlak terpuji adalah sebaik-baiknya teman (dunia akhirat),
7. Al-Hilmu (rendah diri) adalah sebaik-baiknya penolong,
8. Qana’ah adalah sebaik-baiknya kekayaan,
9. Taufiq adalah sebaik-baiknya pertolongan,
10. Kematian adalah sebaik-baiknya pendidik menuju perangai yang terpuji.”


Dikutip dari buku “Nasihat Bagi Hamba Allah” terjemah dari kitab "Nashaihul ‘Ibad fiy Bayaani Alfadh Munabbihatin ‘alaal-Isti’daadi li-Yaumil Ma’ad” karangan al-‘Allamah al-Alim al-Imam asy-Syaikh Abu Abdul Mu’thi Muhammad ibnu Umar ibnu ‘Arabiy ibnu Nawawiy asy-Syafi’i at-Tanariyal-Bantaniy al-Jawiy (1230 H - 1314 H), lahir di kampung Tanara, Serang Banten – Indonesia dan ketika wafat di makamkan di pekuburan Ma’la Mekkah dekat dengan makam Ummul Mukminin Siti Khadijah, istri Baginda Nabiyullah Muhammad al-Mushthafa Shallalhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau diberi gelar pertama kali oleh asy-Syaikh Ahmad bin Muhammad Zain Al-Fathaniy sebagai “al-Imam An-Nawawiy ats-Tsaniy (Imam Nawawi Kedua)”. al-Imam Nawawi yang pertama adalah seorang Ulama agung Madzhab Syafi'i, ulama Hujjatul Islam yang wafat di Nawa, Damsyiq (Damaskus), nama lengkap beliau adalah al-Imam al-Hafidz al-Hujjah asy-Syaikhul Islam Taqiyuddin Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf bin Birri bin Hasan bin Husaini Mukhyiddin an-Nawawi ad-Dimasyqiy asy-Syafi’i, pengarang kitab Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim, Raudhatuth Thalibin, Al-Adzkar, Arba'in Nawawiyah, Al-Majmu’ Syarah Muhadzab, Daqaid Al-Minhaj, Minhajut Thalibin wa Umdatun Muftiyn, dan banyak kitab lainnya.

al-Imam an-Nawawiy ats-Tsaniy juga dijuluki sebagai “Sayyid ‘Ulama Hijaz (Pemuka Ulama Mekkah dan Madinah)”. Silsilah beliau bersambung kepada Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon) yaitu keturunan dari putra Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I) yang bernama Sunyararas (Tajul ‘Arsy). Nasabnya bersambung dengan Nabi Muhammad melalui Imam Ja’far Ash-Shadiq, Imam Muhammad Al-Baqir, Imam Ali Zainal Abidin, Sayyidina Husain kemudian Sayyidah Fatimah Az-Zahra.


Special ucapan terima kasih banyak kepada seseorang yang telah menghadiahkan kitab ini. ^_^

Nasehat al-Imam adz-Dzahabi kepada Ibnu Taimiyah ; Nasehat Seorang Murid Kepada Gurunya

Nasehat al-Imam adz-Dzahabi kepada Ibnu Taimiyah ; Nasehat Seorang Murid Kepada Gurunya
Semoga Allah 'azza wa jalla menerangi kuburmu wahai Syaikh ... (Imam Ibnu Taimiyah)!!!

Al-Hâfizh adz-Dzahabi ini adalah murid dari Ibn Taimiyah. Walaupun dalam banyak hal adz-Dzahabi mengikuti faham-faham Ibn Taimiyah, --terutama dalam masalah akidah--, namun ia sadar bahwa ia sendiri, dan gurunya tersebut, serta orang-orang yang menjadi pengikut gurunya ini telah menjadi bulan-bulanan mayoritas umat Islam dari kalangan Ahlussunnah pengikut madzhab al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari. Kondisi ini disampaikan oleh adz-Dzahabi kepada Ibn Taimiyah untuk mengingatkannya agar ia berhenti dari menyerukan faham-faham ekstrimnya, serta berhenti dari kebiasaan mencaci-maki para ulama saleh terdahulu. Untuk ini kemudian adz-Dzahabi menuliskan beberapa risalah sebagai nasehat kepada Ibn Taimiyah, sekaligus hal ini sebagai “pengakuan” dari seorang murid terhadap kesesatan gurunya sendiri. Risalah pertama berjudul Bayân Zghl al-‘Ilm Wa ath-Thalab, dan risalah kedua berjudul an-Nashîhah adz-Dzhabiyyah Li Ibn Taimiyah.

Dalam risalah Bayân Zghl al-‘Ilm, adz-Dzahabi menuliskan ungkapan yang diperuntukan bagi Ibn Taimiyah sebagai berikut [Secara lengkap dikutip oleh asy-Syaikh Arabi at-Tabban dalam kitab Barâ-ah al-Asy’ariyyîn Min ‘Aqâ-id al-Mukhâlifîn, lihat kitab j. 2, h. 9/ bukunya ada sama saya]:

“Hindarkanlah olehmu rasa takabur dan sombong dengan ilmumu. Alangkah bahagianya dirimu jika engkau selamat dari ilmumu sendiri karena engkau menahan diri dari sesuatu yang datang dari musuhmu atau engkau menahan diri dari sesuatu yang datang dari dirimu sendiri. Demi Allah, kedua mataku ini tidak pernah mendapati orang yang lebih luas ilmunya, dan yang lebih kuat kecerdasannya dari seorang yang bernama Ibn Taimiyah. Keistimewaannya ini ditambah lagi dengan sikap zuhudnya dalam makanan, dalam pakaian, dan terhadap perempuan. Kemudian ditambah lagi dengan konsistensinya dalam membela kebenaran dan berjihad sedapat mungkin walau dalam keadaan apapun. Sungguh saya telah lelah dalam menimbang dan mengamati sifat-sifatnya (Ibn Taimiyah) ini hingga saya merasa bosan dalam waktu yang sangat panjang. Dan ternyata saya medapatinya mengapa ia dikucilkan oleh para penduduk Mesir dan Syam (sekarang Siria, lebanon, Yordania, dan Palestina) hingga mereka membencinya, menghinanya, mendustakannya, dan bahkan mengkafirkannya, adalah tidak lain karena dia adalah seorang yang takabur, sombong, rakus terhadap kehormatan dalam derajat keilmuan, dan karena sikap dengkinya terhadap para ulama terkemuka. Anda lihat sendiri, alangkah besar bencana yang ditimbulkan oleh sikap “ke-aku-an” dan sikap kecintaan terhadap kehormatan semacam ini!”.

Adapun nasehat adz-Dzahabi terhadap Ibn Taimiyah yang ia tuliskan dalam risalah an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah, secara lengkap dalam terjemahannya sebagai berikut [Teks lebih lengkap dengan aslinya lihat an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah dalam dalam kitab Barâ-ah al-Asy’ariyyîn Min ‘Aqâ-id al-Mukhâlifîn, j. 2, h. 9-11]:


“Segala puji bagi Allah di atas kehinaanku ini. Ya Allah berikanlah rahmat bagi diriku, ampunilah diriku atas segala kecerobohanku, peliharalah imanku di dalam diriku.

Oh… Alangkah sengsaranya diriku karena aku sedikit sekali memiliki sifat sedih!!

Oh… Alangkah disayangkan ajaran-ajaran Rasulullah dan orang-orang yang berpegang teguh dengannya telah banyak pergi!!

Oh... Alangkah rindunya diriku kepada saudara-saudara sesama mukmin yang dapat membantuku dalam menangis!!

Oh... Alangkah sedih karena telah hilang orang-orang (saleh) yang merupakan pelita-pelita ilmu, orang-orang yang memiliki sifat-sifat takwa, dan orang-orang yang merupakan gudang-gudang bagi segala kebaikan!!


Oh... Alangkah sedih atas semakin langkanya dirham (mata uang) yang halal dan semakin langkanya teman-teman yang lemah lembut yang menentramkan. Alangkah beruntungnya seorang yang disibukan dengan memperbaiki aibnya sendiri dari pada ia mencari-cari aib orang lain. Dan alangkah celakanya seorang disibukan dengan mencari-cari aib orang lain dari pada ia memperbaiki aibnya sendiri.
Sampai kapan engkau (Wahai Ibn Taimiyah) akan terus memperhatikan kotoran kecil di dalam mata saudara-saudaramu, sementara engkau melupakan cacat besar yang nyata-nyata berada di dalam matamu sendiri?!

Sampai kapan engkau akan selalu memuji dirimu sendiri, memuji-muji pikiran-pikiranmu sendiri, atau hanya memuji-muji ungkapan-ungkapanmu sendiri?! Engkau selalu mencaci-maki para ulama dan mencari-cari aib orang lain, padahal engkau tahu bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian menyebut-menyebut orang-orang yang telah mati di antara kalian kecuali dengan sebutan yang baik, karena sesungguhnya mereka telah menyelesaikan apa yang telah mereka perbuat”.
Benar, saya sadar bahwa bisa saja engkau dalam membela dirimu sendiri akan berkata kepadaku: “Sesungguhnya aib itu ada pada diri mereka sendiri, mereka sama sekali tidak pernah merasakan kebenaran ajaran Islam, mereka betul-betul tidak mengetahui kebenaran apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad, memerangi mereka adalah jihad”. Padahal, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang sangat mengerti terhadap segala macam kebaikan, yang apa bila kebaikan-kebaikan tersebut dilakukan maka seorang manusia akan menjadi sangat beruntung. Dan sungguh, mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal (tidak mengerjakan) kebodohan-kebodohan (kesesatan-kesesatan) yang sama sekali tidak memberikan manfa’at kepada diri mereka. Dan sesungguhnya (Sabda Rasulullah); “Di antara tanda-tanda baiknya keislaman seseorang adalah apa bila ia meninggalkan sesuatu yang tidak memberikan manfa’at bagi dirinya”. (HR. at-Tirmidzi)


Hai Syekh…! (Ibn Taimiyah), demi Allah, berhentilah, janganlah terus mencaci maki kami. Benar, engkau adalah seorang yang pandai memutar argumen dan tajam lidah, engkau tidak pernah mau diam dan tidak tidur. Waspadalah engkau, jangan sampai engkau terjerumus dalam berbagai kesesatan dalam agama. Sungguh, Nabimu (Nabi Muhammad) sangat membenci dan mencaci perkara-perkara [yang ekstrim]. Nabimu melarang kita untuk banyak bertanya ini dan itu. Beliau bersabda: “Sesungguhnya sesuatu yang paling ditakutkan yang aku khawatirkan atas umatku adalah seorang munafik yang tajam lidahnya”. (HR. Ahmad)

Jika banyak bicara tanpa dalil dalam masalah hukum halal dan haram adalah perkara yang akan menjadikan hati itu sangat keras, maka terlebih lagi jika banyak bicara dalam ungkapan-ungkapan [kelompok yang sesat, seperti] kaum al-Yunusiyyah, dan kaum filsafat, maka sudah sangat jelas bahwa itu akan menjadikan hati itu buta.

Demi Allah, kita ini telah menjadi bahan tertawaan di hadapan banyak makhluk Allah. Maka sampai kapan engkau akan terus berbicara hanya mengungkap kekufuran-kekufuran kaum filsafat supaya kita bisa membantah mereka dengan logika kita??

Hai Bung…! Padahal engkau sendiri telah menelan berbagai macam racun kaum filsafat berkali-kali. Sungguh, racun-racun itu telah telah membekas dan menggumpal pada tubuhmu, hingga menjadi bertumpuk pada badanmu.

Oh… Alangkah rindunya kepada majelis yang di dalamnya diisi dengan tilâwah dan tadabbur, majelis yang isinya menghadirkan rasa takut kepada Allah karena mengingt-Nya, majelis yang isinya diam dalam berfikir.

Oh… Alangkah rindunya kepada majelis yang di dalamnya disebutkan tentang orang-orang saleh, karena sesungguhnya, ketika orang-orang saleh tersebut disebut-sebut namanya maka akan turun rahmat Allah. Bukan sebaliknya, jika orang-orang saleh itu disebut-sebut namanya maka mereka dihinakan, dilecehkan, dan dilaknat.

Pedang al-Hajjaj (Ibn Yusuf ats-Tsaqafi) dan lidah Ibn Hazm adalah laksana dua saudara kandung, yang kedua-duanya engkau satukan menjadi satu kesatuan di dalam dirimu. (Engkau berkata): “Jauhkan kami dari membicarakan tentang “Bid’ah al-Khamîs”, atau tentang “Akl al-Hubûb”, tetapi berbicaralah dengan kami tentang berbagai bid’ah yang kami anggap sebagai sumber kesesatan”. (Engkau berkata); Bahwa apa yang kita bicarakan adalah murni sebagai bagian dari sunnah dan merupakan dasar tauhid, barangsiapa tidak mengetahuinya maka dia seorang yang kafir atau seperti keledai, dan siapa yang tidak mengkafirkan orang semacam itu maka ia juga telah kafir, bahkan kekufurannya lebih buruk dari pada kekufuran Fir’aun. (Engkau berkata); Bahwa orang-orang Nasrani sama seperti kita. Demi Allah, [ajaran engkau ini] telah menjadikan banyak hati dalam keraguan. Seandainya engkau menyelamatkan imanmu dengan dua kalimat syahadat maka engkau adalah orang yang akan mendapat kebahagiaan di akhirat.

Oh… Alangkah sialnya orang yang menjadi pengikutmu, karena ia telah mempersiapkan dirinya sendiri untuk masuk dalam kesesatan (az-Zandaqah) dan kekufuran, terlebih lagi jika yang menjadi pengikutmu tersebut adalah seorang yang lemah dalam ilmu dan agamanya, pemalas, dan bersyahwat besar, namun ia membelamu mati-matian dengan tangan dan lidahnya. Padahal hakekatnya orang semacam ini, dengan segala apa yang ia perbuatan dan apa yang ada di hatinya, adalah musuhmu sendiri. Dan tahukah engkau (wahai Ibn Taimiyah), bahwa mayoritas pengikutmu tidak lain kecuali orang-orang yang “terikat” (orang-orang bodoh) dan lemah akal?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah orang pendusta yang berakal tolol?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah aneh yang serampangan, dan tukang membuat makar?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah seorang yang [terlihat] ahli ibadah dan saleh, namun sebenarnya dia adalah seorang yang tidak paham apapun?! Kalau engkau tidak percaya kepadaku maka periksalah orang-orang yang menjadi pengikutmu tersebut, timbanglah mereka dengan adil…!

Wahai Muslim (yang dimaksud Ibn Taimiyah), adakah layak engkau mendahulukan syahwat keledaimu yang selalu memuji-muji dirimu sendiri?! Sampai kapan engkau akan tetap menemani sifat itu, dan berapa banyak lagi orang-orang saleh yang akan engkau musuhi?! Sampai kapan engkau akan tetap hanya membenarkan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang baik yang akan engkau lecehkan?!

Sampai kapan engkau hanya akan mengagungkan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang yang akan engkau kecilkan (hinakan)?!

Sampai kapan engkau akan terus bersahabat dengan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang zuhud yang akan engkau perangi?!

Sampai kapan engkau hanya akan memuji-muji pernyataan-pernyataan dirimu sendiri dengan berbagai cara, yang demi Allah engkau sendiri tidak pernah memuji hadits-hadits dalam dua kitab shahih (Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim) dengan caramu tersebut?!

Oh… Seandainya hadits-hadits dalam dua kitab shahih tersebut selamat dari keritikmu…! Tetapi sebalikanya, dengan semaumu engkau sering merubah hadits-hadits tersebut, engkau mengatakan ini dla’if, ini tidak benar, atau engkau berkata yang ini harus ditakwil, dan ini harus diingkari.

Tidakkah sekarang ini saatnya bagimu untuk merasa takut?! Bukankah saatnya bagimu sekarang untuk bertaubat dan kembali (kepada Allah)?! Bukankah engkau sekarang sudah dalam umur 70an tahun, dan kematian telah dekat?! Tentu, demi Allah, aku mungkin mengira bahwa engkau tidak akan pernah ingat kematian, sebaliknya engkau akan mencaci-maki seorang yang ingat akan mati! Aku juga mengira bahwa mungkin engkau tidak akan menerima ucapanku dan mendengarkan nesehatku ini, sebaliknya engkau akan tetap memiliki keinginan besar untuk membantah lembaran ini dengan tulisan berjilid-jilid, dan engkau akan merinci bagiku berbagai rincian bahasan. Engkau akan tetap selalu membela diri dan merasa menang, sehingga aku sendiri akan berkata kepadaku: “Sekarang, sudah cukup, diamlah…!”.

Jika penilaian terhadap dirimu dari diri saya seperti ini, padahal saya sangat menyangi dan mencintaimu, maka bagaimana penilaian para musuhmu terhadap dirimu?! Padahal para musuhmu, demi Allah, mereka adalah orang-orang saleh, orang-orang cerdas, orang-orang terkemuka, sementara para pembelamu adalah orang-orang fasik, para pendusta, orang-orang tolol, dan para pengangguran yang tidak berilmu.

Aku sangat ridla jika engkau mencaci-maki diriku dengan terang-terangan, namun diam-diam engkau mengambil manfaat dari nasehatku ini. “Sungguh Allah telah memberikan rahmat kepada seseorang, jika ada orang lain yang menghadiahkan (memperlihatkan) kepadanya akan aib-aibnya”. Karena memang saya adalah manusia banyak dosa. Alangkah celakanya saya jika saya tidak bertaubat. Alangkah celaka saya jika aib-aibku dibukakan oleh Allah yang maha mengetahui segala hal yang ghaib. Obatnya bagiku tiada lain kecuali ampunan dari Allah, taufik-Nya, dan hidayah-Nya.

Segala puji hanya milik Allah, Shalawat dan salam semoga terlimpah atas tuan kita Muhammad, penutup para Nabi, atas keluarganya, dan para sahabatnya sekalian.

Disalin dari catatan Al-Ustadz Abou Fateh, atas rekomendasi izin "halal" untuk disebarkan.

Media Islam

Thariqat Sarkubiyah

NU Online