Latest Updates
Tampilkan postingan dengan label Fatawa al-'Ulamaa'. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fatawa al-'Ulamaa'. Tampilkan semua postingan

Darul Iftaa' al-Mishriyyah (Lembaga Fatwa Mesir, Ed. Indonesia) ; Apa Hukum Merayakan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa Sallam ?

Nomor Urut   ;  140
Judul    : Merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw. dan Para Ahlul Bait
Tanggal Jawaban   : 03/07/2005
 
Pertanyaan : Memperhatikan permintaan fatwa No. 1267 tahun 2005, yang berisi: Apa hukum merayakan peringatan maulid Nabi Muhammad saw.?
 
Jawaban :
Dewan Fatwa

    Kelahiran Nabi Muhammad saw. merupakan rahmat Allah yang terus mengalir bagi seluruh manusia. Alquran menggambarkan keberadaan Nabi Muhammad saw. sebagai "rahmatan lil 'alamîn" (rahmat bagi semesta alam). Beliau merupakan rahmat tak bertepi yang mencakup semua sisi kehidupan, baik tarbiyah (pendidikan), tazkiyah (penyucian hati), pengajaran dan pemberian hidayah bagi manusia kepada jalan yang lurus. Semua itu mencakup aspek materi dan immateri dalam kehidupan manusia. Rahmat ini juga tidak terbatas pada manusia di zaman beliau saja, akan tetapi juga terus berkelanjutan kepada seluruh manusia sepanjang masa. Allah berfirman:

"Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka." (Al-Jumu'ah: 3).

    Merayakan peringatan maulid Nabi Muhammad saw. –sang penghulu dua alam; alam nyata dan alam ghaib, penutup para nabi dan rasul, nabi pembawa rahmat dan penolong umat— adalah salah satu amalan yang paling baik dan ibadah yang paling agung. Karena, perayaan ini merupakan ungkapan rasa gembira dan cinta kepada beliau, dan kecintaan kepada beliau merupakan salah satu pondasi dari keimanan. Diriwayatkan dalam hadis shahih bahwa Rasulullah saw. bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ
"Tidak beriman seseorang diantara kalian sehingga menjadikan diriku lebih dicintainya daripada ayahnya, anaknya dan seluruh manusia." (HR. Bukhari).

    Ibnu Rajab berkata, "Mencintai Nabi Muhammad saw. adalah salah satu pondasi keimanan. Kecintaan itu berjalan beriringan dengan kecintaan kepada Allah 'azza wa jalla. Allah telah menyebutkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw. berbarengan dengan kecintaan kepada-Nya. Allah pun mengancam orang yang lebih mendahulukan kecintaan kepada segala sesuatu yang dicintainya secara alami —seperti keluarga, harta, tanah air dan lain sebagainya— dari kecintaan kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad saw.. Allah SWT berfirman,

"Katakanlah: "Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya serta dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." (At-Taubah: 24).

    Ketika Umar berkata kepada Nabi saw., "Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih saya cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku." Maka Nabi saw. bersabda kepadanya,

لاَ وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ
"Tidak. Demi Allah, sampai engkau menjadikan diriku lebih kau cintai dari pada dirimu sendiri."

    Maka Umar pun berkata, "Demi Allah, sesungguhnya sekarang engkau lebih saya cintai dari pada diriku sendiri." Maka Nabi saw. pun bersabda kepadanya, "Sekarang engkau telah mengetahuinya wahai Umar." (HR. Bukhari).

    Memperingati maulid Nabi saw. merupakan bentuk penghormatan kepada beliau. Dan menghormati Nabi saw. merupakan amalan yang mutlak dianjurkan, karena ia merupakan pondasi dan asas utama dalam akidah Islam. Allah SWT mengetahui derajat kemuliaan Nabi-Nya, sehingga Dia memberitahukan kepada seluruh alam mengenai namanya, pengutusannya serta derajat dan martabatnya. Seluruh semesta pun senantiasa bergembira dan berbahagia dengan keberadaan beliau sebagai cahaya, kelapangan, hujjah serta nikmat bagi seluruh makhluk Allah.

     Para salaf saleh kita, sejak abad keempat dan kelima hijriyah, telah memberi contoh untuk merayakan peringatan maulid Nabi saw.. Mereka menghidupkan malam maulidnya dengan berbagai macam bentuk ibadah, seperti memberi jamuan makan, melantunkan ayat-ayat Alquran, membaca zikir serta mendendangkan syair-syair dan bait-bait pujian untuk beliau. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh banyak ahli sejarah, seperti al-Hafiz Ibnu Jauzi, al-Hafiz Ibnu Katsir, al-Hafiz Ibnu Dihyah al-Andalusi, al-Hafiz Ibnu Hajar dan penutup para huffâzh, al-Hafiz Jalaluddin as-Suyuti rahimahumullah.

    Bahkan, beberapa orang ulama dan ahli fikih telah menyusun kitab-kitab mengenai anjuran memperingati maulid Nabi saw. dengan menyebutkan dalil-dalilnya yang shahih. Sehingga dalam diri orang yang mempunyai akal, pemahaman dan pikiran yang jernih, tidak akan ada sikap pengingkaran terhadap perayaan maulid yang telah dilakukan oleh para salaf saleh kita itu.

    Ibnu al-Hajj, dalam kitabnya al-Madkhal, secara panjang lebar menyebutkan keutamaan perayaan maulid Nabi ini. Dia memberikan penjelasan yang membuat lega hati kaum muslimin. Padahal, bukunya itu dia tulis dengan tujuan menyebutkan perbuatan-perbuatan bid'ah tercela yang tidak masuk dalam kerangka umum dalil-dalil syariat. Imam Suyuthi juga menulis sebuah risalah dalam masalah ini dengan judul Husnul Maqshid fî 'Amalil Maulid.

    Kata ihtifâl (merayakan), dalam bahasa Arab, berasal dari kata hafala, yahfilu haflan, wa hufulan yang artinya berkumpul. Seperti dalam kalimat hafala al-labanu fi adh-dhar' (air susu terkumpul di ambing susu binatang). Sedangkan kata kerja tahaffala dan ihtafala berarti ijtama'a (berkumpul). Kata kerja hafala masuk dalam bab kata kerja dharaba. Ihtafalû berarti ijtama'û wa ihtasyadû (mereka berkumpul). Kalimat: "Wa'indahu hafl min an-nâs", maksudnya terdapat sekelompok orang di tempatnya. Asal kata ihtifâl ini adalah berbentuk nomina (mashdar). Mahfil al-qaum berarti tempat perayaan dan berkumpulnya suatu kaum. Kalimat hafalahu, berarti mengajaknya sehingga dia ikut berpesta dan merayakan. Kalimat hafala al-amra, berarti memperhatikan suatu perkara. Disebutkan juga: laa tahfil bihi, "jangan mempedulikannya".

    Sedangkan maksud ihtifâl (perayaan) dalam konteks ini tidak jauh berbeda dengan makna bahasanya. Karena maksud dari perayaan maulid Nabi saw. adalah berkumpulnya orang-orang untuk berzikir, mendendangkan nasyid pujian untuknya, membuat jamuan makan sebagai sedekah karena Allah, mengungkapkan rasa kecintaan kepada Nabi saw. serta menyatakan rasa bahagia dan gembira kita dengan hari kelahirannya.

    Masuk juga dalam hal ini kebiasaan masyarakat yang membeli makanan ringan dan menghadiahkannya kepada orang-orang ketika Maulid Nabi. Saling memberi hadiah sendiri merupakan perbuatan yang dibolehkan, tidak ada dalil yang melarang untuk melakukannya dalam waktu-waktu tertentu. Maka jika ia dibarengi dengan maksud mulia, seperti membuat gembira keluarga dan menyambung tali silatruahmi dengan kerabat, maka perbuatan tersebut menjadi dianjurkan dan disunahkan. Lalu jika hal itu merupakan ungkapan rasa bahagia karena kelahiran Nabi saw., maka hal itu lebih dimasyru'kan dan dianjurkan, karena (wasilah) sarana mempunyai hukum tujuan. Sedangkan pendapat yang mengharamkannya merupakan bentuk sikap keras kepala yang tercela.

    Ada suatu hal yang membuat sebagian orang menjadi ragu-ragu untuk merayakan peringatan maulid ini, yaitu ketiadaan perayaan semacam ini pada masa-masa awal Islam yang istimewa (al-qurûn al-ûlâ al-mufadhdhalah). Argumen ini, demi Allah, bukanlah alasan yang tepat untuk melarang perayaan itu. Karena, tidak ada seorang pun yang meragukan kecintaan mereka radhiyallahu 'anhum terhadap Nabi saw.. Namun, kecintaan ini mempunyai cara dan bentuk pengungkapan yang bermacam-macam. Dan cara-cara yang berbeda-beda itu sama sekali tidak dilarang untuk dilakukan. Karena, cara-cara tersebut bukanlah suatu bentuk ibadah jika dilihat dari inti pelaksanaannya. Berbahagia dan bergembira dengan adanya Nabi saw. merupakan ibadah, tapi cara pengungkapan kebahagiaan itu hanya merupakan wasilah (sarana) yang diperbolehkan untuk digunakan. Setiap orang dapat memilih cara yang paling sesuai dengan dirinya untuk mengungkapkan hal itu.

    Dalam Sunnah Nabi juga terdapat riwayat yang menunjukkan perayaan para sahabat terhadap Nabi saw. dengan adanya iqrâr (persetujuan) dan izin dari beliau langsung. Diriwayatkan dari Buraidah r.a., dia berkata, "Pada suatu ketika Rasulullah saw. pergi berperang. Lalu ketika pulang, seorang budak wanita hitam mendatangi beliau lalu berkata, "Wahai Rasulullah, saya telah bernazar jika Allah membawamu pulang ke Madinah dalam keadaan selamat maka saya akan memainkan rebana dan bernyanyi di hadapanmu. Maka Rasulullah saw. bersabda, "Jika engkau memang telah bernazar untuk memainkan rebana, maka lakukanlah. Namun jika engkau tidak bernazar untuk melakukannya, maka engkau tidak perlu melakukannya". Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi, dan dia berkata, "Ini adalah hadis hasan shahih gharib". Jika memainkan rebana sebagai ungkapan rasa bahagia karena kedatangan Nabi saw. dari peperangan merupakan hal yang dimasyru'kan yang diakui oleh Nabi saw. dan beliau mengizinkan orang yang bernazar dengannya untuk melakukannya, maka mengungkapkan rasa bahagia karena kedatangan beliau ke dunia –dengan rebana atau hal lain yang dibolehkan— tentu lebih dimasyru'kan dan lebih dianjurkan.

    Jika Allah saja meringankan azab Abu Lahab di neraka dengan memberinya minuman dari lubang kecil di telapak tangannya setiap hari Senin karena kegembiraannya atas kelahiran manusia terbaik –yaitu dengan memerdekakan budaknya yang bernama Tsuwaibah karena telah menyampaikan kabar gembira kepadanya atas kelahiran Nabi saw., padahal Abu Lahab adalah orang yang paling kafir, sering menentang dan memerangi Allah dan Rasul-Nya—, maka sudah barang tentu kaum mukminin lebih berhak mendapatkan pahala karena kegembiraan mereka atas kelahiran beliau sebagai cahaya yang menyinari semesta. Rasulullah saw. sendiri telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara bersyukur kepada Allah atas kelahirannya itu. Dalam hadis shahih yang diriwayatkan dari Abu Qatadah r.a., bahwa Nabi saw. berpuasa pada hari Senin dan bersabda,

ذَلِكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ
"Itu adalah hari dimana aku dilahirkan." (HR. Muslim, dari hadis Abu Qatadah).

    Ini merupakan bentuk rasa syukur beliau atas karunia Allah kepadanya dan kepada umatnya. Sehingga, sudah sepatutnya umat ini juga mengikuti beliau untuk bersyukur kepada Allah SWT atas karunia dan nikmat diutusnya beliau dengan segala bentuk cara bersyukur. Bentuk bersyukur itu dapat diungkapkan dengan memberikan jamuan makan, mendendangkan pujian-pujian, berkumpul untuk berzikir, berpuasa, melakukan salat dan lain sebagainya.

    Ash-Shalihi, dalam kitab sejarahnya, Subul al-Hudâ wa ar-Rasyâd fî Hadyi Khair al-'Ibâd, menukil dari seorang saleh pada zamannya, bahwa dia bermimpi bertemu dengan Nabi saw.. Orang itu mengadu kepada beliau bahwa ada sebagian orang yang mengaku berilmu mengatakan bahwa perayaan maulid Nabi saw. adalah bid'ah. Maka Nabi saw. bersabda kepadanya, "Barang siapa yang bergembira karena kami, maka kami akan bergembira karenanya."

    Demikian juga hukum merayakan kelahiran para Ahlul Bait dan para wali Allah, serta menghidupkan perayaan mengenang mereka dengan melakukan berbagai ketaatan. Sesunggunya semua itu adalah hal yang dianjurkan secara syarak, karena acara-acara tersebut mengandung upaya untuk meniru dan menauladani mereka. Terdapat perintah syarak untuk senantiasa mengingat dan mengenang para nabi dan para orang saleh. Allah berfirman,

"Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Alquran) ini." (Maryam: 41).

Dan firman Allah,

"Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam Al Kitab (Alquran) ini." (Maryam: 51).

    Perintah ini tidak terdatas untuk mengenang para nabi, namun masuk di dalamnya juga orang-orang saleh. Hal ini karena Allah berfirman,

"Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Alquran." (Maryam: 16).

    Karena merupakan kesepakatan muhaqqiqin, Maryam As. bukanlah seorang nabi melainkan seorang shiddiqah. Demikian pula terdapat perintah untuk mengingatkan hari-hari Allah, yaitu dalam firman-Nya,

"Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah". (Ibrahim: 5).

    Termasuk hari-hari Allah adalah hari kelahiran dan termasuk hari-hari Allah adalah hari-hari kelahiran dan hari-hari kemenangan. Oleh karena itu Rasulullah saw. berpuasa pada hari Senin setiap minggunya sebagai rasa syukur kepada Allah atas nikmat penciptaan juga sebagai perayaan bagi hari kelahiran beliau, sebagaimana telah disebutkan dalam hadis riwayat Abu Qatadah al-Anshari dalam shahih Muslim. Sebagaimana Rasulullah saw. juga berpuasa pada hari Asyura (tanggal 10 Muharram) dan memerintahkan umat beliau untuk berpuasa sebagai rasa syukur, bahagia dan perayaan terhadap keselamatan Nabi Musa a.s.. Dan Allah telah memuliakan hari kelahiran di dalam Kitab-Nya dan melalui ucapan para nabi-Nya. Allah berfirman,

"Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan." (Maryam: 15).

Dan Allah berfirman melalui ucapan Isa al-Masih a.s.,

"Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan." (Maryam: 33).

    Hal ini karena dalam hari kelahiran terwujud kenikmatan penciptaan yang merupakan sebab dari diperolehnya semua nikmat yang diperoleh manusia setelahnya.

    Oleh karena itu, mengenang hari kelahiran dan mengingatkan orang lain tentang hari kelahiran merupakan pintu bagi orang-orang untuk bersyukur kepada nikmat Allah. Maka tidak apa-apa menentukan hari tertentu guna mengadakan mengingat para wali Allah.

    Kemasyru'iatan acara semacam ini tidak rusak karena terjadinya hal-hal yang diharamkan. Akan tetapi acara-acara seperti ini tetap dilaksanakan dengan menolak terjadinya kemungkaran-kemungkaran. Orang-orang yang merayakannya juga perlu diingatkan bahwa kemungkaran-kemungkaran tersebut bertentangan dengan tujuan utama acara-acara mulia tersebut.

Wallahu subhânahu wa ta'âlâ a'lam.

Fatwa-fatwa lainnya bisa di peroleh di situsnya langsung http://www.dar-alifta.org/?Home=1&LangID=5

Kumpulan Fatwa-Fatwa Syaikh Prof. DR. 'Aliy Jumu'ah (Mufti Mesir)

Berikut ini diantara tulisan-tulisan manfaat dan mengandung hikmah berupa fatwa-fatwa Mufti Agung Mesir al-Imam 'Ali Jumu'ah yang bisa di baca khalayak umum (bahasa Indonesia). Berasal dari blog http://cintatakutdanharap.blogspot.com (Afif Fatkhurrohman)diantaranya tentang :














Artikel-artikel Islami yang menarik lainnya bisa di baca langsung di blog berikut ini http://cintatakutdanharap.blogspot.com . Semoga bermanfaat.

Fatwa Majelis Ulama Malaysia Tentang Tahlilan (Kenduri Arwah) dan Haramnya Tulisan Yang Mengharamkan Tahlilan



Berikut ini adalah fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Malaysia sebagaimana tercantum dalam situs resminya http://www.e-fatwa.gov.my. Isu tentang kenduri arwah (tahlilan) tidak hanya terjadi di Indonesia namun juga negeri-negeri lainnya demikian juga dengan Malaysia. Munculnya buku yang berjudul "Imam Syafie (Rahimahullah) Mengharamkan Kenduri Arwah Tahlilan, Yasinan dan Selamatan" yang di tulis  oleh seorang Wahhabiyah bernama Rasul Dahri, dimana isinya penuh kedustaan mengatas namakan Imam al-Syafi'i semakin memperkeruh hubungan antara kaum Muslimin. Buku tersebut, juga disebarkan di Indonesia serta bisa di dapat di beberapa situs yang setuju dengan kedustaan tersebut. 

Melihat kondisi tersebut, dalam  Fatwa Negeri Perak pun memuat pelarangan peredaran buku tersebut dan berikut adalag fatwa yang telah di keluarkan : [1]

Tarikh Keputusan:  5 Nov, 2009
Keputusan :  Mesyuarat Jawatankuasa Fatwa Negeri Perak yang bersidang pada 4-5 November 2009M bersamaan 16-17 Zulkaedah 1430H kali 181 memutuskan keputusan bahawa :

”Sebarang penyebaran, cetakan dan penjualan Buku-Buku Siri Syafie (Rahimullah), Mengharamkan Kenduri Arwah, Tahlilan, Yasinan Dan Selamatan adalah DILARANG dan boleh (bisa, bhs. Indonesia) didakwa di bawah Enakmen Jenayah Syariah Negeri Perak atas alasan boleh (bisa, bhs. Indonesia) mengelirukan masyarakat kecuali untuk urusan kajian ilmiah dan bukan untuk bacaan umum”. 
Status Penwartaan : Tidak Diwartakan
Nombor Rujukan :  181 
Didalam putusan yang lainnya juga disebutkan tentang haramnya karya penulis Wahhabiyah tersebut (Rasul Dahri). Diantaranya adalah buku yang berjudul  Bahaya Taqlid Buta Dan Ta'sub Mazhab, Imam Syafie (Rahimahullah) Mengharamkan Kenduri Arwah Tahlilan, Yasinan dan Selamatan, Amalan-amalan Bid'ah  Pada Bulan Sya'ban, Bahaya Tariqat Sufi / Tasawuf Terhadap Masyarakat, Hukum Mengenai Rokok Dan Mencukur Janggut, Setiap Bid'ah Menyesatkan dan Persoalan Bid'ah Menyesatkan.

Alasan dari pengharaman tersebut adalah  karena telah mempropagandakan akidah, hukum dan ajaran yang bertentangan dengan Mazhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan meresahkan kaum Muslimin. [2]

Adapun tentang hukum majelis tahlil (tahlilan) sendiri dan yasinan, Fatwa Negeri Perlis di Malaysia menutuskan sebagai berikut :

FATWA KEBOLEHAN TAHLILAN [3]

Tarikh Keputusan : 9 Sep, 2002
Huraian Tajuk/Isu:

Hukum Bacaan Surah Yasin dan Bertahlil dan sampai atau tidak pahala amalan tersebut kepada simati
Keputusan:

Alhamdulillah Fatwanya,

Segala bentuk sedekah seperti kenduri, membaca ayat-ayat Al-Qur"an dan segala bentuk zikir, tahlil adalah harus (boleh, bhs. Indonesia) dan pahalanya إن شاء الله sampai kepada si mati yang ditujukan dengan syarat diniatkan semua pahala amalan-amalan kebajikan tersebut untuk simati dengan penuh keikhlasan.

Status Penwartaan:  Tidak Diwartakan
Nombor Rujukan:  JMJ/06/LAIN-LAIN(LL)-6/2002
Namun, dalam fatwa negeri lainnya di Malaysia yakni fatwa Negeri Perlis hanya menyetujui sebagian dari tahlilan dan perlu di galakkan, sedangkan tentang membaca al-Qur'an untuk orang mati, dikatakan  tidak tsabit. [4]. Adapun menurut Ibnu Taimiyyah dan Syaikh al-Utsaimin orang mati bisa mendapatkan manfaat dari bacaan al-Qur'an dan amal-amal lainnya. [5]
 
Rujukannya :

[1].http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-negeri/penyebaran-buku-buku-siri-syafie-rahimullah-mengharamkan-kenduri-arwahtahlilanyasinanda
[2]. http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-negeri/pengharaman-buku-buku-tulisan-saudara-rasul-dahri-yang-telah-diperakui-haram-0
[3]. http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-negeri/hukum-membaca-surah-yasin-dan-tahlil-berjemaah-0
[4]. http://www.e-fatwa.gov.my/fatwa-negeri/kedudukan-amalan-bertahlil
[5]. Lihat ; Majmu' Fatwa Ibnu Taimiyah dan Majmu' Fatawa wa Rasaail al-Utsaimin


Hadits Itu Menyesatkan ...

Hadits Itu Menyesatkan ...
 مطلب في فضل الفقه على غيره
وسئل نفع الله به بما لفظه : الحديث مضلة إلا الفقهاء ، وهل هو حديث وما معناه مع ان معرفة الحديث شرط في مسمى الفقيه ؟ وأيما أعظم قدرا وأجل ذكر الفقهاء أو المحدثون؟

Syaikhul Islam Ibnu Hajar Al Haitami[1] pernah ditanya tentang ungkapan yang berbunyi, “Hadis menyesatkan kecuali untuk para ahli fikih,” apakah itu hadis atau bukan, dan apa maknanya, padahal mengetahui hadis termasuk salah satu syarat seseorang disebut sebagai ahli fikih? Mana yang lebih mulia dan utama, ahli fikih atau ahli hadis?

فأجاب بقوله : ليس بحديث وإنما هو من كلام ابن عيينه أو غيره ، ومعناه أن الحديث كالقرآن في أنه قد يكون عام اللفظ خاص المعنى وعكسه ، ومنه ناسخ ومنسوخ ومنه ما لم يصحبه عمل ، ومنه مشكل يقتضي ظاهره التشبيه كحديث ” ينزل ربنا ” الخ ، ولا يعرف معنى هذه إلا الفقهاء بخلاف من لايعرف إلا مجرد الحديث ، فإنه يضل فيه كما وقع لبعض متقدمي الحديث . بل ومتأخريهم ، كابن تيمية وأتباعه ، وبهذا يعلم فضل الفقهاء المستبطين على المحدثين غير المستنبطين . ومن ثم قال صلى الله عليه وسلم : ” رب مبلغ أوعى من سامع ، ورب حامل فقه ليس بقيه ، ورب حامل فقه إلى من هو أفقه منه ” وقوله ” بلغوا عني ولو آية وحدثوا عن بني إسرائيل ولا حرج ” فمستنبطوا الفروع هم خيار سلف الأمة وعلماؤهم وعدولهم وأهل الفقه والمعرفة فيهم ، فهم قوم غذوا بالتقوى وربوا بالهدى أفنوا أعمارهم في استباطها وتحقيقها بعد أن ميزوا صحيح الأحاديث من سقيمها وناسخها من منسوخها ، فأوصلوا أصولها ومهدوا فروعها فجزاهم الله عن المسلمين خيرا وأحسن جزاءهم كما جعلهم ورثة أنبيائه وحفاظ شرعه وشهود آلائه ، وألحفنا بهم وجعلنا من تابعيهم بإحسان إنه الكريم الجواد الرحمن . 

Beliau menjawab:

Itu bukan hadis, melainkan ucapan Ibnu ‘Uyainah[2] atau selainnya. Makna ungkapan itu adalah bahwa hadis seperti Al Quran, ada yang lafalnya umum tapi maknanya khusus dan sebaliknya, ada yang nasikh dan ada yang mansukh, ada juga yang tidak diamalkan, ada yang lafalnya musykil (bermasalah), jika dipahami secara zhahir (literal) dapat menimbulkan pemahaman tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) seperti hadis yang berbunyi, “Allah turun, dst.” Tidak ada yang memahami makna hadis itu kecuali para ahli fikih. Berbeda dengan mereka yang hanya mengerti hadis saja, mereka tersesat dalam memahaminya, sebagaimana sebagian ahli hadis zaman dahulu, bahkan di zaman belakangan seperti Ibnu Taimiyah[3] dan para pengikutnya. Dari sini, dapat diketahui keutamaan para ahli fikih yang memiliki pemahaman dibandingkan dengan para ahli hadis yang tidak memiliki pemahaman.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW bersabda, “Berapa banyak orang yang diberitahu lebih paham daripada yang memberitahu, berapa banyak orang yang membawa fikih tapi tidak mengerti fikih, dan berapa banyak orang yang membawa fikih membawanya kepada orang yang lebih mengerti fikih daripada dirinya.”[4] Beliau juga bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat. Ceritakanlah dari Bani Israil, tak mengapa.”[5] Jadi, para ahli istimbath furu’ (ahli fikih) mereka adalah orang-orang pilihan pendahulu umat ini. Mereka adalah para ulama, pribadi-pribadi terpercaya, yang memiliki pemahaman dan pengetahuan. Mereka adalah golongan yang dibesarkan dengan ketakwaan dan terdidik dengan petunjuk. Mereka telah menghabiskan usia mereka untuk menyimpulkan hukum-hukum dan menelitinya setelah menyaring hadis-hadis shahih dari yang dhaif, nasikh dari yang mansukh, sehingga mereka sampai kepada akar-akarnya (ushul) sambil menyediakan cabang-cabangnya (furu’). Semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan dari kaum muslimin dan menyiapkan balasan terbaik sebagaimana Allah telah menjadikan mereka sebagai pewaris para nabi-Nya, penjaga syariat-Nya dan saksi atas kenikmatan-kenikmatan-Nya. Semoga Allah juga menggabungkan kita bersama mereka dan menjadikan kita para pengikut mereka yang baik. Sungguh Allah Maha Pemurah, Dermawan dan Penyayang.

Nama kitab : Al-Fatawa al-Haditsiyyah
Pengarang : Syaikhul Islam Imam Ahmad bin Hajar al-Haitami al-Makki al-Syafi'i

Catatan Kaki :
[1] Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar Al Haitami As Sa’di Al Anshari, bergelar Syihabuddin Syaikhul Islam, kuniahnya Abul Abbas, seorang ahli fikih asal Mesir. Dilahirkan di Mahallah Abil Haitam (wilayah Mesir bagian barat) pada tahun 909 H, di tempat itulah ia dinisbatkan, adapun nisbat As Sa’di diambil dari kata Bani Sa’d, sebuah kabilah Arab di daerah timur Mesir. Beliau menuntut ilmu di Al Azhar dan wafat di Makkah pada tahun 974 H. (Al A’laam 1/234)
[2] Nama lengkapnya adalah Sufyan bin Uyainah bin Abi Imran, salah seorang tabii tsiqoh, dilahirkan pada tahun 107 H dan wafat di Makkah pada tahun 198 H. (Ruwatu At Tahdzibain no. 2451)
[3] Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdissalam Al Harrani Ad Dimasyqi Al Hambali, Abul Abbas, Taqiyyuddin. Dilahirkan pada tahun 661 H di sebuah daerah bernama Harran dan wafat pada tahun 728 H di Damaskus. (Al A’laam 1/144)
[4] Shahih Al Bukhari no. 6667
[5] Shahih Al Bukhari no. 3274

al-Hafidz al-Iraqi ; Jika Seorang Muqallid Menemukan Hadits Yang Menyelisihi Imam-nya ??

   إذا وجد المقلد حديثا مخالفا لرأي إمامه فهل يعمل به : إجابة الحافظ العراقي

سئل الحافظ أبو زرعة ابن العراقي كما في " الأجوبة المرضية عن الأسئلة المكية " (ص:65) عن :

المقلد إذا وجد حديثاً صحيحاً على خلاف ماأفتى به إمامه في الفروع ، يجوز له العمل بالحديث حينئذ أم لا ؟ مع علمه بأن ذلك الحديث غير منسوخ ولامقيّد ؟

الجواب : إن الشافعي رحمه الله تعالى صح عنه أن قال : مامن أحد إلا وتذهب عليه سنة لرسول الله صلى الله عليه وسلم وتعزب عنه ، فمهما قلتُ من قول أو أصّلت من أصل فيه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم خلاف ماقلتُ ، فالقول ماقال رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو قولي ، وفي لفظ آخر : إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعوا ماقلت ، فالمقلد للشافعي إذا وجد حديثاً صحيحاً على خلاف ماأفتى به الشافعي مع علمه بأنه ليس منسوخاً ولامعارضاً بما هو أرجح منه عمل به ، وهو حينئذ مذهب الشافعي بشرط أن يكون المقلد المذكور فيه أهلية معرفة صحيح الحديث من سقيمه ، وأهلية فهم الحديث والعمل به والإحاطة بما في ذلك الباب من الأدلة ، ومعرفة شروط الترجيح وبشرط أن يكون نَظَر كلام الشافعي رحمه الله تعالى في تلك المسألة في مظانه ، وعلم أن الشافعي لم يطلع على ذلك الحديث وتركه لمعارض ، ولهذا قال الماوردي : مذهب الشافعي أن الصلاة الوسطى صلاة العصر لصحة الحديث به مع كون الشافعي نص على أنها الصبح لكونه لم يبلغه الحديث المذكور ، وأما آحاد الناس فليس لهم ذلك ، وكيف يعمل بالحديث من لا يميز صحيحه من سقيمه ولايتأهل للعمل به وليس عنده من النظر ومعرفة قواعد الأصول مايهتدي به إلى ذلك ولاعنده أيضاً إحاطة بكلام الشافعي بحيث يعلم كون الشافعي علم ذلك الحديث أو لم يعلم به ، والظن بسائر الأئمة رحمهم الله تعالى أنهم يقولون في ذلك كقول الشافعي لكن لما لم ينقل عنهم التصريح بذلك لم يجز لنا أن نجعل ذلك مذهباً لهم ونحكيه عنهم ونقوّلهم به ، نعم لايسوغ عندي لمن هو من أهل الفهم ومعرفة صحيح الحديث من سقيمه والتمكن من علمي الأصول والعربية ومعرفة خلاف السلف ومأخذهم إذا وجد حديثاً صحيحاً على خلاف قول مقلِّده أن يترك الحديث ويعمل بقول إمامه وإن لم يجوز له أن يجعل ذلك مذهباً له ، وقد روى البيهقي في " المدخل " بإسناد صحيح إلى عبدالله بن المبارك قال : سمعت أبا حنيفة يقول : إذا جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم فعلى الرأس والعين ، وإذا جاء عن أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم نختار من قولهم ، وإذا جاء عن التابعين زاحمناهم . أهـ 
Jika seorang muqallid menemukan sebuah hadits shahih yang dari segi dhahirnya bebeda dengan apa yang difatwakan oleh imam madzhabnya, apakah muqallid tersebut boleh mengamalkan  hadits tersebut dalam masalah ini atau tidak ? 

Jawaban al-Hafidz al-Iraqi :

Al-Hafidz al-Iraqi pernah ditanya tentang permasalahan tersebut, seperti yang terdapat dalam kitab; Al-Ajwibah al-Mardliyyah ‘an al-As’ilah al-Makiyyah hlm 65.

Jawaban beliau yaitu: Memang benar bahwasanya imam asy-Syafi’i telah berkata; Tidak ada seorang manusia pun kecuali dia akan semakin ditinggalkan oleh sunnah Rasul shalallahu’alaihi wasallam dan semakin jauh darinya. Maka ketika saya berfatwa tentang suatu permasalahan dan menyampaikan suatu masalah dan ternyata apa yang saya sampaikan menyelisihi apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah sahalalahu ‘alaihi wasallam, maka pegangilah apa yang telah disampaikan oleh Rasul tersebut. Dan apa yang telah disampaikan Rasul, itu adalah juga pernyataan saya.

Dalam redaksi yang lain beliau (Imam asy-Syafi’i berkata); Jika kamu semua menemukan dalam kitabku sebuah pernyataan yang menyelisihi sunnah Rasul shalallahu’alaihi wasallam, maka beramalah dengan sunnah Rasul tersebut dan tinggalkanlah pernyataanku.

Seorang yang mengikut pendapat Imam asy-Syafi’i jika menemukan sebuah hadits shahih yang menyelisihi atas apa yang telah difatwakan oleh imam asy-Syafi’i yang didasari atas pengetahuannya bahwasanya hadits tersebut bukan mansukh (dinasakh) atau tidak bertentangan dengan hadits yang lebih Raji, maka bagi sang muqallid harus mengamalkan hadits tersebut (dan meninggalakn apa yang telah difatwakan oleh imam as-Syafi’i-red). Dan apa yang diamalkan tersebut akan menjadi madzhabnya (ajarannya-red) imam asy-Syafi’i, dengan syarat sang muqallid tersebut haruslah orang yang :
  • Memang memiliki kemampuan dalam meneliti tentang keshahihan suatu hadits dan ketidak shahihannya. 
  • Mampu memahami pengertian yang dikandung hadits dan perbuatan yang dimaksudkannya. 
  • Mampu menguraikan bab tersebut dengan didukung oleh dalil-dalil yang lain. 
  • Mengetahui syarat-syarat dalam masalah Tarjih. 
  • Mengetahui pendapat imam asy-Syafi’i dalam masalah tersebut dan mengatahui apa yang yang dimaksudkan oleh beliau.
Mengetahui bahwasanya imam asy-Syafi’i belum pernah menelaah hadits yang ditemukannya tersebut dan meninggalkannya karena adanya pertentangan dengan dalil-dalil yang lain.

Dalam permasalahan ini, imam al-Mawardi memberikan contoh yaitu; dalam madzhab Syafi’iyyah yang dimaksud dengan shalat al-Wustha adalah shalat ‘Ashar dengan dasar adanya hadits shahih yang menjelaskan hal ini, walaupun dalam redaksi yang tertulis dalam kitabnya, imam asy-Syafi’i menuliskan bahwa maksud shalat al-Wustha adalah shalat Shubuh. Hal ini disebabkan karena hadits shahih yang menjelaskan bahwa shalat al-Wustha adalah shalat ‘Ashar tidak sampai kepada beliau.

Adapun mengenai seseorang yang tidak memiliki keahlian dalam hal-hal yang telah disebutkan di atas, bagaimana mungkin dia dapat mengamalkan suatu hadits (walaupun shahih-red), sedangkan dia tidak memiliki kemapuan untuk membedakan mana hadits yang shahih dan mana yang bukan, serta tidak mampu untuk mengusahakannya. Juga orang tersebut tidak mempunyai suatu kemampuan metodologis dan tidak mengetahui kaedah-kaedah ushul yang sangat penting untuk memahami hadits tersebut. Tidak mampu mejelaskan tentang apa yang disampaikan oleh imam asy-Syafi’i, dengan gambaran orang tersebut tidak mampu menunjukkan bukti bahwasanya imam asy-Syafi’i  mengetahui hadits tersebut atau tidak.

Dan persangkaan yang kuat adalah, bahwasanya seluruh Imam-imam Madzahib Rahimahumullah pasti akan menyatakan hal yang sama, seperti yang telah disampaikan oleh imam asy-Syafi’I di atas. Tetapi jika belum jelas benar hal-hal yang telah disebutkan di atas yang disandarkan kepada mereka (para Imam-imam), kita tidak boleh menjadikan penjelasan yang ada dalam hadits shahih yang kita temukan,  sebagai madzhab para imam-imam tersebut, atau menceritakan bahwa ini adalah ajaran dari salah satu imam madzhab.

Menurut kami, bagi orang yang memiliki kemampuan untuk memahami suatu hadits, memiliki pengetahuan tentang shahih atau tidaknya hadits, memiliki pengetahuan tetang ilmu-ilmu ushul, mengetahui tata bahasa arab, serta mengetahui perbedaan pendapat dikalangan ulama’ salaf dan mengetahui dasarnya masing-masing. Orang tersebut jika menemukan suatu hadits yang menyelisihi pendapat imam madzhabnya, tidak diperkenankan untuk meninggalkan hadits shahih tersebut, lalu memilih mengikuti pendapat imam madzhabnya. Walaupun pemahaman dari hadits yang ditemukannya tersebut, tidak boleh dijadikan sebagai madzhabnya sendiri.

Telah diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam kitab al-Madkhal dengan sanad yang shahih dari Imam Abdullah bin Mubarak beliau berkata, saya mendengar bahwasanya Imam Abu Hanifah telah berkata; “Jika sesuatu itu datangnya dari Nabi maka akan kami jadikanlah hal yang utama (tinggalkan yang lain-red), jika datangnya dari Sahabat Nabi maka kami akan memilih pendapat mereka, jika datangya dari Tabi’in maka kami akan mencukupkan diri”.

Wallahu A’lam bi ash-Showab.

Oleh : Kang As'ad http://www.facebook.com/asyad.adam

Syaikh Yusuf al-Qaradlawi ; al-Azhar asy-Syarif, az-Zaituniyah, ad-Deoband, Nadwah al-‘Ulama, Madrasah Pakistan & Seluruh Alam Adalah Asy’ari



عقيدة الأزهر

وردا على سؤال آخر من أحد الحضور جاء فيه: "بعض الناس يطعن في عقيدة الأزهر الشريف، فما رد فضيلتكم على هذا الكلام؟"
Aqidah al-Azhar : telah ada pertanyaan lain dari salah seorang yang hadlir bahwa “sebagian masyarakat mengkritik tentang aqidah al-Azhar asy-Syarif, maka apakah jawab anda yang terhormat tentang perkataan semacam ini ?”

قال الشيخ القرضاوي بنبرة استفهام ساخرة: "عقيدة الأزهر الشريف؟!"
Syaikh al-Qaradlawi berkata dengan berupa pernyataan yang mengagumkan terkait “Aqidah al-Azhar asy-Syarif”.

ورأى أن من يقول ذلك "فهو يطعن في الأشعرية"، وتابع: "ليس الأزهر وحده أشعريا.. الأمة الإسلامية أشعرية.. الأزهر أشعري والزيتونة أشعري والديوباندي (بالهند) أشعري وندوة العلماء أشعرية ومدارس باكستان أشعرية.. وكل العالم الإسلامي أشعرية".
Saya telah melihat bahwa orang mengatakan demikian “adalah orang yang mengkritik tentang al-Asy’ariyah”, kemudian beliau berkata : “al-Azhar bukan satu-satunya yang berpaham Asy’ariah. .. Umat Islamiyah adalah Asy’ariyah, al-Azhar adalah Asy’ariy, az-Zaituniyyah adalah Asy’ari, ad-Deobandi (di India) adalah Asy’ari, Nadwah al-‘Ulama adalah Asy’ari, madrasah-madrasah di Pakistan adalah Asy’ari, hingga seluruh dunia Islam (mayoritas) adalah Asy’ariyah”.

وأشار إلى أنه حتى الأشعرية موجودة بالسعودية التي تعد مركز السلفية الوهابية، وقال: "السلفيون مجموعة صغيرة، حتى إذا قلنا السعودية فليس كل السعودية سلفيين، فالحجازيون غير النجديين غير المنطقة الشرقية غير منطقة جيزان وهكذا".
Beliau juga mengisyaratkan hingga Asy’ariyah juga terdapat di negeri Saudi yang dianggap sebagai markas salafiyah al-Wahabiyah, beliau berkata : “Salafiyah (Wahabi) hanya segelitir saja (minoritas), hingga apabila kita katakan Saudi, maka bukan seluruh Saud adalah Salafy (Wahabi). Penduduk Hijaz (Asy’ariy) selain Najed, (penduduk Nejd) pun yang bukan bagian timur, (yang bagian timur) pun bukan seperti di wilayah Jizan, begitulah seterusnya”

وأضاف: "فإذا أخذنا بالأغلبية، فإن أغلبية الأمة أشعرية.. هذه كلها اجتهادات في فروع العقيدة، والكل متفق على شهادة أن لا اله إلا الله وأن محمد رسول الله وعلى النبوة في الإيمان بالله وكتبه ورسله وفي اليوم الآخر".
Beliau menambahkan : apabila kita mengambil perkiraan, maka sesungguhnya mayoritas umat adalah ‘Asyariyah, ini semuanya hanya ijtihad-ijtihad dalam masalah cabang aqidah (furu’ aqidah), dan semua bersepakat atas persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan atas kenabian didalam beriman kepada Allah, kitab-Nya, rasul-Nya dan hari Qiamat.

وشدد على أن "هذه الاختلافات لا ينبغي أن نكفر بها أحدا
Kemudian beliau menekankan bahwa “ini semua hanya masalah ikhtilaf yang tidak sepatutnya kita mengkafirkan seseorang muslim karena sebab ini”.
Penterjemah al-Ustadz al-Fadlil Mukhlis Hafidzahullah, dengan beberapa penyesuai oleh “Ashhabur Ro’Yi”. Sumber utama : http://www.qaradawi.net/site/topics/article.asp?cu_no=2&item_no=6914&version=1&template_id=116&parent_id=114

Fatwa Syaikh al-'Allamah Ali Jumu'ah (Mufti Mesir) Tentang Aqidah Asy'ariyah dan Al-Azhar

Fatwa Syaikh al-'Allamah Ali Jumu'ah (Mufti Mesir) Tentang Aqidah Asy'ariyah dan Al-Azhar
Fatwa Syaikh al-'Allamah Ali Jumu'ah (Mufti Mesir) Tentang Aqidah Asy'ariyah, al-Azhar asy-Syarif & Kelompok Pencela Bernama "Salafy".

Pertanyaan :

    اطلعنا على الطلب المقيد برقم 2908 لسنة 2005م المتضمن ينتمي كثير من الشباب إلى فرقة تقول بأنها الوحيدة التي تسير على نهج السلف الصالح وعلى الطريق المستقيم ، وترمي كل من يخالفهم بالعمالة والكفر والزندقة ، حتى العلماء لم يسلموا منهم ؛ حيث يتهجمون على عقيدة الأزهر وعلمائه ويرمون الأشعرية بالابتداع ، فما رأيكم في هذه الجماعة وفيما يقولونه : من إطلاق اللحية ، وتقصير الثياب ، وتبديع القنوت في الفجر وغير ذلك ؟
    Kami memuthala’ah (mempelajari) tentang pemintaan fatwa no. 2908 yang berisi penjelasan banyaknya syabab (pemuda) mengikuti firqah (kelompok) yang dikatakan berada diatas manhaj salafus shaleh dan atas jalan yang lurus, dan mereka menuduh setiap orang yang menyelisihi mereka sebagai kafir dan zindiq sampai ulama pun tidak selamat (tidak lepas) dari tudingan mereka ; mereka juga menyerang aqidah al-Azhar, ulama-ulama al-Azhar dan melempar tuduhan bahwa al-Asy’aiyah sebagai pelaku bid’ah. Apa pendapat anda tentang kelompok ini ? …….

 Jawab :

إنه يجب على الشباب المسلم - خاصة طلبة العلم - أن يعملوا على توحيد كلمة المسلمين ، وأن لا يسعَوْا بينهم بالفرقة والنزاع والخصام ؛ حيث أمرنا الله تعالى أن نعتصـم جميعا بحبـله المتين وألا نتفرق في الدين ، قال تعالى : { وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُو } (آل عمران 103)، وقال سبحانه : (الأنفال 46) وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ، وأن نقول للناس الحسن من الكلام ، قال عز من قائل :وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لاَ تَعْبُدُونَ إِلاَّ اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَذِي القُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْناً وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنكُمْ وَأَنتُم مُّعْرِضُونَ (البقرة 83)، ، وأمرنا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم بكل ما يؤدي إلى الوَحدة ، حتى جعل التبسم في وجه الأخ صدقة
Wajib bagi para pemuda Islam – khususnya penuntut ilmu- untuk melakukan pemersatuan kaum muslimin, dan bukan mencari-cari perbedaan diantara kaum muslimi dengan perpecahan, perbedaan dan pertikaian. Allah subhanu wa Ta’alaa telah memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan Tali-Nya dan tidak berpecah belah dalam agama. Firman Allah :

    "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai"

Juga Firman Allah :

    “Dan ta'atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Dan kita harus berkata-kata kepada manusia denga perkataan yang bagus, firman Allah :

    “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.”



Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam juga telah memerintahkan kita dengan setiap hal yang membawa pada persatuan, sehingga senyum kepada suadara sesama Islam merupakan shadaqah.

كما يجب على الشباب أن ينأوا بأنفسهم عن مناهج التكفير وتيارات التبديع والتفسيق والتضليل التي انتشرت بين المتعالمين في هذا الزمان ، وأن يلتزموا بحسن الأدب مع الأكابر من علماء الأمة وصالحيها ، وأي جماعة تتخذ من اسم " السلف الصالح " ستارا لتفرقة المسلمين وسببا للشقاق والنزاع تكون قد لبَّست الحق بالباطل ؛ قال تعالى :وَلاَ تَلْبِسُوا الحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ (البقرة 42).
Sebagaimana diwajibkan kepada pemuda-pemuda Islam agar menjauhkan diri mereka dari manhaj-manhaj takfir (pengkafiran), tabdi’ (pembid’ahan), pemfasikan dan penyesatan yang banyak tersebar diantara para penuntut ilmu pada zaman ini. Mereka (pemuda Islam) harus berakhlak yang baik terhadap ulama-ulama besar umat dan orang-orang shalih. Adalah kelompok yang mengambil nama “as-Salafush Shaleh” untuk memecah belah kaum muslimin sehingga terjadi perpecahan dan pertikaian , sungguh telah mencapur adukkan antara hak dan bathil. Allah berfirman :

    “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu , sedang kamu mengetahui”.

ومن المعلوم أن عقيدة الأزهر الشريف هي العقيدة الأشعرية وهي عقيدة أهل السنة والجماعة ، والسادة الأشاعرة رضي الله تعالى عنهم وأرضاهم هم جمهور العلماء من الأمة ، وهم الذين صَدُّوا الشبهات أمام المَلاَحِدَةِ وغيرهم ، وهم الذين التزموا بكتاب الله وسنة سيـدنا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم عبر التاريخ ، ومَنْ كفّرهم أو فسّقهم يُخْشَى عليه في دينه ، قال الحافظ ابن عساكر رحمه الله في كتابه " تبيين كذب المفتري ، فيما نسب إلى الإمام أبي الحسن الأشعري " : " اعلم وفقني الله وإياك لمرضاته ، وجعلنا ممن يتقيه حق تقاته ، أن لحوم العلماء مسمومة ، وعادة الله في هتك أستار منتقصيهم معلومة ، وأن من أطلق عليهم لسانه بالثلب ، ابتلاه الله قبل موته بموت القلب " ا هـ

Dan termasuk hal yang ma’lum (telah diketahui) bahwa aqidah al-Azhar asy-Syarif adalah Aqidah al-Asy’ariyah dan itu adalah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Semoga Allah subahanhu wa Ta’alaa meridlai ulama-ulama al-Asy’ariyah dan menjadikan mereka diridlai, dan mereka adalah jumhur ‘Ulama dari umat Islam ini. Mereka adalah ulama-ulama yang telah membantah syubhat-syubhat kelompok atheis dan selainnya. Merekalah yang berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah sayyid kita yaitu Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam sepanjang sejarah.


Barangsiapa yang mengkafirkan dan memfasikkkan ulama-ulama Asy’ariyah maka mereka itu patut diselidiki agamanya. al-Imam al-Hafidz Ibnu ‘Asakir rahimahullah didalam kitabnya “Tabyin Kidzb al-Muftariy, Fimaa Nusiba Ilaal Imam Abul Hasan al-Asy’ariy” berkata : Ketahuilah dan semoga Allah memberikan taufikan kepadaku dan kepadamu untuk memperoleh ridla-Nya, serta menjadikan kami termasuk orang-orang yang bertaqwa, bahwa SESUNGGUHNYA DAGING ULAMA ITU BERACUN, dan sudah hal yang biasa bahwa Allah akan membongkar (menjadikan buruk) orang yang mencela ulama sehingga diketahui oleh umat. Dan sungguh barangsiap yang memfitnah ulama dengan lisannya maka Allah akan mematikan hatinya sebelum kematiannya.

والأزهر الشريف هو منارة العلم والدين عبر التاريخ الإسلامي ، وقد كوَّن هذا الصرحُ الشامخُ أعظم حوزة علمية عرفتها الأمة بعد القرون الأولى المُفَضَّلة ، وحفظ الله تعالى به دينه ضد كل معاند ومشكك ؛ فالخائض في عقيدته على خطر عظيم ، ويُخْشَى أن يكون من الخوارج والمرجفين الـذين قال الله تعالى فيهم :لَئِن لَّمْ يَنتَهِ المُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي المَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لاَ يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلاقَلِيلاً (الأحزاب 60)

Al-Azhar asy-Syarif adalah menara ilmu dan agama sepanjang sejarah Islam, dan sungguh keberadaan al-Azhar asy-Syarif merupakan binaaan ilmu tertinggi yang pernah diketahui setelah masa kurun awal Islam. Allah telah menjaganya untuk agamanya dari setiap kekacauan dan keraguan ; maka yang menetang aqidahnya berada diatas bahaya yang besar, dan dikhawatirkan dia termasuk dari golongan Khawarij (sesat) dan kelompok orang-orang munafik yang telah Allah ta’alaa firman tentang mereka ;

    “Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar,”


Source : http://www.dar-alifta.org/ViewFatwa.aspx?ID=261&Home=1&LangID=1

Sebagian Dari Fatwa Imam an-Nawawi

Dalam shalat, ketika Imam membaca “Iyyyaka Na’budu wa Iyyaaka Nasta’iin”, kemudian makmum juga membacanya (mengikuti membacanya), apakah itu salah atau memang dianjurkan, dan apakah shalat seseorang yang membaca demikian itu batal ?

Jawab : Orang itu keliru dan telah melakukan bid’ah. Ba’dlu Ashhab kami (sebagian ulama kami yaitu Syafi’iyyah) berkata : “Shalatnya batal kecuali jika diniatkan untuk dzikir atau untuk membaca al-Fatihah”.


Sekelompok (jama’ah) manusia membaca al-Qur’an di Masjid dengan di-jahar-kan (nyaringkan) pada hari Jum’at. Dan memberikan manfaat kepada masyarakat yang mendengarkan bacaan mereka namun sebagian masyarakat terganggu. Apakah bacaan mereka lebih utama (afdlal) atau di tinggalkan saja ?


Jawab : Jika didalamnya terdapat maslahat dan manfaatnya lebih besar dari mafsadatnya bagi masyarakat, maka membacanya adalah lebih utama (afdlal), adapun jika lebih banyak mafsadatnya maka aku memakruhkannya.


a. Membaca al-Qur’an diluar shalat, apakah lebih utama (afldlal) di jaharkan atau di sir-kan ?. b. Dan manakah yang lebih afdlal (utama) pada bacaan shalat Tahajjud ?

Jawab : a. Membaca al-Qur’an diluar shalat lebih utama di-jaharkan daripada di sirr-kan, kecuali jika dengan menjaharkan terdapat mafsadat seperti riya’, ujub atau mengganggu orang yang shalat, orang sakit, orang tidur dan lainnya.

b. Adapun bacaan shalat tahajjud maka yang lebih utama (afdlal) adalah sedang-sedang saja (tawasuth) antara dijaharkan dan di sirrkan. Ini adalah yang ashah, namun dikatakan bahwa yang ashah adalah menjaharkannya, dengan syarat sebagaimana telah di tuturkan (tidak untuk riya’, ujub, dll).


Tentang kaifiyah (tatacara) shalawat kepada Nabi shallalllahu ‘alayhi wa sallam, yang mukhtar (yang terpilih) adalah dengan mengucapkan : “Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad ‘Abduka wa Rasuluka an-Nabiiyy al-Ummiyyi wa ‘alaa Ali Muhammad wa Azwajihi wa Dzurriiyatihi kamaa Shallayta ‘alaa Ibrahim wa ‘alaa Ali Ibrahim wa Barik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa Ali Muhammad wa Azwajihi wa Dzurriiyatihi kamaa Barakta ‘alaa Ibrahim wa ‘alaa Ali Ibrahim fil ‘Alaamiina Innaka Hamiidun Majiid”. Dalil kesunnahan (anjuran) kaifiyah ini adalah Firman Allah : “Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” Dan telah tsabit dalam hadits-hadits yang shahih bahwa para sahabat bertanya : “ya Rasulullah, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kami bershalawat kepadamu, maka bagaimanakah kami bershalawat ?” Rasul menjawab : ucapkanlah oleh kalian “Allahu shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa Ali Muhammad”. Penuturan Rasulullah ini terdapat dalam ash-Shahihain dan semua lafadz ini tsabit, tercantum dalam Shahihain kecuali perkataan “an-Nabiiyyu al-Ummiy”, itu terdapat dalam Sunan Abi Daud dan yang lainnya dengan sanad yang shahih.

a. Apakah membaca bershalawat kepada keluarga Nabi pada tasyahud awal lebih utama (afdlal) ataukah tidak ? b. Apakah membaca surah pada 2 raka’at terakhir dari shalat yang 4 raka’at atau raka’at terakhir pada shalat maghrib itu lebih utama (afdlal). ?

Jawab : a.Yang lebih afdlal adalah membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam pada tasyahud awal tanpa kepada keluarganya.

b. Adapun bacaaan surah para raka’at terakhir shalat, yang lebih utama (afdlal) adalah meninggalkannya (tidak membacanya).


a. Apakah dianjurkan memberikan isyarah dengan jari telunjuk tangan kanan pada tasyahud, kapan dimulainya (mengisyarahkannya), dan apakah menggerakannya atau apakah shalat bisa batal dengan mengulang-ngulang menggerakkannya ? b. Apakah juga mengisyarahkan dengan jari telunjuk tangan kiri ? dan apabila jari telunjuk tangan kanan putus, apakah merngisyarahkan dengan jari telunjuk tangan kiri ?

Jawab : a. Dianjurkan memberikan isyarah dengan mengangkat jari telunjuk tangan kanan ketika hamzah pada ucapan “Illallah” satu kali saja, tidak menggerakkannya dan apabila mengulang-ulang menggerakannya itu makruh, namun shalatnya tidak batal menurut qaul yang shahih. Namun, dikatakan oleh sebagian ulama bahwa shalatnya batal.

b. Dan tidak perlu menggunakan jari telunjuk tangan kiri baik jarinya ada (sehat) ataupun terputus. Apabila menggunakannya untuk isyarah maka itu makruh namun shalatnya tidak batal.


Apabila bersin didalam shalat ; apakah dianjurkan untuk mengucapkan “Alhamdulillah”, dan apabila mengucapkannya, apakah bagi yang mendengar dianjurkan mengucapkan “Yarhamukallah” ?

Jawab : Iya, dianjurkan mengucapkan yang demikian (mengucapkan “al-Hamdulillah”), dan dianjurkan juga bagi yang mendengarnya untuk mengucapkan “Yarhamukallah” namun bukan didalam shalat.


Apabila shalat sunnah dhuhur atau asar sebanyak 4 raka’at baik sebelumnya atau sesudahnya, apakah satu kali salam atau dua kali salam ?



Jawab : Boleh dengan satu kali salam dan satu kali tasyahud atau dengan dua tasyahud, namun yang lebih afdlal adalah dua kali salam.


Apakah disunnahkan (dianjurkan) melakukan qunut pada shalat shubuh ?

Jawab : Iya, disunnahkan untuk melakukan qunut pada shalat Shubuh, wallahu a’lam.

Apakah berjabat tangan setelah shalat ‘Asar dan Shubuh memiliki keutamaan atau tidak ?


Jawab : Berjabat tangan adalah sunnah ketika berjumpa, adapun sebagian manusia yang mengkhususkannya setelah selesai shalat, maka itu terhitung sebagai bid’ah mubahah (bid’ah yang mubah/perkara baru yang tidak pernah dilakukan Rasulullah namun mubah). Dan yang bagus (yang terpilih) bahwasanya apabila berjabat tangan ketika berkumpul sebelum shalat shalat maka itu bid’ah mubahah, seperti itu juga dikatakan bahwa apabila tidak berkumpul (sebelum shalat) maka itu di anjurkan sebab itu permualaan perjumpaan.


Sebagian manusia berdiri untuk sebagian yang lainya sebagaimana kebiasaaan, apakah itu boleh atau haram ?

Jawab : Berdiri untuk menghormati ahlul fadlil dan dzawil huquqi adalah memiliki keutamaan atas jalan yang mulya, dan sungguh telah ada hadits-hadits, kumpulan atsar salafush shaleh dan komentar-komentar ulama tentang yang demikian.


Dikutip dari "al-Masaail al-Mantsurah" yang disusun oleh al-Imam 'Alauddin al-Aththar.


Media Islam

Thariqat Sarkubiyah

NU Online